Dear You Pak Dosen

Dear You Pak Dosen
BAB 5


__ADS_3

" Happy birtday Lia. " Ucap bara sembari memberikan gadis kesayangannya sebuah kotak berisi rainbow cake dengan lilin angka 11 di atasnya.


Saat ini sepasang manusia beda usia itu tengah duduk di kursi taman seperti biasanya. Tidak terasa kebersamaan mereka terjalin hampir 5 bulan lamanya.


Hari hari yang mereka lalui bersama sangat berharga bagi Bara sehingga saat mereka bersama, pria itu tak akan sedikitpun mengalihkan tatapannya dari Lia.


" Makasih kak Bara. " Ujarnya sumringah.


" Tiup lilinnya. " Suruh Bara namun sebelum meniup Lia menutup mata lalu make a wish terlebih dahulu baru setelah itu meniup lilin angka tersebut.


" Make a wish apa tadi? " Tanya Bara kepo sembari menerima suapan kue dari Lia.


" Kepooo. "


Keduanya pun menghabiskan waktu bersama sambil tertawa dengan hal hal konyol yang tentu saja di lakukan oleh Lia. Bara? Pria datar itu hanya mengeluarkan suara jika memang penting saja jika tidak maka Lia akan seperti berbicara dengan orang bisu.


Satu yang berubah dari Bara ialah pria itu jadi sering tersenyum, walau tak banyak bicara namun senyumnya selalu terukir saat bersama gadis kesayangannya itu.


Ya, gadis kesayangannya. Karena ia jatuh cinta pada gadis yang baru tamat SD itu. Apakah ia pedofil? Jika iya maka ia tak perduli, ia menyukai gadis ini. Gadis yang selalu membuatnya tersenyum bahkan di saat ia benar benar hancur karena masalah di rumahnya.


" Lia. "


Bara memanggil Lia yang malah asik bermain dengan kucing liar yang kebetulan lewat membuatnya cemburu sekalipun pada binatang. Gadis itu kemudian memberikan makan pada kucing tersebut lalu menuju Bara yang duduk sendiri.


" Iya kak? "


" Kakak punya hadiah untuk kamu. "


Bara kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah gelang, gelang dengan ukiran nama Lia di sana. Gelang itu adalah gelang mahal yang hanya bisa di miliki oleh orang orang tertentu saja.


" Siniin tangan kamu. "


Lia mengulurkan tangannya yang kemudian di pegang Bara untuk memakaikan gelang tersebut. Tangan Lia sangat kecil Bara tersenyum melihat perbedaan yang kontras antara tangannya dan Lia.


Ya dia memang pedofil.

__ADS_1


" Jaga gelang itu. "


Lia memperhatikaan gelang di tangannya lalu menatap Pria di hadapannya saat ini. " Kenapa harus di jaga?. " Tanya Lia yang masih polos.


" Mahal soalnya. "


Lia yang masih polos hanya mengiyakan saja karena tak tau apa apa dan tak perduli juga. Yang ia tahu tugasnya adalah menjaga benda yang di berikan oleh Bara ini.


Namun sore itu menjadi hari terakhir bara bersama gadis kesayangannya. Karena setelah dari itu ia tak pernah lagi bertemu Lia, gadis itu hilang bagaikan di telan bumi. Gadis yang membuatnya bisa bangkit dari lubang gelap yang menyelubung dirinya selama ini.


Bara rasanya sangat sedih karena lagi lagi orang yang ia sayang meninggalkannya sendiri. Semakin hari semenjak Bara ditinggalkan oleh Lia ia menjadi pria yang benar benar tak tersentuh bahkan oleh kedua orang tuanya sendiri.


Namun Bara berjanji suatu saat nanti jika ia sudah punya kuasa ia akan mencari Lia mencari gadis itu hingga ke ujung dunia sekalipun. *Bertahun tahun Bara mencari gadisnya tanpa bantuan dari sang ayah karena ia harus berjuang demi gadisnya dengan keringat sendiri.


Namun usahanya tak membuahkan hasil, semuanya nihil. Pikiran negatif memenuhi kepalanya, mungkinkah gadis itu telah meninggal? Tapi lagi lagi ia menepis pikiran itu, Bara optimis gadisnya hanya sedang bersembunyi seperti permainan yang sering mereka mainkan dahulu*.


•••


" Bapak ngapain pak? " Tanya Alya yang terkejut saat dosen tampan tapi galak itu sudah berada tepat di sampingnya entah sejak kapan. Dan wajah mereka benar benar dekat sampai Alya dapat merasakan hembusan nafas Bara.


" Cepat bersihkan dan keluar dari ruangan saya. "


Mendengar intrupsi dari Bara Alya yang kepalang kesal namun tak dapat berbuat apa apa itu hanya mengiyakan saja suruhan dosennya itu.


Beberapa menit kemudian Alya telah menyelesaikan pekerjaan, yang sebenarnya tak perlu di lakukan tapi ya sudahlah.


" Saya sudah selesai pak, kalau begitu saya pamit. "


Bara hanya mengangguk sebagai jawaban karena ia tengah fokus pada laptop di hadapannya. Melihat anggukan Bara, tanpa buang waktu Alya dengan langkah panjang langsung kabur dari sana.


Setelah melihat mahasiswinya itu pergi Bara menutup laptopnya dan menatap ke arah pintu yang ditutup dengan keras tadi.


" Ternyata hanya mirip. " Gumam Bara.


Ia menyadari bahwa desain gelang tersebut mirip dengan yang ia berikan pada gadisnya dahulu. Namun tidak ada ukiran nama dan mutiaranya pun berbeda.

__ADS_1


" Syukurlah jika hanya mirip, tidak mungkin Liaku menjadi remaja aneh sepertinya. Tapii sepertinya gadisku seumuran dengannya saat ini. "


Kerinduan kembali menghampiri Bara, ia sungguh merindukan gadisnya. Sampai saat ini perasaanya terhadap Lia tak berubah bahkan rasa cintanya bahkan semakin besar hanya dengan melihat foto masa kecil gadinya itu.


" Kapan kita akan bertemu lagi Lia? " Tanya Bara entah pada siapa.


Disisi lain Alya yang baru keluar dari ruangan Bara mengehembuskan nafas lega. Sedari tadi nafasnya seperti di potong 50 persen, apalagi saat wajah dosenya itu tepat berada di sampingnya.


Nafasnya yang sudah setengah, rasanya ingin berkurang lagi saking gugup dirinya tadi. Siapa yang tak gugup di dekat pria tampan seperti itu.


" Wait wait gue bilang tu dosen tampan? Emang sih tapi sifatnya itu loh. Amit amit deh gue berurusan sama dia lagi kalau di luar jam kuliah. "


Setelah lelah misuh misuh ia pun menuju kantin, siapa tau para sahabat menunggunya di sana walaupun kemungkinan hanya 30%.


Benar saja kantin hanya di isi oleh mahasiswa/i fakultas lain, ia tak melihat penampakan batang hidung ketiga temannya itu. Ya sudahlah Alya mengerti mereka pasti lelah dan butuh istirahat bukan menunggunya disini.


Alya pun memutuskan untuk duduk si salah satu meja dan memesan jus jeruk, ia sedikit tak percaya diri jika makan sendirian tanpa 3 orang gila kesayangannya.


Ting.


Alya membukanya dan ternyata dari ketiga temannya yang meminta maaf tak bisa menunggu karena lelah. Alya hanya mengangguk tanpa membalas satupun pesan dari mereka. Alya Alya lo kira teman lo cenayang apa yang bisa liat anggukan lo itu.


Alya segera menghabiskan jusnya kemudian berlalu menuju parkiran karena hari ini ia membawa motor scoopynya sendiri akibat takut telat walaupun hasilnya ia tetap berakhir dihukum.


" Pulang ahh, bang Rion pasti udah di rumah. Duh kangen bangat. "


Buru buru Alya menstarter motor dan pergi dari sana agar segera bertemu abang kesayangannya itu. Ia merasa sangat rindu padahal baru berpisah belum sampai satu hari.


Namun di tengah perjalanan ia mendapat telepon dari dosen yang tadi menghukumnya untuk kembali ke kampus. Sial! Padahal sebentar lagi ia akan tiba di rumah dan bertemu Rion.


Alya jadi menyesal memberikan nomornya pada Bara tadi, harusnya ia sudah tahu jika Bara akan melakukan ini mengingat apa yang sudah dia lakukan pada dosennya itu.


" Bara sialan. " Teriaknya di pinggir jalan membuat orang orang di sekitar menatapnya dengan tatapan aneh. Mungkin dalam pikiran mereka mengira Alya adalah orang gila keluaran terbaru.


...----------------...

__ADS_1


...To Be Continue :)...


__ADS_2