
“Adek sayang! Coba kesini bentar, dek!”
Panggilan teriakan dari ruang tamu terdengar sampai kamarnya, bahkan menusuk indera pendengaran gadis yang sedang asik menonton live streaming concert artis kesukaannya. Terpaksa gadis itu melepaskan headphone dari kepalanya.
Gadis itu menghela nafas teramat panjang, setelah menghabiskan sepanjang hari untuk menonton artis favorite dikamarnya. Sial, panggilan dari ayahnya itu membuatnya mem pause tontonannya lalu badan full mager itu beranjak turun dari kasur king size.
Papa ngapain manggil adek? Ucapnya langsung tanpa basa basi.
Sang Ayah tersenyum, sambil menatapi putrinya itu dari atas sampai bawah. Blom mandi, ya hanya itu yang terlintas dipikiran pria berumur 30 tahunan itu. Tapi memang benar, sedari pagi hingga sudah jam 7 malam gini, anaknya itu belum juga membersihkan diri.
Boro boro mandi, keluar kamar aja engga.
“Sini dong duduk dulu,” pinta ayahnya, gadis itu hanya memutar bola matanya malas.
Gadis itu lalu duduk di sofa, di sebelah ayahnya yang asik sedang menonton televisi bersama mamanya. “Ada apa, pa? Kalo ngga ada apa apa, adek balik ke kamar aja nih.”
“Astaga adek, ini juga udah jam berapa. Mau sampai dunia hancur lebur, baru kamu keluar kamar? Sana mandi dulu gih, terus makan malem, kamu belom ada makan dari tadi siang,” benar juga ucapan mamanya ini, sudah seharian penuh ia mengurung diri dikamarnya.
“Adek males banget mandi, mama. Lagian adek tuh bukannya se no life itu kok. Mumpung lagi ada waktu sendiri, lagi ngga ada yang ganggu juga. Makanya adek nonton konser pacar kedua adek aja,” orang tuanya terkekeh.
Sang Ibu terkekeh, lalu mencubit gemas pipi anaknya yang agak chubby itu. “Pacar.. pacar.., adek masih kecil gak boleh pacaran! Sapa lagi coba pacar kedua kamu, kamu aja pacaran masih cinta monyet.”
“Dih mama emang tau apa, lagian adek itu udah gede ya mama. Udah kelas 11 gini, mana ada cinta monyet,” balasnya dengan nada kesal.
“Dibilangin malah ngeyel juga ni, adek.”
“Udah udah, daripada adek males mandi dan ngga ngapa-ngapain. Sana gih adek beliin martabak manis special rasa susu keju,” gadis itu langsung menggelengkan kepalanya, lalu menyilangkan tangan di dada seperti anak kecil yang sedang marah.
“Gamau, papa. Papa aja sana sama mama keluar, sekalian jalan-jalan keluar juga gapapa. Adek mah mending dirumah aja nonton live streaming,” tolaknya.
__ADS_1
“Oh gitu. Yaudah, biar papa sama mama aja. Nanti papa ga mau lagi bayar wifi. Oh iya, sama uang jajan sekolah adek mau papa potong, motor adek yang di garasi mau papa jual aja, sayang daripada ngga dipakai. Toh adek disuruh keluar aja gak mau, kan?”
Mendengar ucapan horror itu, ia langsung berlari menuju kamar lalu langsung memakai jaket dan tak lupa membawa ponsel dan dompetnya. Lalu kembali menuju ruang tamu.
“Yaudah mana sini duitnya buat beli martabak, biar adek beliin. Tapi awas aja kalo papa beneran jual motor adek, potong uang jajan adek, sama mutusin wifi. Soalnya ntar wifi putus, adek ga bisa nonton live streaming.”
“Haha, tenang. Ngga bakalan kok, asal mau nurut aja. Nih uangnya, kembaliannya ambil aja, sekalian isi bensin kamu tuh. Biar enak ntar kalo mau kamu pake,” ayahnya kemudian menyerahkan selembar uang berwarna merah.
“Yaudah adek berangkat, assalamualaikum.”
Tak perlu berlama-lama, gadis itu langsung mengeluarkan dan memanaskan motornya dari garasi. Tak lupa pula memakai helm berwarna hitam itu, lalu vespa berwarna biru itu melaju di jalanan ibukota.
Selang beberapa menit, motor biru kesayangannya itu berhenti disebuah gerobak besar yang tak lain adalah gerobak martabak. Sebenarnya ia benar benar malas, karena tempatnya yang cukup ramai. Tapi daripada mencari tempat yang lain, ia justru lebih malas.
Pak, martabak manisnya satu ya. Rasa keju susu ya.
Geh mbak, silahkan duduk aja dulu.
20.10
Waktu berlalu, ia sudah sangat bosan menunggu martabak yang belum jadi. Sekarang hanya tersisa ia dan cowo disebelahnya yang asik bermain game itu. Rasanya ia benar benar ingin meninggalkan saja martabak ini, kalau bukan karena ancaman dari papanya, ia juga sekarang tidak akan berada disini.
Maaf lama ya mas mbak, soalnya tadi beneran banyak pesanan sebelum kalian datang. Ini pesanan mbak martabak yang rasa susu keju, ini satunya pesanan masnya yang susu kacang keju.
Paman penjual martabak itu pun menyerahkan seplastik martabak pesanan yang telah ia tunggu tunggu.
“Berapa ya, pak?”
“35 ribu mbak, soalnya mbak tadi pesan yang special.”
__ADS_1
Gadis itu langsung membuka dompetnya, aduh! Kenapa uang seratus ribu itu tidak ada di dalam dompetnya? Ia langsung mengecek saku celananya, namun nihil tak ada juga. Bagaimana ia bisa bayar? Uang yang tersisa di dalam dompet hanya tersisa 15 ribu dan 2 buah koin 200 perak.
Mampus.
“Ini berapa ya, pak?”
“Oh kalau punya mas ini 40 ribu, soalnya tadi mas bilang pesan yang istimewa sama tambah topping.”
Cowo itu membuka dompet dan memberikan selembar uang seratus ribu kepada paman martabak. “Kembaliannya ambil aja, saya bayar dengan punya dia ini,” kata cowo dengan suara berat itu dingin tanpa menoleh.
“Oh iya mbak mas, terimakasih.”
Sebelum cowo itu menaiki motor, gadis itu lebih dulu memegang tangan laki-laki itu hingga mereka berdua sama sama saling bertatapan. Deg!
“Apa?”
“Lho, Bagas?!” gadis itu tersentak kaget, cowo yang bernama Bagas itu hanya menaikan sebelah alisnya
Hah sumpah? Ini Bagas?! Mana blom sempat mandi, bikin malu aja.
Alma sungguh tak percaya bahwa cowo yang menyelamatkannya ini adalah Bagas.
“Kalo ngga ada apa apa, gue duluan.”
“Bentar dulu, itu masalah duit. Besok ketemuan aja di parkiran, nanti aku ganti duit kamu tadi. Apa mau aku ganti setengahnya dulu? Aku ada 15 ribu 200 perak,” tawarnya dengan muka polos.
“Gausah, gue ikhlas,” saat akan berjalan selangkah lagi. Bagas merasa ada yang memegang pergelangannya lagi, ia pun menoleh ke belakang.
Makasih, Bagas.
__ADS_1
Di dalam hati Alma langsung dag dig dug.
Oh gitu kalo Bagas ngomong? Pantesan dia jarang banget ngomong, suara dia emang berat banget gitu ya. Pantesan juga cewe cewe naksir sama dia.