Definition Of Love

Definition Of Love
08. Bagas dan Reno


__ADS_3

Sekarang matahari sudah mulai tenggelam, seisi sekolah juga sudah mulai kosong. Menyisakan dua anak laki-laki yang baru saja menyelesaikan latihan basket di lapangan sekolah. Mereka adalah Bagas dan Reno, mereka baru saja latihan basket di karenakan ekskul yang mereka pilih.


Sedikit ngos-ngosan karena banyak terbuang energi, dengan tubuh yang full keringat. Mereka berdua pun duduk di kursi panjang di tepi lapangan. Sesekali saling sharing sebotol air untuk melepas dahaga.


Thanks, Gas


Bagas tak menyahut, ia benar-benar malas untuk berbicara. Membiarkan hatinya saja yang mengatakan ‘sama-sama’.


Tring Tring Tring


Bagas mengambil benda pipih yang berbunyi itu dari sampingnya. Disana tertera sebuah panggilan dari ‘mama’ dan tanpa ba-bi-bu ia langsung mengangkat telepon itu.


“Assalamualaikum ma, kenapa nelpon kakak?”


Reno hanya mendengarkan pembicaraan Bagas kepada ibunya di telepon, sesekali ia juga ikut memainkan ponselnya. Tiga menit berlalu, panggilan itu pun terputus dari pihak seberang.


“Kenapa, Gas?”


“Mama nyuruh gue pulang, mau nitip martabak sama nyuruh beliin softek,” Reno tertawa mendengar ucapan Bagas yang datar namun terlalu jujur.


“Haha ga neko-neko ya lo ngomongnya, yaudah sana lo buruan dah beliin martabak. Udah sore banget juga ini, gue juga mau balik,” Bagas berdehem.


Ia pun mengambil tasnya, serta ponselnya begitu juga dengan Reno yang juga bersiap akan pulang ke rumah.


“Gue duluan, Ren.”


“Yo’i mas bro.”


Mereka pun saling tos tangan sebagai tanda perpisahan. Bagas pun mulai cabut dari sana, beberapa menit Reno juga cabut dari sekolah.


Untuk meluruskan kebingungan kalian, sebenarnya antara Bagas dan Reno itu hanyalah teman biasa. Tidak ada hubungan teman dekat atau persahabatan, mereka hanya sebatas teman ekskul.


* * *


Makasih ya, Lang. Udah mau nganterin sama ngajak jalan sama makan dulu hehe


Galang terkekeh sambil membuka kaca helm fullfacenya, sebelah tangannya mengacak gemas rambut pacarnya itu hingga sedikit berantakan. Alma tak merasa marah, ia justru ikut terkekeh membiarkan rambutnya berantakan.


“Udah sana pulang, udah mau malem mending cabut sana,” suruh Alma mengingat jam sudah menunjukkan pukul 6.20 sore.


“Oh lo ngusir gue ya, baby?”


“Iya ngusir, sana cabut ah. Aku yang mau mandi terus mau sholat maghrib,” Galang tersenyum.


Andai kita satu keyakinan batin cowo itu.


“Waduh tumben-tumbenan pacar gue sholat haha,” Alma langsung menampilkan ekspresi kesalnya itu.


“Sering sholat kok tapi banyak bolong soalnya kelupaan sama males, ni mumpung lagi mau sholat jadi ya sholat aja.”


“Yaudah gue-.”


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar

__ADS_1


Bunyi indah adzan maghrib berkumandang jelas terdengar di telinga. Membuat sepasang anak muda itu sempat terdiam beberapa saat.


“Ga baik diluar, Lang. Masuk aja yuk dulu kerumah, ntar habis maghrib aja pulangnya,” Galang mengangguk.


Singkat cerita akhirnya Galang memutuskan untuk menuruti ucapan Alma. Sesampainya di dalam rumah pacarnya itu, ia disambut hangat oleh Malik dan Aliya. Tak hanya di jamukan minum dan cemilan, ia juga disuruh menunggu agar bisa ikut makan malam. Tentu saja Galang tidak menolak!


Begitu juga dengan Alma, ia langsung membersihkan diri dikamar mandi sekitar 15 menit, sehabis mandi dan memakai pakaian ia langsung bergegas menunaikan sholat berjamaah dengan keluarganya.


Galang benar-benar takjub, kaget dan seakan tak percaya melihat Alma yang ia lihat saat ini. Ia merasa gadis itu benar-benar cantik, bahkan teramat cantik, sangat menggemaskan, sekaligus sangat kagum ketika meliat pacarnya itu mengenakan mukena berwarna pink muda itu. Ia tak henti-hentinya menarik garis bibir, jantungnya benar-benar deg-deg an.


“Ih Galang jangan diliatin gitu ih!” Alma mengerucutkan bibirnya, lalu menutupi wajahnya dengan tangan.


“Apasih baby, udah sana sholat ah. Mama papa lo udah nungguin tuh,” Alma seakan baru tersadar.


“Oh iyaudah aku sholat dulu ya, Lang. Bentar aja paling 10 menit,” Galang mengangguk.


Alma pun langsung ikut sholat berjamaah yang hampir dimulai, akhirnya ia pun sholat bersama-sama dengan kedua orang tuanga kecuali Galang yang setia duduk di ruang tamu.


Ada hal yang belum kalian ketahui, bahwa mereka berdua berbeda keyakinan. Namun meski begitu, dari awal mereka sudah sepakat dan terus terobos saja dengan hal itu, padahal sudah sangat jelas endingnya akan sedih.


15 menit berlalu


Sehabis sholat bersama, akhirnya mereka semua beserta Galang akhirnya memulai makan malam bersama di ruang makan diiringi senda gurau kecil agar tidak terlalu canggung.


“Galang, habis ini mau kemana? Langsung pulang apa gimana?” tanya Malik sambil makan.


“Saya langsung pulang aja, om.”


“Engga ke rumah Dion dulu?” Alma ikut bertanya, Galang menggeleng.


“Sendiri, tan. Soalnya papa sama mama belom bisa balik ke Indonesia,” Aliya ber oh-ria.


“Papa sama mama kamu masih tinggal di singapura? Terus kamu disini sama siapa?” Malik bertanya lagi.


“Saya sendiri om, ya ada oma saya tapi lumayan jauh.”


“Oh gitu, kapan-kapan main aja kesini ya Lang. Tuh si Alma kadang kalo ga ada temen, suka ngurung diri di kamar,” Galang terkekeh mendengar ucapan Aliya, sedangkan Alma langsung menampilkan wajah tidak sukanya itu.


“Adek kan engga ngapain-ngapain juga kali di kamar, adek cuman nonton livestreaming aja kok kadang.”


“Kamu ini ya, ada mulu jawabannya.”


Galang tak henti-hentinya tertawa sepanjang obrolan keluarga cemara itu. Suasana hangat dan sangat ia rindukan dari keluarganya, bahkan terakhir ia berkumpul seperti ini juga beberapa tahun yang lalu. Sekarang orang tuanya benar-benar sibuk di Singapura untuk mengurus bisnis.


Beberapa puluh menit berlalu, jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Galang pun berpamitan kepada Malik dan Aliya karena akan segera pulang.


* * *


Savage!


Cowo itu menatap fokus layar ponselnya yang sedang menampilkan game Mobile Legends, ibu jari tangannya bergerak-gerak melakukan perlawanan kepada musuh.


Victory

__ADS_1


Alhamdulillah ya Allah!


Sorak cowo itu girang sambil tertawa puas, tak hanya menang tetapi ia juga mvp. Ditengah kegirangannya, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan disana terlihat ada ibunya yang sedang berdiri di ambang pintu sambil membawa sepiring makanan.


“Mama sayang udah balik? Kakak kok ga denger?”


Sang ibu mendekat lalu duduk disamping anaknya. “Hadeuh, gimana ga denger. Orang kakak asik dikamar main game, noh suaranya kedengaran sampai luar.”


Bagas tersenyum tanpa dosa. “Itu apa, ma?”


“Ini rendang, kesukaan kakak. Kebetulan tadi ibu-ibu komplek pas selametan bikin ini, pas dibagian dapur yaudah mama di bungkusin ini.”


“Suapin.”


Rita menggeleng keheranan, namun ini sudah biasa ketika putra tunggalnya ini selalu minta di suapin ketika sedang malas padahal sudah besar.


“Ayah mana, ma? Kok hilang pas habis maghrib tadi?” tanya Bagas.


“Papa di suruh dateng ke cafe temennya, soalnya temennya baru buka cafe.”


“Pantesan kakak ga liat.”


“Oh iya, kamu gimana sekolahnya?” tiba-tiba tanya Rita, sembari menyuapi anaknya itu.


“Ya gitu, aman kok ma.”


“Jangan aman-aman aja, sekarang kan kamu ga lama lagi udah naik kelas 12 aja, kak. Mama pengen kakak pas udah kelas 12 bener-bener belajar,” Bagas berdehem.


“Tapi mama heran deh, kakak beneran ga ada naksir sama cewe gitu?”


“Ada.”


“Siapa?”


“Alma.”


“Alma?” Bagas mengangguk.


“Alma siapa? Temen kamu? Pacar kamu? Calon istri?” Bagas hampir tersedak ketika sedang makan.


“Pengennya gitu, cuman akrab aja. Dia anak kelas sebelah.”


“Kakak suka? Suka kenapa?”


“Ya gapapa, kakak suka aja dari dulu.”


“Kenapa kakak ga nembak aja?”


Bagas terdiam sejenak, bagaimana bisa ia mengatakannya? Kenyataannya saja bahwa Alma masih berpacaran dengan Galang, ia pun belum cukup dekat dengan gadis itu. Lebih baik perasaannya itu di simpan sedalam lautan saja.


“Gapapa, udah ayo suapin kakak lagi,” pinta Bagas guna mengalihkan topik.


Sedikit tentang perasaan Bagas, sebenarnya juga dari awal masuk SMA ia sudah jatuh hati dengan Alma. Tapi ia tidak terlalu menghiraukan perasaannya itu, ia hanya menganggap angin lalu. Tapi nyata nya perasaannya kian membesar, apalagi ia sekarang sempat merasa ‘dekat’ membuat ia benar-benar semakin jatuh cinta.

__ADS_1


Namun Bagas juga tidak ingin merusak hubungan antara Galang dan Alma. Karena mau bagaimana pun itu bukan hak-nya dan ia juga mencoba bodo amat saja. Meskipun ia merasa tidak terima ketika tahu bahwa Galang pernah hampir melakukan hal diluar nalar, tapi ia hanya bisa diam saja karena nyatanya justru pasangan itu kembali dekat.


__ADS_2