
Sudah 1 bulan berlalu, tak terasa ulangan semester kedua sudah hampir berakhir. Selama sebulan, Alma merubah diri menjadi ambis dan mencari kesenangan yang baru. Rasa traumanya kini perlahan mulai hilang, meskipun ia masih menjaga jarak dengan Galang.
Tapi disisi lain, Galang masih saja mencoba mendekatinya kembali dan memulai interaksi. Namun Alma mencoba menjauh, bahkan ia juga memblokir semua tentang Galang dari ponselnya. Tapi bohong juga namanya kalau ia tidak merindukan moment-moment bersama Galang.
Dan bagaimana dengan Felica? Ia masih tetap berteman, hanya saja ia lebih membatasi diri pada Felica. Felica juga sudah mengetahui ada apa diantara Alma dan Galang, padahal ia tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun selain Bagas.
Jam istirahat telah tiba
Pengawas mulai mengambil soal dan jawaban ulangan, dan pergi dari sana. Semua murid-murid bersorak kegirangan dan bahagia karena mereka ulangan sudah berakhir. Termasuk Alma dan Felica, mereka langsung ber tos tangan dan saling memeluk satu sama lain.
“Gue seneng banget ulangan udah kelar, jadi kita tinggal nunggu akhir hasil aja!” Felica kegirangan.
“Haha, iya. Semoga nilainya masuk kkm semua haha!” Mereka berdua pun tertawa bersamaan.
“Gue harap kita bisa satu kelas lagi ya, Al. Sumpah gue males banget harus di rolling lagi pas kelas 12.”
“Hehe iya, semoga sih,” Alma tersenyum kikuk.
“Ke kantin, yok? Gimana kalo hari ini kita makan mie ayam bude? Udah lama ga makan mie ayam kantin.”
“Gas.”
Mereka berdua pun keluar dari kelas menuju kantin sambil berbicara kecil tentang sekolah. Lalu sesampainya di kantin, mereka berbagi tugas untuk berpencar. Felica langsung membeli dua porsi mie ayam untuknya juga Alma. Begitu juga Alma yang tugasnya mencari minuman.
Ketika sudah berada di depan kantin yang menjual minuman, disana terlihat sangat ramai dan bahkan menutupi kantin itu. Dirinya bingung bagaimana ia akan memesan, apalagi tubuhnya yang terbang cukup pendek.
“Misi dong misi, mau mesan ni,” katanya mencoba melewati kerumunan itu namun tidak di hiraukan orang-orang.
Lo mau pesan apa, hah?
Suara cowo yang sangat berat itu membuat bulu kuduknya berdiri, sudah pasti itu adalah suara khas milik Bagas. Ia pun membalikan badannya, benar saja jarak tubuhnya hanya beberapa centi. Ia menelan salivanya dengan susah.
“A-anu, es coklat susu sama es jeruk,” Alma sedikit menjauhkan jaraknya.
Badan gagah dan tinggi laki-laki itu dengan mudahnya menerobos kerumunan, bahkan di bukakan jalan. Alma langsung menganga tak percaya, padahal daritadi ia sangat kesulitan menyerobot.
Beberapa menit berlalu, kemudian Bagas menghampirinya sambil membawa minuman di kedua tangan cowo itu dan menyodorkannya kepadanya.
“E-eh makasih, Gas,” Bagas tak menyahut.
“Ini uangnya-,” lanjutnya sambil menyodorkan uang berwarna hijau.
“Ga usah, gue duluan.”
Singkat, padat dan jelas lalu Bagas langsung pergi dari sana. Sumpah ia benar-benar tak bisa berkata-kata lagi, perasaannya campur aduk sekaligus bingung dan aneh dan Bagas. Kemudian ia pun membawa kedua minuman tersebut dan bergegas mencari Felica.
\* \* \*
“Eh iya, sorry nanya, itu lo gimana sama Galang?”
Alma langsung berhenti mengunyah, ah nafsu makannya tiba-tiba langsung berkurang!
“Ya gitu.”
“Ck, Al. Gue tu nanya doang, gue seriusan ini lo gimana sama Galang?” Felica mengulang pertanyaan yang sama.
__ADS_1
“Ya emang gitu, gue jaga jarak aja.” Alma membalas singkat, lalu kembali melanjutkan makannya.
“Tapi lo masih suka sama Galang, setelah apa yang Galang lakuin ke lo?”
Sumpah ini orang kenapa ya batinnya.
“Ga tau, udah lah Fel ga usah dibahas,” Felica hanya terdiam saja.
“Tapi ni ya, menurut gue mungkin Galang khilaf. Di luar sana banyak lho Al, cewe yang minta di gituin sama pacar lo, dan harusnya lo seneng tau,” Alma benar-benar tak percaya Felica mengatakan ini.
Kamu termasuk cewe itu kan? Batin Alma lagi.
“Ya.”
“Ni anak di bilangin susah banget sih, yaudah si terserah lo,” kata Felica dengan nada yang sedikit kesal.
Kemudian hanya ada keheningan diantara mereka, hanya ada suara orang-orang. Alma benar-benar malas sekali rasanya ingin berbicara, baginya ucapan Felica tadi benar-benar menusuk hati.
Pengen cepet-cepet pergi dari sini rasanya
Baby...
Alma langsung menundukkan pandangannya. Suara yang sungguh tidak asing, dan panggilan sayang untuknya. Galang, entah sejak kapak cowo itu langsung duduk di sebelahnya. Membuat detak jantungnya berdegup sangat kencang.
“Dih, ngapain lo kesini?” Cerocos Felica langsung, dengan nada berpura-pura kesal.
“Suka-suka gue dong, Alma kan pacar gue. Kenapa lo?”
“Pacar kok kaya gitu? Hahaha,” sindir Felica tertawa.
“Seriusan? Nanti gue shareloc ya, awas aja ga dateng hahaha,” Felica dan Galang tertawa bersamaan.
“Yaudah, lo sana dulu. Gue mau berduaan sama pacar gue,” Felica mengerucutkan bibirnya.
“Kan gue dari tadi disini sebelum lo datang!”
“Gapapa sih kalo lo mau disini, yaudah kita batalin aja haha,” lagi dan lagi mereka berdua tertawa sambil berpukul-pukul ria.
Paling males di tengah-tengah dua orgil ini!
“Haha jangan dong, yaudah gue ke meja lain aja. Lo nikmatin aja berduanya,” Felica mengangkat mangkok mie ayamnya.
“Gue sama Galang cuman bercanda ya, Al. Jangan dianggap serius, hehe,” Alma memasang telinga tulinya.
Felica pun pergi dari sana mencari tempat yang lain, kini hanya tersisa antara ia dan Galang. Tak ada obrolan diantara mereka, sebenarnya Alma juga ingin pergi dari sini namun begonya ia malah ingin tetap disitu dan mencoba tenang.
Galang mencubit pipi yang agak chubby itu sambil tersenyum kecil. Jujur, saat-saat seperti inilah yang ia rindu-rindukan meskipun ia masih sedikit trauma.
“Gemes.”
Alma langsung menepis tangan Galang dari pipinya. “Ga usah pegang-pegang, emang yang kemaren belum cukup?”
Galang terdiam, ia paham dan ingat betul saat ia akan melecehkan pacarnya malam itu. Dalam hati ia merasa menyesal karena telah berbuat hal yang tidak senonoh, padahal selama ini ia tidak pernah melakukan itu pada Alma.
“Maaf.”
__ADS_1
“Gue beneran minta maaf, gue janji dan gue khilaf ngelakuin hal itu. Tolong maafin gue, gue tau gue salah tapi gue masih beneran sayang sama lo,” kata Galang dengan nada sedikit lirih dan bersungguh-sungguh membuat Alma tak enak hati.
“Ya.”
“Please, baby... tolong maafin gue ya? Gue pengen kita balik kaya dulu, ngga se asing sekarang. Gue beneran minta maaf, gue juga kecewa sama gue kenapa gue bisa ngelakuin hal bangs*t kaya gitu ke orang yang paling gue sayang,” mendengar itu rasanya benteng pertahanannya sudah hancur lebur.
“Tapi kalo emang lo ga bisa balik lagi, at least lo mau maafin gue kan?”
Alma diam.
“Tolong kasih gue jawaban, honey. Apapun itu gue terima, lo bebas mau maki-maki gue sebanyak apa. Karena gue emang pantes ngedapetin itu, lagian cowo bangs*t, t*l*l, baj*ng*n kaya gue ga pantes-“
“Stop,” potong Alma, Galang hanya bisa terdiam.
“Gue pergi-“
“Aku udah maafin, ga usah bilang diri kamu ini itu apalah malah jadi ga enak di dengar,” Galang benar-benar bahagia, ia langsung tersenyum.
Galang langsung memeluk Alma dengan sikon yang tidak pas, banyak mata yang langsung menyorot mereka berdua. Alma yang merasa Galang berlebihan dan membuat ia susah bernafas lalu mendorong dada cowo itu.
“Malu, diliatin banyak orang.”
“Hehe, gapapa. Thanks mau maafin gue, tapi lo masih mau kita kaya dulu, kan?” Alma membiarkan otak dan hatinya saling beradu argumen.
Entah dirasuki oleh makluk apa, ia justru memberi lampu hijau. “Jalanin aja dulu, tapi janji jangan kaya gitu lagi?”
Galang mengangguk cepat super excited. “Gue janji, honey.”
“Yaudah aku mau ke kelas, udah dulu ya,” Alma mengangkat minumannya dan berdiri dari kursi.
“Cepet banget, tapi yaudah gapapa hehe. Dadah baby, nanti pulang sekolah gue tungguin di parkiran ya.”
Alma tak berpura-pura tak menghiraukan itu dan pergi dari sana dengan menahan senyum saltingnya itu.
“Asal lo bahagia, awas aja Galang brengs*k nyakitin lo lagi” desis seseorang dengan suara beratnya.
\* \* \*
Reno!
Cowo yang merasa namanya itu menoleh ke belakang, ia melihat seorang gadis bertubuh mungil sedang lari ke arahnya. Ia tersenyum, ia pun memberhentikan langkahnya dan menunggu gadis itu menghampirinya.
“G-galang, mana? huhh...” tanya Alma sedikit ngos-ngosan.
“Tadi dia ke toilet, mungkin udah keluar. Langsung cari aja ke parkiran, mungkin dia udah nungguin lo,” Alma mengangguk.
“Makasih.”
Sempat terdiam beberapa saat untuk menetralkan nafasnya, kemudian Alma melanjutkan langkahnya ke tempat yang Reno sebutkan yaitu parkiran sekolah.
Reno tersenyum kecil melihat Alma yang perlahan tidak terlihat lagi dari kejauhan. Entah kenapa jantungnya dag dig dug. Tapi Reno langsung menepis perasaannya itu dan lalu melanjutkan langkah di lorong menuju toilet laki-laki.
Sebenarnya ada yang Reno sembunyikan dari Galang, tentang perasaannya kepada Alma. Ya, kalian sudah bisa menebak bahwa Reno juga menyukai Alma sejak mereka awal masuk SMA. Hanya saja ia terlambat untuk mengatakan perasaannya dan malahan temannya Galang yang terlebih dahulu langsung berpacaran dengan Alma.
Namun ia hanya bisa menerima dengan lapang dada, ia juga merasa senang ketika melihat Alma bahagia bersama Galang. Yang ia tahu pun, Galang juga sangat menyayangi Alma bahkan sedikit berlebihan, namun ada juga beberapa dari sikap Galang yang tidak ia sukai yaitu friendly.
__ADS_1