Definition Of Love

Definition Of Love
06. Curiga


__ADS_3

Al, gue kebelet ni. Gue nitip handphone ya bentar, mau ke toilet udah ga tahan! Eh iya, kalo bokap gue nelpon jangan diangkat ya, paling bokap gue udah nunggu depan gerbang.


Sehabis mengatakan itu, Felica memberikan ponselnya kepada alma dan tanpa basa-basi Felica langsung berlari keluar menuju toilet sekolah. Alma tak menghiraukannya dan fokus membereskan buku dan alat tulisnya.


Jam sudah menunjukkan pukul 16.15, dimana bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Saat ini Alma hanya tinggal menunggu jemputan dari Malik yang sudah on the way di jalan.


Ting!


Bunyi dari ponsel Felica, ternyata terdapat sebuah notif. Alma mengambil ponsel Felica yang menyala itu, tiba-tiba justru ia menjadi salah fokus.



Eh kaya kenal...


Mata Alma terfokuskan dengan photo cowo di lock screen Felica, ia benar-benar tidak merasa asing dengan cowo itu. Namun ketika ia akan mengecek ponsel itu lebih lanjut, tiba-tiba Felica datang dan langsung merebut ponsel itu.


“E-eh? Lo udah kelar beresin bukunya?” tanya Felica nervous dan mengalihkan pembicaraan.


“Udah. Eh Fel, itu-.”


“Eh, b-bokap gue a-ada nelpon?” potong Felica.


“Ga ada, tapi bunyi notif.”


“O-oh gitu. Yaudah gue duluan ya, kayanya bokap gue udah di depan deh. See you!”


Belum sempat Alma lanjut berbicara, Felica langsung mengambil tasnya dan lalu pergi dari sana meninggalkannya. Alma menaikan sebelah alisnya, ia merasa seperti ada yang aneh dari gelagat temannya tadi.


Bodo ah!


Ia pun memilih untuk keluar dari kelas. Ketika ia akan melangkah berjalan di koridor, entah dari mana dan sejak kapan ada cowo yang menepuk bahunya. Tanpa ia sadari, ternyata cowo itu adalah Bagas.


“Astaghfirullah, Bagas!”


“Jaket gue, mana?” tanya Bagas to the point.


“Hah, jaket apaan?”


Bagas menghela nafas panjang. Ketika mulutnya terbuka akan menjelaskan, baru saja Alma menyadarinya.


“Astaga, iya lupa! Jaket kamu ketinggalan di kamar, belum aku cuci juga!”


“Oh, yauda-.”


“Besok aku bawain, gapapa kan?”


“Malam ini lo ada di rumah?” Alma mengangguk.


“Ga usah, biar malam ini gue yang ke rumah lo ngambil jaketnya,” lanjut Bagas.


“Besok aja deh, aku jadi kasian sama kamu soalnya yang minjem kan aku. Kalo mau besok aja di sekolah, biar bisa di cuci juga.”


“Ga usah di cuci, pokoknya ntar malam gue ambil.”

__ADS_1


“Aku jadi ga-.”


“Gue minta kontak whatsapp lo, biar nanti gue kasih tau kalo gue udah di depan rumah lo,” Bagas langsung menyodorkan ponselnya dengan muka datar.


“Ih tapi aku jadi ga-.”


“Buruan, gue mau pulang,” Alma langsung menambahkan kontaknya di ponsel Bagas dengan nama ‘Alma SMA’. Lalu ia memberikan ponsel itu kembali pada Bagas.


“Gue duluan.”


Sehabis mengucapkan itu, Bagas lalu nyelonong saja dari hadapannya. Alma terdiam, sambil meliati Bagas yang terus menjauh itu.


\* \* \*


Sehabis makan malam, Alma langsung ke kamar dan menonton live streaming artis favoritenya seperti biasa dan ditemani oleh coklat yang ia beli sehabis pulang sekolah di Indoapril.


Ting!


08672XXXXXXX


gue bagas, udah di depan


Sehabis meliat itu, Alma langsung mengikat rambutnya dan memoleskan sedikit liptint di bibir agar sedikit berwarna. Sebelum keluar rumah, tak lupa ia menambahkan kontak Bagas lalu membalas chat tadi.


bagas sma:


gue bagas, udah di depan


bentar, otw keluar


“Sorry, udah lama nunggu ya?” cowo itu menggeleng.


“Eh iya, kamu bilang ga usah di cuci kan? Yaudah aku kasih parfum sebotol biar wangi hehe,” cowo membuka helm fullface nya.


Bagas.


Bagas tersenyum kecil tanpa ia sadari. “Thanks,” katanya.


“Aku yang harusnya terima kasih sama kamu, maaf juga bikin kamu repot nyamperin kesini,” balasnya.


“Gapapa, soalnya gue kesini mau kerumah temen juga jadi sekalian aja,” Alma ber oh ria.


“Mau masuk dulu?”


“Ga usah repot-repot, gue cuman mau ngambil ini,” Bagas mengangkat plastik berisi jaket itu.


“Ga ngerepotin, beneran ga mau masuk dulu?”


“Thanks, next time aja,” Alma mengangguk.


“Eh iya gimana tadi ulangan matematika? Soalnya sama apa ngga?” tanya nya ber basa-basi.


“Iya, setengah sama.”

__ADS_1


“Susah ngga? Ya pasti susah sih hehe.”


“Ya lumayan, tapi masih bisa dikerjain.”


“Wah! Berarti kamu jago dong matematika?”


“Gue cuman bisa, ga jago.”


“Sama aja itu, hahaha! Nanti kapan-kapan aku mau deh di ajarin matematika sama kamu, gimana boleh ga?” Bagas mengangguk.


Dengan senang hati batin Bagas.


Sehabis itu hanya ada kecanggungan dari mereka berdua, habisnya sama-sama bingung mau berbicara apa. Alma takut dirinya sok asik, namun di sisi lain Bagas juga takut dirinya akan dikira ‘suka’ karena dirinya sudah effort ke rumah Alma hanya untuk mengambil jaket.


Padahal emang iya.


“Gimana lo tadi sama Galang?” Bagas memecah keheningan.


“Eum... ngga ada apa-apa sih, tapi pas tadi pagi dia kaya coba mau ngomong sama aku. Tapi aku langsung lari bilangnya mau ke toilet, habisnya aku masih takut juga.”


“Yaudah, semoga ga terjadi apa-apa lagi ya sama lo. Semoga lo ga trauma lagi,” Alma tersenyum dan mengangguk.


Gue tadi ngomong apaan, ya? Bikin malu aja! Batin Bagas.


Bagas memasang kembali helm fullface-nya, dan menyalakan motor bersiap akan pergi dari sana.


“Gue duluan.”


“O-oh okay, emang rumah temen kamu dimana?”


“Blok F.”


“Oalah, deket ya. Yaudah hati-hati ya, Gas. Thanks buat jaket sama yang ‘kemaren’.”


“Sip.”


Bagas pun pergi dari sana dengan motornya menuju rumah temannya yang tak jauh dari sana.


Deg!


Entah kenapa tiba-tiba jantung Alma berdebar-debar, perasaannya menjadi campur aduk tak bisa di jelaskan. Alma bingung dengan apa yang ia rasakan setelah kepergian Bagas tadi.


Masa iya gue baper? Ngarang ah!


Ia pun memutuskan masuk ke rumah dengan senyum-senyum kecil. Begitu juga dengan Bagas, yang kini sedang tersenyum lebar di balik helm nya.


\* \* \*


Sebelum tidur, seperti biasa Alma memainkan ponselnya dan melihat semua photo di galeri. Dan sebelum photo terakhir, tiba-tiba ia terdiam dan terus meratapi sebuah photo.



Hah?

__ADS_1


Ia tidak sedang salah liat. Ia mencoba mengingat cowo yang ada di lock screen Felica yang sangat mirip 99% dengan foto Galang. Pikirannya langsung kacau, ia tidak bisa berpikir jernih. Ia terus meyakinkan diri agar tidak overthinking, dan menganggap itu hanyalah sebuah kebetulan.


Positive thinking, mungkin foto orang kali ya? Tapi masa iya se mirip itu sama Galang?


__ADS_2