Definition Of Love

Definition Of Love
9. Rencana Party


__ADS_3

Mie ayam enak nih, ngantin yok!


Ajak Felica ketika mendengar bel istirahat berbunyi, saat ini mereka masih berada di dalam kelas karena guru pengajar baru aja keluar dari kelas mereka.


“Kamu duluan aja, Fel. Soalnya tadi pas cek hp, papa udah nelpon berkali-kali. Tapi ke reject soalnya mode silent,” Felica ber oh-ria.


“Yaudah gue duluan ya, lo ntar langsung samperin aja gue di tempat kaya biasa. Anyway lo mau titip mie ayam juga kah? Biar gue pesenin?”


“Males ah, aku hari ini mau makan piscok aja.”


“Yaudah ntar langsung nyusul aja ya, jangan lama-lama.”


Singkat cerita beberapa menit sehabis menelpon Malik, Alma pun keluar dari kelas menuju kantin.


Sesampainya di kantin, ia langsung on the way ke tempat piscok abang kantin langganannya. Seperti biasa, ia harus mengantri dikarenakan terhalang banyak orang yang ikut membeli. Bahkan penjualnya saja bingung harus melayani yang mana dulu.


Tanpa ia sadari dari belakang ketika sedang mengantri, ada sesosok cowo dari kelas lain yang berada di belakangnya. Cowo itu terdengar seperti sedang bercanda dengan temannya yang terdengar sedikit ‘ambigu’ namun tidak ia hiraukan.


Entah sedang dirtymind atau sedang berimajinasi apa, tangan cowo itu dengan sengaja hampir menepuk ‘bokongnya’ yang jelas hampir melakukan pelecehan tanpa Alma sadari. Beberapa cm sebelum mengenai bokongnya, tiba-tiba tangan cowo itu terhenti oleh cekalan kuat.


Ya, Bagas menahan tangan cowo bangs*t itu, untung saja ia sempat dengan sigap menahan tangan ‘liar’ itu. Sontak cowo itu langsung menelan saliva bersusah payah, mengingat sapa lawan di hadapannya ini. Dengan suara berat dan seraknya, Bagas berbisik di telinga cowo itu yang membuat sekujur tubuh cowo itu ngefreez dan bulu kuduknya berdiri.


“Sekali lagi gue liat lo masih kaya gitu, siap-siap abis di tangan gue,” bisiknya dengan penuh tekanan.


Cowo bernama Reza itu langsung menarik temannya dan pergi dari sana karena nyali nya sudah menciut. Bagas benar-benar tak habis pikir, ada saja pikiran dan perlakuan tak senonoh ketika di tempat ramai seperti ini, apakah sengaja ingin mempermalukan diri sendiri? Pikir Bagas.


“E-eh, Bagas?”


Kedua mata remaja itu saling bertemu dan bertatap-tatapan dengan intens. Deg! Bagas yang tidak tahan dengan situasi itu, ia langsung mengalihkan pandangannya. Ia mencoba menahan senyum juga rasa salah tingkahnya.


“Bagas mau beli piscok juga?” Bagas menggeleng.


“Gue mau beli es.”


“Oalah dikirain beli piscok juga, soalnya kan antriannya panjang banget.”


“Pesenan lo udah?” Alma menggeleng dengan polos, Bagas rasanya ingin terbang keluar angkasa melihat ekspresi gadis di hadapannya ini yang seperti anak kecil.


“Emang lo pesen rasa apa?” Tanya Bagas.


“Piscok rasa milo sepuluh ribu.”


Seperti scene di episode 7, Bagas dengan mudah menerobos lalu memesankan pesanan crushnya itu. Tak sampai semenit, piscok itu sudah berada di tangannya. Bagas langsung menyodorkannya ke Alma tanpa berbicara.


“Eh apaan ini?”


“Lo mesen ini, kan?” Alma mengangguk.

__ADS_1


“Bagas lagi yang ngemesenin?” Bagas berdehem.


Alma tersenyum senang, hingga memperlihatkan giginya. “Makasih ya, Gas. Hehe, bentar ini sepuluh ribu-“


“Gue duluan.”


Belum sempat memberikan uang berwarna ungu itu, cowo itu lantas langsung pergi dari sana. Alma lagi dan lagi hanya bisa terdiam melihat Bagas pergi dari hadapannya, tapi ia juga merasa senang karena ia jadi tidak perlu mengeluarkan uang.


Makasih, Bagas. Batin Alma.


Tanpa mereka sadari juga, sedari tadi ada mata yang melihat ke arah mereka. Cowo itu tersenyum miring, dia adalah Reno.


\* \* \*


“Oalah jadi gitu, kemungkinan besar sih lo masuk ke 12 Ipa 1 sih, Al.”


“Ya tapi gapapa sih kalo emang dirolling, soalnya kelas 12 Ipa 1 kan ada AC nya haha jadi ga bakal gerah,” mereka berdua tertawa.


Saat ini Alma dan Felica sedang duduk bersama di kantin, sambil menikmati cemilan dan makanan. Mereka sedang membahas tentang perollingan kelas yang dilakukan kepala sekolah sebagai peraturan baru.


Ketika asik mengobrol tiba-tiba Galang datang entah dari mana, lalu ikut join dan duduk disebelah pacarnya, Alma. Felica yang melihat Galang dihadapannya langsung bergelagat aneh, ia langsung membenarkan tatanan rambutnya.


“Ngapain lo kesini?” Tanya Felica judes.


“Santai aja kali, Fel. Gue cuman bentar disini, gue habis ini mau lanjut ke rooftop juga bareng temen-temen gue.”


“Ada, tadi bareng gue. Terus mau beli es katanya, yaudah mending gue kesini soalnya ada yang mau gue kasih tau.”


“Apa?” Tanya Alma.


“Apaantuh? Buruan dong, gue excited ni,” Felica kepo.


Galang terkekeh, ia langsung mencubit pipi pacarnya itu hingga sedikit memerah. Alma langsung melepaskan cubitan Galang dari pipinya, ia mengusap pipinya yang memerah.


“Aw... sakit tau, Lang. Emang ada apa sih?”


“Maaf, sayang. Btw lo gada merasa lupa atau apa gitu kalo besok hari apa?”


Felica menyahut, “hari apaan, emang?Jum'at kan?”.


“Ya bener sih jum'at kan? Tapi ada something yang harus diinget-inget.”


Alma tersenyum kecil, ia berpura-pura tidak mengingatnya. Dalam otaknya sangat mengingat jelas bahwa besok adalah hari ulang tahun Galang yang ke 18, dan juga sekaligus bertepatan hari anniversary mereka yang ke 1 tahun.


“Ga inget, emang apa?”


“GUE INGET!” Felica sedikit berteriak, membuat Alma menoleh.

__ADS_1


“Gue tau, besok lo ulang tahun kan? Iya kan? Begh, pacar sendiri ultah kok ga inget sih, Al. Parah banget lo asli,” sindir Felica, Alma hanya diam saja.


Galang yang merasa tidak nyaman langsung menyahutnya. “Iya bener besok gue ulang tahun, tapi gue malem ini pengen ngadain party di club. Gue mau kalian dateng ya, apalagi kamu honey.”


Alma merasa salah tingkah. “Tapi ga tau ya aku bisa dateng apa ngga, soalnya kalo malem biasanya pas hoki aja diizinin keluar.”


“Ck, dateng lah Al. Cowo lo sendiri noh ultah, lo sebagai orang penting masa ga mau dateng?”


“Bukan ga mau dateng, tapi diusahain. Ya kalo aku ya bisa-bisa aja, tapi kadang papa yang susah di kasih tau.”


“Tinggal langgar aja apa susahnya sih, kan itu acara penting lho. Gue aja excited banget pengen dateng, gue abis pulang sekolah mau ke salon terus fitting baju deh,” Alma memutar bola mata dengan malas, berbicara seperti ini dengan Felica benar-benar menguras emosi dan energy.


“Widih, bahas apaan nih?”


Reno dan Dion muncul dari belakang dan ikut duduk disana.


“Gue tebak, pasti bahas party Galang ya?” Felica mengangguk cepat.


“Lo dateng juga kan, Yon? Ren?”


“Pasti lah,” sahut Reno dan Dion kompak.


Alma tak mau ikut bicara dalam obrolan party-party itu, ia hanya diam dengan cantik sambil menikmati piscoknya. Padahal ia benar-benar badmood dan ingin pergi dari sini sekarang juga.


“Intinya gitu aja, sayang. Usahain dateng ya? Ntar gue coba ngomong ke papa deh kali aja lo di izinin,” Galang mengelus surai rambut Alma dengan sayang.


“Aamiin, semoga bisa hehe.”


\* \* \*


Bagas memasang helm fullfacenya lalu menyalakan mesin motor ninjanya itu. Ketika hendak tancap gas, tiba-tiba terdengar suara teriakan yang memanggil nama Bagas. Awalnya tak Bagas hiraukan namun suara itu semakin jelas.


Gas!


Benar saja itu adalah Reno, Bagas pun mematikan motornya. Akhirnya Reno pun menghampiri Bagas di parkiran itu, yang hanya memang ada mereka berdua saja.


“Apa?”


“Lo mau balik?” Tanya Reno basa-basi, Bagas berdehem singkat.


“Gue mau nanya sama lo, lo jawab jujur. Gue ga bakal ngasih tau ke orang lain juga,” dari dalam helm, Bagas mengangkat sebelah alisnya.


Ia benar-benar tak paham kemana arah pembicaraan Reno ini.


“Buruan,” desak Bagas.


“Lo suka sama Alma?”

__ADS_1


Hah?


__ADS_2