
Bel istirahat beberapa menit yang lalu, banyak siswa dan siswi berhamburan keluar kelas menuju kantin untuk menikmati waktu senggang mereka yang hanya 20 menit itu.
Buruan yok, ke kantin.
Alma menerima ajakan Felica, seperti biasa temannya itu selalu excited mengajaknya ke kantin pada jam istirahat. Dan seperti biasa, kantin selalu ramai dan penuh dengan siswa siswi lain. Ada yang mengantri makanan, ada yang berutang, dan ada yang hanya ikut duduk di kantin.
“Lo mau pesen apa, Al?” Tanya Felica.
“Gatau, masih bingung. Kamu emang mau pesen apa?” Alma malah bertanya balik.
“Mau mesen es krim sih, tapi kayanya udah kehabisan deh. Itu kayanya full anak anak disana ngantri,” Felica menghela nafasnya, padahal ia sangat ingin makan es krim.
“Sabar Fel, Sabar. Yaudah ke kantin tengah gimana? Kali aja ada yang lain ato yang dingin dingin juga.”
Felica hanya berdehem membalasnya, kemudian mereka berdua pergi dari sana menuju kantin 2 yang berada di tengah. Namun ketika berjalan, tiba-tiba tubuh Felica bertubrukan dengan seorang laki laki, yang tak lain adalah Galang.
Sialnya lagi, ketika bertubrukan dengan tubuh Galang. Membuat setengah kopi susu yang di pegang Galang tumpah, dan mengotori seragam Felica. But masalahnya bukan itu, melainkan tumpahan kopinya tepat di dada Felica.
Kedua tangan Galang reflek memegangi bagian seragam Felica di bagian dada. Galang mengecek seragam Felica yang terkena noda kopi susu.
Eh sorry
Galang langsung menghentikan tangannya itu karena reflek. Felica awalnya sempat terdiam, terdiam mematung dan tidak bergerak ketika Galang memegangi seragamnya di bagian situ tadi.
“Sorry, Fel. Gue gak sengaja,” Galang meminta maaf.
Awalnya Felica seperti ngang ngong, tapi langsung berubah marah. “T-tuh kan! Seragam gue kena jadinya, ini noda susah hilang tau!”
“Ya maap, gue ngga sengaja.”
“Ngga sengaja, enak aja! Pokoknya tanggung jawab!”
“Iya gue minta maaf, emang tanggung jawab kaya apa mau lo?”
Felica tersenyum smirk seperti penjahat sinetron. “Itu lo megang apa? Nemu es krim darimana?”
Kedua teman Galang yang bernama Reno dan Dion itu hanya bisa saling melempar pandangan dengan tatapan hah? Begitu juga dengan Alma, ia benar benar ngefreeze apalagi melihat apa yang Galang lakukan tadi.
Deg
“Ini es krim, ini yang terakhir sisa satu di kantin pertama.”
“Yaudah, itu aja sebagai gantiannya. Fair kan?”
“Tapi ini buat Alma, gue tadi juga mau beliin lo satu tapi ya emang kehabisan.”
“Kasih aja, Lang. Aku juga ngga pengen es krim,” kata Alma mencoba biasa saja, mencoba menahan marah dan sedihnya itu dibalik senyumnya.
__ADS_1
“Tuh kan, emang buat gue. Thanks ya Al, hehe. Yaudah sini es krim nya buat gue,” Felica lalu kegirangan.
Galang menghela nafas panjang lalu menyerahkan es krim yang ia pegang kepada Felica. Saat Galang memberikan es krim, terlihat jelas tangan Felica berlebihan memegang tangan Galang.
Modus
“Udah, puas lo?”
“Hehe, iya. Makasih ya, Lang. Lo gapapa kan Al, kalo buat gue?” Alma mengangguk sambil mengacungkan jari jempol.
“Baby-“ belum sempat Galang berbicara, Alma lebih dulu memotongnya.
“Eh hape aku kayanya getar deh, kaya ada yang nelpon. Aku ke toilet dulu ya,”
“Oh, okay,” balas Galang dan Felica bersamaan secara singkat.
Alma membalikkan badannya, ia tak kuasa lagi menahan cairan bening itu keluar dari matanya. Ia mencoba tenang, namun perasaan tak bisa dibohongi. Alma terpaksa berbohong, padahal tidak ada yang menelpon. Namun ia harus segera pergi dari sana, daripada hatinya semakin hancur.
Matanya sembab dengan air mata yang berlinang, dan hidung yang memerah. Alma keluar dari kantin dengan berlari, syukurnya koridor saat itu sepi dan tidak terlalu ada yang memperhatikannya.
Namun dari kejauhan, ada sesosok cowo yang terus memperhatikannya sampai punggungnya itu tidak terlihat lagi disana.
Galang, brengsek.
Ucap cowo dengan suara berat itu samar-samar dari kejauhan.
“Mau gue tungguin dulu, sampai bokap lo jemput?”
Alma menggeleng, dia saat ini fokus melanjutkan catatan bahasa yang tadi sempat tertinggal. “Duluan aja, Fel. Papa juga bentar lagi sampai, ini catatan juga tinggal dikit.”
“Seriusan? Kali aja mau gue tungguin, nanti bisa barengan keluar,” tawar Felica lagi.
“Gausah. Duluan aja, Fel. Papa kamu biasanya jam segini udah di depan,” dengan suara datar, Alma berusaha tidak menoleh sedikit pun.
Felica yang merasa tidak yakin ada apa dengan temannya ini, ya sudahlah pikirnya. “Kalo ada apa apa, call aja yup. Gue duluan, see you.”
“See you.”
Felica pun menghilang dari bumi. Alma lagi dan lagi hanya bisa menghela nafas panjang, kemudian membereskan alat tulisnya. Tanpa ia sadari, ia telah berbicara sendiri.
“Gini banget punya temen, Galang kok bisa se bego itu ya? Dia ga mikirin perasaan aku apa? Sakit hati banget sumpah ngeliat tadi ya ampun,” gumam nya, sambil mengingat kejadian tadi di kantin.
“Oke oke, keep strong Alma!”
Astaghfirullah!
Alma benar benar kaget, ia benar benar tak sadar kalau ada cowo ganteng, tinggi dan gagah seperti pangeran dibelakangnya. Tepat sekali, ketika ia membalikan badan, ia menemui Bagas dibelakangnya. Alma sungguh tidak sadar kalau ada Bagas, sejak kapan Bagas disini?
__ADS_1
Jangan-jangan, Bagas denger ni yang tadi aku ngomong. Beneran gawat kalo sampai ketahuan!
“Sorry, lo gapapa?” Alma mengangguk, sambil menetralkan jantungnya yang hampir copot itu.
“Baru masuk apa gimana, Gas?”
“Lumayan.”
“Em, anu- kamu ngapain ya? Ada yang di cari disini?” Alma mencoba berbasa-basi, agar Bagas tidak mencurigainya.
“Kelas lo tadi ulangan matematika, iya?” Alma mengangguk.
“Gue lagi cari soal ulangan matematika dadakan tadi, buat spoiler,” Bagas sambil mencek sekelilingnya, kali aja ada kertas soal yang tertinggal dikelas.
Alma langsung membuka kembali tas nya, dan mengeluarkan selembar kertas ulangan matematika tadi, lalu menyodorkannya kepada Bagas.
“Itu soalnya kaya gitu, by the way jangan salfok sama nilainya ya. Soalnya emang ga jago matematika.”
48,5
Bagas hampir saja tertawa melihat sebuah nilai bertinta merah dikertas ulangan milik Alma. Bagaimana bisa, gadis secantik dan seimut Alma bisa mendapatkan nilai 48? Bagas benar benar tidak percaya.
Tunggu, secantik dan seimut Alma?
“Bagas kok senyum? Ada yang salah?” Alma kaget melihat Bagas yang tersenyum. Dia melihat Bagas yang tersenyum kecil, seakan cowo itu sedang menahan senyum gelinya.
Baru kali ini liat Bagas senyum, katanya anak-anak yang lain Bagas jarang banget senyum.
“Ngga, gue bawa pulang gapapa?” Bagas kembali memasang wajah datarnya itu, berpura-pura sok cool.
“Iya gapapa, bawa aja dulu. Kali aja ntar ada ulangan dadakan juga kaya tadi,” Bagas hanya mengangguk ria saja.
“Yaudah gue duluan,” Bagas pun hendak beranjak pergi dari sana menuju pintu.
Bagas
Merasa ada yang memanggilnya, Bagas pun menghentikan langkahnya, lalu menoleh kebelakang. Ia melihat Alma yang sedang keliatan memainkan jarinya, dan terlihat ragu-ragu untuk menyampaikan sesuatu. Benar-benar sangat menggemaskan!
Menggemaskan?
“Hm?”
“Jangan kasih tau-“
“Iya, itu bukan urusan gue.”
Sehabis mengucapkan itu, Bagas melanjutkan langkahnya dan keluar dari sana. Di sisi lain Alma bernafas lega, jantungnya sudah berdetak normal kembali, ternyata Bagas memang se peka itu ya tanpa harus ia jelaskan.
__ADS_1