
Sambil mendengarkan sebuah lagu dengan menggunakan headphone, gadis itu duduk sambil bernyanyi kecil di depan kelas sambil meliat kearah lapangan yang disana banyak murid yang berhamburan menuju gerbang. Ya, bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa menit yang lalu.
Cowo berseragam dengan kulit sedikit sawo matang itu keluar dari kelas. Ia menengok ke arah sebelah, ia tersenyum meliat gadis ber-headphone itu.
"Eh Bagas, udah beresin bukunya?" Bagas mengangguk.
"Yaudah ayo ke gerbang yok, ini udah jam berapa juga ini keburu bengkelnya tutup ntar," Bagas hanya mengangguk lagi sebagai jawaban.
Mereka berdua pun pergi dari depan kelas menuju gerbang, banyak sorot mata yang melihat mereka dengan tatapan yang berbeda-beda. Bahkan ada juga yang terdengar berbisik-bisik membicarakan tentang mereka, namun Bagas dan Alma adalah orang yang sedikit tidak peduli dengan ocehan itu.
Ekhem, ada yang udah move on nih!
Alma terhenti mendengar suara itu, suara yang benar-benar ia benci. Sindiran itu yang tak lain adalah dari Felica yang sedang ingin ke parkiran sekolah, di belakang Felica juga terdapat Galang.
"Fel, lo apaan sih!" Ucap Galang tak suka pada Felica.
"Lho? Aku salah ngomong ya, sayang? Baru putus sebulan, udah sama cowo baru aja nih," Felica tertawa mengejek, Galang mengepalkan tangannya.
"Diem, Fel. Lo gausah ngomong kaya gitu."
Alma tak mau terjebak dalam kondisi itu, ia langsung pergi dari sana menuju parkiran bahkan melewati Bagas yang tadi ikut berhenti juga. Di belakang sana, Galang rasanya sakit hati berat ketika melihat mantan pacarnya itu berjalan bersama lelaki lain. Tapi ia juga tidak bisa menyalahkan, karena itu hak masing-masing.
FYI, sejak kejadian Galang tidur bersama Felica. Galang memutuskan untuk jadian dengan Felica karena paksaan dari cewek itu untuk menjadi pacar, Felica mengancam jika Galang tetap tidak ingin jadi pacarnya maka Felica akan membongkar semua keburukan Galang dari yang pernah melecehkan Alma, hingga tidur dengan Felica. Galang tak punya pilihan lain, ia pun menerimanya.
\* \* \*
Makasih ya Pak!
Bagas tersenyum melihat Alma yang kegirangan karena motor gadis itu sudah berhasil diperbaiki oleh montir yang tadi pagi mereka titipkan. Alma tak berhenti-henti mengucapkan terimakasih kepada Bagas sebesar-besarnya, membuat Bagas tidak bisa menahan jantungnya yang kini dag dig dug.
"Makasih ya, Bagas! Hihi, kamu emang selalu ada deh buat aku!" Bagas menyembunyikan wajah merahnya itu dari dalam helm. Ia hanya berdehem.
"Buruan pulang, udah jam berapa ini juga."
"Iya, Kapten Bagas! Siap! Sekali lagi makasih ya, btw itu duit yang-"
"Gausah, gue ikhlas."
"Tapi aku jadi beneran ga enak deh, Gas. Seratus dua puluh ribu itu gede banget tau!" Bagas terkekeh, jangankan duit seratus dua puluh ribu, sepuluh trilliun juga akan ia kasih kalau punya.
"Gapapa, sans."
"Beneran ya, Gas?" Bagas lagi dan lagi berdehem.
"Wah, makasih banyak ya Bagas semoga rezeki Bagas semakin dilancarkan sama yang di-Atas ya! Hehe," reflek Alma meraih tangan kanan Bagas lalu mencium punggung tangan Bagas.
Bangs*t! Bisa gila gue kaya gini! Batin Bagas.
__ADS_1
"Yaudah ayo pulang!" Ajak Alma lalu menaiki motor.
Mereka berdua pun saling mengendarai motor dengan beriringan di jalan ibukota yang sudah mulai macet. Hingga akhirnya Alma melambaikan tangan ke Bagas sebagai tanda perpisahan karena terdapat dua tikungan yang berbeda, Bagas benar-benar tidak bisa menahan rasa salting itu.
\* \* \*
Alma membaringkan diri di kasur sambil menatap langit-langit kamarnya itu. Meski tatapannya kosong, tapi pikirannya kemana-kemana. Di kamarnya benar-benar hening, hanya ada suara televisi yang terdengar ditelinga.
Tanpa Alma sadari, garis bibirnya membentuk lekukan kecil. Jantungnya sedikit berdetak lebih cepat dari biasanya. Di kepalanya masih terngiang-ngiang kejadian yang terekam seharian, apalagi kejadian tentang ia bersama Bagas.
Alma berdecak, ia meraba sebelahnya untuk menemukan ponselnya. Setelah menemukan ponselnya yang tak jauh dari tubuhnya, ia langsung menyalakan dan mulai mengotak-atik disana. Dengan sedikit ragu, canggung dan malu, ia mengirimi sebuah pesan kepada seorang cowo.
YOU:
bagas ini almaa
YOU:
sorry ganggu, km sibuk??
Ia sempat overthinking takutnya chatnya tidak akan dibalas, ia sudah berkeringat dingin. Sudah beberapa menit berlalu, Bagas belum juga membalasnya. Ia benar-benar malu dan niatnya ingin menghapus pesan yang ia kirimkan itu.
Bagas:
tadi isya an, adapa?
YOU:
YOU:
mau nanya hehe tp akuu maluu
Bagas:
sans, to the point aja
YOU:
aduh gimana ya takut dikira apa apa :(
Bagas:
apaa hah
YOU:
km suka makan apa hehe😁
__ADS_1
YOU:
sorry nanya yg ga penting yaa
Bagas:
makanan yg pakai nasi ato yg kaya kue?
YOU:
dua duanyaa kaloo boleh tauuu
Bagas:
rendang sm nastar
YOU:
ituu yangg paling kamu sukaa??
Bagas:
iya
YOU:
okedeh bagas, thanks yaa. sorry ganggu waktunya🙏🏻
Pesan itu berakhir disana, ia sedikit lega karena chatnya sudah di balas. Namun tanpa ia sadari dengan apa yang ia lakukan, Alma langsung membulatkan matanya.
YOU:
lg apaa nii
Alma reflek mengirim chat itu, itu segera menghapusnya namun ponselnya sedikit error dan menjadi lambat apalagi Bagas sudah lebih dahulu membaca chatnya itu. Ia benar-benar panik, sesuatu tak tertuga terjadi yang diluar ekspetasinya.
Bagas:
Send a photo 📷
YOU:
asik ya hehe, sorry yaa sok dilanjut ajaa. sampai ketemu besok hihi
Bagas:
__ADS_1
sip