Definition Of Love

Definition Of Love
13. Awal Baru : Telat


__ADS_3

NGENGG!!


Gadis itu tak peduli dengan padatnya jalanan ibukota Indonesia itu, ia menarik gas hingga kecepatan 80 km/jam. Motor biru vesmet itu berulang-ulang menyalip mobil dan kendaraan yang lain, hingga membuat orang kesal dan memberi klakson namun ia malah semakin melajukan motornya.


Dibalik itu semua ada sebuah cerita, dimana semalaman ia bergadang hingga jam 3 subuh dan membuat telat bangun. Ia lupa bahwa hari ini adalah hari pertama masuk sekolah lagi sebagai senior. Karena terburu-buru, bahkan ia langsung bersiap ke sekolah dan meninggalkan sarapan.


Dug dug dug.


Cewe berseragam SMA kebesaran itu menepikan motornya, ia turun dan melihat ban motornya. ****! Ternyata ban motornya sudah sangat-sangat kempes, mungkin akibat ia tidak mengecek motor sebelum ia pergi sekolah tadi. Ia memukul pelan dahinya, bagaimana bisa ia berangkat sekolah seperti ini? Bahkan ini saja sudah pukul 7.20.


Ck, apes banget dah!


Daripada motornya kenapa-kenapa, ia pun terpaksa harus mendorong motornya entah kemana itu yang jelas untuk mencari bengkel terdekat. Dalam hati ia benar-benar menyumpah serapah, bahkan sangat ingin menangis sekarang juga.


15 menit berlalu, bukannya menemukan bengkel yang ada kakinya malah pegal dan tubuhnya sedikit terasa lemah. Apalagi pagi ini matahari benar-benar terasa sudah panas seperti saat siang hari, keringatnya bercucuran, perutnya berbunyi kelaparan.


Ya Allah, berilah hamba pertolongan batinnya.


Motor lo kenapa?


Entah doanya langsung dijabah atau memang takdir, yang jelas tiba-tiba ada cowo yang juga berseragam SMA dengan motor ninjanya datang menghampiri ia yang sedang kena musibah.


Bagas?!


“Motor lo kenapa, hah?” Tanya Bagas sedikit berteriak karena helm fullface nya yang membuat suara sedikit senyap.


“Gatau ban nya nih, kayanya bermasalah,” balas Alma.


Bagas membuka helmnya, deg! Meski rambut Bagas sedikit berantakan, justru membuat Alma langsung terpana melihat ketampanan cowok itu. Bagas pun ikut mengecek ban belakang vespa matic itu.


“Ini bukan kurang angin, kayanya bagian dalamnya ada masalah.”


“Oalah gitu? Pantesan keliatan parah dari luar, ini aku mau dorong juga sih ke bengkel. Aku duluan ya!”


Ketika Alma hendak melanjutkan mendorong motornya lagi, Bagas menahan pegangan belakang motornya. Ia pun menjadi kebingungan.


“Lo bisa naik motor gue?”


Alma menatap motor gede Bagas, bahkan tingginya saja masih kurang lebih dengan motor itu. “Gede, aku ga bisa.”


“Motor lo tinggal aja dulu disini, di depan ada bengkel. Gue anterin lo dulu kesitu,” Alma menggeleng.


“Kamu duluan aja, Gas. Kasian ntar kamu telat,” Bagas tak menyahut.


Kemudian Bagas naik dan menyalakan motornya. “Naik.”


“Engga, Gas. Kamu-,”


“Lo mau cepet kesekolah, kan? Buruan naik,” titah Bagas.


Alma hanya menurutinya saja, ia pun ikut naik ke motor Bagas. Bagas menjalankan motornya, tak sampai perempatan kemudian mereka sudah sampai di bengkel yang dimaksud Bagas. Bagas langsung mendatangi si montir yang sedang menyiapkan alat-alat untuk motor. Mereka pun berbincang sebentar.


“Lo tunggu disini bentar,” Alma hanya mengangguk polos saja.


Singkatnya Bagas dan si montir kemudian pergi menggunakan motor Bagas menuju motor Alma yang terhenti dipinggir jalan itu. Tak sampai beberapa lama, vespa matic itu kini sudah berada di bengkel. Si montir langsung ‘menyikat’ vespa matic milik Alma. Sedangkan dua sejoli itu sedang duduk bersampingan disebuah kursi tunggu yang ada disana.


“Bagas kok bisa telat juga?” Tanya Alma basa-basi.


“Nge-game sampai subuh.”


“Kok bisa? Jadi Bagas blom ada tidur?” Bagas mengangguk.


“Terus ini gimana? Beneran gapapa kalo telat ke sekolah gini?”


“Iya.”


Alma tersenyum kikuk bingung, cowo disebelahnya ini benar-benar kulkas seribu pintu pikirnya. Pantas saja banyak cewe yang patah hati dalam mendekati Bagas, ternyata cowo ini memang secuek itu.


“Wah, ini mah lumayan lama. Ban dalem ni bermasalah, sama ada yang harus dibenerin di bannya. Kalo mau tinggal aja, pas siangan dikit baru bener,” kata bapak yang sedikit tua itu.


“Berapa pa, totalnya?”


“Kira-kira seratus dua puluh lah, tapi ini mau pakai ban dalem bekas atau baru? Kalo bekas harganya kurang”

__ADS_1


“Yang bek-“ belum sempat Alma menyahut; Bagas memotongnya.


“Yang baru,” Bagas menyerahkan selembar uang berwarna merah dan biru.


“Abis pulang sekolah saya ambil,” bapak itu mengacungkan jempolnya.


Bagas memakai helm dan kembali menaiki motornya, sedangkan Alma malah kebingungan dan malah diam disana.


“Ngapain disitu? Buruan.”


“E-eh iya iya.”


Alma memasang helm bulatnya itu, dan duduk di belakang Bagas. Entah kenapa tiba-tiba tangannya bergerak melingkar di pinggang Bagas. Namun Bagas juga tidak memberi respon apa-apa, dan segera menjalankan motornya. Di jalan raya, Bagas benar-benar kebut-kebutan demi sampai ke sekolah membuat Alma sedikit takut, dan mengeratkan pegangannya.


Asik, rezeki batin Bagas.


Setibanya di sekolah, Bagas memarkirkan motornya di parkiran seperti biasa. Mereka berdua lebih memilih lewat belakang karena kalau lewat gerbang depan sudah pasti akan dicegat oleh satpam dan diberi pilihan antara pulang kerumah atau dihukum.


Sesampainya di belakang yang cukup sepi, Bagas langsung melakukan aksi naik tembok yang lumayan tinggi itu. Ia berhasil masuk, astaga! Bagas lupa kalau Alma belum ikutan naik sepertinya.


"Bagas, aku ini gimanaaa?" Tanya Alma sedikit berteriak.


Bagas tertawa pelan, ia benar-benar merasa gemas. Kemudian ia menaiki tembok lagi untuk menemui Alma yang tertinggal di belakang.


"Naik, buruan."


Alma membulatkan matanya. "Gila ya kamu, Gas? Yang bener aja dong, aku mana bisa naik tau!"


"Terus mau gimana?"


Alma menghela nafas panjang, "yaudah lah biarin aja aku dihukum. Kamu naik aja sana."


Bagas menahan senyum gelinya, ia langsung menyamakan tingginya dengan gadis itu, bahkan wajah mereka hampir dekat dan mata mereka saling bertemu dengan intens. Dag dig dug detak jantung mereka berdua yang saat ini dirasakan.


"Maksud gue naik, lo yang naik ke gue. Bukan lo yang naik sendirian, paham?"


Alma menelan salivanya, ia benar-benar terpaku dan membisu. Rasanya saat ini ia ingin terbang ke angkasa, begitu juga yang dirasakan Bagas ketika melihat tatapan Alma yang begitu dalam kepadanya.


"T-tapi mana bisa! Y-yaudah sana kamu naik aja!"


"Huum bener sih, tapi masa ia aku naik kamu. Ya ga mungkin lah!"


"Bisa aja."


"Engga bisa, Bagas."


"Bisa."


"Engga."


"Kata gue bisa ya berarti bisa."


"Engga ih! Ngarang kamu, aku tuh berat tau!" Alma mengerucutkan bibirnya, ia menjadi kesal sekaligus salah tingkah.


Bagas tanpa meminta izin, ia langsung menggendong Alma ke punggungnya. Alma kaget, ia langsung berpegangan pada leher cowo itu. Ia ingin memberontak, tapi Bagas langsung menaiki tembok dengan membawa dirinya yang tergendong di punggung.


Dengan lincah dan seakan tidak mengangkat beban, Bagas dengan lihai menaiki tembok itu dengan waktu yang cukup singkat. Sedangkan di belakang, Alma menutup matanya, semakin mengeratkan pegangannya.


Woi udah.


"H-hah?" Alma membuka matanya, benar saja ia sudah berada di dalam area sekolah sudah.


"Betah banget, ga mau turun hm?"


"S-sorry, Gas," Alma benar-benar merasa malu sejadi-jadinya, ia langsung turun dari punggung Bagas.


"Badan kamu beneran gapapa, Gas? Aku takut kamu encok gara-gara aku, soalnya badan aku berat," tambahnya.


"Ringan aja, gue gapapa. Buruan sana lo ke kelas," Alma mengangguk cepat.


"Aku duluan ya, oh iya Bagas sekarang masuk kelas dua belas apa?"


"12 Ipa 1."

__ADS_1


"HAH? SERIUS?" Bagas menaikan sebelah alisnya, dan berdehem lalu menatap Alma dengan tatapan 'why?'.


Alma tidak tau lagi seberapa banyak plot twist hari ini, yang benar saja bahkan dari hasil perollingan sekolah ternyata itu bahkan sekarang menjadi satu kelas dengan Bagas?


"Berarti kita sekelas?"


"Lo juga ipa satu?"


"Iya. Sumpah aku ga tau kalau Bagas sekelas sama aku, kok bisa ya Gas?" Alma mengucapkan itu tanpa sadar, ia langsung membekap mulutnya sendiri.


Bagas benar-benar kepedean dalam hati, namun ia mencoba tetap tenang. "Yaudah buruan ke kelas, mumpung sepi."


"Ayo ayo!"


Mereka berdua diam-diam berjalan di koridor menuju kelas baru mereka yaitu 12 Ipa satu yang terletak paling ujung. Mereka sempat terhenti di ambang pintu, ketika mengetahui bahwa ada guru yang masuk disana.


Masuk.


Bagas berjalan masuk terlebih dahulu diiringi Alma yang membuntinya di belakang. Mereka berdua disuruh berdiri dihadapan murid-murid yang lain, tetapi Bagas merasa biasa saja. Berbeda lagi dengan Alma, ia benar-benar merasa gugup dan malu.


"Kenapa kalian bisa telat? Padahal ini hari pertama masuk sekolah, lho?"


"M-maaf bu, motor saya tadi ban nya bermasalah jadi dibawa ke bengkel dulu," jawab Alma dengan sedikit terbata-bata.


"Kalau kamu, Gas?"


"Saya begadang main game, terus bangun telat."


Wanita sedikit paruh baya itu menggeleng kepala keheranan melihat dua murid yang terdiri ini, memang ada saja alasan pikirnya.


"Saya tidak ingin kejadian ini terulang lagi, jika terulang lagi maka siap-siap kalian berdua akan di hukum. Untungnya hari ini adalah hari pertama masuk sekolah, jadi hari ini masih saya maafkan. Tapi tolong, jangan diulangi lagi ya," nasehatnya, dua makhluk yang di ceramahi itu mengangguk.


"Kalian boleh duduk. Oh iya, karena kalian terlambat datang. Hanya tersisa dua kursi belakang yang tersisa, kalian boleh duduk disana ya."


Bagas dan Alma berjalan menuju tempat yang dimaksud oleh ibu gurunya itu, tempat duduk sebangku yang paling belakang. Ini adalah awal pertama bagi Alma, dari SD sampai SMA kelas 11 baru ini ia duduk paling belakang. Akhirnya mereka pun duduk sebangku besampingan paling belakang.


Beberapa puluh menit berlalu, Alma memegangi perutnya yang berbunyi itu karena ia benar-benar merasa sangat lapar. Bagas yang disebelahnya itu juga mendengar bunyi keroncongan perut, itu membuatnya sedikit malu.


Kenapa harus bunyi, sih?! Batinnya.


Bagas membuka tasnya, dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Yaitu sebuah bekal makanan, Bagas diam-diam tanpa sepengetahuan guru menyerahkan bekalnya itu dari bawah ke pangkuan Alma.


"Ini apa, Gas? Kok ke aku?"


"Makan."


"Makan apanya? Ini punya kamu," kata Alma sedikit berbisik karena guru sedang menjelaskan.


"Ya makan."


"Ga mau, kok di kasih ke aku?"


"Lo laper, makanya makan."


"Iya tau, tapi kan ini punya kamu, Gas. Udah ah nih ambil-"


"Makan, lo mau bunyi perut lo kedengeran sama yang lain?"


Jleb, Alma menahan malunya.


"Iya tapi aku ga-"


"Makan, gue ga laper. Buruan, ntar keliatan guru mau?" Alma lagi dan lagi menggeleng.


Alma membuka kotak bekal itu dari bawah, ternyata berisikan sebuah sandwitch. Ketika bu guru lengah, ia sesuap memakannya dengan cepat-cepat supaya tidak ketahuan.


"Bagas, mawu?" Tanya Alma sedikit susah karena sedang mengunyah.


"Engga, makan aja."


"Makasih ya, Bagas," Bagas berdehem tanpa melihat Alma disampingnya dan fokus mendengarkan penjelasan guru.


Gila, Bagas emang se peka dan seperhatian itu ya!

__ADS_1


Alma tersenyum, entah kenapa jantungnya kembali berdetak cepat daripada biasanya seakan sedang merasakan sesuatu dalam hatinya yang membuatnya benar-benar senang namun tertahan.


__ADS_2