
Krik Krik Krik
Kini jam hampir menunjukkan pukul 11 malam, dan sudah 30 menit sudah mereka diam-diaman saja tidak membuka obrolan. Alma masih setia dengan tangisnya yang agak mereda sedikit, sedangkan Bagas mencoba menenangkan Alma yang masih menangis itu.
Karena bingung harus kemana, akhirnya Bagas membawa Alma ke sebuah taman yang cukup sepi yang sering ia kunjungi. Alma tidak mengatakan apa-apa, dan sedari tadi mereka tidak ada berbicara sepatah kata pun.
“Udah nangisnya?” Bagas bertanya dengan nada lembutnya.
Alma mengangguk, lalu menyeka air matanya. Bagas memberikan sebuah tisu yang entah dari mana dan sejak kapan tisu itu ada. Yang ada di otaknya hanya kejadian di apartement Galang yang tidak akan bisa ia lupakan.
Alma benar-benar tak menyangka kalau Galang hampir akan melakukan hal yang lebih kepadanya. Jelas saja, ia tidak bisa menerima itu! Rasanya kepercayaannya kepada Galang benar-benar sudah hancur lebur!
“Kita boleh ngomong?” Alma lagi dan lagi hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Lo tadi ngapain di luar apartement?” Alma hanya bisa terdiam.
“Lo habis nyamperin Galang? Yang gue tau Galang tinggal di apartement tadi.”
Sudah susah payah ia menahan air matanya agar tidak keluar lagi, namun justru malah ia kembali menangis hingga membuat Alma tidak bisa bernafas. Bagas langsung khawatir dan panik, ia bingung bagaimana cara menenangkan Alma.
Gue salah ngomong apa gimana?
Bagas sedikit mendekatkan diri, lalu mengelus punggung Alma dengan pelan-pelan sekaligus mengelurkan kata kata penenang. Ia harus bagaimana lagi ini?! Pikir Bagas.
Bagas merapikan rambut panjang Alma yang agak berantakan dan menutupi wajah pemiliknya itu. Namun ketika Alma mencoba menenangkan diri, Bagas melihat di leher gadis itu, terdapat merah-merah yang cukup besar disana. Insting Bagas memang sangat kuat, itu sudah sangat jelas adalah kissmark!
Bekas ******?
Entah kenapa matanya salfok dengan pergelangan Alma yang ke merah-merahan juga seperti bekas cekalan tangan yang sangat kuat. Dalam hati rasanya Bagas sudah melontarkan sumpah serapah kepada Galang.
“Aku tadi-“
“Lo di apain sama Galang, hah?”
Alma sempat bingung sekaligus agak takut, bagaimana Bagas bisa mengetahuinya padahal ia belum bercerita bahkan berbicara sehuruf pun.
“Aku ngga-“
“Galang, brengsek! Tungguin gue bangsat,” umpat Bagas lalu hendak pergi dari sana.
Alma langsung menahan tangan Bagas dengan sekuat tenaga, Bagas sudah tersulut emosi. Namun karena Bagas masih memiliki hati dan perasaan, seakan semuanya terluluhkan kembali dengan pegangan mungil di tangannya itu.
“A-aku bisa jelasin dulu, Gas. Jangan emosi dulu.”
Mendengar ucapan Alma yang terdengar bergetar dengan tangis yang belum reda akhirnya ia terpaksa harus kembali duduk, padahal ia tadinya sangat ingin mendatangi Galang dan menampar cowo bangs*t itu hingga tidak berdaya.
Dengan tangis yang terisak-isak, Alma berusaha menceritakan apa yang ia alami itu dengan panjang lebar. Tanpa sepengetahuan Alma, dari bawah tangan Bagas sudah mengepal kuat hingga urat laki-laki itu nampak jelas.
Setelah bercerita panjang, Alma sudah merasa lebih lega dan tidak menangis sesegukan seperti tadi. Bagas mencoba menahan nafasnya yang memburu, dadanya rasanya kembang kempis karena emosi yang sudah diujung tanduk.
Aku haus.
Eh?
Bagas berdiri lalu mengambil se cup minuman di motornya yang sempat ia beli tadi. Ia menyodorkannya ke Alma, ia sungguh tidak tega melihat Alma yang kehausan setelah menangis nonstop itu.
“B-buat aku?”
“Hm.”
“Terus Bagas-“
__ADS_1
“Minum, gue ga haus.”
Karena tenggorokannya yang sudah sangat kering seperti motor yang tidak ganti oli, Alma langsung menyeruput minuman itu hingga tersisa setengah karena sanking hausnya. Ah, rasanya sekarang tenggorokannya benar-benar terobati.
“Galang ngga ngelakuin yang lain lagi, kan?”
“Iya.”
Bagas ragu-ragu mengatakannya, ia takut dikira ikut campur. “Lo harus jauhin Galang, sampai lo beneran ngerasa diri lo jauh lebih baik,” Bagas mengatakan itu tanpa sadar.
“Eum... iya, aku juga gak bisa berinteraksi juga sama dia. Aku masih beneran takut banget. Aku masih perlu waktu juga,” Bagas tak menyahut.
“Lo harus bisa lebih tegas sama dia, baik sikap ato perbuatan lo biar dia ga bisa seenaknya sama lo. Gue takutnya bisa aja dia ngelakuin hal yang lebih, kejadian tadi aja itu si tol*l hampir berbuat lebih,” Alma hanya bisa terdiam mendengarnya, ucapan Bagas memang benar adanya.
Kemudian hanya ada kecanggungan di antara mereka berdua. Dalam hati Bagas sebenarnya ia merasa malu sekaligus khawatir, yang pertama ia malu karena Bagas merasa bahwa dirinya tadi benar-benar sok pahlawan dari ucapannya tadi, tapi Bagas juga takut ada kata-katanya yang membuat Alma tersinggung karena dirinya masih emosi.
23.20
“Udah jam setengah 12, gue antar lo balik. Rumah lo dimana?” Bagas mencoba memecahkan keheningan itu, lagian ini sudah hampir tengah malam.
“Eh, kamu duluan aja gapapa. Aku bisa mesan ojol,” tolak Alma karena ia merasa tidak nyaman.
“Jam segini susah nyari ojol, gue nawarin sekali lagi. Lo ikut sama gue.”
“Aku ga enak, kamu duluan aja Gas. Aku naik ojol aja, gapapa nunggu lama.”
“Ya.”
Bagas kemudian mengambil kunci motor, memasang helm fullface, lalu menaiki motornya. Alma mengigit bibir bawahnya, tiba-tiba perasaannya jadi tidak enak dan takut yang dikatakan Bagas tadi benar. Kalau rasanya ingin bertanya, apakah penawaran nebeng tadi berlaku? Ia lebih gengsi, apalagi Alma sudah menolak 2 kali.
“Kalo ada cewe baju putih manggil-manggil, jangan diliatin dan jangan ngomong apa-apa. Kalo gitu gue dulu-“
Eh hehe aku tadi cuman ngeprank, ayo pulang hehe.
Eh jaket aku mana ya?
Alma mencari jaketnya, ia hampir kelupaan kalau ia kesini tadi sudah tidak memakai jaket. Oh ****! Dia baru sadar kalau jaketnya tertinggal di apartement Galang.
“Nyari apa?”
“Jaket, tapi ketinggalan di apartement Galang. Mana cuacanya dingin banget lagi, tapi yaudalah gapapa.”
Bagas melepaskan jaketnya, dan memberikannya ke Alma. Lagi dan lagi Alma hanya bisa ngang ngong, bukannya merasakan kepedean ato bagaimana. Ia merasa Bagas begitu baik padanya, bahkan peduli.
“Kamu aja yang pake-“
“Gue ga dingin, buruan pake.”
“Aku gapapa, kamu aja-“
“Mau gue antar pulang apa ga, hm? Buruan pake, gue tinggalin mau?”
Alma mengambil jaket itu, jaket milik Bagas benar-benar kebesaran dan nyaris menutupi setengah tubuhnya. Alma mengerucutkan bibirnya, ia merasa badan dan tampilannya menjadi pendek dan jelek.
“Ih, kamu ketawa?”
H-hah?
“Hah?” Bagas langsung mendatarkan wajahnya seolah tidak ada apa-apa. Bagas langsung menutup kaca helm nya, hampir saja ketahuan!
“Gapapa.”
__ADS_1
Alma memasang helm nya, ia memegang bahu lelaki itu dan ikut duduk di belakang. “Jalan melati, komplek Griya Citra, blok C nomor 46.”
Bagas diam saja, ia langsung menancap gas dan pergi dari sana. Bagas full senyum ketika ia melihat tangan mungil yang berpegangan pada pinggangnya. Rasanya benar-benar ingin melajukan motornya, namun Bagas lebih takut jika modusnya keliatan.
\* \* \*
Al, eh lo tau ga? Katanya pas kelas 12 bakal dirolling tau.
“Ga tau.”
Pagi ini seperti biasa Alma sudah berada di sekolah dikarenakan Malik yang akan berangkat kerja. Padahal jujur dari kejadian tadi malam, ia masih sangat trauma dan takut untuk bersekolah. Namun apalah daya, karena sudah semester 2 ia harus berusaha ambis dan tidak main-main seperti semester sebelumnya.
“Iya, katanya pak kepsek bakal pensiun dan bakal dilanjutin sama Bu Ratna kan? Nah katanya wakasek kita mau bikin peraturan baru,” Alma hanya mengiyakan saja.
Felica yang sedikit merasa kesal, ia lantas sedikit terbawa emosi. Jelas lah! Dari tadi Felica sudah berbicara ini itu, tetapi kawannya itu hanya membalas seadanya dan mengiyakan saja. Terlihat ada yang beda hari ini pikir Felica.
“Lo kenapa sih, Al? Lo sakit? Badan lo kurang fit?” Alma menggeleng.
“Gapapa, gegara begadang kemaren tidur jam 1.”
“Kirain gue kenapa, kok bisa begadang? Biasanya lo jam 11 udah tidur lo bilang.” Felica sangat mengetahui bahwa temannya ini bukan tipikel orang yang suka bergadang.
“Marathon nonton drama, terus kelupaan,” Felica ber oh-ria saja.
“Eh lo tau ga, pacar lo noh si Galang katanya tadi malem dugem di club.”
Deg
Apalagi? Setelah ngelecehin, bisa-bisanya ke club? Pikir Alma.
“Ga tau, ga peduli juga.”
Felica menaikan sebelah alisnya, really? “Lo biasa aja? Itu pacar lo gila! Lo ga ngelarang? Sumpah sih.”
Alma diam tak bergeming.
“Kalo gue sih ya, gue pasti bakal marah dan putusin. Gila aja sih, gak bakalan mau gue sama cowo kaya Galang.”
Alma menahan senyum miringnya, apa Felica tidak menyadari ucapannya?
“Iya.”
“Lo beneran b aja? Sumpah sih, mending lo temuin tu cowo terus putusin! Galang tuh-“
STOP!
Tanpa sadar Alma langsung menggertak meja tanpa sadar. Orang orang yang berada di kelas langsung menatap ke arah mereka. Felica yang benar-benar tak percaya dengan apa yang dilakukan temannya ini.
“Fel, bisa diem? Pusing sumpah, dengerin kamu ngomong malah tambah pusing.”
Felica terdiam, ia masih tidak percaya. “L-lo?”
Baby!
Teriak seorang cowo dari depan kelas, yang tak lain dan tak bukan adalah si brengs*k Galang pacarnya sendiri. Alma yang menatap ke arah pintu kelas, ia menelan salivanya.
Gawat, harus cabut dari kelas dulu!
“Aku ke toilet dulu.”
Alma berdiri dari bangkunya dan pergi dari sana meninggalkan Felica. Ia langsung menerobos pergi keluar dari kelas tanpa menghiraukan Galang yang memanggil dan menunggunya didepan pintu kelas.
__ADS_1
Saat ini yang Alma rasakan adalah ia benar-benar ketakutan, ia merasa seperti diterror. Dari belakang terdengar Galang yang memanggil namanya, namun ia berpura-pura tidak mendengar itu dan berlari cepat menuju toilet perempuan.