
Galang melajukan mobilnya di jalanan ibu kota yang cukup sepi itu, di kursi kemudi sebelahnya ada Felica yang sedang tertidur dengan pakaian yang urakan dan ‘terbuka’.
Namun Galang tiba-tiba teringat. Kenapa ia malah membawa Felica menuju jalan kerumah Alma? Astaga! Galang memukul setir mobilnya, ia hampir lupa bahwa disebelahnya ini adalah Felica! Apalagi ia tidak tahu alamat rumah Felica dimana.
“Anj*ng, ngapain gue kesini beg*! Sialan, mana gue ga tau rumah Felica dimana,” gumam Galang sambil menepikan mobilnya.
Terdiam beberapa menit, akhirnya Galang memutuskan membawa Felica ke apartementnya. Karena ia sudah luntang-lantung bingung membawa Felica kemana, ia pun memutar mobilnya menuju arah jalan apartementnya.
Singkat cerita, sesampainya di apartement. Galang langsung menaruh tubuh Felica di atas kasur king sizenya, tak lupa melepaskan heels yang terpasang di kaki cewe itu. Seakan merasakan pergerakan, tiba-tiba Felica terbangun namun masih dengan mabuknya.
Belum sempat Galang pergi dari sana, Felica langsung menahan tangan Galang. Entah setan apa juga yang merasuki Felica, tiba-tiba Felica menjadi agresif. Ia langsung membuka dress nya, hingga menyisakan pakaian dalamnya saja.
“Fel sadar, Fel,” Galang sedikit mendorong tubuh Felica, karena ia tidak mungkin kasar pada perempuan.
“Fel, udah,” Galang menahan tangan Felica untuk tidak berbuat lebih jauh lagi.
"Shh... panas..."
Namun munafik juga Galang tidak tergiur dengan pemandangan yang ia lihat dari tubuh Felica, ia beberapa kali menelan salivanya.
“Kamu ‘mau’ kan, Lang? Hihi, gausah malu-malu,” bisik Felica di telinga Galang dengan sedikit *******.
“Stop, Fel. Gue ga mau kita berbuat yang ngga-ngga, inget! Lo itu sahabatnya pacar gue,” Felica tertawa.
“Sahabat? Iya sih, tapi gue suka sama lo emang salah, hm? Bahkan dari pertama gue ngeliat lo sampai lo jadian sama Alma, gue juga tetap suka sama lo,” Galang terdiam, ia sedikit kaget dan tidak percaya dengan ucapan Felica yang jujur dan terang-terangan.
“Gue gini ya karena lo. Enjoy aja, baby. Pacar lo itu ngga ada disini, lo bisa ‘main’ dulu sama gue? Iyakan?”
Galang terdiam.
“Fel, lo tuh lagi mabuk! Sadar beg*.”
Lagi dan lagi Felica langsung menyambar bibirnya, bahkan hingga posisi mereka berubah. Galang tidak bisa menolak padahal hatinya berkata tolak, ia tanpa sadar ikut terlarut dalam permainan Felica.
\* \* \*
Gadis itu melenguh pelan, perlahan ia mulai membuka matanya. Ia meregangkan ototnya, dengan malas bola matanya melirik sebuah jam dinding yang ternyata pukul 05.35, ia meraba sampingnya dan menemukan ponselnya. Ah ia tidak meng-charger ponselnya semalaman!
Alma pun bangun dari kasurnya, lalu terlebih dahulu mengisi daya baterainya. Sehabis itu ia bergegas untuk sholat subuh, singkatnya sesudah sholat subuh ia langsung mandi.
Dan sehabis mandi, ia berjalan ke lemari dan memilih baju disana. Akhirnya ia memilih sebuah celana training, dan juga hoodie berwarna hitam yang kebesaran. Sehabis memakai baju, ia memoleskan riasan tipis ke wajahnya. Meski terlihat sangat simpel, namun Alma terlihat sangat cantik dan menggemaskan.
__ADS_1
20 menit berada di dalam kamar, Alma keluar sambil membawa sebuah plastik yang lumayan besar berisikan bucket bunga dan snack. Sebelum pergi, ia menuju dapur untuk berpamitan dengan Aliya.
“Mau kemana, adek? Pagi banget.”
“Apart-nya Galang, kan tadi malem adek ngga bisa keluar,” balasnya dengan nada sedikit malas dan kesal.
“Oh, yaudah. Minum dulu tu susunya sama makan roti dulu, soalnya mama blom ke pasar.”
Alma tak menyahut, ia menenggak secangkir susu hingga habis tak tersisa dan memakan roti dengan selai coklat sampai habis.
“Insya Allah adek jam 10 balik, soalnya mau ngajak Galang jogging dulu,” Aliya mengangguk, wajah putrinya itu nampak datar.
“Ck, senyum atuh adek. Masam banget keliatan mukanya,” Alma tak menyahut.
Aliya tersenyum licik. “Awas lho kamu jadi anak durhaka, surga di telapak kaki ibu.”
“Biarin,” ketus Alma.
“Yaudah sih gapapa, padahal tadi niatnya ntar mau bikinin ayam bakar madu. Eh adek malah gitu, yaudah ga jadi aja-“
Alma tersenyum senang. “Udah nih, adek senyum! Bikinin yang enak ya, biar ntar adek makan lagi pas di rumah.”
“Adek duluan ya mama sayang,” pamit Alma lalu mencium sebelah pipi Aliya juga menyalimi punggung tangan ibunya itu.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam.”
\* \* \*
Setelah menghabiskan waktu 40 menit untuk dua kali pushrank sehabis sholat subuh, membuat cowo dengan kaos oblong berwarna abu-abu itu sedikit bosan berada di dalam kamar. Ia pun memilih untuk keluar menuju dapur,
Sesampainya di dapur, ia melihat ibunya yang tengah memotong bahan makanan untuk sarapan. Namun bukan itu yang ia cari, melainkan kue kering di meja makan yang terlihat sisa sedikit dari toples.
Melihat anak putranya yang bukannya membantu tapi malah memakan kue, membuat ibunya hanya bisa menggelengkan kepala keheranan.
“Mama sayang, ini kue nastar sisa dikit kenapa?” Tanya cowo itu dengan polos.
“Ya karena kamu makan lah, Gas! Mama udah restocks 4 toples buat 2 minggu, malah habis 4 hari gara-gara kamu doang,” Bagas tersenyum tanpa dosa, namun masih saja memakan nastar itu hingga tak tersisa.
“Makanya, mama tu bikin nastarnya jangan enak. Kalo ga enak, kan kakak jadinya ga makan, biar awet.”
__ADS_1
“Terserah kamu lah, Gas. Capek mama, bukannya bantuin mama malah asik makan nastar,” sindir Rita.
“Bentar, dikit lagi abis ni. Ntar kakak bantuin, bantuin doa,” Rita membalas dengan deheman malas.
Tanpa menutup toples kue, Bagas langsung berdiri disamping Rita. Karena Rita risih melihat Bagas yang hanya melihat saja, akhirnya ia memberikan tugas untuk memotong sayuran. Bagas juga tak membantah, ia pun melakukannya.
“Ayah mana, ma? Blom bangun?”
“Ada, udah bangun, Lagi di toilet.”
“Oh, ngapain?” Tanya Bagas sambil asik memotong sayuran di talenan.
“Lagi nyiram taneman, ya jelas lagi bab lah! Kesel deh mama sama kamu, Gas!” Bagas malah terkekeh.
“Kalau mama marah, kakak ga mau motong-motongin sayur nih.”
“Yaudah gapapa, paling ntar kamu dosa. Ngebantuin orang tua itu kan kewajiban kamu,” jleb! Bagas langsung kena mental hingga ke ulu hati
“Bercanda.”
Eh lagi pada apa nih? Asik bener
Itu adalah Beni, si kepala keluarga yang baru saja keluar dari wc.
“Lagi bantuin mama.”
“Wih! Tumben banget kamu, Gas! Biasanya cuman diem sambil makanin nastarnya mama hahaha,” Bagas tak menyahut, mau kesal tapi tidak bisa karena itu adalah fakta.
Beni berjalan menuju meja makan, baru saja ia niatnya ingin memakan kue nastar tapi malah toples itu sudah kosong. Sudah pasti pelakunya adalah putra mereka sendiri.
“Baru aja pas Ayah tinggal pup masih tinggal setengah, pas ini malah udah kosong aja,” kata Beni sambil memegangi toples kosong itu.
“Ya kakak juga gatau, abis sendiri mungkin,” sahut Bagas sedikit tak terima.
“Abis sendiri apanya, coba aja buka perut kamu, mungkin isinya nastar semua,” Bagas menyengir.
“Hahaha udah lah, ma. Itu tandanya kue bikinan kamu tuh enak, makanya Bagas sering lupa diri kalo makan bikinan kamu,” kata-kata Beni sedikit menohok meskipun niatnya memuji.
“Iya tau, enak sih enak. Ya sama kalian tuh, ga bisa ga ngeliat kue di meja pasti langsung di sikat habis,” Bagas dan Beni saling melempar pandangan.
Akhirnya pagi itu diisi oleh canda tawa mereka bertiga sebagai keluarga kecil yang harmonis, meskipun Bagas sedikit dibully namun ia senang.
__ADS_1