Definition Of Love

Definition Of Love
03. Apartement [1]


__ADS_3

Setelah selesai dari makan malam, karena merasa lelah akhirnya Alma memutuskan untuk pergi ke kamarnya saja untuk istirahat dulu. Begitu masuk kamar, ia langsung membaringkan diri di kasur super duper empuk itu, dengan posisi terlentang sambil menatapi langit-langit kamarnya.


Tentu jelas, kejadian di kantin tadi siang masih dan sangat jelas terngiang-ngiang dibenaknya. Bagaimana tidak? Part-part saat Galang pacarnya sendiri memegangi seragam Felica di bagian dada. Nyesek, iya. Ia tahu kalau itu kejadian yang tidak disengaja.


Yang tidak disengaja kok gitu, go*lok.


Apalagi, es krim yang Galang hendak berikan kepadanya begitu mudah diberikan kepada Felica sebagai pertanggung jawaban.


Ting! Ting!


Alma meraba-raba sampingnya, dan menemukan ponselnya. Benar saja, terdapat sebuah notif chat dari Galang. Dengan rasa badmood dan malas, ia pun membalas pesan Galang.


galang❤️:


Baby


galang❤️:


Lo sibuk?


ngga


galang❤️:


Kok ngga ngechat gue


you: sorry kelupaan


galang❤️:


Lo lagi dirumah?


galang❤️:


Eh tapi lo malem ini sibuk, ato ada apa gitu?


you: gada, emg knp lang?


galang❤️:


Mau ke apart gue? Kalo mau lo bisa siap siap dulu, abis ini gue otw


you: tapi jam 10 anterin pulang


galang❤️:


Gampang, yaudah ni gue siap-siap otw


Tanpa membalas pesan Galang terakhir tadi, ia langsung mematikan layar ponselnya. Ia langsung bergegas ke arah lemari untuk mencari baju yang akan ia kenakan.

__ADS_1


Duh, ngga ada baju lagi.


Ya, hampir 99% cewe akan mengatakan hal yang sama. Padahal lemarinya full berisikan pakaian, kok bisa bilang ngga ada baju? Karena di luar dingin karena habis hujan deras, ia memilih memakai baju kaos crop, dan juga celana training berwarna abu-abu.


Pas deh, bagus dan ngga ribet.


Kemudian Alma membiarkan rambut panjang hitam sedikit bergelombang itu tergerai indah. Tak lupa juga mengenakan lip balm dan sedikit lip tint agar bibirnya lebih indah.


Wow, perfect.


Beberapa menit berlalu, Alma memakai jaketnya lalu bergegas pergi keluar rumah. Tak lupa berpamitan dengan Malik dan Dita yang sedang asik menonton televisi bersama itu, meskipun agak sedikit berbohong kalau ia mengatakan


Ma, Pa, adek mau keluar dulu sama Galang mau jalan-jalan bentar. Nanti Galang pulang juga, jam 10 adek udah pulang.


Alma tersenyum senang, untungnya kedua orang tuanya itu mempercayainya dan mengizinkannya saja tanpa larangan asal


kan tidak pulang terlalu malam.


Benar saja, di depan pagar rumahnya. Galang sudah menunggu dengan motor ninja hijaunya itu. Tanpa ba-bi-bu, Alma langsung menutup pintu rumah, dan berlari kecil keluar pagar menghampiri Galang.


Cantik


Galang memang tidak bisa memungkiri bahwa pacarnya ini memang limited edition dan memang sangat dan sungguh cantik sekali. Galang juga suka dengan look pacarnya yang tidak berlebihan, ini juga alasan kenapa Galang untuk memilih Alma.


“Hey, baby,” Galang tersenyum, sambil menatapi Alma dari atas hingga bawah.


“Jadi ke apart kamu?” Galang mengangguk.


Alma memasang helm bulatnya itu, ia pun menaiki motor Galang yang menurutnya tinggi itu, mungkin hanya tubuhnya yang mungil. Namun Galang tidak kunjung menjalankan motornya juga.


“Kenapa, Lang?”


“Lo gak tau ada yang kelupaan?”


“Emm... ngga ada sih, emang apa ya?”


Galang menghela nafas, ia langsung menarik kedua tangan Alma dan melingkarkan tangan mungil gadis itu dipinggangnya. Terpaksa tubuh Alma sedikit maju dan ‘bertempelan’ dengan punggung Galang itu.


Terlihat dari kaca spion, Galang benar-benar tersenyum puas. Galang pun menyalakan motornya dan pergi dari sana dengan membawa bidadari yang duduk dibelakang


\* \* \*


Astaga, Galang! Ini apart ato kapal pecah sih, berantakan banget!


Galang hanya terkekeh saja, maklum ia jarang berada di apartement nya, kalau pun datang ia jua malas membersihkan apartement, paling mentok cuman beresin kasur. Alma menggelengkan kepalanya, melihat kondisi apartement Galang yang berantakan itu.


“Yaudah aku beresin dulu ini biar enak di liat. Kamu beresin yang lain!” Galang tertawa tanpa dosa.


“Gak usah lah, gue kan ngajak kesini buat yang lain. Bukan buat bersihin apart gue, lagian ini gue bisa aja beresin ntar habis lo pulang. Yang penting kita berduaan dulu,” Alma benar-benar kesal sekaligus gemas dengan Galang.

__ADS_1


“Gak mau, yaudah kalau kamu gak mau beresin ya it’s okay, aku aja.”


“Udahlah, baby. Ini tuh gampang, lagian kasian ntar lo jadi kotor.”


“Gak mau! Bentaran doang, paling 15 menitan. Yaudah kamu tunggu dikursi sana, aku beresin dulu.”


“Tapi, baby-“


“Stt! Udah ah, sana!” Alma mencubit pipi Galang karena ia merasa gemas, tak lupa juga mengacak-ngacak rambut Galang.


Akhirnya terjadilah kegiatan bersih-bersih, Alma benar-benar membersihkan hampir seluruh isi apartement Galang, dari menyapu, mengepel, membersihkan barang-barang yang berdebu, mencuci piring, merapikan barang-barang yang ada disana sehingga tertata rapi, membersihkan dan merapikan isi kulkas.


Sedangkan Galang yang hanya membersihkan kasur itu ternganga, ia respect dan kagum dengan pacarnya ini yang benar-benar istriable sekali, hanya memakan waktu 20 menit, Alma mampu mengerjakan semuanya.


Gue aja benerin kasur bisa 10 menit.


Galang! Ini apa!


Galang menghampiri pacarnya itu, astaga ia lupa membuang botol-botol whiskey di kotak! Alma langsung membuang botol-botol di bak sampah. Ia menatap Galang dengan tatapan horrornya, namun bukannya Galang takut tapi malah gemas.


“Itu botol whiskey, kan?”


“Iya terus?”


“Dih! Iya berarti kamu ada minum-minum itu, kan?!”


“Iya ada, tapi dikit aja.”


“Dikit aja apanya? Orang jelas jelas ada 4 botol!”


“Itu udah lama kok, baby. Santai aja kali.”


“Kapan?”


“Seminggu yang lalu,” mata Alma langsung melotot ke arah Galang.


WHAT?


“HAH?!” Galang tertawa terbahak-bahak melihat ekpresi pacarnya yang melotot sampai terkaget-kaget itu. Ia tak kuasa menahan tawanya itu, hingga tertawa nyaring tanpa dia sadari.


“Gila, Galang Gila!”


“Sorry, baby.”


“Awas aja lagi ya kamu minum-minum! Aku bunuh, mau?” Galang langsung menegakan tubuhnya, lalu menyilangkan tangan di dadanya.


“Emang berani?”


“Ya berani lah, aku tu seriusan Lang. Please dengerin aku, aku gak suka kamu minum-minum kaya gitu. Aku udah ngingetin berkali-kali, tapi kamu masih aja minum-minum. Aku sayang sama kamu, aku gak mau kamu kenapa-kenapa gegara minuman gak jelas itu. Kamu ngerti, kan? Kamu udah bukan anak kecil, Lang,” tiba-tiba ekspresi Alma berubah jadi sedih dan terdengar suaranya yang agak bergetar.

__ADS_1


Galang memeluk tubuh Alma, sambil mengelus punggung gadis itu. “Iya, gue berusaha ngga kaya gitu lagi, gue khilaf. Gue minta maaf, lo jangan nangis ya. Gue paling ga bisa liat lo kalo nangis.”


Alma mengangguk, meskipun dalam hati ia agak salting.


__ADS_2