Dia Yang Datang Diantara Kami

Dia Yang Datang Diantara Kami
Secuil cerita tentangnya


__ADS_3

Setelah kupertimbangkan dengan matang semalaman akhirnya kuputuskan untuk mengambil tindakan dengan menemui Esmerald.


Keesokan paginya aku bergegas menuju kediaman Esmerald ditemani oleh Garreth. Wanita paruh baya itu terkejut melihat kedatanganku di pagi hari dan di temani seorang pria.


"Ma, maaf gak kasih kabar dulu. Aku ingin membicarakan hal penting. " Ucapku yang memasuki ruangan santainya, Garreth mengikuti dari belakkang.


"Mana Topaz?."


"Dia di rumah. Aku pergi dari Rosewood dan ingin menanyakan sesuatu sama mama."


"Rosewood!," seru Esmerald, "kalian berantem?," tanyanya kemudian.


Aku tak menjawab hanya terus melangkah ke arah ruang keluarga.


Sebuah amplop putih ku keluarkan dari tasku, kuberikan kepadanya. "Bukalah," usulku.


Perlahan Esmerald membuka dan mengeluarkan isinya. Terbelalaklah matanya mengenali cek dengan tulisan tangan ayahku.


"Oh! Dari mana mendapatkannya?,"


"Eldred yang menemukannya. Dan katanya ada cerita di baliknya. Bisakah mama ceritakan?," pintaku dengan suara bergetar menahan kekesalan.


Esmerald menatapku. warna bola matanya yang sama dengan Topaz menusuk jantungku, bagai bilah pisau.


"Ini uangmu. Simpanlah," ucapnya.


Aku menghitung dalam hati untuk meredam emosiku.


"Kalau begitu ku gunakan uang ini untuk membayar hutangku," sahutku tegas.


Esmerald menggeleng keras, "tidak. Ini milikmu. Usaha terakhir mendiang orang tuamu." bulir air mata jatuh yang segera di singkirkannya.


"Maksud mama?,"


Esmelard menghela napas, "bisakah kita bicara berdua," pintanya.


"Garreth bagian dari keluargaku," tegasku. Esmerald memandang Garreth mempertimbangkan keputusanku.


"Baiklah," Esmerald mulai bercerita, "entah bagaimana awalnya hingga mendiang orang tuamu terlilit hutang. Dengan bantuan kami sedikit demi sedikit perkebunan bangkit kembali. Kami tak meminta perkebunan itu, cukup hasilnya dikirim ke pabrik Wine kami. Ada perjajian akan hal itu." Esmerald menjeda ceritanya untuk menarik napas panjang.


Dengan gugup aku menunggunya kembali untuk bercerita.


"Ketika suamiku meninggal, mendiang ayahmu datang. Melihat bahwa kontrak akan berakhir. Entah apa yang di bicarakannya dengan Topaz, hingga mendiang ayahmu menyetujui perjanjian baru. Namun di tengah perjanjian itu ayahmu membatalkan dan memberikan cek ini. Topaz marah dan menyuruh mama mengembalikannya." jelasnya.


"Ini uangmu, begitupun perkebunan itu semuanya adalah milikmu. simpan baik-baik untuk keperluanmu," sambungnya.


Lalu kenapa sertifikat tanah itu ada di tangan Topaz?. Dan perjanjian hutang itu apakah palsu.


Esmerald memberikan kembali amplopnya padaku.


"Ruby sayang, Topaz mungkin bukan pria baik saat ini, waktu telah merubahnya. Banyak hal terjadi padanya, hingga dia menjadi arogan. Tante yakin kau bisa merubahnya," ucapnya.


Aku tersenyum sedih,"aku tidak yakin dengan hal itu Ma."


"Apa yang terjadi dengannya?," sambungku.


"Mama gak tahu dengan pasti, setelah lulus kuliah dan kepergian ayahnya, dia berubah. Mulai menyibukkan diri dengan pekerjaan. Dan terakhir dia pindah ke griya tawangnya," cerita Esmerald, "dulu Topaz seorang gentleman, tapi belakangan ini dia lebih mudah marah. Mama juga gak mengerti," sambungnya.

__ADS_1


Bisakah Topaz berubah menjadi seperti dahulu lagi?. Bukan pria arogan bertempramen seperti sekarang ini.


"Baikan sama Topaz yah, kalian kan suami-isteri harus saling memahami dan menghargai. Ribut kecil wajar asal jangan keterusan. Yah, Ruby sayang," nasihat Esmerald yang kuterima dengan senyuman.


"Ma, rahasiakan pertemuan kita dan juga cek ini. Aku tidak ingin Topaz kembali marah," jelasku.


"Ya sayang."


Aku memeluknya mengucapkan salam perpisahan. aku meminta Garreth mengantarkan ku ke kediaman Topaz.


"Nona, yakin ingin kembali ke sana?,"


"Ya. Ada hal yang harus aku cari tahu, lagi pula statusku adalah isteri," tegasku.


Aku memberikan amplop cek itu kepadanya. Garreth meliriknya bingung akan sikapku.


"Untukku," ucapnya heran, "bukankah ini bukti bahwa suamimu berbohong padamu? kenapa Nona berikan padaku?,"


"ini memang bukti, betapa ayahku bekerja keras untuk menghasilkan uang. Maka dari itu aku titipkan kepada orang yang kupercaya. Aku tak ingin kalau cek ini di robek suamiku, kau sudah lihatkan tempramennya dia," ucapku.


"Nona benar. Aku akan menyimpannya dengan aman hingga Nona membutuhkannya kembali," sahutnya.


"Pulanglah. Jaga paman dengan baik. Kabari kalau sesuatu hal terjadi," kataku.


"Aku akan mengantar Nona,"


"Jangan. Aku tak mau ada keributan lagi. Oke Garth," tegasku.


"Oke, kalau itu keinginan Nona," jawabnya, "Nona hati-hati yah. Kabari kalau Nona butuh bantuan,"


Kulangkahkan kaki menuju lobi yang langsung mengarah ke lift khusus menuju griya tawang Topaz. Kulirik jam tanganku belum waktunya makan siang hingga aku berpikir bahwa aku aman.


Aku tiba di lantai 30 tempat kediamannya. Ku berkeliling setiap ruangan namun tak ada siapa pun di rumah termasuk Soka.


Aku tidak menghiraukannya, ku cari pekerjaan untuk menyibukkan diriku dan melupakan ketidakhadiran Topaz yang tidak menyambut kepulanganku.


Waktu berlalu, siang berubah menjadi sore, sore berubah menjadi malam, namun kehadirannya tak kunjung datang. Kucoba meneleponnya berulang kali ternyata sia-sia tak di jawabnya. Begitu pula menelepon Soka yang di acuhkan.


Kegalauanku semakin menjadi setelah melihat jam yang sudah pukul 3 dini hari.


Kemana dia? kenapa jam segini belum pulang. Harus kucari kemana?. Apa dia mengalami kecelakaan? No.. Tak ada kabarnya dari mama. Jadi di mana dia sebenarnya?


Pintu terbuka, Soka terlihat kewalahan memepah tubuh seorang pria yang kehilangan kesadarannya. Ketika kuperhatikan pria itu adalah Topaz.


Dan segera aku membantu Soka memapah Topaz hingga ke kamar.


"Apa yang terjadi dengannya?," teriakku kalut.


"Tuan ada undangan,"


Aku berteriak marah dengan penjelasan Soka yang singkat, "jelaskan dengan detail."


"Peridot Night Club mengadakan acara, Tuan diundang secera langsung oleh Nona Cetrine. Sejak siang Tuan pergi bersama Nona Cetrine dan Nona Cetrine baru menghubungiku ketika Tuan mabuk untuk mengantarnya pulang," jelasnya.


"Kenapa telepon ku tidak di angkat?," tanyaku geram.


"Nyonya tidak menghubungiku." Aku memperlihatkan ponselku.

__ADS_1


"Itu nomor lain Tuan," sahutnya.


Apa maksudnya ini?. Kenapa Topaz memberikanku nomornya padahal dia bilang itu nomor Soka.


Aku memberikan ponselku, "simpan nomormu agar aku bisa menemukan suamiku dengan mudah."


Soka menuruti perintahku dengan mengetikkan nomornya pada ponselku dan aku mencoba meneleponnya ternyata dia tidak berbohong.


Kupandang wajah suamiku yang kini tertidur dengan bau alkohol di sekujur tubuhnya. Ku lepas jasnya, terbelalaklah mataku melihat bekas lipstik wanita di leher dan kemejanya.


Tenanglah, bukan hal penting. Bisa jadi itu hanya sebuah permainan.


Ucapku untuk menenangkan diri.


Aku mengelap bagian atas tubuh suamiku setelah kulepaskan kemejanya. Di dekat tulang selangka leher bawahnya ada sebuah tanda merah. ku mencoba mengelapnya beberapa kali, tanda itu tidak hilang.


Kissmark?


Siapa yang membuatnya?.


Apakah kau selingkuh?.


Akibat air yang membasahi tubuhnya perlahan Topaz membuka matanya.


"Lihatlah siapa ini? Isteriku ingat pulang rupanya. Sudah bermesraan dengan bawahanmu itu," ocehan mabuknya membuatku semakin marah.


Aku bermaksud menjauh darinya sebelum dirinya menjatuhkanku ke ranjang dan menindihku.


"Mau kabur lagi? Belum puas bernostalgia dengannya. Atau kau mengiinginkanku menceraikanmu agar kau bisa bermesraan dengannya, ayo jawab! Gak usah nangis," ocehnya sambil berteriak. Bau alkohol tercium saat dirinya berbicara.


"Hubby lepas. Kau menyakitiku," dengan sekuat tenaga aku berusaha mendorong dirinya.


Usahaku sia-sia dia semakin menghimpitku dan kedua tanganku telah di belunggunya di atas kepalaku.


"Kau sudah tidak tertarik lagi denganku, dan memilih orang kampungan itu."


"Dia Garreth bukan orang kampungan," sahutku.


"Wah! Pulang ke Rosewood merubahmu jadi berani dan menentang suamimu, gitu!," Hardiknya.


"Aku... "


Tanpa aba-aba, dia mencari bibirku dan menciumiku walaupun aku menggerakkan kepalaku menghindarinya. Dengan kasarnya tanganya yang bebas menengadahkan wajahku menatapnya. Mempertemukan bibir kami hingga dia mencium dengan kasar tak melepaskan bibirku lagi.


Kilatan nafsu terpancar dari mata coklatnya yang kini menggelap. Ciuman berbau alkohol itu memenuhi bibirku, hingga akhirnya ku menyerah dengan keadaan.


"Begitu lebih baik kan," sahutnya.


Dia menjadi lebih lembut dan menggoda. Permainan yang diawali dengan kekerasan itu menjadi intim dan saling merespon.


"Hubby.. " desahku di sela ciumannya.


"Uhm, jangan pernah lagi menghilang dariku, mengerti."


Aku tak bisa menjawabnya, belaian tangannya di sekujur tubuhku membangkitkan rasa mendambaku akan dirinya.


Akankah ini berlanjut atau kau menyudahinya lagi?.

__ADS_1


__ADS_2