Dia Yang Datang Diantara Kami

Dia Yang Datang Diantara Kami
Tak seindah kemarin


__ADS_3

Topaz semakin berani menyentuhku. Setiap belaiannya meninggalkan bekas panas di tubuhku. Ciumannya menggodaku dari bibir hingga ke pangkal leherku. Menyebabkan setiap saraf di tubuhku bereaksi, permainannya semakin tak terkendali, intim dan agresif. Mengirimkan gulungan hasrat liar yang semakin menguat dan mendamba.


Kami berdua saling membutuhkan untuk memenuhi hasrat yang telah bergejolak. Aku terkesiap saat dia melucuti pakaianku, tubuh polosku kini menjadi santapan predator dengan bola mata coklatnya.


"Aku mengiinginkanmu."


Suaranya yang parau sudah cukup untuk mengirimkan gejolak panas keseluruh tubuhku.


"Hubby.."


"Uhm." Gumamnya mesra yang masih terus menciumi dan membelai tubuhku.


"Perlakukanku dengan lembut," ucapku dengan napas terengah ketika dia menyentuhkan bibirnya di seluruh tubuhku.


Tangannya mulai menyentuh area sensitifku menyebabkan aku mengeluarkan suara yang tidak kukenali. Semakin intim dia menyentuhku semakin mendamba tubuhku menginginkannya.


"sstt.. Rileks honey."


Ucapnya sambil membelai pahaku dan menyusupkan tangannya kepinggulku, mengangkatnya dan memposisikan tubuhku mendekat ketubuhnya.


Rasa sakit tak tertahankan menyerang tubuhku, jemariku meremas serprai dan kukuku menggores punggungnya ketika dia menyatukan tubuhnya.


"Rileks honey," ucapnya ketika dia melihat setitik air mataku. "Kau akan menyukainya, percayalah."


Ciumannya sedikit menenangkanku, gerakan maju-mundur di pinggulku tak kuhiraukan lagi tergantikan dengan tatapan lembutnya dan kasih sayangnya yang tulus memelukku.


Hingga akhirnya kami menyamakan ritme permainan dan melepaskan gelora asmara yang sudah kami pendam selama ini. Dia ambruk menindih tubuhku. Dengan napas terengah, kelelahan setelahnya, dan mencoba mengatur ritme nafas kami yang berantakan.


"Jangan pergi lagi tanpa perintahku," ucapnya.


Topaz menarik tubuhku untuk mendekat kepelukannya. Diciumnya keningku dengan lembut.


"Jangan pergi." lirihnya. Itulah ucapan terakhirnya sebelum jatuh tertidur.


Bisakah ini kuartikan sebagai ungkapan rasa cintamu?.


Malam ini Topaz telah melakukan malam pengantinnya denganku, tapi ini diluar bayangan dan tak seindah harapan ku.


Pikiranku melayang pada tanda di lehernya yang kini semakin terlihat jelas.


Siapakah yang berani melakukannya pada suamiku?.


Aku tak mau ambil pusing dengan tanda itu,karena suamiku berhasil memenuhi hasratku. Aku mendekapnya bergeser ke tubuhnya dan ikut tertidur di pelukannya.


Hari telah siang saat Topaz terbangun, bingung menemukan tubuh mungilku yang polos menindih tubuhnya, dan kakiku terjalin dengan kakinya.


Topaz berusaha mencoba mengangkat pinggang dan menggulingkan tubuhku ke samping namun gerakannya membuatku terbangun. Ku mendapati Topaz bersandar, mata coklatnya menemandangi tubuhku yang sebagian terekspos.


"Apa yang terjadi semalam?," nada suaranya begitu dingin.


"Hubby, kau tidak mengingatnya?,"


"Aku butuh jawaban bukan pertanyaan." dia menyibak selimbutnya dan duduk di tepian kasur.


"Hubby?," tanyaku bingung.


"Ada hal yang harus ku kerjakan."


Topaz bangkit dengan tubuh polosnya tanpa rasa malu dia mengambil jubah tidurnya lalu memutar badannya keluar dari kamar.

__ADS_1


Hal apa yang dikerjakannya kalau hari ini adalah weekend. Kemana perginya Topaz yang semalam begitu mendambakanku dan mengiinginkanku?.


Setelah kejadian malam pengantin itu Topaz berubah. Yang dilakukannya setiap hari adalah menghindariku. Setiap hari tak pernah lagi menemaniku makan atau sekedar mengobrol. Hilang dipagi buta dan pulang pada dini hari dalam keadaan mabuk berat. Membuatku menyesali dengan keakraban yang kita lakukan malam itu, yang seharusnya ku tolak.


...****************...


"Apa yang membuatku datang setiap hari, honey," sambut mesra Cetrine.


"Sudah seminggu ini, aku melihatmu menghabiskan waktu di sini. Isteri mungilmu belum pulang?." Cetrine menyambung kalimatnya dan menempatkan dirinya di sebelah Topaz.


"Berhenti menyebutnya. Kalau kau tak suka aku di sini, maka besok kucari tempat lain," Topaz berbicara sinis.


"Honey, jangan lampiaskan kemarahanmu padaku," Cetrine menenangkannya, "aku hanya ingin menghiburmu," lanjutnya menggoda.


Senyuman sinis mengembang di bibirnya, "apa yang kau tawarkan padaku?," Topaz balik menggodanya.


Senyum manis terkembang di wajahnya, "apapun yang kau mau." Bisiknya di Telinga Topaz.


Topaz melirik Cetrine, memastikan keseriusan ucapannya. Meneliti setiap wajahnya sebelum Cetrine mendekatkan wajahnya, "jangan," Topaz menolaknya.


"Kenapa?," bentaknya kesal.


"Aku sedang tak ingin."


Alis Cetrine mengkerut, "come on, ku tahu bahwa hasratmu tidak selemah ini. Kau tak pernah menolakku," sindirnya.


"Aku pria beristeri,"


"Lantas."


Emosi Cetrine telah meledak. Mengetahui bahwa dirinya di tolak Topaz. Egonya tidak terima bahwa gadis kampung itu secara perlahan telah mengambil hati Topaz.


Senyuman mengejek menghiasi wajah tampan Topaz, "carilah pria lain untuk mainanmu. Sudah cukup kau mempermainkanku. Aku bukan peliharanmu lagi," ungkapnya.


"Honey, kau salah paham."


"Benarkah?!,"


"Ya. Kau salah menilaiku. Aku bisa buktikan kepadamu," tawarnya menggoda Topaz.


"Caranya?."


Topaz mulai tergiur dengan godaan Cetrine, yang segera di manfaatkan oleh Cetrine yang tak ingin kehilangan moment ini.


"Sudah kubilang di awal,"lirihnya, "aku akan memberikanmu apapun," ungkapnya nakal.


Tawa Topaz meledak memenuhi bilik vip yang mereka tempati. Cetrine bingung dimana lucunya kata yang dia ucapkan.


"Kau pikir aku becanda," Cetrine marah atas perlakuan topas.


Melihat Topaz masih menertawakan dirinya, akhirnya Cetrine pun bangkit.


Topaz menggenggam tangannya, "mau kemana?."


"Yang pasti tidak bersamamu, untuk apa aku menemani kalau kau hanya mentertawakanku," ledeknya.


"Duduklah aku butuh teman."


Cetrine mengurungkan niatnya untuk pergi setelah mendengar perkataan Topaz yang menyedihkan.

__ADS_1


Apa yang sudah di perbuat wanita kampung itu?, pikir Cetrine.


"Ceritakanlah," ucapnya lembut, "aku akan menjadi pendengar setiamu. Bukan gayamu bersedih karena wanita," tandasnya.


Topaz berdiri menuju kaca yang memperlihatkan bagian bawah Night Club semakin ramai dengan pengunjung yang berjoged diselingi tawa ataupun hanya sekedar duduk dan menikmati keriuhannya.


"Cet,"


Lama Cetrine menunggu namun Topaz hanya terpaku menatap lantai di bawahnya. Dengan gerakan pelan Cetrine memeluk Topaz dari belakang. Bersandar di punggung belakangnya.


"Apa yang di lakukan isteri mungilmu itu hingga kau tidak seperti biasanya?," ucap Cetrine lembut,"katakanlah."


"Dia menjebakku." Cetrine bingung.


"Bagaimana bisa seorang Topaz Zephyr dijebak oleh wanita kampung. Ups! Sorry," ledeknya manja. Tangannya bermain di perut dan dada Topaz. Membelainya, membangkitkan hasrat sang pria.


Topaz membiarkannya malah semakin menikmati belaian tangan Cetrine. "Apa yang dilakukannya, huh!," ulang Cetrine menunggu jawabannya.


Topaz menghela napasnya,"dia mengajakku tidur saat aku mabuk, setelah melakukan perjalanan dengan selingkuhannya," jawab Topaz setelah berpikir lama.


Cetrine tercengang mendengar perkataan Topaz, "penyihir nakal," makinya.


Cetrine memutar badan Topaz perlahan menghadapnya, "jangan pikirkan lagi tentangnya. Lihat saja aku," goda Cetrine.


Cetrine mengalungkan lengannya pada tengkuk Topaz, membelai halus tulang pipinya, menuju bibir sensualnya, menelusuri lekukan bibir Topaz dengan jemarinya. Tubuh Cetrine semakin menempel, hingga Topaz tak kuasa lagi menahan gejolaknya dan meraih Cetrine untuk menciumnya.


Gotcha, honey. Pikir Cetrine.


...****************...


Aku sendirian di griya tawang, waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari namun suamiku belum pulang. Kutelepon berkali pun percuma hanya masuk ke kotak suara.


Hingga ku beranikan diri menelepon Soka menanyakan keberadaan suamiku. Terdengar suara riuh samar pada latar belakang ketika ku menelepon Soka.


Soka hanya mengatakan bahwa suamiku sedang mengadakan pertemuan penting hingga tak bisa di ganggu. Dan menutup teleponku begitu saja.


Pertemuan penting di jam 1 dini hari?. Tanya otakku tak mempercayainya.


Kuraih mantelku dan memesan taksi untuk mengantarkanku ke Night Club Peridot. Hanya tempat inilah yang terpikirkan olehku. Aku berjudi dengan firasatku.


Night Club Peridot membuatku takjub, sesuai dengan julukannya yaitu mewah. Para pelanggan yang tidak berhasil masuk masih rela mengantri di udara malam yang mulai dingin.


Aku menemui penjaganya, namun segera di tolak, walaupun aku sudah mengatakan bahwa aku adalah isteri Topaz Zephyr dan kenalan Cetrine Peridot.


Di tengah kebingunganku, sebuah mobil mewah berwarna merah melintas di hadapanku. Sekelebat bayangan menyerupai wajah Topaz terlihat olehku. Dia bersama seorang wanita, namun aku tidak bisa melihat dengan jelas.


Tanpa pikir panjang aku segera menyetop taksi yang melintas.


"Pak, ikuti mobil merah itu," suruhku pada sopir taksi.


Kami kehilangan jejak ketika taksi harus berhenti di lampu merah, sedangkan mobil sport itu telah melaju jauh meninggalkan kami.


"Pak, antarkan aku ke alamat ini."


Rasa kecewaku tak bisa ku sembunyikan karena tidak berhasil mengejar mobil itu. Kembali ke griya tawang adalah pilihan terbaik. Aku hanya bisa menunggu kedatangan suamiku di sini. Dan berharap aku salah mengenalinya tadi.


Hubby pasti masih bersama Soka, dia bukanlah orang di mobil tadi. Percayalah suamimu itu. Ucap otakku namun perasaanku menyangkalnya.


"Hubby, cepatlah pulang. Aku menunggumu." ucapku lirih yang menunggu di ruang tamu hingga tertidur namun sang suami tak kunjung pulang.

__ADS_1


__ADS_2