Dia Yang Datang Diantara Kami

Dia Yang Datang Diantara Kami
Cinta yang ku tanamkan untukmu


__ADS_3

Bagaimana bisa aku lepas dari jerat rayuannya, kalau dirinya telah memporakporandakan pertahananku. Perlahan ku mendekatkan bibirku, coba-coba di awal hanya menempelkannya.


"Inikah jawabanmu," tersungging senyum tipis di wajahnya. "Tadinya aku ingin membiarkanmu tidur. Sayang, sekarang kau telah membangunkanku." Aku terkesiap saat tubuhnya berguling menindihku.


"Saat itu aku mabuk, kali ini aku lakukan dengan benar," ucapnya parau. Ciumannya sebagai pengalihan untuk melucuti pakaianku. Kutarik napas memenuhi paru_paruku ketika dia melepaskan bibirnya.


"Hubby, aku.." Tak sempat menyelesaikan ucapanku karena dia kembali menciumku. Dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk mendorongnya, menghentikan usahanya.


Ketakutanku membuat tubuhku menegang, Topaz merasakan hal itu. "Kenapa sayang?," ekspresi ketakutan di wajahku diperhatikannya. "Ada yang salah, sayang."


Kupaksakan untuk menatap matanya malah yang terjadi setetes air mataku mengalir, "oh sayang, apa yang salah," kebingungan melandanya.


"Bicaralah, aku tak mengerti kalau kau hanya diam," bentaknya yang kini hilang kesabaran.


"Hubby, aku takut esok hari kau akan menolakku dan bersikap dingin seperti saat kita pertama kali." mendengar penjelasanku ekspresinya melunak, penghiburan berupa pelukan diberikannya. Dia tak menyangka hal itu berbekas di hati isterinya.


"Oh sayangku," mengusap lembut tubuhku dan mengecup kepalaku, "aku mabuk ketika itu. Salahku," ucapnya. "Berhentilah menangis, wajahmu jelek," candanya. Tawa kecil keluar dari mulutku.


"Aku tak mabuk sekarang, aku hanya ingin menyentuh isteriku." Pandangnya tajam kearahku, menambah kegilaan di otakku.


"Bolehkah!," suara rayuannya merusak pikiranku. "Ya, sayang" godanya. Tak sanggup lagi kutahan gairahku yang kini telah bangun sepenuhnya, ragu sesaat sebelum ku mendekat untuk menciumnya.


Topaz menyambutku senang, kami saling mengisi kekosongan yang di butuhkan tubuh. Aku membiarkan dia melakukannya, hingga aku tak tahan mendambakannya.


Cara dia menyentuh, membelai, mengelus terasa pas di tubuhku. Cumbu rayunya tiada henti sampai aku kewalahan dibuatnya, "hubby," suara parau keluar saat memanggilnya.


Gumam tak jelas keluar dari mulutnya, saat kami bersama mencapai kenikmatan. Kelelahan melanda tubuhku setelahnya, dengan sisa tenaganya dia meraih tubuhku. "tidurlah," ucapnya penuh kasih.


Tak hanya bibirku yang tersenyum tapi hatiku pun ikut merasakannya, tanpa sungkan ku mendekat padanya, bergelung berselimut pelukannya. Sampai kami berdua jatuh tertidur.


...****************...


Udara dingin menyentuh sebagian kulit telanjangku, ku kerjapkan mata mengusir rasa kantuk. Hari telah berganti, waktu telah menunjukkan pukul 6. Tangan kuat nan besar melingkupi tubuhku di bagian dada dan pinggulku, suara dengkurannya terdengar tatkala ku meliriknya.


Rasa capek dan pegal menjalari tubuhku, gambaran percintaan semalam menyebabkan ku tersipu malu. Semalam Topaz begitu intens dan intimnya saat memadu kasih. Aku merasakan kasih sayangnya di setiap gerakannya.


"Hubby," panggilku lembut membangunkannya. Perlahan aku memindahkan tangannya agar bisa ke kamar mandi.


Aku terkesiap ketika tangannya malah menarikku ke arahnya, "temani sebentar lagi," ucapnya setengah tertidur. Gelitik jemarinya di payudaraku membikin napasku tercekat,


Kekehan tawanya terdengar ketika tubuhku bereaksi atas gerakan kecilnya. "Gairah isteriku sangat liar rupanya." Seketika matanya terbuka memandangku, lalu menyapukan bibirnya ke bibirku.


"Melakukan di pagi hari bukan ide buruk." aku memeloti dan memukul ringan bahunya, "hubby genit." Kuambil jubah tidurku lalu memakainya, bangun dari tempat nyamanku dan menuju kamar mandi.


"Kau tak mengundang hubbymu." aku menoleh nakal, "aku tak keberatan," balasku, seketika dia melompat dari kasur dan membopongku ke kamar mandi. Hanya tawa yang mengiringi kami menghilang ke kamar mandi.


Di ruang makan Eldred telah menyiapkan sarapan. Kami turun bergandengan tangan dan tertawa riang, Eldred memandang senang dan tersenyum. "Sepertinya Rosewood membawa angin segar untuk kalian."

__ADS_1


"Begitulah. Pergantian suasana membuat kami dekat," balas Topaz. "Kapan pengacara datang?." Sambungnya saat telah menempatkan diri di meja makan.


Sembari menuangkan secangkir kopi untuk Topaz, Eldred menjawab, "sekitar pukul 10."


Mendengar jawaban tersebut, Topaz seperti memikirkan sesuatu. Kedua alisnya menyatu membuat kerutan di keningnya. "Ada apa hubby?," tanyaku.


Raut ragu terlihat sekilas, "Soka menjemput sekitar jam 10, akan ada rapat setelah makan siang," ungkapnya sambil menyeruput kopinya.


"Tak bisa di undur," pintaku. Topaz memandangku sebelum menjawab. "Sepertinya tidak," tandasnya.


Setiap membicarakan masalah perusahaan Topaz selalu menghentikan atau menutupinya. "Dengar sayang, aku tak harus hadir dalam pembacaan wasiat itu." Kekecewan melanda diriku.


"Tapi hubby, ini pesan terakhir mendiang ayahku, dan kau adalah suamiku."


"Sayang, please. Kau ingin perusahaan terkena dampaknya, aku harus menaikkan saham yang kemarin sempat turun karena gosip tak karuan itu." Topaz mengingatkanku akan peristiwa video yang beredar sampai hukuman kurungannya terhadapku.


Topaz memijat keningnya sebelum melanjutkan ucapannya, "Soka akan menjemputmu esok siang." Aku mengangguk menyudahi berbedat agar suasana hatinya membaik. Aku tak ingin berpisah saat moodnya jelek.


"Hubby, bolehkan aku mengunjungi mamah. Gosipnya kan sekarang telah redam, jangan kurung aku lagi yah."


Dia melirikku, "akan kupikirkan, kau bisa pergi ketika aku menemukan asistan untukmu."


"Aku," pekikku, "seorang asistan pribadi untukku" sambungku. Topaz memandang heran akan tingkahku, "ada yang salah dengan itu."


"Aku bukan orang penting tak butuh asistan." Jawabku di sela tawaku akan idenya. "Butuh, karena kau seorang zephyr."


"Saya setuju atas ucapan Tuan," timpal Eldred, "Garth, putraku bisa menemani nona," Eldred menawarkan solusi yang di lirik sinis oleh Topaz. "Tidak." tandasnya kasar.


Aku berpandangan dengan eldred, kemudian segera ku kejar dirinya yang telah menghilang.


Aku mendapatinya menemui pekerja yang sedang memilah anggur untuk di pack, "hubby" panggilku lembut, "kau marah," dia menoleh kepadaku. "Maafkan," kataku.


Topaz hanya berjalan perlahan mengelilingi kebun anggur, ku ikuti dirinya tanpa bersuara. Dia menoleh ke belakang, hanya gerakan jemarinya yang terulur menyambutku.


Tanpa ragu ku mendekatinya menerima uluran tangannya. Dia merangkul bahuku ketika kami berjalan beriringan. Senyuman tiada lepas dari wajahku.


Sesekali aku menjelaskan kepadanya semua tentang perkebunan yang kukuetahui, dia menyimak ceritaku, kadang tanya terlontar darinya begitupun senyumnya yang sesekali terselip dari wajah tampannya.


"Sebaiknya kita kembali." Topaz melongok jam tangan mahalnya. "Kurasa aku harus bersiap sebelum Soka datang." Aku menuruti kemauannya tanpa membantah.


Ketika memasuki rumah, ternyata Garreth dan pengacara telah menikmati teh bersama. "Oh nona sudah kembali, baru saja akan mencarimu," jelas Eldred. Sang pengacara bangkit dari duduknya menghampiri kami.


"Halo tuan Zephyr, senang bertemu dengan anda." Topaz menjabat tangan pengacara dengan sopan. "Senang bertemu anda," balasnya.


"Bisnis anda semakin maju. Bila butuh bantuan kau bisa menghubungiku," sang pengacara memberikan kartu namanya.


Topaz menerima tanpa sungkan, membacanya sebelum memasukkan ke dalam sakunya."Akan ku pertimbangkan," ucapnya tersenyum.

__ADS_1


Suasana sedikit tegang terutama ketika mata Topaz bertabrakan dengan pandangan Garreth, memercikan api peperangan yang tak terlihat.


Pelayan lain masuk mengatakan bahwa orang bernama Soka telah menunggu di depan.


"Kalau begitu aku permisi pergi," Topaz menarikku agar mengikutinya. "Kau harus pulang esok, mengerti. Soka akan menjemputmu siang hari, dan kau harus berada di rumahku saat sore tiba." aku menggangguk.


"Aku mengerti," balasku. "jangan nakal," dia meperingatkanku, yang kubalas dengan senyum. "Cium hubbymu," permintaannya membikin denyut jantungku melonjak.


Kumelirik ke sekeliling ketika di rasa aman, kulabuhkan tanganku di pundaknya, menjinjitkan kakiku menggapai dirinya yang tinggi menjulang.


Senyuman tipis terlukis di wajahnya sebelum bibirku menempel padanya, saat akan melepaskannya dia malah menahan pinggangku, kembali berciuman.


Dehaman seseorang menyebabkanku panik dan melepaskan tanganku namun tak begitu dengan topaz yang masih memelukku. "nona, pengacara memanggilmu." Garreth mendatangi kami tanpa segan.


"Kau pengganggu keromantisan," ejek Topaz kasar. "Tak bisakah kau menunggu," imbuhnya masih dengan nada yang sama.


Garreth tak menanggapi ucapannya hanya menatapku. Ku palingkan wajahku bersandar pada dada bidangnya, menyembunyikan rasa malu.


"Pergilah." Bisiknya di telingaku dan kecupan di pipiku mengiringi kepergianku. Kutengok kembali 2 pria gagah yang kini mamandangku pergi.


"Katanya kau membutuhkan assistan untuk Nona. Aku bisa melakukan itu," tawar Garreth tanpa ragu.


Tawa geli meluncur dari mulut Topaz, "jangan bermimpi, kau orang terakhir yang akan di hubungi. Percayalah."


"Kau takut dia akan jatuh hati padaku," serang Garreth. Seketika Topaz mencengkeram kerah baju Garreth, "kau barbar untuk sekelas pebisnis sukses," sindir Garreth tanpa rasa ragu.


Senyum sinis mengejeknya, "sepertinya, cintamu gugur sebelum bersemi. Nonamu milikku, kau hanyalah kakak baginya." Garreth mengepalkan tangannya menahan amarahnya.


"Lepaskan, bukankah kau ada urusan penting. Bertemu selingkuhanmu misalnya." Topaz tertawa, melepas cengkramannya dan merapihkan kemeja Garreth yang kusut akibat perbuatannya.


"Kau berbicara omong kosong tanpa bukti, sebaiknya jangan buat nonamu sedih atas ucapan tak berdasarmu."


Topaz melangkah keluar menemui Soka, "akan ku buktikan bahwa dirimu seorang brengsek," teriak Garreth yang tak di acuhkan Topaz.


Soka membawa Topaz kembali ke Aquamarine, suasana hati Topaz sungguh buruk. Ketidaksukaannya terhadap Garreth makin membesar terutama saat ancaman di lontarkan padanya tanpa rasa takut.


"Soka, selidiki pria bernama Garreth." ucapnya jengkel penuh nada amarah.


Soka melihat melalui kaca mobil, "ya tuan," balasnya.


"Lalu kau sudah mendapatkan asistan untuk nyonya," sambungnya.


"Tahap seleksi tuan," lapor Soka.


"Kuingin secepatnya," perintah Topaz yang di jawab tegas oleh Soka.


Topaz sudah tidak fokus lagi terhadap pekerjaannya, kalimat 'berselingkuh' yang di lontarkan Garreth memicu amarahnya.

__ADS_1


"Sialan," makinya.


Aku tak mengetahui bahwa hal kecil ini akan menjadi pemicu timbulnya masalah di kemudian hari.


__ADS_2