Dia Yang Datang Diantara Kami

Dia Yang Datang Diantara Kami
Perseteruan


__ADS_3

"Kenapa Garth kemari?" gumamku masih berpikir, belum beranjak dari tempatku.


"Celaka mereka akan bersitegang kembali."


Kepanikan menjalari pikiranku, secepat kilat aku beringsut turun dari kasur, mengayunkan langkah secepat mungkin menyusul suamiku.


Ruangan pertama yang ku tuju adalah ruang kerjanya. Ketika sampai Soka telah berdiri di depan pintu, khas pengawal penjaga agar tidak ada seorangpun yang menerobos masuk.


"Buka," perintahku sedikit kasar. Soka acuh mendengar suaraku.


"Buka pintunya," teriakku. Soka hanya melirikku.


"Nyonya, tuan tidak ingin di ganggu." ucapnya sangat tenang bahkan tanpa ekspresi. Tubuhnya tetap diam tanpa bereaksi.


Ini orang atau robot, pikirku.


"Soka, ijinkan aku masuk. Sebelum seseorang terluka di dalam." bentakku yang sudah hilang kesabaran akibat panik.


Soka maju selangkah, membuatku gentar, mengharuskanku mundur dari tempatku semula. Ketenangannya yang begitu luar biasa memberikan intimidasi yang kuat kepadaku.


"Lebih baik menunggu dengan sabar. Yakinlah tuan tidak akan bertindak anarkis," sarannya dengan suara lembut namun kata yang di keluarkan cukup membuatku bergidik ngeri.


Aku menyerah, menunggu adalah pilihan yang terbaik saat ini. Ketidaktenangan pikiranku menyebabkanku berjalan mondar-mandir di depan pintu yang tertutup rapat.


Sementara itu dibalik pintu, 2 pria gagah sedang menatap tajam, menilai dan mengamati. Keduanya menyimpan emosi, siap untuk meledak.


Keduanya kini telah duduk bersebrangan. Sikap angkuh Topaz di tunjukkan dengan menyilangkan tangan di depan dada.


Sebaliknya, Garreth duduk tenang tidak terpengaruh lawan bicara di depannya.


"Untuk apa kemari? Setahuku kau tidak di perlukan di sini," Tegas Topaz kasar.


Senyum sinis dilukis Garreth, "Ku dengar kau butuh pengawal untuk nona?"


"Nyonya," ralat Topaz. Tatapan sengit di tunjukannya agar lawannya mundur, sayangnya hal itu malah di balas Garreth tanpa di sembunyikan.


"Apa maksud tersembunyimu?"


Garreth hanya tersenyum geli mendengarnya, "tidak ada. Hanya butuh pekerjaan. Kau tahu aku baru saja resign, jadi aku mengemis padamu," ungkapnya.


"Kurasa bekerja di Rosewood adalah yang terbaik untukmu."


"Ayahku sudah bisa menanganinya, percayalah. Disini kau butuh penjaga kan! Untuk Nyonya," sindirnya.


"Ya. Tapi tidak dirimu, bukan pria melainkan wanita," jelasnya menangkis sindirannya.


"Ouh! Tapi kau harus menerimaku," balasnya.


"Untuk apa?"


"Karena nyonya mu."


Kekehan keluar dari mulut Topaz. Pandangan bola mata coklatnya menyelidik si pria ramah di depannya.

__ADS_1


Terlalu santai, pikir Topaz dalam hati.


"Sebutkan alasanmu, mungkin akan jadi bahan pertimbanganku."


Jeda sejenak, Garreth berpikir menyusun katanya agar bisa di terima oleh Topaz. Topaz tidak sabaran hingga kembali berbicara.


"Pulanglah. Aku tidak membutuhkanmu saat ini, besok ataupun nanti." tandasnya.


Topaz beralih ke meja kerjanya, perasaan jengkel kini menyelimuti dirinya.


Garreth hanya tertawa, "hei, masalahnya nyonya-mu telah menyetujui aku bekerja di sini," balasnya penuh percaya diri.


Topaz tidak menoleh ke arahnya, dengan santai menyandarkan dirinya pada meja besarnya menatap cakrawala pada jendela besar di depannya.


"Omong kosong," hardiknya.


"Tanyakan padanya kalau kau tidak percaya."


Dihempaskan tubuhnya dengan kasar pada kursi tinggi berbahan kulit nan empuk.


"Soka," teriaknya.


Dari luar pintu terdengar teriakan Topaz memanggil Soka. Aku yang semenjak tadi mondar-mandir seketika tertegun, kaget akan suara teriakannya.


Soka bersiap masuk, aku yang tidak sabaran menyerobot dirinya, mendahului masuk ke dalam.


Topaz mendelik melihatku berebut mendahului Soka. "Apa yang kau lakukan di sini sayang?" Suara yang di keluarkan Topaz begitu kesal hingga aku agak segan mendekatinya.


Aku mengalihkan pandanganku ke arah Garreth yang duduk dengan santainya.


Apa yang ada di otaknya kini! Tidak tahukah bahwa dia menimbulkan masalah untukku.


"Sepertinya kepulanganmu berhasil menaklukan dia untuk mengikutimu." Tangannya menunjuk Garret akan tetapi pandangannya terpaku kepadaku.


"Hubby, aku.... "


"Tidak usah jelaskan apapun," sentaknya.


Garreth tidak terima dengan ucapan kasarnya hingga bangkit berdiri, berjalan cepat menuju ke arahnya. Gebrakan di meja menyebabkanku berlari ke arah Garreth.


"Bisakah kau bersikap lembut padanya," teriaknya. Keramahan di wajahnya kini berganti kemarahan.


"Garth, please. Tahan emosimu," ucapku memohon. "Lebih baik kamu pulang," tambahku.


Senyum kemenangan terpampang di wajah Topaz, dia merasa unggul karena sang isteri lebih membelanya.


"Kau dengar apa yang di katakannya," Ucapnya sombong. "Pulanglah," Topaz berbicara seolah sedang mengejanya, mempertegas maksudnya.


Garreth tidak menghiraukan permintaanku, perkataan Topaz telah menyulut bara emosi di hatinya, yang sedari tadi di tahannya.


Garreth menoleh ke arahku, tatapan memohon kulayangkan padanya. Sayangnya, emosi mengaburkan pandangan matanya.


Sedetik kemudian Garreth mencapai tempat di mana Topaz duduk dan mencengkram pakaiannya. Menarik paksa tubuhnya bangkit dari kursi yang di tempatinya.

__ADS_1


"Garth.... " teriakku.


Soka berlari menahan tangan Garreth dengan sekuat tenaga. Sedangkan Topaz memandang angkuh pada Garreth yang mencengkram pakaiannya.


"Beginikah caramu bernegoisasi melamar pekerjaan?" hinanya, "barbar," sambungnya dengan ejekan.


Topaz tidak melawan kedua tangannya berada di saku celananya. Soka berusaha mati-matian menahan tangan Garreth.


"Garth cukup," ucapku memohon. Masih juga tidak di hiraukan Garreth.


Topaz mendekatkan mulutnya ke telinga Garreth dan berbisik, "perhatikan wajahnya yang memohon. Kau tidak kasihan padanya? Pulanglah Garth, dia tidak memihakmu," bisiknya penuh racun.


Sekejap Garreth melayangkan tinjunya, Soka tidak dapat mengantisipasi pergerakannya, hingga Topaz jatuh terjengkang ke kursinya.


Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku panik menonton aksi kasar Garreth pada Topaz.


"Apa yang kau lakukan," pekikku penuh emosi.


Topaz memegangi ujung bibirnya yang kini berdarah, "cih!" ejeknya dari tempatnya terjungkal.


Kecemasan memancingku untuk mendorong tubuh Garreth menjauh dari Topaz, walaupun Soka sudah menjadi penegah diantara keduanya.


Garreth tidak terima akan sikapku yang membelanya, "kau membelanya? Lelaki brengsek ini, yang sudah membentakmu kasar."


"Dia suamiku." Aku memasang badan untuk Topaz yang di pandang hina oleh Garreth.


"Nona kau sudah termakan rayuannya. Dia penipu, brengsek dan kau akan menyesal telah memilihnya. Mengorbankan semua yang seharusnya jadi milikmu. Kau bisa hidup bebas, tidak menjalani hidupmu dengan si brengsek ini," ungkapnya.


Garreth mengacak-acak rambutnya, frustasi akan sikapku yang mementingkannya.


Dari tempat Topaz duduk, dirinya mengirimkan pesan melalui gerakan bibirnya yang di tangkap Garreth, "Loser."


Senyum mengejek akan kekalahannya, terlukis di wajah dinginnya. Kemarahan Garreth yang sudah tidak bisa di kontrol lagi, hingga dia melampiaskan memukul dinding dengan tinjunya.


Aku tertegun menonton aksinya ini. Kakiku tidak bisa ku langkahkan, gemetaran bagai lumpuh. Suaraku tercekat tak mampu berteriak untuk menghentikan aksinya.


Topaz memandang tubuhku mematung. Sebagian gemetaran hebat terutama di kaki dan tanganku. Topaz menutup mataku dengan tangannya.


"Hentikan, kau membuat isteriku ketakutan," Ucap Topaz tegas.


Topaz membalikkan tubuhku menghadapnya, merengkuhku ke dalam pelukannya.


Garreth menolehkan pandangannya ke belakang, aksinya segera berhenti melihat tubuh mungilku gemetaran.


"Soka antarkan si Barbar ini pulang," Tegas Topaz yang masih memelukku. "Aku tidak mau, isteriku semakin ketakutan akan tindakannya," sambungnya.


Garreth menghempaskan tangan Soka ketika memegang tubuhnya hendak menyeretnya ke luar.


"Aku tidak akan pulang sebelum aku mendapatkan pekerjaan ini," tandasnya dengan suara melengking.


"Kau tidak melihat, betapa isteriku ketakutan saat ini. Sikapmu kampungan, tidak beretika. Tindakanmu bisa mencelakakan isteriku," sengit Topaz.


"Nona," Garreth memanggilku dengan nada memelas, "Aku tidak akan mengabaikanmu lagi. Akan ku buktikan melalui pekerjaan ini. Kau harus membantuku," ungkapnya sedikit putus asa.

__ADS_1


Aku masih tidak bergeming di pelukan Topaz. Tidak sanggup menatap mata Garreth. Tidak bisa pula memilih.


Memperkerjakannya atau menolaknya!. Keduanya bagai bilah pisau, membuatku memutar otak.


__ADS_2