
"Nyonya, dari mana?" tanya Soka. Sesekali pandangannya teralih saat menyetir ke arahku yang duduk di kusi belakang. Soka sepertinya penasaran atas ketidakberadaanku saat menjemput.
"Apalah aku perlu menjawab pertanyaanmu," balasku terkesan angkuh.
Soka terdiam, hanya melirik dari kaca mobil, ku palingkang wajahku agar Soka tidak bisa mengamati eskpresiku.
Jalanan ramai pada siang hari, mobil yang dikendarai Soka agak tersendat, dalam hati aku menggerutu cemas akan kemarahan Topaz yang menunggu lama kedatanganku.
Kulirik jam tanganku yang melingkar di pergelangan tangan kiriku, sudah hampir pukul 1 siang.
Tidak mungkin hubby menungguku, pasti sudah kembali ke kantor. Rasa penyesalan memggerogoti hatiku.
"Masih lamakah?" tanyaku pada Soka.
"Sekitar 30 menit lagi nyonya," jawabnya.
Tak bisa kupungkiri, rasa takut bersemayam dalam diriku.
Andai aku punya jurus menghilang, akan aku temui dirinya di manapun.
"Nyonya baik-baik saja?" Kecemasan terdengar dari suaranya.
"Tidak mengapa. Mengebutlah kalau bisa, aku tidak ingin dia marah. Kau tahu kan bagaimana tempramennya?" balasku.
Soka mengangguk pelan, "saya usahakan Nyonya."
"Makasih," ucapku menutup pembicaraan.
Kuraih ponsel di dalam tasku, mencoba menghubunginya. Hasilnya sudah di pastikan, tidak dijawab.
Hingga aku berinisiatif mengiriminya pesan singkat bertuliskan: "Hubby, lalu lintas macet. Maafkan tidak bisa makan siang denganku."
Berharap pesanku di bacanya sudah menyenangkan hatiku, walau tidak di balas olehnya.
Jalanan mulai lenggang, bangunan tinggi menjulang itu kini mulai terlihat. Betapa senang hatiku, kembali ke sini.
Soka menurunkanku di depan apartemen mewah itu, seorang pria membukakan pintu untukku. Dengan senyum ku ucapkan terimakasih.
Langkahku ringan memasuki lobi, hatiku cerah, senyum tak lepas dari wajahku. Berharap suamiku masih menungguku.
Jangan bermimpi, hubby pria gila kerja.
Sepertinya pikiran dan hatiku sedang bermusuhan.
Lift khusus menuju lantai 30 terbuka, aku memasukinya. Ku amati diriku, lewat kaca pada dinding lift.
"Lumayanlah," gumamku membuatku sedikit tersipu malu. "Aku bisa bersiap menunggu kedatangan hubby. Berdandan cantik."
"Sepertiny lift ini perlu menambah kecepatannya," gerutuku yang merasa lama berada di dalam lift.
Pintu lift terbuka, percaya diri ku langkahkan kakiku menuju ke pintu tertutup, kediaman Zephyr. Rumah Topaz. Rumah hubbyku, rumahku kini.
kuputar gagang pintu setelah ku masukan kode sandi. Sesuai perkiraanku, rumah kosong dan sepi. wajahku kini cemberut, menyalahkan diri sendiri karena keterlambatanku.
Saat menuju kamarku, terdengar suara dari dapur. Maling, pikirku panik. Terpaku aku di tempatku berdiri. Mencoba mendengarkan kembali suaranya.
Eeish, Mustahil. Penjagaan di sini ketat.
Ditepisnya pikiranku itu, dengan kebulatan tekad ku coba mengambil langkah pertama. Langkah mengendap-endap kulakukan mendekati dapur.
Apakah hubby? Tidak mungkin. pertanyaan yang dijawab sendiri oleh pikiranku.
Aku mengambil vas bunga sebagai senjata, juga sebagai peganganku. Ku erat memegangnya, sampai jemariku memerah.
"Siapa?" teriakku sebelum sampai di dapur.
__ADS_1
Derap langkah mendatangiku, ketakutan menjalariku. Ku pertahankan posisiku, dan menguatkan peganganku pada vas bunga tinggi berkaca.
"Apa yang kau lakukan?"
Suara dari arah belakang mengejutkanku, menyebabkan vas yang kugenggam kini meluncur jatuh meninggalkan suara yang nyaring.
"Tolong," jeritku. Mataku terpejam, tubuhku gemetar ketika tangan besar menempel di bahuku. Gelak tawa terdengar dari arah dapur.
"Bukalah matamu." Aku mengintip membuka sebelah mataku.
"Kau tidak mengenali suaraku sayang," ucapan lembut terkesan merayu.
Kecupan manis menyambutku tepat di bibir, segera ku mbelalakan mata melihat siapa pelakunya.
"Hubby," sapaku riang. Tak perlu menunggu lama, segera kupeluk dirinya.
"Apa sebenarnya yang ada dalam pikiranmu, hah!" Aku nyengir tidak menjawabnya.
"Awas! pecahan kaca bisa melukaimu," ujarnya mengingatkanku.
Aku meringis melihat ke lantai, vas cantik itu kini berhamburan tanpa bentuk. "Maaf," kataku.
"Bi, bersihkan ini," Teriaknya.
Seorang wanita paruh baya datang membawa sapu dan pengki. Aku terkejut karena mengenali wajahnya.
Bukankah ini asistan rumah tangga di rumah mamah, kenapa bisa di sini?.
Topaz menangkap kebingunganku. "Mama meminjamkannya untuk kita."
"Hah!" seruku tidak mempercayainya.
Topaz membopongku yang masih sibuk melamun. Tindakan tiba-tibanya ini membikin ku mengeluarkan pekikan kaget.
Aroma yang khas, bukan wangi menyengat hidung, lebih tepatnya memanjakan yang menghirupnya. Sekali lagi ku endus wanginya untuk memastikan indera penciumanku tidak salah.
Parfum siapakah ini? Kenapa bisa menempel di pakaian suamiku?.
Topaz menurunkanku ketika sudah sampai di kamar kami, mendudukanku di sisi ranjang.
"Hubby, apakah ada tamu yang datang ke sini, selain asistan mama?," tanyaku.
Topaz duduk di sampingku, berpikir akan ke mana arah pembicaraanku.
"Mama datang ingin mengajakmu makan siang, tapi kau tidak kunjung datang. Lalu mama meminjamkan asistannya untuk menyiapkan makan malam untuk kita. Kau pikir aiapa yang datang? Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanyanya balik.
Oh, jadi parfumnya mama.
"Hanya ingin tahu saja." Aku memandangnya penuh rindu, walaupun baru sehari saja berpisah. "Oh iya, hubby tidak bekerja?"
Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku sedang menunggu isteriku," sahutnya manja.
Jawabannya melambungkan hatiku hingga ke angkasa. Melukis rona merah di wajahku.
"Jadi apa wasiat ayahmu?" tanyanya tiba-tiba.
"Hanya perkebunan dan sedikit surat untuku. Wejangan memilih calon suami," ucapku sedikit bercanda.
Mata Topaz kini berkilat kasar. "Apa wejangannya?" tanyanya. Matanya berkilat nakal.
"Rahasia," jawabku ingin menggodanya.
"Kau semakin nakal sekarang. Sudah berani melawanku," komentarnya.
Kutanggapi perkataannya dengan senyuman. "Belajar darimu hubby."
__ADS_1
Tawanya lepas, suaranya renyah terdengar di telingaku. Aku menyukai saat dia mengekspresikan kegembiraannya.
Melepas mimik dingin nan arogan dari wajah tampannya yng bermata coklat.
"Kenapa menatapku? Terpesona hubbymu?" Selingnya di antara tawanya.
"Ya," jawabku jujur.
Seketika tawanya berhenti. Tatapan matanya kini fokus mengamati wajahku. Ada bara di matanya, perlahan jemarinya membelai halus lenganku.
"Kau yakin dengan ucapanmu, Ruby."
Anggukan kepalaku menjawab pernyataannya. Senyum tersungging di bibirnya.
"Kau wanita penggoda dan nakal," sindirnya.
perkataannya membuatku kesal, kuraih bantal di belakangku, kulemparkan padanya yang berhasil di tangkis.
"Kau perusak suasana kalau begitu," balasku. Aku beranjak pergi, aksiku di hentikannya.
Dengan sekali tarikan pada pergelangan tanganku, tubuhku mendarat mulus di tubuhnya yang kini tersungkur ke kasur.
"Perkataanmu kurang tepat sayang." Pelukan posesif membelengguku di atas tubuhnya.
Aku mencoba memberontak agar terlepas dari pelukannya. Dia malah berguling ke samping mengakibatkan posisiku kini barada di bawahnya.
"Lepaskan," ucapku. Detak jantungku sudah tidak karuan lagi.
"Tidak akan," bantahnya. "Sampai kau mengatakan yang sejujurnya. Apa wasiat ayahmu?"
Berada di posisi ini membuat pikiranku tidak jernih. Apalagi di tambah tubuhnya yang menghimpitku, hingga sukar bergerak.
"Hanya itu, aku berkata jujur," sahutku. "Tanyakan saja pada pengacara bernama Pirus, kau memiliki kartu namanya bukan," tantangku.
Dia menyibakkan rambutku, menyusupkan wajahnya pada ceruk leherku. Geli terasa setiap dia mengecup ringan di sekitar leherku.
"Kissmarkmu belum hilang," godanya. Jemarinya bermain pada tanda merah di leherku. Mengirimkan sentuhan 0anas setelahnya.
"Aku harus mengenakan pakaian yang menutupi leherku, tahu kan itu bikin gerah," ucapku tercekat oleh sensasi sentuhannya. Dia hanya tersenyum santai menanggapinya.
"Jangan kau tutupi sayang. Agar semua mengetahui itu perbuatanku," bangganya.
Satu kecupan dilayangkan padaku, geloranya telah bangkit. "Kau menginginkannya?" tanyanya dengan suara parau.
Hubby, ini siang hari. Kau becanda kan! Kritik otakku.
"Hubby.. "
Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, ketukan di pintu menghentikan katifitasnya pda tubuhku.
"Ya," jawabnya kesal karena gangguan.
"Tuan, ada tamu menunggumu."
"Siapa?" teriaknya geram.
"Tuan Garreth Bauer."
Mimik wajah Topaz segera berubah menjadi dingin. Dia memandangku kesal, dengan sekali gerakan, dia bangkit.
"Kau membawanya kemari?" Kedongkolan terasa di tekanan kata yang di ucapkannya.
"Aku tidak.. "
Belum juga selesai menjelaskan, dia telah melangkah sampai ke pintu. Dengan kasar dia menarik pintu dan membukanya. Dalam sekejap menghilang di depanku.
__ADS_1