Dia Yang Datang Diantara Kami

Dia Yang Datang Diantara Kami
Keromantisan yang terganggu


__ADS_3

Selama beberapa minggu ini aku telah mengenal kebiasaan Topaz. Salah satunya adalah dia tidak suka sarapan, hanya membutuhkan secangkir kopi hitam untuk memulai harinya. Seperti saat ini, kami menikmati matahari pagi di teras.


"Hubby, aku bosan," ucapku meminta perhatiannya yang sedang fokus pada laptopnya.


"Oh, terus?," sahutnya masih melihat layar laptopnya.


"Kalau aku kerja gimana?," tanyaku.


Matanya yang tadi sibuk menatap laptop kini mendelik ke arahku.


"No!," sahutnya tegas.


"Hubby.. " rengekku.


"Kau bisa suruh Soka mengantarmu ke mana pun, atau kau bisa mengadakan acara dengan orang yang sudah kau kenal di pesta, shopping, jalan-jalan, apapun itu kecuali kerja," tandasnya.


"Dengar dulu penjelasanku, aku ingin membantu Eldred mengelolah perkebunan, kasihan dia sudah tua dan harus mengurus semuanya. Aku tak akan melupakan tugasku sebagai isteri, aku bekerjanya di sini. Boleh yah, please Hubby!," jelasku.


Topaz menutup laptopnya dan melangkah mendekatiku. Tangannya di pegangan kursi, memerangkap diriku.


"Akan aku pikirkan kalau kau melayaniku dengan baik," suaranya yang lembut menghipnotisku.


Wajahnya yang kian mendekat menyebabkan jatungku berdetak dengan irama tak karuan. Ciuman pertama hanya menempelkan ke bibirku dan di tariknya lagi.


"Jangan mengeluh, kau cukup menjadi isteri Zephyr," ucapnya.


Napasnya yang berhembus setiap kali Topaz berbicara menggelitik wajahku, harum mint bercampur kopi tercium di hidungku. Kecupan kedua bermain lama di bibirku, mengirimkan sinyal yang membangkitkan kelima indraku.


"Aku tidak mau perhatianmu terbagi dengan pekerjaan, cukup perhatikan aku saja, mengerti!," goda Topaz.


Kali ini jemari Topaz bermain di leher yang menyebabkanku merinding karena sentuhan halusnya membuatku geli. Jemarinya yang panjang mengelus lembut pipiku, hanya dengan hal ini saja sudah membuat merah rona pipiku.


"Perhatikan saja aku, Ruby Celeste Zephyr," lirihnya.


Seketika Topaz menunduk dan mencium bibir Ruby dengan lembut, ada sedikit rasa sayang yang bisa aku rasakan darinya. Dengan perlahan aku mengalungkan lenganku di lehernya, menyusupkan jemariku di rambutnya yang tebal menuntut lebih dari sekadar ciuman.


"Ehem," deham suara terdengar dari samping, membuat kami melepaskan ciuman dengan tergesa.


"Maaf tuan..nyonya.. Nona Cetrine datang berkunjung," Soka memberitahukan kabar dari tamu tak di undang itu.


Topaz terlihat kesal dengan gangguan tak terduga di pagi hari liburnya.


"Untuk apa dia datang?," Suara Topaz terdengar jengkel saat bertanya.


"Dia ingin menemui Nyonya Ruby," jawab Soka.


Kenapa wanita ini ingin menemuiku? aku tidak akrab dengannya, bukan pula seorang teman yang saling berkunjung. Terutama disaat ini, aku ingin menghabiskan waktu dengan suamiku tanpa di ganggu. Gerutuku dalam hati.


"Aku?," seruku terkejut dengan apa yang ku dengar, "untuk apa?," tanyaku heran dengan kedatangannya di tengah suasana liburan yang baru kunikmati dengan Topaz.


Aksi romantis yang Topaz lakukan menjadi salah satu yang membikin aku mulai tertarik padanya. Aku merasa di sayang dan diperlakukan baik olehnya, hingga rasa itu timbul menjadi semakin besar setiap harinya. Adalah Topaz akan mengulurkan tangan ke arahku membantuku untuk berdiri yang kuterima dengan senang hati, kami berdua menemui Cetrine yang sudah duduk di ruang tamu dengan sebuah box besar berpita di sampingnya.


"Hai, Ruby... Topaz.. ,"sapanya.


Dia bergegas menghampiriku dan memelukku serta mencium ke dua pipiku.


"Bagaimana kabar kalian?," pertanyaannya terlalu riang bagaikan sudah bersahabat lama.


Terlihat Topaz mengernyitkan alisnya dengan mata di picingkan, ada emosi tersembunyi selain kejengkelannya.

__ADS_1


"Baik," sahutku, "ada apa Cetrine datang berkunjung pagi sekali?," tanyaku.


"Cet! Panggil Cet," ucapnya, " ini! Aku membawakan kado untuk pernikahan kalian," Cetrine menunjuk ke box berpita tadi.


Dengan menggandeng tanganku, Cetrine membawaku mendekati box yang luar biasa ukurannya itu. Entah bagaimana wanita ini membawanya kemari.


"Seharusnya tidak perlu repot," kataku.


"Jangan berkata seperti itu, Topaz temanku sejak kuliah dan sekarang kita menjadi rekan bisnis, ini bukan sesuatu yang 'merepotkan'," jelas Cetrine, "bukalah," suruhnya dengan tidak sabaran.


Aku melepas simpul pita di boxnya dan menarik penutupnya, sebuah lampu tidur berbentuk lentera dengan ukiran bunga anyelir merah di sekelilingnya.


"Makasih Cet," ucapku senang mendapatkan hadiah lampu tidur estetik.


"Aku tahu pasti kau menyukainya." senyum Cetrine.


"Sayang, ambilkan minuman untuk Cet," suruh Topaz kepadaku.


"Ah, maaf sampai lupa menawarkan minuman. Cet, mau minum apa?." tanyaku beralih pandang ke menatap Cetrine.


"Gak usah, aku ada perlu juga dengan Topaz, membahas bisnis. Bolehkan meminjam suamimu?." tanya Cetrine mengedipkan sebelah matanya.


"Aku tidak bekerja di hari libur," jawab Topaz.


"Oh yah! Lalu untuk apa Soka ada di sini?," sindir Cetrine.


Rahang Topaz menekan giginya yang kini bergemeretuk menahan emosinya, kedua tangannya telah terkepal disisi tubuhnya.


"Kita bahas di ruang kerjaku." ujarnya dengan langkah cepat meninggalkan ruangan.


"Aku mengganggu acara kalian yah?," tanya Cetrine kepadaku.


Tanpa berkata lagi Cetrine mengikuti langkah Topaz ke ruang kerjanya. Hanya tinggal aku dan Soka saja di ruangan itu.


"Soka, bantu aku memasangnya!." Perintahku yang pergi ke kamar diikuti Soka yang membawakan hadiah dari Cetrine.


Cetrine menutup pintu di belakangnya, Topaz bersandar di meja kerjanya, menyilangkan kakinya yang panjang dengan kedua tangan dilipat di dadanya yang bidang.


"Bicaralah," perintah Topaz tak sabaran.


Catrine melakukan hal yang sama dengan Topaz di sampingnya. Rok selutut yang dikenakannya memperlihatkan kaki mulusnya.


"Sejak kapan kau bersikap ketus kepadaku." sahut Cetrine.


Tangannya di tumpangkan ke bahunya yang lebar dan wajahnya kian mendekat, berbisik ke telinganya.


"Aku tahu kau masih mempunyai rasa terhadapku, jangan bohongi perasaanmu. Mengapa kau menikahi perempuan itu?." Cetrine berbisik sembari mencondongkan tubuhnya ke Topaz.


Setiap suara lembut yang keluar dari mulut Cetrine mengirimkan getar aneh untuk Topaz yang mencoba menjauhinya, namun Cetrine tak kalah cepat memerangkapnya dengan mengalungkan lengannya ke lehernya dan berdiri di depan Topaz.


"Apa maumu?." Bentak Topaz berusaha melepaskan tangan Cetrine di lehernya.


"Kenapa? Takut ketahuan isteri mungilmu," teriak Cetrine.


Topaz menatap tajam Cetrine, sedetik kemudian Cetrine dengan berani mencium bibir Topaz dengan bergairah.


Awalnya Topaz tidak meresponnya, namun godaan bibir sensual Cetrine membuatnya menyerah dan membalas dengan hasrat yang sama. Seringai kemenangan terhias di wajah Cetrine melihat antusias Topaz terhadap dirinya.


"See, kau masih sama seperti dulu." Cetrine melepas ciumannya namun tangannya masih memeluk Topaz.

__ADS_1


"Apa maumu sebenarnya?," tanya Topaz mengelak perkataan Cetrine.


"Dirimu," tegas Cetrine.


hahahaha.. Tawa Topaz bergema di ruangan, Cetrine hanya bisa tersenyum menatap Topaz.


"Honey, kalau aku tak bisa mendapatkanmu maka wanita lain tak akan pernah bisa, percayalah. Akan kubuktikan!," tandas Cetrine menyerukan ancamannya.


"Terserah." Tukas Topaz menghempaskan dengan kasar tangan Cetrine dan menjauh pergi.


"Ada lagi yang ingin kau bicarakan?," tanya Topaz.


"Kurasa tidak." Cetrine mengambil kaca dari tasnya dan membetulkan lipstik di bibirnya.


"Honey, bekas merah lipstikku ada di bibirmu. Bye.. Kurasa kita akan sering bertemu." ucapnya meninggalkan ruangan.


Topaz mengelap bibirnya dengan tisu dan melemparkan dengan kesal tisu tersebut. Dia tak habis pikir bisa dengan mudahnya tergoda bujuk rayu Cetrine.


Ditengah kemelut pikiran yang dihadapinya, pintu ruang kerjanya terbuka menampilkan sosokku yang berjalan membawa minuman.


"Mana Cetrine?," tanyaku heran.


Topaz segera beranjak dari tempatnya dan menyingkirkan nampan yang aku bawa, dengan segera menciumku bertubi-tubi membuatku kewalahan dan kehabisan napas.


Hasrat Topaz dalam ciumannya semakin jelas, Topaz menengadahkan wajahku untuk mempermudahnya menciumku, ciumannya yang intens membuat tubuhku bergetar.


Ada apa dengannya? sampai menciumku sekasar ini.


"Hubby.. ," ucapku di sela-sela ciumannya yang terus menerus.


Topaz mengangkat tubuhku dengan mudahnya, tangannya bermain di punggunggu, mengelusnya dengan menggoda membuatku tersentak dengan setiap aksi yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.


Bibir yang tadinya saling bertaut itu kini terlepas perlahan karena kelelahan, kami berdua mengatur kembali irama napas yang tadi tak beraturan.


Ditatapnya aku dengan ekspresi lembut, meluluhlantahkan pertahanan hatiku yang dari semula tidak menyukai perbuatannya.


Hentikan menatapku dengan mata itu.


"Aku menyiapkan hadiah untukmu," sahut Topaz.


Topaz mendudukanku di meja kerjanya, dia membuka laci meja kerjanya dan mengambil sebuah amplop. Sebuah ciuman mendarat di bibirku sebelum memberikan amplop tersebut.


"Apa ini?," tanyaku.


"Bukalah, hadiah untukmu yang sudah bersikap baik," jawabnya.


Aku membuka amplop tersebut perlahan, dua buah tiket perjalanan adalah hadian dari Topaz.


"Tiket bulan madu kita," serunya.


Aku tersenyum melihat dua tiket yang kini kupegang, dia mendekat memelukku, kemudian menggelitik telingaku dengan berbisik.


"Kau senang?." kujawab dengan sebuah anggukan.


Ya, entah sejak kapan aku jatuh hati pada pria arogan ini.


Pernikahan yang tadinya untuk mempertahankan perkebunan dan pembayaran hutang entah sejak kapan terlupakan. Tergantikan dengan rasa bahagia dengan perlakuannya terhadapku.


Akankah kau bertambah mencintaiku setelah perjalanan bulan madu kita?.

__ADS_1


__ADS_2