Dia Yang Datang Diantara Kami

Dia Yang Datang Diantara Kami
Memeluk rahasia


__ADS_3

Kegembiraan yang meluap dalam diri Topaz, membuatnya rela membukakan pintu untuk sang tamu yang dikira isterinya itu.


"Beginikah caramu menyambut tamu sekarang?" Sahut Cetrine tertawa geli mendengar kata sayang yang terucap manja dari sang pemilik.


Raut wajah Topaz seketika berubah mendapati tamu yang tidak diinginkan mengunjunginya.


"Untuk apa kau kemari?" Topaz berjalan menjauh. Menempatkan dirinya bermandi cahaya mentari di berandanya yang luas.


"Mana si mungil?" Cetrine mengikuti langkahnya. "Ah! Kau mengusirnya? Menceraikannya? Atau dia sendiri yang kabur karena kesalahanya terbukti? Pernikahan kalian bahkan tak seumur jagung," hinaan terus keluar dari mulutnya.


Topaz mendelik sekilas mendengar cercaannya terhadap pernikahannya terutama terhadap isterinya.


"Apa maumu?"


Cetrine meletakkan bingkisan, "menemui si mungil untuk berdamai. Eh, aku mendapat bonus bertemu denganmu tanpa si mungil."


"Kalau begitu pergilah," usir Topaz bersuara tegas.


"Oh come on. Kau tidak merindukanku?" Cetrine menempatkan diri duduk di pegangan kursi, menyandar pada tubuh berototnya.


Topaz mencoba menghindarinya, namun segera di cegah Cetrine dengan gesit menahan tubuhnya untuk bergerak.


"Jangan lakukan hal yang membuatku marah. Aku sudah menemukan si bajingan itu, juga meredam gosip si mungil. So, aku meminta bayaranku kini," ungkapnya. Cetrine dengan gemulai menghadapkan wajah Topaz di depan wajahnya.


Secepat kilat Topaz memalingkan wajahnya dan bangkit dari kursi. Cetrine hampir jatuh karena keseimbangan kursi berubah sepeninggalan Topaz.


"Kumohon Cet, pergilah." Topaz berdiri gagah memasukan kedua lengannya di saku celananya. Tegoda tubuh atletisnya, Cetrine memasukkan kedua tangan di antara pinggangnya.


Topaz mencoba lepas dari kungkungan Cetrine. "Biarkan sejenak aku begini. Akan ku anggap sebagai bayaran dan lunas," jelasnya.


Hanya hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Topaz atas permintaan Cetrine yang kekanakan itu.


"Jadi di mana si mungil! Kau mengusirnya?"


"Sebentar lagi dia kembali" balas Topaz.


"Oh," nada kesedihan terselip ketika Cetrine mengatakannya. Cetrine segera menepisnya dengan mengalihkan ke pembicaraan lain, "Kau tak ke club lagi?"


"Tidak." Jawaban singkat yang di keluarkan Topaz mengejutkan wanita berparas cantik itu.


"Kenapa?" tanya Cetrine dengan nada merayu.


"Karena Ruby mengatahuinya."


"Maksudnya?"


"Please Cet, jangan pura-pura tolol deh. Ini semua adalah permainanmu kan!" tuduh Topaz tanpa keraguan sedikitpun.


"Kenapa kau berteriak padaku!" Cetrine membalikkan badan Topaz agar menatapnya.


"Cih! Undangan sialanmu pada isteriku, itu ulahmu kan!" Kemarahn Topaz sudah tidak bisa di bendung lagi.


Cetrine berusaha menanggapi dengan tenang, "imajinasimu berlebihan, honey."


Topaz menaikkan satu bibirnya dengan sinis. "Hanya kau orang yang bisa melakukannya. Undangan VVIP."


"Wah kau kini menyelidiku karena si mungil," Cetrine bersikukuh dengan pendapatnya, yang menyebabkan Topaz semakin jengkel.


"Ya." Ketegasan suara Topaz memundurkan langkah Cetrine. Dia tidak mengira Topaz akan membela isterinya.


Nada suaranya sedikit gemetar saat bertanya. "Kini kau anggap aku musuhmu?."


"Mungkin."


Tawa pecah dari mulutnya, kegelisahan mulai menjalari pikirannya dengan perubahan sikap Topaz yang tidak diperkirakan olehnya.


"Si mungil sudah mencuci otakmu kan!" tuduhnya kasar terdesak dengan situasi.


"Berhenti mengejeknya," hardik Topaz pada akhirnya. Cetrine membelalakan matanya, tidak percaya Topaz memperlakukannya seperti ini.


"Kenapa kau marah?," jeritnya. Pandangan matanya menusuk Topaz yang kini hanya terdiam membalas tatapannya.


"Jawab honey!" serunya dengan teriakan.


"Cukup. Berhentilah membuat masalah. Kumohon pulanglah," untuk kesekian kalinya Topaz memintanya untuk pulang.


Cetrine menggelengkan kepalanya tidak mengerti ucapannya. "Masalah! Aku! Kau gila honey. Si mungil itulah masalahnya, bukan aku!" protesnya semakin histeris.


"Cetrine," sentak Topaz.


"Wah, kau marah padaku hanya karena si mungil."


"Cukup Cet, jangan membuat ini lebih rumit. Pulanglah," pintanya lemah lembut agar Cetrine menuruti perkataannya.


Cetrine malah makin terprovokasi melihat Topaz yang kembali melemah. "Kenapa? Kau takut si mungil mengetahui hubungan kita?"


Topaz berkaca pinggang, mimik mukanya seolah mengejek ucapan Cetrine. "Tidak ada kita," balasnya.


"Honey, kau berubah. Kau tahu itu," Cetrine berusah merayunya. Mendekat padanya dan menyampirkan lengan pada bahunya yang bidang.

__ADS_1


Topaz merasa risih atas tindakannya, mencoba menurunkan dan menjaga jarak dengannya. "Tidak usah menilaiku."


"Honey, aku tahu kau masih memiliki rasa untukku. Kau hanya marah jadi membalas ku dengan menikahi si mungil, benarkan!" tebaknya berapi-api.


"Hanya pikiranmu saja," sangkal Topaz.


"Pikiranku terhubung denganmu," godanya bersuara manja.


"Bicaramu melantur." Topaz memunggunginya, melepas kungkungan wanita itu.


"Kau menyukainya." Cetrine menempatkan dirinya di hadapan Topaz, mencoba memeluknya kembali.


"Hanya mimpimu."


"Mimpi kita berdua"


"Pulanglah. Jangan temuiku selain urusan bisnis."


"Maaf honey, aku tidak akan mengikuti saranmu itu."


"Terserah."


"Itulah jawaban yang ku tunggu."


Cetrine mencium secepat kilat membuat Topaz sukar untuk menjauhkannya. Bibir Cetrine memaksa, mengoda dan membangunkan hastratnya. Cetrine tahu bagaimana merayu dirinya.


Pintu diketuk, namun kedunya tidak mendengarnya. Seseorang membuka pintu, melongok keadaan rumah yang sepi.


Terlihat bayangan orang yang jatuh akibat sinar matahari. Dia berjalan mendekati arah bayangan itu.


Tidak di sangka dia menemukan dua orang yang tengah asyik bercumbu.


"Apa yang kalian lakukan ?" teriakan nyaring terdengar dari ruang dalam.


Mereka segera menghentikan kegiatannya dan memandang pada wanita paruh baya yang memasuki beranda.


"Apa yang kalian lakukan?"ucapnya sekali lagi. Kemarahan di raut wajahnya tidak bisa ia sembunyikan.


"Tante, kau salah paham," jelas Cetrine gelagapan. Topaz hanya terdiam, melirik Cetrine yang kini kesulitan menghadapi Esmerald, ibunya.


Esmerald memandang emosi pada wanita cantik berbalut blazer dan celana panjang. Dan di alihkan pandanga pada Topaz yang tidak bergeming di tempatnya berdiri.


"Pulanglah," ujarnya pada Cetrine.


"Tante salah paham. Cet.. "


Cetrine menoleh ke Topaz yang hanya diam tidak membelanya. Pandangannya kembali pada Esmerald yang tidak sabaran mengusir dirinya.


"Tante salah paham." Belanya sebelum Cetrine melangkah pergi.


Suasana hening setelah pintu di tutup dengan kasar. Esmerald masih menunggu penjelasan dari sang putra, yang tidak beranjak dari tempatnya.


Karena tidak juga bicara, akhirnya Esmerald memulai ucapannya, "kau bersama dengannya lagi?"


Topaz tidak menjawab.


"Jawab mama!"


Topaz baru menoleh setelah mendengar suara sang mama bergetar. "Tidak."


"Mama bisa pegang ucapanmu itu," Esmerald mengamati ekspresi sang anak di bawah sinar matahari.


"Ya." Tegasnya.


Esmerald melangkah ke kursi, menghempaskan tubuhnya yang sedari tadi lututnya lemas.


"Topaz, mama menyayangi Ruby, kau tahu?" Topaz mengangguk.


"Mama akan membela Ruby. Kau mengerti!" Untuk kedua kalinya Topaz mengangguk.


"Mama tidak ingin Ruby sedih, jadikan ini rahasia. Dan jadilah suami yang baik untuknya. Kau sudah mengambil miliknya dengan kejam, jadi perlakukan dia dengan baik. Mama akan menjaga rahasianya, kau paham!" Ancam Esmerald.


Topaz tidak menjawabnya, matanya menerawang menatap cakrawala saat sebuah pesawat melintas meninggalkan gelembung asap putih di langit biru.


"Mana menantu mama?," sambung Esmerald setelah menenangkan emosinya.


"Soka sedang menjemputnya," balasnya.


...****************...


Soka tiba di Rosewood sebelum siang, Eldred menyambut dengan baik kedatangannya.


"Saya datang menjemput nyonya," ungkap Soka tanpa basa-basi.


"Masuklah dahulu, segelas lemonade akan menyejukkanmu setelah perjalanan jauh," tawar Eldred ramah.


"Saya tidak bisa menerimanya, Tuan ingin Nyonya sampai siang hari untuk makan siang bersama," jelas Soka.


"Uh! Nona sedang melakukan kegiatannya. Akan ku telepon kalau begitu," balas Eldred.

__ADS_1


"Tidak usah, berikan saja alamatnya. Saya akan menjemput langsung," sahut Soka.


Eldred menimbang pemikiran Soka sejenak, "lebih baik kau menunggu di sini, nona pasti sedang dalam perjalanan," usul Eldred.


"Kau akan berselisih jalan kalau memaksakan menjemputnya. Tidak efisien kan," timpal Eldred.


Soka menyetujui tawaran Eldred dan menunggu di ruang tamu. " Akan ku ambilkan segelas lemonade."


Eldred bergegas meraih ponselnya dan mengirimkan pesan.


"Soka telah datang. Cepatlah pulang."


Eldred kembali dengan membawa segelas lemonade, "silahkan."


Soka menegak minumanya, Eldred senang dengan kesopanan yang Soka miliki.


"Kau sudah lama bekerja padanya?" Tanya Eldred mengulur waktu.


"Setelah sang ayahnya meninggal, Tuan membantu kuliah saya."


"Oh," serunya, "bagaimana perlakuannya terhadap Nona?" sambungnya.


"Baik. Tuan melindunginya dan menyayanginya."


"Syukurlah."


Soka melihat jam tangannya, dirinya mulai resah ketika orang yang ditunggunya tak kunjung datang.


"Di mana nyonya sekarang? Aku tidak ingin tuan marah karena nyonya tidak sampai tepat waktu," jelas Soka.


Eldred terdesak atas sikap Soka yang disiplin. Tidak mungkin lagi dia menutupi keneradaan nonanya. "Tunggulah sebentar, mungkin jalanan macet."


Soka merasakan sesuatu di sembunyikan oleh Eldred, "di mana nyonya saat ini?"


"Nona sedang.. "


"Hai Soka," aku menyela ucapan Eldred. "Maaf membuatmu menungguku. Ayo kita pergi." perintahku.


Awalnya Soka curiga melihatku. Aku berusaha menjaga mimik mukaku tetap tenang. Akhirnya Soka berdiri, berpamitan ke Eldred. "Aku akan menyusulmu," ucapku.


Eldred kini bernapas lega, "nona menakuti paman."


Aku tersenyum mendengar pernyataannya, "maaf paman. Aku pamit yah, ku usahakan dalam waktu dekat untuk mampir lagi."


Pelukan sayang paman mengiringi keberangkatanku kembali ke Aquamarine.


Barulah Garreth masuk ketika semua tamunya telah pergi. Eldred memperhatikan tingkah anaknya itu.


"Dari mana saja kau? Tidak menemani nona pulang?" cerca Eldred.


"Aku mengikuti perintahnya, sembunyi. Agarorang bernama Soka tidak mencurigainya dan melaporkan pada suaminya yang brengsek itu."


Eldred hanya menggelengkan kepalanya saat mendengat umpatan kasar sang anak.


"Jadi apa kata orang bernama Matteo itu?" Eldred penasaran akan ceritanya.


"Tidak ada. Orang itu tidak datang." Kekesalan tercampur di nada suaranya.


"Lantas, kenapa kalian lama berada di sana?"


"Orang bernama Matteo menyuruh petugas agar nona menyelesaikan administrasi mobil mendiang orang tuanya. Dia ingin mengambil dan membawanya pulang."


"Hanya itu?" Mimik terkejut terlukis di wajah tua Eldred.


"Tidak, Matteo membuat janji dengan nona untuk pertemuan selanjutnya," Jelas Garreth.


"Maksudnya ada hal lain?"


"Mungkin, aku tidak tahu ayah."


Garreth menghilang ke kamarnya meninggalkan sang ayah yang masih ingin bertanya.


Selang beberapa waktu, Garreth menyeret koper kecil. Eldred menyaksikan heran akan tingkah anaknya itu.


"Kau mau kemana?"


"Aquamarine. Bekerja pada nona."


"Apa!" kejut Ekdred atas jawaban anaknya. "Jangan menambah masalahnya Garth. Kau lihat tempramen suaminya, nona bisa mendapatkan masalah karenamu," nasihat Eldred.


"Aku akan melindunginya, ayah. Percayalah," Garreth menjawab dengan tekad kuatnya.


"Garth, pikirkan lagi," saran sang ayah.


"Sudah." Garreth melengos pergi tanpa mendengarkan penjelasan lebih lanjut dari ayahnya, Eldred.


Memandang kepulan debu dari mobil Garreth yang pergi menjauh, membuat Eldred kesepian dan berdoa agar kedatangan sang putra tidak menyusahkan nonanya.


"Jangan buat masalah Garth."

__ADS_1


__ADS_2