Dia Yang Datang Diantara Kami

Dia Yang Datang Diantara Kami
Yang manakah wajah aslimu?


__ADS_3

Sepeninggalan aku,Topaz meledak mengeluarkan emosi yang di tahannya, semua benda yang ada di atas mejanya, dia geserkan dengan kedua lengannya, hingga berhamburan tak tentu arah.


"Aarrgh..." Teriaknya putus asa atas kebodohannya.


"Bodoh, kenapa aku tak bisa menahan emosiku. Aku masih memerlukannya. Aku harus memikirkan cara agar dia memaafkanku."


Topaz berusaha kembali mengingat percakapan apa saja yang di ungkapkannya ketika emosi tak bisa di bendungnya tadi.


"Cerai,katanya. Tak akan ku biarkan kau meminta semudah itu Ruby. Tidak akan pernah aku bersedia menceraikanmu! kau akan menemaniku sampai aku bosan, aku juga tidak sudi berbagi dirimu dengan pria manapun," teriakannya menggelegar memenuhi ruangan kerjanya.


Napasnya kini terengah ketika Topaz menghempaskan dirinya ke kursi. Memijat keningnya dan berpikir agar isterinya mau tetap tinggal disisinya.


"Aku harus membuatnya jatuh cinta padaku lagi. Ya, aku adalah Topaz Zephyr, yang terkenal pandai menaklukkan wanita. Cinta akan menyelesaikan segalanya," ungkap Topaz.


Merasa telah menemukan solusi, dengan siulan senangnya Topaz mengambil baju ganti yang dibawakan Soka dan beranjak ke kamar mandi agar bisa cepat pulang.


Selesai berpakaian Topaz mengambil makanan yang disiapkan sang istri dan memakannya dalam perjalanan pulang , tak lupa membeli buket mawar merah. Dengan hati riang dan pikiran jernih sampailah Topaz di griya tawangnya.


Malangnya pria itu tak bisa menemukan sang isteri walaupun sudah di carinya ke setiap ruangan griya tawangnya. Kemarahan kembali menguasai dirinya, tak terima dengan sikap sang isteri yang tak menuruti perintahnya untuk ke dua kalinya.


"Ruby Celeste, kau benar-benar membuatku marah kini,"geramnya.


Topaz segera menelepon Soka dan mencari tahu dimana keberadaan isterinya. Soka menjawab bahwa Nyonya berada di kediaman mama Topaz yaitu Esmerald.


Dengan muka merah menahan amarahnya dia keluar dari griya tawangnya melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.


"Ruby, pulang," teriaknya ketika sampai di rumah Esmerald.


Esmerald yang keluar dari dalam rumah memasang wajah kecewa atas perbuatan putra semata wayangnya itu.


"Berhenti berteriak. Isterimu barusan tertidur, kelelahan secara fisik dan mental. Dokter baru memeriksanya dan memberikan obat penenang," jelas Esmerald dengan nada marah.


"Aku akan membawanya pulang," sahut Topaz menentang sang mama.


"Tak mamah ijinkan,"sahut Esmerald ketus.


"Ma, Ruby isteriku dan aku berhak atasnya," bela Topaz.


"Tidak." Sangkal Esmeral kesal, "Sejak kapan mama mengajarimu membuat wanita menangis?. Kau berubah terlalu jauh hanya karena patah hatimu. Kau tidak berhak berkata seperti itu pada gadis polos itu, sampai membuatnya seperti sekarang?" suaranya bergetar menahan tangis. Setelah jeda sejenak Esmerald kembali melanjutkan, "dia akan tinggal disini, sampai dia pulih. Kau tak berhak membawanya, mama tak mengijinkannya," sambung Esmerald.


Topaz terdiam. Tak membantah semua ucapan sang mama.


"ijinkan aku menengoknya." pintanya dengan tulus.


Esmerald mempertimbangkan permintaan Topaz. Dan menyerah dengan ketulusan yang diperlihatkan sang anak.


"Jangan membangunkannya," Esmerald memperingatkan putranya.


Topaz mengangguk sebelum berjalan ke kamar tamu. Dilihatnya sang istri tertidur nyenyak. Napasnya teratur dibalik selimut yang menutupi tubuhnya.


"Maaf,"ucapnya lirih.


Kini topaz telah terduduk di tepi kasur dan membelai halus wajahku dengan menyingkirkan rambut halus yang menghalangi wajah putihku yang kini pucat. Dikecupnya keningku.


"Pulanglah segera, " ucapnya berbisik, "kau isteriku, tempatmu adalah disampingku. Ingat itu! Aku akan membujukmu, hingga kau kembali ke sisiku, Ruby Celeste Zephyr." Ucapnya sebelum mengecup manis di bibirku.


Esmerald memperhatikan dari ambang pintu. "Kalau kau menyayanginya, tunjukan itu ketika dia bangun."


Topaz menoleh ke arah suara di pintu dan hanya senyum tipis yang di perlihatkannya.


"Nak, mama yakin Ruby memncintaimu, jadi balaslah perasaannya jangan terpaku atas masa lalumu," saran Esmerald yang melihat ketulusan putranya pada isterinya.


"Hentikan ma, jangan bicara omong kosong,"sahut Topaz ketus.


"Ruby bercerita, katanya kau seminggu ini selalu pulang dalam keadaan mabuk dan mengacuhkan dirinya. Ada apa denganmu sebenarnya? Apakah kau kembali mengunjungi Peridot Club?," tanya Esmerald penasaran.


"Hanya pekerjaan tak ada hal lainnya," jawab Topaz.


"Benarkah! bukan untuk menemui Cet?," selidik Esmerald.

__ADS_1


Topaz mematung ketika nama Cetrine di sebut. Ada jeda panjang sebelum Topaz mengeluarkan jawaban. "Dia disana sebagai pemilik pasti kita bertemu."


"Jauhi wanita licik itu nak. Sebelum kau mengalami masalah." Esmerald memberikan nasihatnya sekaligus ancaman pada putranya.


"Ma, aku bukan orang bodoh yang gampang terjebak permainannya," bela Topaz.


"Jangan segampang itu berbicara sayang. Cinta bisa membutakan segalanya," tegas Esmserald.


"Aku tak akan tertipu kedua kalinya," Tegas Topaz.


"Mama hanya mengingatkan. Karena sekarang ada hati yang harus kau jaga. Perempuan yatim-piatu dengan kepolosannya. Mama mohon jangan membuatnya seperti ini lagi," pinta Esmerald.


"Mama sudah menganggapnya sebagai putri mama, jangan kecewakan mama dan Ruby. Jangan bawa dia ke pada masalahmu. Kalau kau tak menyukainya, lepaskanlah dia. Mengerti," tegas sang mama.


Topaz beranjak menghampir mama dan berbisik, "aku akan kembali lagi malam ini. Titip isteriku ma. Sampaikan bunga ini untuknya."


Topaz berjalan meninggalkan rumah.


Esmerald menata mawar pada vas bunga yang di letakkan di samping meja.


"Sayang, pahamilah dirinya. Dia takut jatuh cinta, mama berharap kau bisa menyembuhkan traumanya, yah sayang." Esmerald mengecup keningku sebelum keluar kamar dan ditutupnya pintu kamarku.


Aku terbangun ketika matahari sore bersinar jingga kemerahan menerobos lembut membelai kelopak mataku.


Hal pertama yang aku ingat adalah sebuah mimpi kecupan dibibirku yang menyebabkanku tersipu malu. Mimpi yang bagai kenyataan itu merasuki pikiranku.


Bunga mawar merah yang diletakkan di samping tempat tidurku menarik perhatianku.


Rasanya tadi tidak ada, mama pasti meletakkannya.


Kulirik jam ponselku, terperangah aku menyadari waktu berlalu cepat.


Topaz akan marah besar.


Aku bergegas bangun merapihkan tempat tidur dan mengambil tasku. Mama yang sedang menata makanan melihatku yang tergesa.


"Mau kemana sayang?, mama sudah menyiapkan makan malam." Ucapnya menghampiriku.


Esmerald menarik lenganku dan di pegang kedua bahuku untuk duduk di kursi makan.


"Duduk dan makan dulu, urusan Topaz biar mama yang tangani," suruhnya.


"Tapi ma.. "


Esmerald menyela omonganku,"sst.. Makanlah."


Aku tak membantahnya lagi dan menyuapkan makanan yang telah di sajikan untukku.


"Menginaplah semalam disini, mama sudah bilang ke Topaz." Esmerald menatapku sayang.


"Kapan ma?," tanyaku penasaran.


Dia tahu aku di sini, pasti kemarahannya semakin menjadi kalau aku pulang. Pikiranku.


"Dia mampir memberikan mawar untukmu, mama menaruhnya di vas kamarmu. Sudah lihat!"


Benarkah?!. Aku tertegun mendengarnya, hingga sendokku berhenti di depan mulutku.


"Dia datang ketika kau sedang tidur," sambung Esmerald.


Apakah ciuman itu bukan hanya sekadar mimpiku?.


"Benarkah?." Ada tangis haru yang kutahan.


"Ya, dan dia kan datang lagi nanti malam," Esmerald memberitahukan kepadaku.


Aku menatap Esmerald berharap ada kebohongan dalam ucapannya, namun matanya mengatakan sejujurnya.


"Ruby sayang, Topaz adalah pria bodoh yang sedang tersesat saat ini, jadi sadarkan dia yah!" usulnya.

__ADS_1


"Aku tak mengerti dirinya ma. Kadang gentleman kadang arogan, entah yang manakah sifat aslinya," aku mengeluarkan unek-unekku.


Esmerald tersenyum mendengar pengakuanku. "cintamulah yang akan menyadarkan dia. Percayalah."


"Benarkah?, aku tak yakin ma, kalau dia tidak mencintaiku bagaimana bisa aku mendekatinya." Air mataku terjatuh.


"Oh! Ruby sayang,"di raihnya diriku dan dipeluknya. Pelukan hangat seorang ibu yang telah lama ingin kurasakan.


"Tenangkanlah dirimu dengan tinggal di sini, mama akan bicara padanya yah. Pikirkan baik-baik apa yang ingin kau lakukan. Mama akan mendukung keputusanmu?," ungkapnya.


Aku mengangguk lemah dengan air mata berurai. "Ruby kau sudah ku anggap sebagai putriku sendiri. Jadi jangan sungkan untuk bercerita yah. Anggaplah mama sebagai pengganti Bell, ibumu."


Esmerald meraih wajahku dan menghapus air mataku, "pertama yang harus kau lakukan adalah berhenti menangis. Hal ini menjadikan seorang wanita lemah. Jangan perlihatkan tangisanmu lagi di hadapan siapapun yah, terutama Topaz dia akan besar kepala." Aku tersenyum mendengar perkataan Esmerld.


Benar, berhenti menangis. Dukung suara di hatiku.


"Habiskan makananmu lalu mandi dengan berendam air panas akan memulihkan tenagamu."


"Makasih ma." Aku memeluknya kembali, serasa kabut tebal dalam pikiranku perlahan tersingkir.


Selesai makan aku mengikuti saran mama Esmerald untuk berendam di bathtub. Kenyamanan air hangat merileksasikan ketegangan di seluruh ototku belum lagi wangi lilin terapi yang di nyalakan menambah sensasi santai hingga kantuk menyerangku.


Terdengar seseorang membuka pintu kamar mandi, kupikir orang itu adalah Esmerald, jadi aku tetap memejamkan mataku.


"Kau menyukai berendam di bathtub." Segera kubuka mataku begitu mendengar suaranya.


Aku memelototi Topaz yang kini bersandar pada tepian bathtub. Secepat kilat dia melayangkan kecupan di bibirku.


"Kenapa kaget begitu, bukankah ini hal yang harus kau lakukan ketika menyambut suamimu pulang," uangkapnya.


Kami hanya memandang seakan waktu di sekitar kami berhenti. Hingga helaan napas Topaz menyadarkanku.


"Ruby, pulanglah. Kita selesaikan ini di rumah, ya" pintanya lembut.


Aku meneliti setiap ekspresi di wajahnya. Berharap bisa membaca pikirannya yang selalu berubah-ubah.


"Mama bilang aku boleh tinggal di sini dan kau sudah memberikan ijin," ucapku tak mau kalah.


"Benar, tapi hanya malam ini saja. Kau tega meninggalkanku sendiri," ucapnya sedih.


Jangan menggodaku dengan tatapan itu. Pikirku.


"Kau lebih tega padaku," sahutku ketus.


"Aku salah, oke," emosinya mulai terlihat, "Ruby aku salah." Ucapnya sembari menghembuskan napas.


Topas mengatur ekspresi dan emosinya baru melanjutkan kembali pembicaraannya, "Ruby aku salah. Aku kesal, karena aku melakukan malam pertama kita ketika aku mabuk, tapi aku menyalahkanmu. Tak seharusnya aku mengatakan hal buruk tentangmu. Maafkan aku, sayang," ungkapnya.


Aku terdiam menilai setiap kesungguhan dalam ucapannya. Hati kecilku ingin mempercayainya, tapi pikiranku masih mengingat betapa kemarahannya membuatku takut.


"Sayang," panggilnya mesra, "semalam aku mabuk, paginya sudah dipusingkan dengan pekerjaan, dan kedatanganmu yang tak terduga mengagetkanku, hingga aku tak bisa mengontrol emosiku," jelasnya lagi.


Dia mendekatiku, berjongkok mensejajarkan pandangannya, "sayang, maafkan aku kali ini ya."


Kuteliti wajah tampannya mencari kebohongan dimata coklatnya. "Berikan aku waktu untuk berpikir."


Topaz menatapku tajam, memporakporandakan detak jantungku, "uhm! Istirahatlah hari ini. Besok aku akan menjemputmu," ucapnya.


Topaz mendekatkan wajahnya, aku menolaknya tapi tangan kuat itu berhasil meraihnya, dan bertemulah bibir kami setelah pertengkaran hebat itu.


Ciumannya berbeda dari sebelumnya yang selalu menuntut. Yang ini lebih pelan, memuja, dan membiarkanku yang memimpin. Senyuman di wajahnya kulihat ketika bibir kami terlepas. Jemarinya menelesuri bibirku yang kini merekah.


"Tidurlah yang nyenyak, sayang." Kecupan di keningku adalah tanda perpisahan darinya. Yang kini pergi meninggalkanku.


Aku tersipu dengan perbuatannya, jantungku jedag-jedug bagaikan irama musik disko. Butuh waktu untuk menenangkannya.


Kubersiap tidur setelah meredakan gulungan emosi atas perbuatan Topaz. Terngiang suaranya yang mengatakan 'tidur nyenyak, sayang', membikin aku susah tidur.


Aku baru tertidur setelah obat yang di berikan dokter bekerja pada tubuhku. Dengan harapan esok dia bersikap sesuai dengan janjinya padaku.

__ADS_1


Haruskah aku memaafkanmu, hubby?.


__ADS_2