Dia Yang Datang Diantara Kami

Dia Yang Datang Diantara Kami
Berpisah sejenak


__ADS_3

Semalaman kutunggu kabar dari suamiku tidak kunjung datang, padahal aku rindu akan suaranya. Sedikit kesal karena teleponku juga tidak diangkatnya. Mencoba mengirim pesan pun tidak di bacanya. Aku merasa di ambaikan kini.


Pagi membuatku tidak semangat. Pikiranku ingin cepat kembali ke pelukannya. Tapi aku harus melakukan kunjungan ke kantor polisi untuk menuntaskan rasa penasaranku.


Eldred dan Garreth telah menunggu di ruang makan, "nona tidur nyenyak?" sapa Garreth. Aku mengangguk.


"Sepertinya tidak." Garreth menyelidiki ekspresi wajahku yang muram. Eldred memukul lengan anaknya itu, "jangan mengganggunya. Biarkan nona sarapan," ucapnya.


Eldred menuangkan segelas susu untukku, "apa yang akan nona lakukan hari ini. Mau mengecek perkebunan seperti biasa?" tawarnya ramah. Aku menggeleng.


"Tidak paman, aku akan mengunjungi kantor polisi." Jelasku sambil meminum susu yang di berikan.


"Ini masih pagi!" seru Eldred, "nona bisa ke sana ketika siang hari," imbuhnya.


Aku menggeleng lesu, "Soka akan menjemputku di siang hari, dan aku harus berada di sana saat sore," ungkapku.


"Ah, kau bilang saja Garth akan mengantarmu pulang," saran Eldred. Aku tersenyum tapi ku tolak sarannya itu. Aku meringis mendengar usulannya.


"Dia suami kejam." Celetuk Garreth dari ujung meja.


Eldred memukul anaknya, "cara bicaramu kasar, kulihat suami nona sangat menyayangi nona," komentar Eldred memarahi anaknya.


Garreth mengusap bekas pukulan sang ayah, "Itu hanya kamuflase, topeng untuk menutupi kebusukannya dari kalian." Tegasnya yang kini menghilang meninggalkan sarapannya.


"Ada apa dengannya?" ucap Eldred kesal atas tingkah laku Garreth di depanku. "Maafkan dia nona, aku kurang mengajarinya. Kepulangannya dari luar negeri mengubah total sikapnya," Eldred mengungkap keluh kesahnya.


"Tak usah memarahinya paman. Biarkan saja. Mungkin dirinya butuh penyesuaian lingkungan disini," saranku pada Eldred.


"Omong kosong. Nona selalu memanjakan dan membelanya, dia menjadi keras kepala," ungkap Eldred.


"Aku tak begitu," belaku.


Eldred mengalihkan pembicaraannya, "nona kau tak meneleponnya dulu?" Aku mengernyit tak paham maksud Eldred, "nomor polisi yang paman berikan?"


"Ah, tidak usah, kalau tidak bertemu mungkin bisa datang lain kali," balasku.


"Sesukanya nona saja. Lalu bagaimana kunjungan ke pabrik kemarin, kau menyukainya?,"


Aku tersenyum ketika Eldred menanyakannya, "ya sangat menyukai. Ayah sangat luar biasa." Eldred tersenyum gembira mendengarnya.


"Syukurlah itu membuat nona berseri. Kau akan menjualnya?" tanyanya kemudian yang membuatku tersedak.


"Tidak paman, tidak akan kulakukan. Aku akan mempertahankannya." Jelasku yang di sambut senyuman olehnya.


"Syukurlah paman senang mendengar nona kembali bersemangat. Bagaimana dengan suamimu?" tanyanya penasaran.


"Tetaplah ini menjadi rahasia pada siapapun," tandasku.

__ADS_1


"Bahkan suamimu!" Eldred meyakinkan jawabanku.


"Ya," tegasku. Sampai aku yakin dia mencintaiku, ujar hatiku.


"Paman akan mendukung nona, percayalah!" dukung Eldred.


Aku tersenyum sembari menyuapkan sup jagung dan sepotong roti kedalam mulutku. Garreth kembali, terlihat ekspresinya sudah normal, "kau sudah selesai, ayo pergi," ajaknya.


Eldred mendelik melihat tingkah anaknya, "Sopanlah sedikit. Jangan hanya karena kau lebih tua bisa bicara kasar kepada nona," Eldred memarahi putranya.


Aku hanya tertawa memandangi pertunjungan di depanku. "Kau harus sopan padaku, Garth," ledekku.


"Oh yah, kau jangan memanggilku Garth kalau begitu."


"Lantas kupanggil apa?"


"Pelayan Garth lebih cocok," sindirnya.


"Baiklah pelayan Garth." Ujarku tertawa setelah mengatakannya. Helaan napas dari Eldred terdengar kasar.


"Kalian lebih baik pergi, paman pusing dengan candaan kalian." Kami tertawa mendengar keluhan Eldred dan berpamitan menghilang darinya yang kini mengeluh sakit kepala karena tingkah kami.


Kantor polisi Rosewood di pagi hari sudah mulai ramai. Aku di suruh menunggu, saat ku tanyakan orang bernama Matteo. Garreth mengajak berbincang saat memunggu.


"Aku telah berpikir semalaman," katanya memulai, "aku tak mempercayai suamimu, jadi aku mohon padamu agar membujuknya untuk memperkerjakan aku. Sebagai supirpun tak masalah, atau sebagai pelayan, apapun pekerjaannya akan kulakukan. Selama aku bisa berada di sampingmu akan kulakukan," ungkapnya.


Aku termenung sejenak meresapi perkataannya. "Kenapa Garth?"


"Hanya itu?" ku mencoba mengorek isi hatinya.


"Hm! Hanya itu."


"Kalau begitu tak perlu," jawabku tegas, "kau dan paman telah melakukan hal terbaik untuk keluargaku. Aku menghargainya. Kini hiduplah untuk dirimu sendiri."


Dia hanya tersenyum, sekilas ekspresi sedih mendatangi wajah ramahnya, "aku salah telah mengabaikanmu tapi aku ingin menebusnya kini."


"Bantulah aku dengan pabrik dan perkebunan. Itu sudah cukup untuku," Ungkapku.


Ini masalah menyetujui atau menolak. Garreth memandang lurus kedepan, tidak menghiraukan aku yang menunggu jawaban. Saat mulutku akan terbuka untuk berbicara, namun Garreth bangkit berdiri.


"Sepertinya kita terlalu lama menunggu. Akan ku tanyakan apakah orang itu sudah datang," katanya terbata.


Tanpa menunggu jawabanku, Garreth telah melangkah pergi menjauhiku dan menghilang ketika berbelok di ujung lorong.


Apa salahku?.


Selama menunggu, aku mengotak-atik ponselku, berharap ada kabar dari Topaz. Namun hal tersebut hanyalah harapanku semata.

__ADS_1


Ku beranjak dari tempatku, merasa frustasi ata tingkahnya yang kembali menjadi dingin.


Harusnya ku tolak ajakan bermesraan dengannya, aku tidak belajar akan kesalahanku yang pertama.


"Haahh.." Hembusan napas kasar keluar dari mulutku.


"Nona lelah?" Suara Garreth menyebabkanku menoleh padanya.


"Bagaimana? Kapan datangnya orang bernama Matteo," tanyaku.


"Mereka tidak bisa memastikan."


"Lebih baik kita pulang," akhirnya aku menyerah.


"ini belum siang," bantah Garreth agar mengurungkan niatku pulang. "Tunggulah sebentar lagi," pintanya.


Aku hanya mengangguk menyetujui permintaannya, tapi sudah enggan duduk dimana Garreth telah menempatkan dirinya di kursi.


"Maafkan tingkahku hari ini. Suasana hatiku sedang buruk," jelasnya.


"Aku mengerti." Jawabku tanpa menoleh ke arahnya.


Setelahnya kami tidak berucap lagi, hanya suasana kantor polisi saja yang ramai di tengah kebisuan kami.


...****************...


Di waktu yang sama bertempat di Aquamarine City, Topaz masih berada di griya tawangnya, Soka menghampirinya.


"Ini, daftar nama asistan untuk Nyonya." Topaz menerima dokumen tersebut.


"Pergilah ke Rosewood, aku ingin isteriku di sini saat siang nanti."


Soka segera berpamitan menjalankan tugasnya. Sepeninggalan Soka, aktifitas mengecek dokumen yang di berikan Soka di hentikannya.


Topaz malah mengambil ponselnya, mengamati berapa banyak pesan dan telepon yang di lakukan isterinya.


Senyumnya tersungging di wajahnya tatkala memperhatikannya, "sebegitu rindunya kau padaku, Ruby."


"Kita akan makan siang bersama, kuharap Soka cepat membawamu ke mari."


Bel pintu berbunyi, pikirannya yang tadi berfokus ke isterinya kini teralihkan.


"Siapa? Tak mungkin Ruby kembali secepat ini, Soka baru saja pergi. Tapi bisa saja, siapa yang tahu," ucapnya.


Topaz beranjak dari duduknya, kegembiraan di hatinya sampai terpancar di wajahnya.


"Ah, rupanya nyonya Zephyr berinisiatif sendiri," gumamnya.

__ADS_1


"Sebentar sayang." Topaz sengaja berteriak agar terdengar sampai keluar pintu.


Langkah kakinya begitu ringan menyambut tamu yang dia pikir isterinya itu.


__ADS_2