
Semburat kesal bercampur amarah berbekas di wajah Garreth saat dirinya memasuki ruang baca. Ku lirik sekilas dirinya yang telah duduk di sebelah Eldred. Senyum tipis dilayangkan untukku yang berjauhan dari tempatnya.
"Nona Ruby Celeste, kau siap dengan pembacaan wasiat mendiang ayahmu," ucap pengacara bernama Pirus O'connell.
"Ya." Balasku gugup. Pirus memandang Eldred dan Garreth bergantian, "Nona, kau tak keberatan mereka mengetahui isinya?."
"Tak keberatan sama sekali. Mereka berdua adalah keluargaku, jadi tidak masalah. Apakah ada aturan akan hal itu?," aku balik bertanya.
"Tidak. Tidak ada hal seperti itu."
Pirus O'connell meraih tasnya, mengeluarkan dokumen yang tersegel rapat, tertulis nama mendiang ayahku di sana. Setelah memperlihatkannya, Pirus membuka segelnya dan mengeluarkan isinya.
"Baiklah, kita mulai," Pirus menatap satu per satu orang yang ada di ruangan. Dehaman suaranya terdengar sebelum memulai membacakan isinya,
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kepada putriku tercinta:
Ruby Celeste.
Ayah meninggalkan sebuah perkebunan beserta rumah kepadamu. Dan pabrik yang terletak di Rosendalle, tempat kelahiran ibumu. Jagalah dengan baik, ayah yakin perkebunan dan pabrik ini akan membantumu. Mengenai hutang ayah kepada keluarga Zephyr tak usah kau hiraukan, ayah mengijinkanmu untuk menjual pabrik, ayah yakin hutang itu akan lunas. Maafkan ayah.
Ayah sayang Ruby,
Tertanda.
Fox Celeste.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebuah pabrik? Untukku.
"Itulah isinya nona." Pirus menarik napas lega setelah membacakan dengan lantang.
Pirus menyerahkan surat tersebut, aku membaca tulisan tangan mendiang ayah, tangisan sudah tidak bisa lagi ku bendung.
Ayah, aku rindu. aku rindu kalian, ayah, bunda.
Eldred melangkah menghampiriku, ditepuknya pundakku agar tangisanku berhenti, "nona harus kuat."
Pengacara tersebut tersenyum, "aku tahu kesedihanmu, tapi aku harus menyerahkan dokumen pabrik padamu nona. Dan meminta tanda tangan serta cap, agar proses serah terima ini sah."
"Maafkan." Aku menghapus air mataku, berusaha tegar agar tidak menganggu prosesnya. Aku menandatangani semua berkas yang di perlukan, Eldred dan Garreth pun menjadi saksinya.
"Untuk balik nama pabrik atas nama nona mungkin membutuhkan waktu, tapi percayalah aku kenalan ayahmu dan tidak akan mengecewakanmu," jelasnya.
Pirus membereskan berkasnya, memberikan aslinya padaku, "ada lagi yang di tanyakan," ucapnya. Aku menggeleng.
"Baiklah, aku pamit kalau begitu. Akan kuhubungi jika proses balik nama selesai, dan hubungi nomorku jika ada pertanyaan lainnya." Pirus menjabat tanganku. Setelah urusan di yakininya telah beres, Eldred mengantar kepergian Pirus.
Garreth yang sedari tadi berdiam diri, kini mendekatiku, "nona baik-baik saja?,"
Aku tersenyum menanggapi pertanyaannya, "ya. Tak menyangka ayah meninggalkan pabrik untukku." Kupandangi dakumen yang diserahkan sang pengcara itu, pabrik tanpa nama di Rosendalle. Dan seseorang bernapa Opal yang tak kukenal menjadi pengawasnya.
Pabrik apa yang ayah buat?.
"Kau mau menengoknya," ajaknya. Aku sedikit bimbang menjawabnya, "ayolah ini masih siang, Rosendalle hanya berjarak sejam dari sini, tak akan menyita waktumu," bujuknya.
Kupertimbangkan ajakannya, ketika sosok Eldred masuk mendengar ajakan anaknya, "pergilah," usulnya.
"Kau bisa menemui orang bernama opal di sana, beliaulah yang mengurusnya," sambung Eldred.
Mataku terbelalak ketika paman menyebutkan satu nama yang tak kukenal. "Paman tahu mengenai ini."
"Mendiang tuan Fox bercerita padaku ketika urusannya dengan Zephyr beres, sekitar 5 tahun lalu mendiang tuan dan temannya dari Rosendalle menawarkan sebuah pabrik yang hampir bangkrut, beberapa kali orang bernama Opal ini datang menemui tuan ketika nona berkuliah. Dan pada saat pemakaman serta hari pernikahan nona pria ini pun menghadirinya," penjelasannya terpotong untuk memulihkan memorinya.
Eldred mencari kartu nama di laci dan memberikannya padaku. "Beliau pernah memberikanku ini, nona telah pergi ke Aquamarine ketika dia datang kembali. Mungkin ingin memberitahukan pada nona perihal pabrik, entah bagaimana mendiang tuan berhasil membelinya. Mungkin cek itu hasil dari sana," tutup Eldred akan ceritanya.
"Kenapa paman tak menceritakannya?," pekikku saat bertanya.
"Maafkan paman, paman pikir mendiang tuan melepas hak atas pabrik itu. Karena mendiang tuan tak pernah lagi menceritakan pabrik di Rosendalle."
Ayah, kenapa kau merahasiakannya padaku. Apa yang kau rencanakan sebenarnya?.
"Nona, bolehkah paman menyarankan satu hal," terlihat keraguan dari wajahnya sebelum bicara. "Apa paman? Katakanlah!"
"Rahasiakan dari suamimu."
__ADS_1
"Kenapa?,"
"Ayahmu menutupi pabriknya dengan rela berhutang pada keluarga Zephyr jadi biarlah pabrik ini rahasia."
Aneh, sepertinya paman tak menyukai Zephyr.
"Apakah paman mempunyai pikiran lain?,"
"Tidak. Hanya ini milik nona jangan biarkan siapapun merebutnya lagi. Nona sudah berkorban demi perkebunan ini, jadi jangan biarkan peninggalan terakhir mendiang tuan kembali di rebut oleh Zephyr."
"Setuju," timpal Garreth yang sedari tadi menyimak.
Mereka tak akan menjerumuskanku, kan ayah.
Aku mempertimbangkan saran paman, "aku mengerti paman. Makasih atas sarannya."
"Jadi, apakah kau mau pergi ke sana? nona," Garreth mengajakku sekali lagi. Tawarannya menggiurkan, aku ingin datang melihat hal terakhir yang ayahku perjuangkan. "Baiklah, kita pergi."
Rosendale adalah kota kecil dengan pemandangan alam yang indah, warganya kebanyakan berkebun terutama apel. Alam sejuk khas perbukitan menyambutku, tak pernah kurasakan hal ini ketika di Aquamarine City yang penuh gedung.
"Syukurlah kau senang," ujar Garreth membuyarkan keasyikanku menikmati perjalanan.
Aku menoleh ke arahnya. "Tentu, sudah lama rasanya tak menghirup udara segar."
"Lalu," ada jeda keraguan ketika akan berbicara lagi, aku menunggunya sabar. "Soal di club waktu itu, apa kata suamimu? Sudah kau tanyakan."
"Oh itu, sudah selesai. Hanya salah paham saja. Tak usah khawatir."
Tatapan matanya menajam saat dia seketika menoleh kepadaku. "Benarkah!." Nada tak percaya jelas ku tangkap darinya.
Aku melirik kearahnya, "ada yang salah. Sepertinya kau tidak menyukainya."
"Ah tidak. Hanya ketika itu, yakin sekali bahwa itu suamimu tapi dalam semalam kau memafkannya. Apakah nona terkena sihir," nada sindirannya begitu kental atau lebih tepat mengejek.
Sihir cinta, jawab hatiku.
Aku tertawa mendengarnya, "makasih Garth atas kecemasanmu, percayalah itu hanya salah paham."
Garreth tak menanggapi lagi, aku pun tak menyinggungnya lagi. Dia seperti berpikir namun enggan menuangkannya dalam obrolan. Matanya tidak lepas dari jalanan di depannya, tak sekalipun menoleh ke arahku lagi.
Sebuah bangunan besar berdiri kokoh tidak ada tanda nama di sana hanya gerbangnya yang tinggi menjulang di awasi oleh 2 penjaga dan seekor anjing berjenis herder.
Kami langsung di tunjukan jalan menuju ruangan orang bernama Opal. Pria ramah berbadan gempal menyambut kami, senyuman manis menghiasi wajahnya.
"Nona Ruby," sambutnya, "akhirnya kita bisa bertegur sapa ya," sambungnya.
Sepertinya aku mengenali wajahnya entah di mana pernah melihatnya.
"Terimakasih sudah meluangkan waktu menerimaku yang tanpa janji terlebih dahulu," ucapku sopan.
"Aku tahu kau akan kemari ketika surat itu di bacakan. Fox maksudku ayahmu adalah orang yang menolongku," jelasnya.
Sekretarisnya membawakan minuman hangat untuk kami. Aku tersenyum mengucapkan terimakasih. Pria bernama Opal itu mengambil dokumen dan memberikannya padaku.
"Perusahaan mengalami kemajuan sedikit, memang masih perlu perombakan dari segi mesinnya. Namun kita masih bisa memperoduksi sesuai pesanan pasar." Aku hanya bengong atas penjelasannya, tidak paham apapun.
"Maaf..aku..pabrik ini.. " kataku terbata.
Pria gempal itu tertawa, badannya bergerak semua terutama bagian perutnya yang sedikit membuncit. "Kau belum tahu kita bergerak di bidang apa ya." Dia berdiri dan meraih teleponnya, berbicara sebentar lalu menutupnya.
Sekretaris itu kembali masuk dengan membawakan sample pabrik.
"Fox dan aku sahabat ketika dia mengejar Bell ibumu. Ini adalah ide Bell, sampai Fox bersedia berhutang pada Zephyr untuk membangun ini. Semua anggur yang di tolak Zephyr di datangkan ke sini. Inilah produknya." dia mengambil samplenya dan memintaku mencobanya.
Aku terkejut dengan rasanya. Anggur itu di bekukan hingga kriuk bagaikan kripik. "Pasar luar negeri sangat menyukainya. Permintaan terus berdatangan. Tak hanya anggur, apel dari Rosendale di bekukan, cobalah."
Aku mengambilnya dan tersenyum menyukai rasanya. Pria gempal itu kembali tertawa.
"Senang kau menyukainya. Pabrik ini di rahasiakan dari ibumu dan juga darimu, Fox berpikir akan meresmikannya ketika semua masalah selesai. Malang kecelakaan merenggut semua mimpinya," kesedihan menyelimuti suaranya ketika berbicara. Aku pun ikut bersedih mendengar ceritanya.
Opal terdiam sejenak mengusir kesedihannya. "Kini kau penerusnya. Aku hanya pengawas saja. Bangunlah pabrik ini agar semakin besar."
"Makasih paman telah menjaga semuanya."
"Sudah seharusnya, Fox banyak membantuku, giliranku membantunya." Kilatan senyum terlukis di wajahnya.
"Adakah hal lainnya?," tanyaku. Dia bangkit, membuka brankasnya, mengeluarkan sebuah amplop besar, dan memberikannya padaku.
__ADS_1
Aku tercengang melihat sebuah sertifikat tanah atas namaku di Rosendale. "Ayahmu mungkin berhutang, tapi dia pria cerdas tak ingin putri tercintanya susah. Dia membelikanmu ini, sekarang tanah tersebut di penuhi apel yang tengah berbuah." Jelasnya tanpa henti membagi informasi denganku.
"Fox bercerita kalau kau kesusahan juallah semuanya atau lepaskankan Rosewood. Kau bisa pindah ke sini. Celeste bukan sebuah banguan warisan tapi jiwa yang teguh dimanapun dia berdiri."
Aku memeluk pria gempal itu, ayah tak pernah sekalipun menceritakan hal ini. ternyata ayah sudah meninggalkan banyak hal untukku. "Pergunakanlah dengan baik nona," nasihatnya.
"Aku tak akan menjual apapun, aku akan belajar memajukan bisnisnya."
"Aku suka gayamu nona."
"Maukah kau mengajariku?,"
"Tentu dengan senang hati. Nona mau berkunjung ke pabrik," tawarnya.
Mengingat hari semakin sore terpaksa aku menolaknya."Tidak mungkin lain kali."
"Bisakah semua hal ini menjadi rahasia," pintaku.
"Tentu apapun keinginan nona."
"Makasih paman Opal, aku menghargai kerja kerasmu."
"Bagaimana suamimu?," tanyanya seketika. Aku menoleh menatapnya.
"Baik," balasku. Opal tersenyum, ekspresi keraguan masih menggantung di wajahnya, "kau tak seharusnya menikahinya. Seharusnya kau jual saja Rosewood."
"Aku baik saja," kuyakinkan dirinya, "dia memperlakukanku dengan baik. Paman tidak usah khawatir yah," imbuhku.
Berbincang dengan Opal sungguh menyenangkan, sampai tak sadar hari semakin sore. Ketika berpamitan, matahari mulai tertidur di ufuk barat.
"Kau senang." Aku menoleh pada Garreth yang menyetir, "bibirmu sudah kembali," komentarku.
Tawanya terdengar, "aku tidak mau menganggu pembicaraanmu."
"Oh yah," sindirku, "sesaat tadi kupikir membawa robot. Kau sudah semakin mirip Soka," komentar keduaku tentangnya.
Tawanya kian meledak, "kalau begitu bujuk suamimu agar aku bisa bekerja padamu." aku menoleh padanya tak menyangka dia tengah memandangiku, segera ku alihkan pandanganku.
"Akan ku coba," suara yang kukeluarkan tak terdengar yakin.
"Aku tahu hasilnya tak mungkin, tapi cobalah siapa tahu berhasil. Dan aku akan coba bekerja di pabrik," ungkapnya. Ekspresi gembira di wajahku tak bisa ku sembunyikan.
"Benarkah, Garth aku menyayangimu." Tanpa segan aku memeluk lengannya yang memegang setir mobil, "makasih."
Dia berdeham kikuk ketika aku melakukannya, kulepas perlahan dan ragu menatap matanya. "Kau tak boleh melakukan hal ini, terutama pada pria lain. Kecuali suamimu," kritiknya.
"Aku tahu, tapi kita biasa melakukannya bukan. Kau tidak menyukainya Garth," ucapku sedih.
Garreth meletakkan satu tangan di puncak kepalaku, mengelus lembut memberi penghiburannya. "Suka, tapi aku tak mau kau kena masalah karena hal ini. Mengerti!."
"Ternyata kau masih bocah walaupun sudah menikah," candanya. Kami berdua tertawa saling mengejek satu sama lain. Bercerita hal yang tidak kami ketahui, sampai mobil berhenti di Rosewood ketika hari gelap.
"Makasih Garth," ucapku, "ah! Sampaikan pada paman aku tidak makan malam," imbuhku.
"Akan kusampaikan. Istirahatlah,"
suruh Garreth.
"Satu hal lagi, aku butuh bantuanmu esok untuk mengantarkanku ke kantor kepolisian Rosewood." Eskpresi tanya terpampang di wajahnya, tapi dia hanya menyetujui ucapanku.
"Oke tak masalah," jawabnya.
"Jam 8 pagi." tegasku. Gerreth menyepakatinya dengan mengacungkan ibu jarinya.
"Oke, istirahatlah Garth." Dia menjawab dengan gumamam "hmm."
Aku melangkah meninggalkan dirinya menuju kamarku. Kuhempaskan diriku ke kasur, ku rogoh tasku mencari ponselku yang tidak ada pesan ataupun telepon darinya.
"Hubby, aku kangen, kau sedang apa?," gumamku.
Dengan sisa tenaga kubersihkan diriku sebelum menaiki ranjang, aroma dirinya masih tertinggal. Kuhirup bantal yang di gunakannya berharap bisa menyembuhkan kerinduanku.
Kuraih kembali ponselku, kucoba meneleponnya tak ada jawaban, berapa kali di coba pun hasilnya sama.
"Kau sedang apa? Tidak rindu padaku?," ucapku sedih.
Kesedihanku ditambah kelelahan membuatku terbuai dalam hangatnya kasurku, aroma dari Topaz yang masih tertinggal meninabobokan diriku.
__ADS_1
Hubby, aku rindu.