Dia Yang Datang Diantara Kami

Dia Yang Datang Diantara Kami
Memadu kasih di Tanzanite Island


__ADS_3

Tiada kata yang bisa menggambarkan kebahagiaanku saat ini. Perjalanan yang dilakukan berdua dengan Topaz sungguh di luar dugaan.


Bulan madu menuju sebuah pulau dengan menggunakan kapal pesiar merupakan pengalaman pertama dalam hidupku. Tujuan kami adalah Tanzanite Island, gugusan kepulauan dengan pantai eksotis dan pelayanan eksklusif yang terdiri dari hotel, bar dan 5 villa mewah berkelas yang menawarkan privasi bagi pengunjungnya.


"Hubby.. Aku.., "


Rasa mual menyerang perutku, menyebabkanku muntah.


"Sayang, sudah enakan?," tanya Topaz.


"Lumayan," jawabku.


Topaz menghampiriku yang kini tergolek lemas di kasur tak berdaya. Dengan tangannya, dia menarikku untuk mengistirahatkan kepalaku di pangkuannya sambil memijit keningku.


"Sebentar lagi kita sampai di pulau, kau akan merasa lebih baik," aku hanya menggumam menyetujui perkataannya.


Rasanya nyaman merebahkan kepala di pangkuannya membuatku tertidur.


"Kau wanita yang tanpa pertahanan," bisik Topaz di telingaku.


Topaz memindahkan tubuhku dan mencium pipiku, "tidurlah," ucapnya sebelum keluar kamar.


Cuaca terik ketika kapal pesiar tersebut berlabuh di Tanzanite Island. Ku terbangun mendengar namaku di panggil.


Topaz mengguncang tubuhku pelan sambil berkata "Ruby sayang, bangun."


Kubuka mataku, Wajahnya yang tampan tertempa sinar matahari di bingkai senyuman hangatnya, sebuah moment yang kini terpatri di hatiku.


"Bangunlah, kita sudah sampai. Merasa lebih baik?," tanyanya lembut.


"Iya," jawabku


"Masa bulan madu kita kamu sakit sih," godanya membuat rona pipiku memerah.


Dibantu Topaz aku bangun dan menggandengnya keluar dari kapal pesiar. Terik matahari ditambah sepoi angin berhembus menyambut diriku, menciptakan perasaan segar yang perlahan menyembuhkan mabuk perjalananku.


"Kau menyukainya?," tanyanya.


"Uhm," gumamku. Mataku menjelajahi setiap pemandangan yang sebagian besar di dominasi lautan berwarna biru cerah.


Topaz mengantarku ke sebuah villa apung yang mengarah langsung ke laut lepas.


"Hubby mau ke mana?," tanyaku, melihat dirinya melangkah keluar.


"Bar," sahutnya dengan santai.


"Terus ninggalin aku sendirian?," tanyaku.


"Bukankah kau msih kurang enak badan. Istirahatlah. Sore baru bermain. Cuaca terik siang hari, sore kita bisa menikmati sunset," jelasnya terkesan mengacuhkanku.


Untuk apa bulan madu kalau kau mengacuhkan isterimu.


Dikecupnya puncak kepalaku sebelum dirinya meninggalkanku. Perlakuannya yang kadang terkesan acuh membuatku bingung. Untuk mengalihkan rasa kecewaku, dengan kesal aku membongkar koper. Tersembullah pakaian dalam sexy yang baru kubeli.


Haruskah aku mengenakannya malam ini?.


Membayangkannya saja sudah membuatku malu, apa lagi harus memakainya. Jadi kususupkan lagi ke dalam koper.


Aku penasaran dengan apa yang sedang Topaz lakukan di luar sana. Dari kejauhan kulihat tubuhnya yang jangkung mengenakan kaus putih dengan luaran kemeja hawai dan celana pendek selutut memperlihatkan otot pahanya yang kencang.


Terlihat beberapa wanita mengenakan pakaian sexy sedang asik mengobrol mengelilinginya, bahkan terlalu intim di pandangan mataku.


Kuhampiri suamiku dengan langkah cepat yang kupanggil dari jarak jauh.


"Hubby.. " teriakku.


Topaz dan para bidadari yang mengelilinginya menoleh ke arahku. Senyum tipisnya tersungging di wajahnya.


Meneliti ekspresiku yang cemberut segera saja dia menarik tubuhku ke pelukannya, mencium pipiku.


"Maafkan, nona-nona istriku sangat pencemburu," sahutnya.


Tangannya masih melingkari pinggangku ketika mengajakku pergi. kelihatan sekali ekspresi kekecewaan di wajah para wanita tadi.


"Kau tidak boleh cemburu," ucapnya.


"Kenapa? Aku kan isterimu," sahutku kecewa dengan perkataannya.

__ADS_1


"Karena bisa menghancurkan karirku. Bidangku tidak hanya berbisnis dengan pria tapi juga wanita. Maka kau harus bisa menahan emosimu. Aku tidak mau kejadian di kediaman Peridot kembali terulang, hingga merusak karirku. Mengerti," jelasnya.


"Asalkan kau tidak tergoda," gumamku.


"Kau bilang apa barusan," tanyanya.


"Gak ada," sahutku mengacuhkannya.


Melihatku cemberut, Topaz menggelitik pinggangku hingga membuatku tak bisa menahan tawa karena geli.


"Geli hubby... Cukup... Aku nyerah," teriakku di sela-sela tawa.


Tubuhku terjungkal ke pasir pantai, disampingku Topaz menopangkan tangan menahan kepalanya. Jemarinya yang lain mengusir rambut halus dari wajahku.


"Bertahanlah kalau kau masih menginginkan perkebunan. Akan ku bantu biaya pemeliharaannya, tetaplah menemaniku sebagai Ruby Zephy, uhm!" jelasnya.


Aku tak tahu harus menjawab apa atas perkataannya itu. Diamku malah di manfaatkan olehnya dengan menundukkan wajahnya seperti mau mencium.


Ciuman lagi? Disini!.


Kepanikan melanda diriku hingga ku pejamkan mataku. Detik berikutnya yang kurasakan adalah sentilan di dahiku.


"Jangan berharap aku akan selalu menciummu." Tawa geli terdengar darinya memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Bagaimana aku tak jatuh hati. Pria yang emosinya naik turun ini telah merebut hatiku. Hingga ku rela mengikuti kemauannya.


Matahari terbenam lukisan terindah di langit menyemburkan warna jingga kemerahan dengan perpaduan air laut yang kini semakin gelap.


Makan malam romantis ditepi pantai telah di siapkan oleh Topaz. Buket bunga mawar merah terletak di meja, dengan hidangan seafood yang menggugah selera.


Topaz menggiringku dengan mata tertutup ke tempat dimana telah dia persiapkan. Ketika penutup mataku di bukanya. Ku takjub melihat keromantisan yang telah di siapkannya.


"Hubby.. " mataku berkaca-kaca.


"Sayang, aku memberikan kejutan bukan untuk membuatmu menangis," ujarnya, "kau menyukainya?,"


Aku mengangguk pelan, "suka," jawabku.


Topaz memberikan buket bunga mawar merah yang ku terima dengan seang hati. Aroma harum mawar memenuhi hidungku tatkala aku menciumnya.


"Apa lagi yang kau sukai?," tanyanya sembari menyuapkan udang ke mulutnya.


Kamu, ucapku dalam hati.


Aku memikirkan jawabanku sebelum menjawabnya, "perkebunan. Aku tumbuh dan besar di sana, setiap moment sedih dan senang kulewati di sana termasuk kehilangan orangtuaku," kesedihanku kembali muncul mengingat kematian tragis orangtuaku.


"Orangtuamu sudah tenang jangan mengungkitnya kembali," hibur Topaz, "bagaimana dengan Aquamarine City, kau betah sekarang?," sambung Topaz ingin mengetahui.


"Rumahmu luar biasa, hanya aku tidak punya kegiatan setiap harinya. Hanya pesta dan sosialisasi saja yang membuatku jenuh," aku tersenyum ketika mengatakannya.


"Rumah kita," ralatnya,"kau akan terbiasa nantinya. ceritakan kegiatanmu di Rosewood?," terlihat Topaz semakin antusias mengenal diriku.


"Uhm, hanya pekerjaan di kebun. Memetik, memilih dan memeriksa pack anggur yang akan dikirimkan," sahutku, "membosankan kan, tidak seperti wanita kota yang... "


Topaz segera menyela omonganku, "ternyata tangan isterikulah yang membuat Wine Zephyr terkenal," godanya dengan senyuman nakal.


Di ambilnyalah jemariku yang di dekatkan ke bibirnya, mengecupnya dengan perlahan sembari menatapku mengirimkan getaran yang menyebabkan aliran darahku mengalir cepat ke kepala.


"Hubby gombal." senyum terkembang di wajahku yang kini memerah.


Bagaimana aku melewati malam ini, kalau hal ini saja sudah membuatku tak berdaya.


Ini adalah makan malam paling menyenangkan untukku, di mana Topaz mencoba untuk mengenalku melalui pertanyaannya yang kujawab dengan senang hati.


"Bagaimana dengan dirimu?" tanyaku.


"Aku?," serunya,"apa yang ingin kau ketahui tentang hubbymu ini!," tantangnya yang membuatku ketawa.


"mmm, semuanya," kataku.


Topaz tertawa yang tak aman untuk ritme jantungku, "serakah. Memangnya kau mau kemana hah! Kenalilah aku perlahan, oke!," usulnya.


"Aku mengerti. Bagaimana dengan hobi?," tanyaku.


"Olahraga mungkin. Kau sendiri?,"


"Tak ada yang special, lebih suka di rumah. Masak. Tidak menarik yah." Topaz menggeleng mendengar jawabanku.

__ADS_1


"Masakanmu enak, aku suka." Godanya dengan mengedipkan sebelah matanya.


Kalau diriku? Apakah kau menyukainya juga?.


Tanpa harus meminum alkohol aku sudah di buat mabuk oleh setiap perkatannya. Malam semakin larut, kami berada di teras villa memandang langit berbintang di tengah kegelapan laut. Hanya deburan ombak saja yang terdengar di kejauhan, berada dalam dekapannya adalah hal paling sempurna menutup hari ini.


"Hubby..." Topaz menjawab dengan gumamam "mmm.. ."


"Kenapa memilih tempat ini?,"


"Karena kupikir mungkin pantai akan menyegarkan suasana hatimu yang jenuh dengan Rosewood atau Aquamarine City. Dan aku juga perlu refreshing dari pekerjaanku," jelasnya.


"Oh, apa Soka bisa mengatasinya?." Topaz menyubit gemas hidung mungilku.


"Jangan sebut pria lain ketika kita berdua,"


Aku tersenyum mendengarnya, "kenapa?," godaku.


"Ruby Zephyr jangan menguji kesabaranku."


Topaz meraih tengkukku menyusupkan jemarinya ke rambutku yang hitam. Tangan yang tadinya mendekap bahuku kini turun ke pinggangku mengangkat tubuhku hingga berada di atasnya.


"Cium aku Ruby sayang," perintahnya dengan nada menggoda.


Keraguan sempat menghampiriku sesaat, namun godaan bibir sensualnya serta tangannya yang mengelus pinggangku lembut membuatku kehilangan akal sehat.


Tangannya di tengkuk leherku memaksaku mendekati wajahnya, sedetik kemudian ciuman gairah merangsang semua saraf di tubuhku.


Topaz tidak melepaskan bibirku sedetik pun, ciumannya semakin menggoda dengan menyusupkan lidahnya, serta jemarinya kini berhasil menyusup ke dalam gaun tidurku, menyentuh kulit telanjangku. Menyebabkanku terkesiap merasakan sensasi baru dari jemarinya di tulang belikatku.


"Hubby.. ." Ucapku terengah dengan permainannya yang tak bisa ku imbangi.


Jemarinya mengusap lembut bibirku yang kini merona penuh akibat kekasaran ciumannya. Semilir angin memyebabkanku bergidik karena gaun tidurku yang tersingkap.


Senyuman lebarnya yang jarang ditunjukkannya terlihat gemas bagiku, "Ruby.. jangan lepas peganganmu."


Dengan mudahnya Topaz menggangkat dan menggendong tubuhku. Kusampirkan lenganku di bahunya dan kupeluk erat pinggangnya dengan kakiku. Wajahnya menengadah menatapku, matanya terlihat lebih kelam memercikkan keinginannya.


Topaz mendaratkanku di tempat tidur, menguji kesabaranku dengan sentuhan halus jemarinya di tubuhku.


"Hubby.. ," panggilku dengan suara serak.


"sshh.." jari telunjuknya di letakkan di bibirku.


Apa yang harus kulakukan?.


Kepanikan melanda diriku menyebabkan Topaz tersenyum.


"Apa yang kau pikirkan?," bisiknya, "jangan berpikir, nikmati saja Ruby," usulnya.


Kecupan di daratkan mulai dari wajah turun ke leher. Jemarinya dengan lihai bermain di gaun tidurku sebelum akhirnya menurunkannya. Terkesiap aku ketika tangannya menangkup payudaraku, menggodanya hingga aku mengeluarkan suara yang belum pernah kudengar sebelumnya.


Drrt.... Drtt...


Dering telepon berbunyi dari ponsel Topaz. Awalnya tak di hiraukan namun karena berulang kali berdering maka dengan amarah di angkatnyalah telepon itu.


Ketika mendengar suara sang penelepon Topaz pergi. Ku menunggu kedatangannya dalam diam dengan jantung berirama tak menentu, tapi tak kunjung datang.


Lagi! Dia meninggalkanku saat aku mendambakannya.


Akhirnya ku memutuskan untuk mencarinya, topaz berada di teras dengan makian terlontar ke sang penelepon.


"Ruby, tidurlah. Ada hal yang harus aku bereskan," sahutnya mengusirku dengan gerakan tangannya.


Aku kembali ke kamar, kekecewaan menyerangku. Kuringkukkan tubuhku mencoba memadamkan gairah yang tadi sempat tersulut.


"Ruby... " panggil Topaz di ambang pintu.


Perlahan mendekati tempat tidur, di telitinya aku yang kini tengah terlelap. Elusan halus jemarinya membangunkanku.


"Hubby.. " kulihat jam di dekat kasur sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.


"Tidurlah. Besok aku ingin mengajakmu bersenang-senang," bisiknya, "kemarilah."


Aku mendekatkan tubuhku dalam pelukannya, dadanya yang bidang menjadi bantalku. Tak ada lagi rasa ragu, aku melingkarkan tanganku di pinggangnya dan menaikkan sebelah kakiku pada pahanya yang kokoh. Tepukan halus di punggunggku menjadi nina bobo tidurku.


"Buatlah aku jatuh cinta padamu, Ruby Celeste," bisiknya sebelum dirinya jatuh tertidur.

__ADS_1


__ADS_2