Dia Yang Datang Diantara Kami

Dia Yang Datang Diantara Kami
Mencoba berdebat dengannya


__ADS_3

"Soka, cepat usir dia keluar!" bentak Topaz. Dalam pelukannya terasa gejolak amarahnya yang meledak. Kulihat darah telah berhensi dari sobekan di ujung mulutnya.


Kugerakkan tanganku mengusap lembut sudut bibirnya yang terluka akibat pukulan Garreth.


"Hubby.... " panggilku lemah. Topaz hanya melirikku sekilas, lalu pandangannya kembali pada sosok pria di sebrangnya.


Bagaimana caraku menghentikan perseteruan ini? Pikir otakku.


Perlahan aku melepaskan tangan kuat yang memeluk pinggangku, gerakanku di sadari olehnya. Setelah aku mendapat perhatiannya, akhirnya aku beranikan diri untuk berbicara.


"Hubby, biarkan aku bicara dengannya," raut wajah tidak senang di tampilkan olehnya, buru-buru aku mengkoreksi kalimatku.


"Maksudku, kita berbicara bersama untuk mencari solusinya yah!" ucapku lembut.


Tatapan tajam dan raut wajah tidak bersahabat menandakan ketidaksetujuannya atas perkataanku.


"Katanya kau orang beretika, lihatlah caramu mengurus tamu sungguh tak beradab," provokasi terus di lancarkan oleh Garreth yang kini membuatku marah.


Apa yang kau pikirkan? Aku berusaha menyelamatkanmu sebelum tukang pukulnya datang. Jerit suara hatiku.


"Berhentilah berbicara, Garth," hardikku. Tawa Topaz meledak mendengar kemarahanku kepada Garreth.


"Lepaskan dia," perintahnya pada Soka, "karena isteriku yang meminta. Mari kita duduk dan mengobrol dengan lebih beradab." Tambahnya dengan nada hinaan yang kental di tujukan pada Garreth.


"Ambilkan minum Soka, Wine Zephyr. Sepertinya cocok untuk menurunkan emosi," suruhnya pada Soka, dalam sekian detik Soka berlalu pergi.


Topaz merangkul bahuku menuju sofa. Keterkejutan kubertambah ketika dia memintaku duduk di pangkuannya, perilakunya berhasil melukiskan rona merah di wajahku.


"Kenapa masih berdiri di sana, duduklah!" sentaknya dengan suara tegas.


Kilatan amarah masih tergambar di mata Garreth, walaupun raut wajahnya sedikit lebih tenang. Tatapan matanya yang di layangkan untukku membikin aku tidak berani memandangnya.


"Katakanlah, apa yang kau ingin bicarakan."


Pikiranku ragu ketika mengemukakannya. "uhm, bisakah hubby menerimanya sebagai supirku?"


Rahangnya seketika mengatup, kepalan tangannya memperlihatkan urat nadi yang kehijauan.


Aih Ruby! Kau membangunkan singa yang akan menerkammu seketika.


Keheningan di pecahkan oleh Soka yang masuk membawakan wine. Dentingan gelas dengan botol wine saat di tuangkan, menciptakan musik tersendiri di tengah kemelut yang melanda kami bertiga.


Karena tidak ada perintah lanjutan dari tuannya, Soka meninggalkan ruangan tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Di sisi lain, kemurkaan menghiasi raut wajah Topaz, yang kini terpatri dalam lensa mataku saat menatapnya, mengirimkan penyesalan akan keputusanku yang bodoh.


Garreth menyadari kecemasanku, tubuhnya telah siaga bila sesuatu yang buruk di lakukan Topaz.


Hening panjang masih terjadi, aku masih menunggu jawabannya. Garreth pun hanya mengamati keadaan, tidak berani lagi bertindak sembrono.


"Katakan alasanmu?"ucapnya dengan gemeretak gigi menahan emosinya atas permintaanku.


Bayang keraguan muncul di benakku. Satu sisi aku takut sesuatu yang buruk menimpa Garreth. Setelah mengetahui betapa mengerikannya ketika dia telah marah.


Selamatkan Garret atau tidak sama sekali. Bisikan di hatiku menyuruhku memilih.


"Aku membutuhkan supir sampai wasiat mendiang ayah selesai di urus," jelasku. Perkataanku terbata dan gugup menyerangku.


"Kau punya Soka," sahutnya.


"Dia asistenmu," debatku. Ketidaknyamanan bersama Soka mempengaruhiku, terutama saat dia menjemputku tadi.


Tatapan menyelidik darinya menciptakan rasa gentar dalam diriku. "Aku sedang mencari pengawal untukmu," Topaz memberitahukan rencananya padaku.


"Garreth mampu melakukan itu," Bantahku untuk kedua kalinya.


Mendengar jawabanku yang tegas dan cepat, menambah berang dirinya.


"Omong kosong," hardiknya. Suaranya nyaring memekankan telinga.


Dengan kasar dia mendorong tubuhku dari pangkuannya ke sofa.


Aw....


Pekikku yang terkejut atas pergerakan spontannya.

__ADS_1


Garreth tidak terima atas perlakuannya kepadaku. "Bisakah kau sopan!" Bentaknya.


"Haruskah aku sopan!" sentaknya yang kini mengambil dokumen dari meja kerjanya. Di lemparkannya dokumen itu ke meja yang ada di hadapanku. "Pilihlah yang kau suka."


Kebingungan melanda diriku tatkala melirik dokumen yang tergeletak di meja. Sebagian halamannya telah terbuka, menunjukan foto dan keterangan.


"Calon pengawalmu," jelasnya.


Tanpa ku melihat isinya aku kembali memohon, "hanya sebagai supir."


Topaz berdiri angkuh dengan berkaca pinggang memandang remeh kepada kami secara bergantian. "Orang di dokumen itu sudah mempunyai kualifikasi, Ruby."


"Belum tentu cocok untukku," balasku pelan.


"Kau terlalu pemilih kalau begitu," ejeknya.


"Please hubby," mohonku dengan lemah lembut.


Garreth tidak menyukai menyaksikanku memohon padanya.


"Sudahlah nona dia adalah pria berpikiran sempit tidak mungkin mau menerimaku." Penghinaan dalam ucapannya di tujukan sebagai balasan untuk perlakuannya terhadapku.


"Apa katamu?"


Secepat kilat Topaz siap menghajar Garreth, berkat kegesitan instingku aku berhasil mencegahnya, dengan berdiri di tengah mereka.


"Hubby masalah ini tidak akan selesai kalau kau terus seperti ini," ucapku gemetaran.


"Lantas aku harus menerimanya tanpa pertimbangan?"


"Kau membutuhkan apa? Ijasahnya, pengalaman kerja, cv pribadinya. Dia hanyalah supir untukku. Tidak lebih, sampai pengurusan wasiat itu selesai," janjiku.


"Alasanmu tidak masuk akal. Kenapa sekarang kau membutuhkan supir? Rahasia apa yang kau sembunyikan dariku?" selidiknya.


Aku tertegun sejenak, memikirkan jawaban logis untuknya. Agar terbebas dari kecurigaannya.


"Aku sudah bilang untuk mengurus surat wasiat mendiang ayahku. Hanya itu!"


"Selama ini Soka selalu menemanimu," balasnya.


Keputusanku salah, benar kata ayah. Sesal Garreth dalam hatinya.


Topaz menatap Garreth sinis melewati puncak kepalaku. Diraihnya lenganku dengan kasar, hentakannya menyebabkan tubuhku terdorong ke depan, menabrak tubuhnya.


Topaz melingkarkan tangannya di pinggulku. Setiap gerakannya di tujukan untuk menggoda Garreth.


"Pulanglah, kita bicarakan besok. Aku harus membawa isteriku menghadiri acara," jelasnya angkuh.


Pandangan Garreth tertuju padaku, ku menoleh ke arahnya, memberikan kode dengan memejamkan kedua mataku pelan agar Garreth mengikuti kemauannya.


"Pergilah." Kugerakkan mulutku tanpa bersuara.


"Baiklah, aku akan datang kembali besok. Pukul 9," janjinya.


Tidak ada jawaban dari Topaz, hanya sebelah bibirnya saja yang di naikkannya, mencibir Garreth agar segera meninggalkan kami.


Bersiaplah Ruby, amukannya pasti luar biasa. Ucapku dalam hati.


Garreth berjalan mundur sambil terus memperhatikanku. Raut wajahnya tampak sedih ketika sosoknya menutup pintu, yang hanya menyisakan aku dan Topaz.


Setelah Garret pergi, Topaz melepaskan tangannya dari diriku, dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Tangannya memijat keningnya tanda kekesalannya belum hilang.


"Bicaralah."


Aku membisu memerhatikan dirinya. Melalui gerakan lambat, aku bersimpuh di hadapannya.


Menarik tangannya yang menutupi wajah tampannya yang terlihat kacau. Sesabar mungkin ku tunggu dirinya menatapku.


Belaian lembutku pada tangannya berhasil meluluhkan emosinya. Topaz membuka matanya, menatapku lekat.


"Maafkan aku," ucapku sedih. "Aku cemas kalau hubby melakukan hal jahat pada Garreth. Paman Eldred adalah orang tuaku juga," jelasku gugup sembari menahan tangis.


"Aku benar-benar membutuhkannya sebagai supir. Tidak setiap hari atau setiap minggu, hanya saat aku kembali ke Rosewood saja."


Diangkatnya tubuhku agar menemani di sisinya ketika aku mengakhiri ceritaku.

__ADS_1


"Hanya karena itu kau membelanya di depanku?"


Tidak berani aku mengeluarkan suara, jadi jawabannya ku ganti dengan anggukan kepala.


Kepalaku tertunduk lesu. Raut penyesalan tergambar jelas di wajahku. Air mata telah berat menggenang di pelupuk mataku, berusaha ku tahan agar tidak jatuh.


"Biar kupikirkan," ucapnya kemudian.


Ada rasa lega ketika Topaz mengatakannya. Tapi aku masih belum berani memandangnya. Wajahku masih tertunduk, hanya jemarinyalah yang ku pandang.


Ketika jemarinya terangkat ke daguku, secara otomatis aku mengikuti pergerakannya sampai terhenti tepat di depan wajahnya.


Sebulir air mata jatuh di pipiku, sentuhan jemari halusnya menghapus airmataku secepat kilat.


"Jangan menangis. Aku tidak marah padamu."


Kami saling bertatapan, mengamati setiap jengkal wajah sampai akhirnya terkunci pada bibir masing-masing.


"Akibat si brengsek itu, aku tidak jadi bermesraan bersama isteriku," rayunya. Aku tersenyum geli mendengarnya.


"Gombal. Tadi hubby membentakku."


"Karena kau selalu menentangku."


Kuraba sudut mulutnya yang terkena tinju Garreth, "makasih kau tidak melawannya."


"Aku tidak ingin kau sedih."


"Sakit?" tanyaku.


"Tidak, asal kau menciumku." Godanya dengan suara manja.


Sejenak ku angkat tubuhku dengan menopangkan pada lututku agar bisa menggapai bibirnya. Baru juga akan menyentuh bibirnya, tiba-tiba pintu terbuka.


"Ups! Mama mengganggu kalian rupanya." Segera ku menggeser posisiku menjauh darinya.


Esmerald menyisakan celah di pintu, "lanjutkanlah, mama bisa menunggu."


Kini Esmerald tertawa kecil sambil menitup pintu. Sungguh tertutup rapat.


Kami berdua berpandangan geli, kemudian tertawa bersama.


"Pergilah temui mama, dia mempunyai kejutan untukmu," suruhnya.


Mataku berbinar mendengar kata kejutan. kini aku bagai anak kecil yang berlari bebas mengejar mama Esmerald.


Sebelum kubuka pintu, aku kembali padanya. Mengecup manis bibirnya, Topaz tidak melewatkan kesempatan yang aku berikan.


Dia menyapukan bibirnya yang basah, ke bibirku tanpa menutupi gejolaknya. Setiap sentuhannya menggetarkan jiwaku, sampai tak sanggup melawannya.


Dengan berat hati, kudorong tubuhnya untuk mengakhiri kegiatan ini. Sedikit sedih namun harus kulakukan, sebelum dia melanjutkan ke tahap lain.


Jemarinya mengusap bibirku, seperti tidak ingin melepasnya. "Jangan sampai mama menunggu lama."


Aku memaksa diriku beranjak menjauhinya, walau tidak ingin. Aku masih rindu pelukan dan kehangatannya.


Ini salahmu Garreth, aku tidak bisa memeluknya lebih lama. Gerutuku dalam hati.


Untunglah, kemarahannya segera mereda. sesaat tadi di pikiranku melintas, Garreth akan celaka kalau aku tidak membelanya.


Aku bergidik ngeri saat kejadian pengkroyokan pria yang dilakukannya di ruangan ini. Bayangan itu selalu membekas di hatiku. Betapa kejamnya dia.


Lamunanku terputus ketika suaranya berbicara. "Panggilkan Soka." Ucapnya ketika aku telah mencapai pintu.


Aku tersenyum saat meninggalkannya. Soka masih setia menunggu di balik pintu.


"Hubby, memanggilmu," kataku.


Sekilas raut wajah robotnya berubah, ada kecemasan yang tersirat dari pancaran matanya.


Ketika aku akan bertanya, dirinya telah hilang, masuk menemui tuannya.


Topaz berdiri kaku bersandar pada meja kerjanya. Tangannya memegang segelas wine, yang sudah habis setengahnya. Raut wajahnya mengekspresikan kemarahannya.


"Ada yang tidak kau laporkan padaku Soka?"

__ADS_1


__ADS_2