Dia Yang Datang Diantara Kami

Dia Yang Datang Diantara Kami
Dugaanku tentangmu


__ADS_3

Soka berdiri mematung menghadapi tuannya yang terlihat garang. Tangannya seketika basah, bergerak gelisah di lipatan celananya yang rapih.


"Kuulangi sekali lagi," ucapnya tegas, "kau menyembunyikan sesuatu dariku soal nyonya?"


Topaz menyesap winenya, sembari menunggu asisten pribadinya menjawab pertanyaan yang telah dia ajukan.


Setelah berpikir panjang akhirnya Soka menjawabnya. "Saat saya sampai di Rosewood, nyonya tidak ada di rumah."


"Kemana?" Suaranya tenang namun syarat dengan amarah.


"Nyonya tidak mengatakannya." Soka terus menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap mata tuannya.


Topaz mencoba menilai perilaku Soka. Apakah dia mengatakan yang sebenarnya atau menutupi sesuatu.


"Bagaimana dengan pria tadi, apakah dia bersama nyonya?"


"Nyonya datang sendirian." Soka menjawab dengan cepat dan tegas. Dia terlihat yakin dengan jawabannya, yang berani mengangkat wajahnya dan menatap tuannya.


Sejenak Topaz meneliti sorot mata yang di pancarkan asistennya, Tidak sedikitpun asistennya mundur.


Akhirnya Topaz menyerah untuk mempercayai seluruh ucapannya.


"Selidiki pria tadi. Aku mau seluruh informasinya sudah ada di mejaku besok pagi. Apapun tentangnya jangan ada yang terlewat, mengerti!"


"Baik tuan."


"Pergilah."


Soka bergegas menghilang dari hadapan tuannya. Topaz meletakkan gelas wine yang sudah dia tegak habis isinya.


"Apa yang kau sembunyikan Ruby, sampai berani melawanku segigih itu."


Topaz berjalan ke seberang mejanya, membuka laci kerjanya yang berserakan kartu nama.


Di carinya dengan telaten kartu nama pengacara yang menangani wasiat mendiang mertuanya.


"Sebaiknya aku membuat janji dengan pengacaranya, Pirus O'connell." gumamnya saat dia menemukannya.


"Kuharap kau tidak menyembunyikan apapun dariku, Ruby. Apalagi sampai kau berkomplot dengan si brengsek itu." Ancamnya dengan geram.


Sementara itu, aku dan Esmerald tengah menikmat sore di beranda. Angin sejuk berhembus menerpa kami.


Asisten rumah tangga Esmerald membuatkan tropical mokctail yang menyegarkan.


"Maaf, mama ganggu tadi," Esmerald membuka pembicaraan.


Kutanggapi hanya dengan senyuman santai. "Mama ada perlu apa?"


"Hanya mampir karena kangen," jawabnya.


Esmerald mengamati wajahku, berlama-lama memperhatikan setiap jengkalnya. Aku yang di tatap menjadi bersemu malu.


"Ada yang aneh sama wajahku ma," ucapku kaku.


Esmerald menggeleng. "Tidak, mama hanya kangen saja." jawabnya.


Aku merasakan ada sesuatu yang di sembunyikannya. Sikapnya sedikit berubah. Ekspresinya terkesan tertahan, beda dengan biasanya.


"Ma," panggilku lembut, "apakah ada yang mengganggu pikiran mama?" tanyaku.


Seketika Esmerald menolehkan wajahnya ketika pertanyaanku berhasil terucap.


Pandangannya lurus kedepan. Entah apa yang sedang di pikirkannya. Tidak bisa kutebak, hanya firasatku mengatakan bahwa ada yang di sembunyikannya.


Aku menunggu dalam diam. Pertanyaanku menggantung begitu saja.


"Sayang, dengarkan mama," Esmerald memulai ceritanya. Tatapannya masih ke depan, dia membasahi bibirnya sebelum membuka mulutnya untuk berbicara.


"Sayang, mama kangen ayah Topaz. Dia pergi di saat semua yang dia bangun berhasil, hal ini tidak lepas dari dukungan keluargamu. Kebaikan keluargamu sungguh berarti bagi kami."


Esmerald menjeda panjang cerita yang baru di mulainya, dengan kasar dia menarik napasnya. Mwncoba menyambung ceritanya.


"Membangun rumah tangga tidak semudah yang di bayangkan sayang. Jatuh, bangun, cekcok, damai, mama lalui semua itu."


Lagi-lagi jeda. Ucap suara dalam hatiku yang tidak sabaran dengan akhir ceritanya.

__ADS_1


Esmerald menengok ke arahku, matanya berkaca-kaca.


"Mama yakin kamu pun akan bisa melewati semua yang terjadi dalam pernikahanmu."


Aku menghampiri dirinya yang tengah bersedih. Kuraih tubuhnya ke dalam pelukanku. Ku usap lembut punggungnya meredakan kesedihannya.


"Iya Mah, aku akan ingat semua pesanmu," bisikku. "Jangan bersedih lagi."


"Makasih, Ruby sayang. Topaz beruntung mendapatkanmu."


Senang rasanya Esmerald membalas pelukanku, seperti sedang memeluk bundaku yang telah tiada.


Saat berpelukan hidungku mencium aroma parfum yang menempel pada tengkuknya, wanginya berbeda dwngan yang menempel di tubuh Topaz. Parfum Esmerald beraroma citrus, segar dan manis.


Setelah merasa tenang, perlahan Esmerald melepaskan pelukanku. Ekspresi lega tergambar di wajahnya yang tadi tampak bimbang.


"Mama ganti parfum?" tanyaku mengejutkannya. Ada keraguan ketika aku bertanya padanya. Rasa penasarankulah yang mengalahkan ragu.


"Tidak sayang. Ini parfum yang biasa mama kenakan. Kenapa? Wanginya tidak cocok dengan seleramu ya," ungkapnya.


Lantas parfum siapa yang menempel di pakaian hubby?.


"Ah, gak ma, wanginya menyegarkan. Aku suka," sahutku menyenangkan hatinya.


"Kalau Topaz suka wangi bunga. Katanya mencirikan perempuan, feminin dan menggoda," jelasnya.


Suka wangi bunga! Catat Ruby.


"Oh! Kalau begitu aku harus mengganti parfumku agar bisa menggodanya."


Aku tersipu malu ketika mengatakannya. Mama hanya tertawa kecil menanggapi ucapanku.


"Siapa yang akan kau goda?" ujar suara dari arah dalam.


Topaz berjalan mendatangiku, dengan santainya mencium pipiku di depan Esmerald.


"Hubby.... "panggilku lirih. "malu dilihat mama," tambahku.


"Ups! Sebaiknya yang tua ini menyingkir," kata Esmerald.


Esmerlad beranjak dari duduknya. "Sebaiknya mama mengecek sampai di mana makan malam kita."


Dengan mengedipkan mata padaku, Esmerald meleyapkan diri dengan berjalan cepat masuk ke dalam.


"Hubby, lihatlah yang kau perbuat. Masa di depan mama, malu kan," rengekku.


Topaz hanya tertawa mendengar keluhanku. Aku cemberut melihat tingkahnya.


"Berhentilah tertawa," sindirku.


Please berhenti sebelum jantungku tidak berfungsi.


"Kenapa?" Kejahilannya berkilat di matanya yang menatapku mesra.


Menghindari adalah jawaban terbaik, dari pada aku terperdaya permainannya.


"Mau kemana?" Topaz tidak membiarkanku meninggalkannya.


"Membantu mama menyiapkan makanan," jawabku.


"Bukan tugasmu," jelasnya.


Topaz membenamkan tubuhnya di sofa panjang beralas busa tebal nan empuk. Dia menarik diriku untuk menemaninya di pangkuannya.


"Aku lelah," ucapnya.


Heran dengan ucapannya menyebabkanku membisu.


"Ada yang salah dengan perkataanku?"


"Gak," jawabku gugup.


"Apa yang kau lamunkan." Di raihnya tubuhku agar bersandar padanya.


Kusandarkan kepalaku pada bahunya, Sedikit sedih ketika aroma bunga itu terhirup hidungku.

__ADS_1


"Kenapa diam, tadi kau sangat bersemangat menentangku. Apa yang kau pikirkan? Apa yang mama sampaikan sampai kau menjadi lesu?"


Bukan mama, tapi dirimu. Kau tahu tubuhmu wangi parfum yang tidak aku kenali.


"Aku hanya lelah," balasku.


"Jadi apa yang kau bicatakan dengan mama? Sudah dengar kejutannya? Atau kejutannya menjadikanmu lesu?"


"Kejutan apa? Mama tidak membicarakannya," jawabku bingung.


Mama pasti lupa menceritakannya padaku.


"Oh! Kalau begitu tunggulah hingga makan malam nanti." Balasnya seraya menyandarkan kepalanya pada sofa.


Aku perhatikan sejenak, tampaknya emosinya berangsur surut. Kucoba lagi membahas masalah Garth.


"Hubby, soal Garth. Bisakah kau pertimbangkan...." ucapku lirih berupa bisikan.


Kepalanya langsung tegak, menatap kejam padaku.


"Kita lihat besok. Jangan di bahas lagi, selera makanku akan berkurang. Dan kau tidak akan mendapat kejutanmu," ucapnya tegas.


Setelah mendengar jawabannya, aku mengunci mulutku rapat-rapat. Tidak berani membicarakan soal Garreth lagi.


Maafkan aku Garth yang tidak bisa membantumu.


Pada akhirnya kami berdua terdiam, Topaz kembali menyandarkan kepalanya. Akupun menikmati bergelung manja beralas dada bidang dan bahu lebarnya.


Waktu seakan terhenti. Suara napasnya yang berhembus teratur menenangkan tubuhku.


Sikapnya yang memanjakanku, mendatangkan pikiran bahwa aku di cintai, walaupun masalah parfum terus mengusik relung hatiku.


Selang berapa lama mama memanggil kami untuk makan malam. Dengan enggan Topaz beranjak dari nyamannya sofa yang telah memanjakannya.


Kami makan bersama dengan tenang, diselingi obrolan ringan seputar masa lalu. Canda serta tawa menjadi warna makan malam ini.


"Ma, belum mengatakan kejutan untuk menantumu?" Topaz bertanya di sela-sela makannya.


"Ah! Mama lupa," katanya merasa bersalah. "Lebih baik kau yang mengatakannya, Ruby pasti lebih bahagia."


"Atau langsung ajak saja ke tempatnya, Ruby pasti berteriak kegirangan. Percaya saran mama!" usulnya secara spontan.


"Apa yang kalian berdua bicarakan?"


"Kejutan, sayang." Topaz mencium puncak kepalaku. Aku canggung ketika dia menunjukkan kemesraannya di depan Esmerald, mamanya.


Esmerald menangkap kegugupan dari gerakan halusku yang berusaha menjauhinya.


"Jangan malu Ruby. Tunjukanlah kalau kalian saling menyayangi, itu lebih bagus. Terutama saat di pesta, bisa mengusir lalat jahat," sindir mamah setengah berbisik.


Aku hanya tersenyum ramah mendengarkan omongannya. Topaz mengedipkan matanya menggodaku.


"Jangan malu, sayang." Ujarnya sembari meninggalkan meja makan.


"Hubby, belum menghabiskan makananmu," kataku.


"Kalau kuhabiskan akan mengantuk, keejaanku banyak sayang. Tidurlah yang nyenyak, esok aku akan membawamu ke tempat menyenangkan. kau akan mendapatkan kejutanmu di sana," ungkapnya.


Kau kerja, tidak memeluk isterimu, bagaimana bisa tidur dengan nyenyak hubby.


Sebelum menghilang di ruang kerjanya, kecupan bibir di layangkan padaku. Menyebabkan mama tersenyum geli.


"Ma, kejutan apa yang di persiapkan hubby. Bisa kasih bocorannya?" Esmeeald hanya menanggapi dengan kedipan mata.


"Besabarlah, kau pasti suka."


Usai makan malam, mamadan asistennya pulang di temani Soka. Griya tawang berubah menjadi sepi.


Topaz tidak keluar dari ruang kerjanya, entah apa yang di lakukannya. Aku menjadi cemburu dengan kerjaannya dan ruang kerjanya.


Kutarik selimbut menutupi tubuhku. Beeharapsebelum mataku terpejam, dia datang menina bobokan diriku ke dalam pelukannya.


Entah berapa lama ku tunggupun sosoknya tidak kunjung datang, sampai rasa kantuk datang mendera mataku.


Kutunggu kejutanmu esok hubby!

__ADS_1


__ADS_2