Diari Mantan Pacar

Diari Mantan Pacar
Sweet Pandora Box


__ADS_3

"Jikalau kebohongan mampu membuatmu tersenyum dan tertawa bahagia, mungkin aku akan terpaksa melakukannya."


Senja baru saja dimulai. Morandi jadi nuansa indah yang memanjakan sejauh mata memandang. Omella, gadis yang hari ini genap berusia dua puluh tujuh tahun, mengayuh sepedanya dengan riang. Kayuhan kakinya seirama dengan irama drum lagu pop dari earphone nirkabel warna ungu pastel di kedua daun telinganya.


Tersenyum. Wajah bulat telur Omella jauh dari kesan bete. Padahal seharian ini semua orang yang dikenalnya bersikap acuh. Aku bikin salah apa, sih, batinnya. Atau mungkin ini hanya hari bete untuk setiap orang itu? Ya sudahlah, buat apa juga aku pikirkan?


Maka, diparkirnya sepeda mini warna marun di halaman samping, tepat di sisi garasi. Bukannya dia malas memasukkannya ke garasi tempat kendaraan seharusnya parkir. Hanya, malam ini Omella ingin menghabiskan waktu sendirian menuju taman kecil di atas bukit, sekadar menikmati bintang. Iya, sendirian. Semua orang di rumahnya pergi menjenguk salah seorang kerabat di Bandung. Jadi, malam ini Omella akan sendirian.


Dari teras samping, Omella melangkah ringan menuju pintu samping. Pintu itu langsung mengarah ke dapur. Yah, ini kebiasaan Omella. Setiap kali pulang ke rumah yang kosong, Omella memilih masuk selain dari pintu depan, pintu yang mengantar langkah pertama menuju ruang tamu.


Seketika pintu dibuka dan sebelah kakinya melangkah masuk, "SURPRISE!!"


"Happy birthday, Omella!"


"Selamat ulang tahun, Beybih!" Ahaha, itu sudah pasti si tengil A Kim, lelaki tampan yang gagal macho ketika berbicara. Apalagi buku matanya lentik. Maskaranya juga huwoww! Eksentrisitas riasan wajahnya memang sudah menjadi ciri khasnya.


"Ah, A Kim! Sini, sini, peluk! Makasih yaa!"


Dan segala ucapan selamat menghambur bersama peluk cium dan uluran salam. Confeti berhamburan di sekitar Omella. Ruangan juga tampak meriah dan lebih berwarna. Untaian kertas bendera warna-warni digantung layaknya festival. Omella tidak pernah melihat dapur rumahnya semeriah itu. Jadi ia hanya tertawa. Gembira.


Balon. Aneka warna, ukuran, dan bentuk balon ada di mana-mana. Bahkan kakak iparnya yang biasa terlihat dingin dan elegan kini ikut memakai topi lucu penuh warna dan tempelan kertas berkilauan. Ahh, bercanda mereka! Hebat orang yang bisa membuat Mas Yos takluk begitu. Siapa lagi kalau bukan istrinya sendiri, sang harimau betina yang kadang terlihat imut seperti Panda. Empat jempol untuk kakaknya, Omella memujinya dalam hati.


Semuanya indah dan menggembirakan. Hingga seseorang entah atas ide siapa membawa keluar kue ulang tahun dengan lilin menyala. Benar-benar lilin dengan sumbu yang dibakar. Api-api kecil menari di atas pilin-pilin batang lilin tanpa angka. Jumlahnya juga sudah dipastikan hanya lima. Bukannya angka usia yang sedang berulang tahun. Dan kue itu dibawa penuh tawa canda ke hadapan Omella. Teriring bait lagu ceria. Mungkin untuk menyemarakkan suasana.


"Tiup lilinnya! Tiup lilinnya! Tiup lilinnya seka..."


Beberapa orang terkejut, menoleh ke belakang, ke arah datangnya cahaya dari likin-lilin hias di atas kue. Mulailah kepanikan terjadi. Mereka yang tersadar dari keterkejutan lantas berteriak-teriak histeris, menghalangi kue itu mencapai Omella.


"Jangan pakai lilin! Jangan!"


"Mundur lagi! Mundur! Mundur!!"


"Matikan apinya! Jangan ada api! Siapa yang suruh pake lilin begitu?"


Namun, terlambat. Cahaya api lilin-lilin pada kue ulang tahun itu sudah terjangkau pandangan Omella. Seketika itu juga, ambruklah Omella ke lantai.


"OMELLA!!"


...*...


Sehari sebelumnya, 27 Februari sekitar pukul empat pagi. Derap langkah yang ribut di atas lantai papan kayu sepanjang anak tangga cukup mengganggu.


Entah kapan kenop pintu kamarku diputar. Biasanya suara sekecil apapun sangat bisa membuatku terjaga. Samar-samar di telinga ada gaung yang aneh, mirip lenguhan sapi. Lenguhan yang panjang. Antara mimpi dan kenyataan, badanku bergerak-gerak. Yakin, bukan aku sendiri yang menggerakkan.


"OMELLA MAKAAAN!"


Wuits!! Kalau suara itu sih aku kenal. Banget! Biasanya dimulai dari 'Omella?' dengan volume speaker indoor tapi nadanya lembut. Terus kalau aku belum bangun bakal dipanggil lagi, 'O..mel..laa?' dengan volume petasan jangwe yang artinya setara dengan peringatan level siaga 3. Terakhir ya teriak seperti tadi dengan daya ledak sepuluh tingkat di atas bom Nagasaki dan Hiroshima. Untuk peringatan terakhir ini, aku wajib bangun. Jenice (baca: Janis), kakakku yang tiada duanya itu kalau mengamuk cukup menyeramkan.


"Huwoahemmm nyam nyam nyam!"


"Bisa nggak sih, kakak sekali-sekali ganti mode Kuda Nil jadi mode kucing Cleopatra? Biar manis dikit kalo menguap."


Ahh, Tata, aku sudah malas. Iya, itu Horta, Hortensius Gressa, cowok paling ganteng serumah, nomor dua setelah kakak iparku. Hanya aku yang memanggilnya Tata. Apa harus aku respon? Bertahun-tahun si bungsu menegurku dengan kalimat-kalimat senada. Minimal satu kali sehari. Jam bangun tidurku saat pagi dan setengah sore nyaris selalu pas ada dia.


"Ayo duduk, sarapan. Telat lo kamu nanti!" Yonas, kakak iparku dengan sabar dan perhatian menggeser kursi makan untukku. "Kalis sama Yunda mana, Kak?" Mereka keponakanku.


"Anak-anak udah berangkat dari tadi," kata Kak Yonas singkat. Diambilnya piring makanku lalu diisinya dengan menu sarapan yang tersaji di meja. "Kamu segera sarapan, mandi, siap-siap. Berangkatnya biar sama Horta. Ya, Ta? Nanti kakakmu diantar sampai kantornya, ya!" Dan si bungsu hanya berdeham patuh.


Beruntungnya Kak Janice dapat pasangan hidup yang sanggup menjinakkan kesangarannya. Apa mungkin setelan pilot memang harus sabar, perhatian, ramah, sigap, kaya begitu ya? Ah, kepribadian Kak Yonas aja kali, yang sudah begitu cemmehaw dari sananya. Mana ganteng pula! Haish, paket lengkap emang, kakak iparku.


Kapan ya, aku dapat jodoh kaya begitu? Aku juga mau dong, satu. Nggak usah dibungkus atau dikasih pita. Kalau bisa ya nggak usah pilot dan sejenisnya, deh.


Jarang pulang. Walau kata kakakku semakin rindu semakin terbayang, aku maunya yang bisa setiap saat kupeluk sayang. Ha-ha-ha! Haish, Omella, apa'an, sih?


Sementara gelas Tata diisi susu, Kak Yonas menyeruput kopi hitamnya yang sudah pasti tidak bergula. "Tumben kamu kesiangan begini, Mel! Begadang?" Kak Janice menuangkan setengah gelas jus buah, menyodorkannya untukku.


"Iya, Kak. Ada desain yang terus mengganggu di kepala. Jadi aku langsung gambar aja. Eh, tahu-tahu udah lewat jam dua."


"Jangan sering-sering. Ga baik. Bikin sakit. Oke, aku berangkat dulu, ya. Kalian baik-baik di rumah. Sayang, pamit." Kak Yonas mendaratkan kecupan sayang pada kening istrinya. Ahh, kapan aku punya suami yang romantis begitu? Selain aku, Kak Yonas diantar ke parkiran mobil dan masuk kembali saat mobilnya menjauh. Aku sendiri fokus pada acara mandi pagiku yang harus super singkat. Kenapa? Keburu telat, Beib!


...* *...


Motor matic yang membawaku dan Tata melenggang di jalan raya utama. Belum juga jam delapan pagi tapi sengatan matahari sedikit lebih panas layaknya tengah hari. Sebelum motor dilambatkan, dari balik masker aku mengulang petuah emas untuk si bungsu.


"Ingat, langsung berangkat ke kantormu, nggak usah lepas helm!"


"Hmm."


Bukannya sok galak, sih. Terakhir kali Tata memperlihatkan wajahnya, para makhluk femina berlomba mendekat minta berfoto bersamanya. Keos. Tentunya itu hanya terjadi saat mereka tidak melihatku bersama Tata.


Lain cerita bagi mereka yang sempat melihatku berboncengan atau berbincang bersama adik bungsuku itu. Gempar. Mereka pun tak hentinya bergosip, tentangku dan cowok ganteng yang mengantarku. Para Adam juga sedikit menjaga jarak denganku. Mereka pikir, Tata pacarku.

__ADS_1


Setelah motor berhenti, aku turun, lepas helm, merapikan diri, dan 'TAP-TAP' teouk punggung dua kali, mengusir Tata. Hush, sana! "Hati-hati, ya!"


"Nanti dijemput, nggak?" Eeh, sampai lupa. Walau kadang sikap kami satu sama lai sering tampak jutek dan acuh, adikku satu ini manis banget. Dia perhatian lo sama aku.


"Pake nanya. Kalo ikhlas ya jemput. Kalo ngga ikhlas yaa, gimana ya?"


"Ya udah. Nggak ikhlas. Daah!"


"Eehh?" Dasar, adik macam apa tuh? Aku tarik lagi kata-kataku yang soal dia manis dan perhatian. Malas banget punya adik kaya begitu!


"Pagi, Sayang!"


"Hai, Bel! Met pagi!"


Bellisima, rekan kerjaku yang cantik mencoba meraih tanganku. Tanganku menyambutnya, menggandengnya. Ia tersenyum lebar. Menurutku, senyuman itu menjadikan wajah bulat telur bersihnya bertingkat lebih manis. Beberapa pasang mata baik laki-laki maupun perempuan tampak memperhatikan Bella. Dia memang menarik tanpa harus berpenampilan eksentrik. Bella memancarkan inner beauty-nya sendiri. Wajar saja jika beberapa kali aku mendapati tatapan orang terhenti padanya, meski hanya sepersekian detik.


"Diantar dedek pacar atau kakak ipar, nih?"


Ya, ya. Bella tahu benar bahwa Tata adalah adikku. Mulutku baru bersiap menjawab tapi batal tiba-tiba. Suara yang keluar hanya "Aahhh!!"


Dari belakang kami, A Kim berlari menyeruak. Digandengnya tanganku dan tangan Bella sambil berlari bak dikejar setan pinggir kali mati.


"Udah mau telat loh! Hayuk buruan, Jeungs! Tap kartu! Tap kartu! Abseeen! "


Jadilah aku dan Bella ikut panik berlarian dengan hak sepatu kami yang tak kurang dari lima sentimeter. Jangan salah, A Kim juga pakai sepatu hi-heels! Iya, iya, dia cowok. Tapi kadang dia nyeleneh. Dan pagi ini dia begitu.


Kami memang tidak perlu melewati seribu anak tangga ataupun menyusuri seratus lorong. Hanya, demi bisa mencapai mesin absensi tepat waktu, bangunan kantor terpadu yang modern dan eco-friendly semacam ini memang sedikit membutuhkan perjuangan. Dari pos jaga dan area parkir kendaraan, butuh hampir lima puluh meter menuju mesin absensi. Masalahnya sekarang kami harus bergegas hanya jika kami tidak ingin telat.


TAP! TAP! TAP! Tulit!


Kami bertiga pun menghembuskan nafas lega. Iya, kami ngos-ngosan, kelelahan, tapi lega. Lebih lambat sekian detik saja, nama kami pasti dapat blok merah karena terlambat. Selamatlah kami dari sanksi potong gaji dan surat cinta dari divisi personalia.


"Asyik nih, kayanya, lomba lari pagi-pagi. Kalian latihan maraton pakai high heels, ya? Kok nggak ajak-ajak, sih? Ikutan, dong! Kayanya seru."


Senyum ala iklan pasta gigi milik Bimo sontak hilang ketika kami balas memandangnya kesal. Keramahan dan antusiasme Bimo saat ini sungguh tidak pas.


Caranya mengambil kesimpulan yang sering keliru atas suatu peristiwa yang dilihatnya kerap mengundang musibah baginya. Termasuk sekarang.


Dengan tatapan setipis garis dari matanya yang sudah sipit, A Kim mengumpulkan rasa kesalnya. "Mau lari? Lari Lu sekarang!"


"Sekarang? Gue? Lari? Ke mana? Kenapa lari? " Bimo kebingungan.


"Buruan, lari, atau gue makan lu buat sarapan," A Kim jadi beringas.


Di penghujung napas ngos-ngosan banteng ngamuknya, A Kim akhirnya memberi komando. "Gals, kejarrr!" Tak sampai sedetik kemudian, jadilah aku, A Kim, dan Bella mengejar Bimo. Bapak-bapak penjaga keamanan sudah hafal dengan kelakuan kami. Mereka dengan ramah mengulas senyum memandangi kami seakan berkata, "Semangat, ya, Nak!"


Akhir dari pengejaran adalah hukuman sayang terhadap Bimo. Setelah tertangkap nanti, paling-paling Bimo kami cubit manja dan digelitik sampai bilang 'ampun' atau 'nyerah, deh!' lalu hukuman untuk Bimo akan berujung di pantry. Teh atau kopi atau coklat untuk semua. Tentu saja Bimo yang membuatkan. Namanya saja hukuman sayang.


...* *...


"Ky! Oky! Asli, lu nyebelin banget sih? Balikin, ga? Kuaduin ke..."


Omella kaget. Baru saja ujung rotring 0.01 milimeter hitam kesayangannya mau menyentuh permukaan kertas. Masalahnya, di atas kertas itu sudah ada sketsa setengah jadi gaun malam rancangannya.


Sedikit lagi, dia masih punya PR untuk membuatnya menjadi sempurna. Nyaris kacau hanya kalau karena kaget mendengar suara laki-laki tadi ujung penanya menorehkan garis atau lengkungan yang salah.


Sebetulnya bukan hanya Omella. Madam Shanti juga kaget. Perempuan berparas cantik dalam balutan gaun lurik tenunan tangan sewarna lumut itu bertemu mata dengan laki-laki yang sekarang berdiri di ambang pintu. Dengan daun pintu setengah terbuka, Omella dapat melihat sekilas kemiripan antara keduanya. Shanti Parwati, pemilik sekaligus direktur utama rumah mode tempat Omella bekerja tidak sedikitpun terlihat marah. Terusik, ya. walau usianya lewat dari setengah abad terpaksa mengalihkan fokusnya dari sketsa Omella di atas meja.


"Apa, sih, Sayang? Datang-datang langsung ngomel. Bikin orang kaget, deh. Kamu kenapa?"


"Ng.. nggak apa-apa, Ma," respon laki-laki yang dipanggil 'sayang'. Perkataannya memang untuk menjawab sang mama. Namun kedua mata dan otak di kepalanya tak beranjak dari Omella. Oh, itu anak Madam Shanti, batin Omella. Dia baru kali ini melihat anak pimpinannya. Ganteng juga, pujinya dalam hati.


"M-maaf. Aku ganggu, ya?"


"Dikit," kata Madam Shanti. Sekali lagi, jelas tidak marah. Malah, sudut bibir merah terakotanya sedikit terangkat. Aih, senyuman yang samar semacam itu pasti punya pesona tersendiri. Begitu yang terlintas dalam benak Omella.


"Maaf, ya, Ma."


Mau tidak mau Omella memperhatikan pemuda itu. Tingginya mungkin sekitar 180. Atau sekitar itu. Kulitnya bersih, coklat terang, terlihat terawat. Wajah manis, hidung mancung, rahang tegas, dagu tanpa belahan, dan matanya coklat menawan. Ini sih fotokopi Madam Shanti versi cowok. Dengan perawakan tegap dan suara mantap begitu, siapa yang bisa menolak pesonanya?


"Kamu ngapain lagi sama Oky? Diusilin lagi? Atau kamu yang ngusilin dia?"


"Ya, gitulah, Ma. Em, Mama sibuk dulu aja. Aku keluar dulu," pamitnya.


"Eeh, sebentar!" Tiba-tiba saja Madam Shanti menahan tangan laki-laki itu. "Kamu udah kenal sama dia, belum?"


Pemuda itu menggeleng perlahan. Aih, polos banget, komentar Omella. Dalam hati tentunya. Atau dia berlagak sok culun di depan mamanya?


"Sini, salaman dulu. Ini asisten andalan Mama soal desain."


"Emm, siapa, Ma?" Pemuda itu bertanya lirih mendekati daun telinga mamanya. Sang Mama tersenyum geli. "Siapa apa? Namanya? Tanya sendiri, dong. Kenalan, coba!" Tapi yang diajak ngobrol masih tetap malu-malu. Sok cuek, malah.

__ADS_1


Hadeuh! Kenalan doang kenapa jadi panjang-lama begini, sih? Kan tinggal salaman saling nyebut nama aja, udah. Kenapa jadi ada ritual kaya orang mau lamaran kawinan, yak? Ribet amat? Batin Omella meronta. Maka, Omella mengambil inisiatif menyodorkan tangannya, mengajak bersalaman.


"Halo, Mas. Saya Omella."


"Rega." Pemuda itu menyambut tangan Omella dan menyalaminya dengan sopan.


Nah, gitu aja kan kelar! Kenapa nggak dari tadi aja langsung salaman? Ribet amat dunia Anda, Mas!


Lagi-lagi demonstrasi batin Omella menguap di udara.


"Ma, aku keluar dulu. Mari, Mbak." Lalu yang namanya Rocky menghilang di balik pintu.


Omella dan Madam Shanti bertemu pandang. Udah? Gitu doang? Kenalan, kan ya? Iya, sih. Gitu doang. Hingga Madam Shanti mengendikkan bahu. Omella membalasnya dengan tersenyum. Baru juga beberapa detik, mendadak pintu dibuka lagi.


"Maaa, anak Mama yang namanya Rega Nagendra mana, Ma?"


Baik Omella maupun Madam Shanti kaget untuk kedua kalinya. Lho, batin Omella, itu orang yang sama?


"Haiii!" Pemuda itu menyunggingkan senyum lebar kepada Omella. Malah ia melambaikan tangan beberapa kali, menunjukkan keramahannya. Ini orang punya kepribadian ganda apa ya, batin Omella. Tadi pertama kali kenalan kelihatannya sih malu-malu. Lah ini, belum ada semenit kenapa jadi berubah nggak ada malu-malu sama sekali?


"Rega?" tanya Omella seraya menunjuk pemuda itu.


"Aku? Rocky, dong! Kok jadi Rega, sih?" Fix. Omella jadi bingung. "Eh, kita belum kenalan, loh. Aku Rocky. Kamu siapa?"


Lah, bukannya tadi udah kenalan? Masa udah lupa? Beneran dia berkepribadian ganda atau memang daya ingatnya sangat amat rendah? Duh, sayang banget! Pemuda seganteng ini, di usianya yang mungkin tidak jauh berbeda denganku terkena salah satu kemungkinan itu.


"Hei? Kok diam saja?"


Barulah Omella sadar. Pemuda itu sudah menyodorkan tangannya, mengajak bersalaman. Dengan kening mengerut Omella menyambut uluran tangannya. Kembali bersalaman.


"Nama?"


He? Omella tidak mengerti maksudnya.


"Iya, nama kamu siapa? Aku Rocky. Rocky Nagendra. Kalo nama kamu?"


"Ooh. Mella. Omella."


"Omelan?"


"Omella!"


"Oh, oke. Omelan."


"Nggak pake 'n'. O-mel-la. Omella."


"Omel? Mela?"


Duhh. Soal nama aja jadi ribet banget sih? Ini hari apa, sih? Omella mulai geregetan.


"Nama lengkap ku Omellete Gressa. Panggilanku Omella. O!"


"O?"


"Mel!"


"Mel?"


"La!"


"Omelan?"


Haish! Ini cowok ngajakin berantem? Bodoh amat, ah! Sekata-kata elu aja dah, Mas!


"Eh, Telur Dadar, kamu pasti tadi udah ketemu Rega?"


"OKY!" Madam Shanti memekik ngeri. Omella sendiri sudah membelalak. Bola matanya nyaris melompat bunuh diri. Haish, lebay! Mana ada mata mau bunuh diri? Tapi Omella merasa bahwa matanya sedang ingin begitu. Siapa yang dia maksud 'telur dadar' itu? Aku? Hah?!


"Kamu...! Ayo, minta maaf! Cepat, minta maaf sama Omella! Kamu jangan bikin Mama malu, ya! Sembarangan mengganti nama orang! Minta maaf! Cepat!"


"Auh-auh-auhhh, Mamaku yang paling cantik kenapa jadi galak gini, sih? Iya maaf. Ya udah, aku keluar aja cari Ega. Dah Mama!


BLAM!


Pemuda tadi menghilang. Pintu ruangan kembali tertutup. Akankah terulang, peristiwa dibukanya pintu ruangan Direktur Utama dalam hitungan detik? Dan, benar saja....


"Sampai ketemu lagi, Telur Dadar! See yaa!"


BLAM!


Haish! Ini hari apa, sih? Serius! Ini hari apa?

__ADS_1


...* * *...


__ADS_2