
"Melihatmu seperti menemukan diriku. Peduli kepadamu terasa peduli dan menyayangi diriku sendiri. Jika demikian, sebenarnya apakah kau untuk aku dan aku memang untukmu?"
Menggelitik. Kulit yang tersapu angin rasanya ternyata cukup asyik. Cuaca siang ini lebih bersahabat daripada kemarin. Sepoi-sepoi hembusan yang sesekali datang lumayan menyejukkan.
Suasana siang di taman Rooftop The Narend's Tower mestinya mampu membuat siapapun yang ada di situ saat ini cukup puas dan senang. Langit cerah dengan barisan awan putih tipis yang sesekali lewat. Apalagi matahari juga tidak begitu terik. Sayangnya, tidak satu orang pun tampak bahagia dan menikmatinya.
Di kursi taman berpayung tenda sewarna langit ada Exal dan Omella yang sedang duduk berhadapan. Omella sedikit kikuk. Ia hanya bisa tetap diam, menahan segala pertanyaan yang berkecamuk dalam dirinya. Kalau saja tidak ada meja di antara keduanya, hampir bisa dipastikan laki-laki tampan di seberang Omella bisa melihat jari-jemarinya yang saling berselingkuh gelisah.
Exal, masih memegangi lembaran kertas, tampak serius memperhatikan sketsa yang tergambar di atasnya. "Bagaimana mungkin?" tanya Exal tanpa mengalihkan perhatiannya dari kertas di tangannya.
"Ya?" Omella merespon, masih dengan bingung. Juga gelisah.
"Bagaimana caramu membuat ini? Apa kamu tahu sesuatu tentang game kami yang baru ini? Siapa temanmu?" Exal memberondong Omella dengan pertanyaan.
Ditanyai begitu, Omella semakin bingung. Masa dia harus jujur dan mengatakan ide sketsanya bersumber dari mimpinya sendiri? Apa kaya orang nanti? Terlebih laki-laki di depannya adalah orang asing.
Pagi tadi di ruang kostum adalah kali pertama mereka bertemu. Belum pernah ada komunikasi. Belum pernah saling mengenal. Jadi dapat dipastikan sebelum laki-laki ganteng dan hidup, yang masih duduk dengan angkuh itu, pernah punya kesempatan untuk mengetahui isi kepalanya. Demikian pula Omella terhadapnya.
Maka, sebelum menjawab pertanyaan laki-laki itu, Omella lebih dulu ingin menjawab pertanyaannya sendiri, dari mana sih ide mimpinya?
"Kamu pasti kenal orang dalam, kan? Yang tahu soal game ini. Siapa? Sebut namanya!"
Exal bertanya dengan angkuh dan tegas. Sorot matanya memancatkan rasa tidak suka. Ia berpikir ada pengkhianat di dalam perusahaannya. Tetapi untuk permainan baru yang bahkan masih dalam 70% perencanaan, hanya dirinya dan tim kecil khusus yang sengaja ia bentuk. Anggota tim kecil itu pun adalah orang-orang pilihannya. Orang-orang yang baginya adalah orang-orang terdekat dan berkompeten dalam bidangnya.
Lantas, siapa yang begitu tidak setia membocorkan elemen-elemen penting semacam itu? Karakter Lady Oditi bukanlah elemen yang bisa sembarang diakses. Apalagi sketsa yang dibuat perempuan di kursi seberangnya terlihat begitu mirip dengan penggambarannya sendiri tentang karakter itu.
"Dari mana kamu tahu soal Lady Oditi?"
"Ha? Siapa?" Omella balik bertanya.
Exal membalik kertasnya ke arah Omella sehingga Omella melihat sketsanya sendiri. "Ini! Kamu menggambar ini, kan? Ini Lady Oditi. Dari mana kamu tahu soal ini? Siapa yang kasih kamu informasi?"
Omella menggeleng. Dari mimpiku sendiri, jawabnya dalam hati. Tapi masa dia mau menjawab seperti itu?
"Tahu sendiri? Nggak ada yang ngasih tahu kamu soal ini? Atau soal game terbaru kami?" Exal mendesaknya, menebak. Omella mengangguk yakin. Bukankah memang seperti itu kenyataannya? Jadi, iya. Omella mengangguk, mengiyakan.
BRAK! Exal menggebrak meja dan mencondongkan tubuh ke arah Omella.
"Kamu pikir saya percaya? Jangan bohong! Siapa yang bocorin soal game ini ke kamu? Sebutin namanya! Siapa?" Exal mulai emosi. Nafa bicaranya meninggi. Daun telinganya memerah, tanda ia sedang marah. Exal memang mulai marah. Tetapi setengah mati ia sedang berusaha menahannya.
"Saya nggak ngerti kenapa Anda mengira saya bohong. Soal game, saya nggak ngerti apa-apa, Pak. Lalu yang bocorin info, saya lebih nggak tahu lagi soal itu. Baru hari ini saya tahu bahwa yang saya gambar namanya Lady Oditi. Dia siapa juga saya nggak ngerti," jelas Omella.
Penjelasan Omella malah membuat emosi Exal semakin menjadi. Exal mulai frustrasi. Satu tangannya mengacak-acak rambutnya yang sempat rapi. "Terus kamu mau bilang kamu gambar ini karena tahu dari mimpi?"
"Iya, Pak. Memang dari mimpi," tanggap Omella bersemangat.
Namun Exal semakin marah dan, "WOY!" Teriak Exal menggelegar. Urat-urat di lehernya nampak menggurat. Exal sangat kesal. Ia seperti singa mengamuk yang siap menerkam Omella.
"EXAL!"
...*...
Badra masih terus berbicara lewat penyuara jemala nirkabel. Di ujung teleponnya ada sejumlah dewan direksi yang sedang rapat dan memintanya menjelaskan sesuatu berkenaan dengan proyek lain. Sudah lebih dari sepuluh menit dan Badra masih mondar-mandir sambil sesekali menjawab atau memberi penjelasan.
Ayo, cepat sedikit! Kapan selesai? Aku harus mencarinya!
Sepuluh menit yang lalu ia sempat melihat X+ALT alias Exal diam-diam menggandeng paksa Omella berjalan keluar ruang rapat, tidak seberapa lama setelah rapat selesai. Keduanya berjalan cepat menuju lift.
Badra tidak rela menyaksikan seorang perempuan diperlakukan begitu. Apalagi perempuan itu adalah sosok yang pernah sangat berarti baginya. Sekarang pun masih. Dia sudah lama mengenal Omella. Hanya, dalam beberapa tahun ini, ia kehilangan jejaknya.
Badra sungguh-sungguh akan menyusul mereka tetapi
Adinia mencegatnya dengan telepon penting. Maka, Badra terpaksa mengurungkan niat dan menerima panggilan teleponnya. Ia hanya memperhatikan tombol R yang menyala saat pintu lift yang membawa Exal dan Omella menutup. R kemungkinan besar adalah Rooftop, tebaknya.
Tangan Adinia masih terulur dengan ponsel yang telah tersambung jalur komunikasinya. Netra Badra tak rela melepas Exal dan Omella pergi. Namun, saat ini dia tahu harus bersikap tegas, tidak boleh galau dan salah langkah.
Mau tidak mau Badra membiarkan keduanya pergi. Sekarang prioritasnya adalah meladeni para dewan direksi dengan segala pertanyaan dan kebutuhan mereka. Tentunya yang berkaitan dengan pekerjaan, tugas dan tanggung jawabnya sebagai direktur utama Benito Young Corporation, core of the core dari Benito Group. Ya sudah, batinnya, mau bagaimana lagi.
__ADS_1
Hingga akhirnya percakapan via ponsel itu selesai. Segera saja Badra setengah melemparkan ponsel di tangannya kepada Adinia. Untung saja sekretarisnya itu berdiri tidak jauh darinya dan cukup sigap menangkap ponselnya. Badra tidak lagi sempat menghiraukan ekspresi terkejut tangan kanannya itu melihat dirinya pergi bersegera menuju lift.
Tak sampai semenit pintu lift terbuka. Melihat pemandangan taman kecil yang cukup asri di udara terbuka, Badra menyisir lokasi dengan netranya. Ia baru kali ini menginjakkan kaki di bagian teratas The Narend's Tower itu.
"Ketemu!"
Badra mendapati Omella yang duduk di bawah tenda bersama Exal, sang pemilik XT Corp. Dilihatnya Exal berdiri. Lelaki itu tampak marah. Dengan langkah lebar-lebar dari sepasang kakinya yang panjang, Badra setengah berlari menghampiri mereka. Samar menjelas, ia dapat mendengar percakapan mereka.
"Terus kamu mau bilang kamu gambar ini karena tahu dari mimpi?" dilihatnya Exal membentak Omella. Posisinya sudah berdiri. Ia tampak marah.
"Iya, Pak. Memang dari mimpi." Demikian Omella menjawab laki-laki itu.
Gerak dadanya yang naik turun memperlihatkan kini Exal semakin marah dan, "WOY!" Exal menggertak seraya menggebrak meja. Omella terlompat dalam duduknya. Gawat, batin Badra.
"EXAL!" Sergah Badra. Ia berlari mendekat lalu berdiri di antara Exal dan Omella. "Bicarakan baik-baik. Tahan emosimu!"
Napas Exal memburu. Dadanya membusung naik turun. Ia masih sangat marah. Kesal dengan jawaban Omella. Sementara Omella masih terpaku kepada Exal, tampak belum menyadari sepenuhnya bahwa ia ada di sana.
Exal benar-benar kesal. Ia mengambil kertas sketsa Omella dengan satu tangan. Tangannya yang lain lurus-lurus menunjuk, menuding Omella disertai tatapan netranya yang memerah marah. "Haargghh!" Exal berbalik, mendorong kursinya dengan kasar lalu pergi.
Kini tinggallah Badra dan Omella di sana. Badra meredakan ritme napasnya sendiri. Ia menoleh ke arah Exal pergi dan yakin Exal sudah tidak ada di sana lagi. Ia melonggarkan ikatan dasinya lalu menarik kursi untuk dirinya sendiri. Badra duduk. "Omella, kamu nggak apa-apa?"
Barulah Omella sadar sepenuhnya, sudah ada orang lain yang menggantikan posisi teman bicaranya. Pandangan Omella beralih dari jalan menuju lift kepada Badra. Tercekat. Omella sungguh kehilangan kata.
Apakah ini Badra? Badra yang aku kenal pada masa lalu?
Seakan mampu membaca pikiran Omella, Badra lantas berbicara.
"Iya, ini aku. Badra. Apa kabar, Omella? Kamu menghilang."
...* *...
"Nggak, jangan ngomong macam-macam dulu! Jelasin sama Mama. Sebenarnya masalahnya apa, sih? Kok Exal sampai begitu amat sikapnya?"
Madam Shanty memandangi ketiga anaknya bergantian. Salma berdiri melipat tangan di dada. Tubuhnya disandarkan pada meja kerja besar dari kayu jati Belanda. Ia mengendikkan bahu sebagai ganti jawaban tidak tahu.
"Tungguin aja, Ma. Nanti kan si Bungsu juga ke sini. Tanyain aja langsung sama anaknya," kata Rocky kalem.
"Emang Exal sekarang ada di mana?" tanya sang mama.
"Pergi sama Telur Dadar, Ma," jawab Rocky cepat. Salma dan Madam Shanty jadi melongo dibuatnya.
"Tadi Bungsu narik Omella ke lift, Ma. Pasti mereka membicarakan yang perlu dibicarakan. Udah, kita tunggu dulu aja," imbuh Rega.
"Kenapa jadi bawa-bawa Omella?" Madam Shanty semakin bertanya-tanya. "Terus mereka ke mana?"
Si kembar menggeleng kompak.
"Pokoknya naik lift. Dan bawa kertas sketsa yang tadi ditunjukin Omella pas rapat. Itu lo, yang ada gambar karakter game-nya si Bungsu," jelas Rega. "Kali aja masalahnya soal sketsa itu, Ma. Udahlah, kita tunggu aja. Mama nggak usah panik. Biasa aja."
Mata cantik sang mama melirik galak. Dalam hatinya ia setuju dengan pendapat Rega. Menunggu adalah satu-satunya hal yang bisa dilakukan saat ini. "Tapi Mama tetap nggak tenang sebum tahu permasalahannya."
CLING! Notifikasi pesan pada ponsel Rega berbunyi. Rega mengambil ponselnya lalu merespon notifikasi itu. Rega membaca sekilas, terkejut, lalu buru-buru menelepon.
"Dek, kamu di mana? ... Oke. Tunggu! Kakak ikut."
Semua mata tertuju kepadanya. Rega Nagendra lalu menarik Rocky, mengajaknya bergegas menuju pintu ruangan. Kembarannya kaget tapi menurut saja. Lalu kata Rega sambil membuka pintu. "Ma, kami nemenin Bungsu ke kantornya."
"Hah? Ya. Nanti kabarin Mama, ya!"
"YA," sahut si kembar kompak. Pintu ruangan kembali menutup. Madam Shanty dan Salma saling memandang heran.
"Ada masalah apa sih, sebenarnya?" Madam Shanty bertanya kepada angin dan belum mendapatkan jawabannya.
...* * *...
20 menit kemudian di XT Corp.
__ADS_1
Exal mengadakan rapat tertutup darurat. Sama seperti ruang rapat di seluruh bangunan milik keluarga Narendra, begitu pintu ditutup maka tidak ada suara dari dalam ya g dapat didengar dari luar. Demikian pula sebaliknya.
Di dalam ruang rapat hanya ada Exal, kedua kakak kembarnya, dan tim kecil khusus yang dibentuk Exal untuk menangani pembuatan sekaligus uji coba awal permainan terbaru.
Tim kecil yang dimaksud Exal hanya terdiri dari empat orang termasuk Exal sendiri sebagai penggagas dan pencipta utama. Dialah yang membuat konsep alur, tingkatan, dan tokoh-tokoh utama sebagai karakter dalam permainan.
Tiga orang lainnya adalah Billy, Yona dan Glenn. Billy adalah asisten Exal di perusahaan itu. Usianya dua tahun di atas Exal. Tampan. Cakap dalam bekerja, ramah, hangat, dan cukup disiplin. Bersama Exal ia sering diminta menjadi model foto dan iklan karena perawakan dan penampilan mereka yang menarik.
Di luar XT Corp, laki-laki berdarah campuran Thailand-Turki yang akhirnya jadi warga negara Indonesia dengan KTP Bandung itu juga merangkap sebagai manajer bagi Exal. Intinya, Billy adalah tangan kanan dan orang kepercayaan Exal nomor satu untuk urusan pekerjaan, di dalam dan di luar XT Corp.
Yona adalah gadis manis berbadan mungil yang usianya dua tahun lebih muda dari Exal. Kemampuan Yona sebagai gamer tidak perlu diragukan. Sudah berulangkali Yona menyabet gelar sebagai juara dua dalam berbagai ajang kompetisi dan turnamen e-sport. Sebagai langganan juara satu, Exal langsung menggaet rekan sesama jawaranya itu untuk bergabung dengan perusahaan yang didirikannya tiga tahun lalu.
Cara berpikir dalam menentukan strategi dan teknis bermain dari gadis imut itu patut diacungi jempol. Seperti Exal, Yona terbilang irit berbicara terhadap orang asing. Di mata banyak orang, sikap keduanya ini mengesankan kepribadian yang pendiam dan introvert, bahkan sempat dianggap antisosial.
Lain lagi dengan Glenn. Tubuh Glenn gempal, doyan makan, dan banyak bicara. Sekalipun kemampuannya di bawah Exal, Yona dan Glenn kerap bersainh memperebutkan gelar juara dua. Jika Yona fokus dengan game online, Glenn terpaksa membagi perhatian dengan dunia bisnis. Glenn sangat suka berdagang. Bagi Glenn, selain dunia game online, pasar kripto, saham dan bursa efek adalah rumahnya yang lain.
Kendati memiliki dunia masing-masing, mereka berempat termasuk atlet e-sport yang tersohor, mumpuni dan disegani, baik di dalam maupun luar negeri. Hal lain yang menguntungkan bagi Exal maupun XT Corp adalah mereka berempat berteman baik. Bahkan sejauh ini keempatnya terus saling mendukung dan menjaga kekompakan.
Oleh karena itu, peristiwa munculnya sketsa salah satu tokoh penting dalam permainan yang mereka rancang bersama oleh orang luar menjadi masalah yang besar. Sangat besar. Sejak sketsa Omella diperlihatkan oleh Exal di dalam ruang rapat itu, ketiga teman Exal tampak syok. Raut wajah keheranan, tak percaya sekaligus kekaguman terpampang tanpa dapat disembunyikan.
"Itu Oditi, kan?" Yona bertanya sambil berdiri, mencondongkan tubuh mungilnya supaya lebih jelas melihat sketsa di tangan Exal. "Bagus. Di atas ekspektasiku, malah." Yona lalu kembali duduk.
"Kok bisa? Kamu yang bikin, Xal?" Billy terheran-heran.
Exal menggeleng. "Orang di luar tim ini. Bahkan di luar XT Corp. Orang yang katanya nggak ngerti apa-apa soal game online dan nggak pernah menggambar sketsa semacam ini."
Ketiga temannya merosot di kursi masing-masing. Mereka bisa menangkap pemicu kacaunya temperamen bos XT Corp itu. Informasi bocor. Ini hal yang fatal. Sangat berisiko.
Jika ada perusahaan pengembang lain yang mengetahuinya, maka ide mereka bisa dicuri dengan mudah. Tentu saja ini akan berdampak serius terhadap XT Corp dan berpotensi menimbulkan kerugian yang amat besar.
Bukan sehari dua hari mereka merancang permainan itu. Akankah sia-sia begitu saja seiring bocornya informasi? Pantas saja Exal semarah itu.
"Bahkan nama permainannya aja belum ditentukan, sekalipun sudah ada beberapa pilihan. Kok bisa ada orang di luar kita yang sangat memahami karakter dari permainan itu? Confidential! Sangat rahasia! Kenapa bisa bocor? Siapa yang bocorin?"
Yona, Glenn juga Billy saling melihat.
"Stop! Please, lah! Kalau gini caranya, tim kita bisa pecah. Aku sendiri nggak yakin salah satu dari kita ceroboh banget dan bocorin hal sepenting ini ke orang luar. Jangankan orang di luar kantor. Orang di dalam kantor yang bukan dalam tim ini pun mestinya nggak tahu-menahu soal ini." Glenn bersuara.
Kedua temannya mengangguk sepaham. "Kita kalau uji coba aja di ruangan tertutup. Nggak ada satu orang pun yang boleh keluar masuk selain kita. Gimana ceritanya ada data bocor?"
Rega dan Rocky mengamati jalannya rapat dari sudut ruangan. Mereka cukup mengenal tim kecil Exal. Keduanya terbilang akrab dengan mereka. Sulit rasanya untuk percaya, ada yang membocorkan rahasia perusahaan sekalipun tanpa sengaja. Yona, Glenn, dan Billy telah menjadi orang-orang kepercayaan Exal di perusahaan itu. Rega dan Rocky tahu itu.
"Jadi, apa mungkin ada nyamuk yang keluar dari ruangan ini dan nyebarin data kita ke orang lain?"
Semua orang diam mendengarkan Exal. Mereka pun bingung harus berkata apa dan memberi tanggapan yang bagaimana. Boss XT Corp masih dikuasai rasa kesal dan amarah. Terpaksa menunggu emosi itu mereda dulu. Barulah Exal bisa diajak bicara baik-baik.
"Nggak ada yang ngaku, nih?" Exal bertanya lagi dengan pandangan menyelidik terhadap teman-temannya.
"Bos, nggak mungkin kami ngebocorin data apapun. Hidup mati XT Corp jadi tanggung jawab kita bersama, kan? Lu percaya ama gue, Billy, dan Yona," kata Glenn. "Lagian buat apa coba ngebocorin ke orang luar? Kalo game ini berhasil dan meledak di pasaran, kita semua kan hepi dan bangga? XT Corp buat gue udah kaya belahan jiwa, Bos. Napa juga gue hancurin?"
"Kebetulan yang tidak disengaja, mungkin," kata Yona. "Aku sendiri susah buat percaya, ya. Tapi sementara anggap aja begitu. Kita selidiki sama-sama, Xal!"
Billy mengangguk setuju.
"Kalo butuh hacker buat menyelidiki ini, ada. Siap. Kita satu keluarga, Xal," imbuh Glenn. "Jangan sampai kita pecah gara-gara hal yang belum jelas."
Billy angkat bicara. "Sketsa ini walau aku juga nggak paham kenapa bisa benar-benar merepresentasikan Lady Oditi di game kita, bisa jadi juga hanya suatu kebetulan. Kaya yang dibilang Yona. Kebetulan yang tidak disengaja. Boleh nggak, untuk sementara kita anggap begitu? Lalu kita lakukan penyesuaian dengan rancangan yang sudah ada. Sembari kita selidiki."
Tapi Exal masih belum bisa menanggapi tanpa marah meski emosinya sudah sedikit meteda. "Terus, aku harus percaya begitu aja dengan jawaban cewek itu, kalau dia gambar Oditi karena dapat inspirasi lewat mimpi? Sekalian aja bikin aku gila!"
"Exal," Rega mendorong kursinya yang beroda, mendekati adik bungsunya. Ia menarik tangan Exal perlahan, memintanya duduk. Exal pun menurut meski awalnya enggan. "Sabar. Tenang. Kita selidiki dulu aja."
Rocky angkat bicara. "Iya, Xal. Dan, untuk semuanya aja, sebagai pengawas XT Corp, saya menghimbau kepada teman-teman, termasuk Exal, yang kita bicarakan di ruangan ini tolong dijaga. Kita aja yang tahu. Usulan Billy, Yona, dan Glenn ditampung. Pokoknya, tetap jaga kekompakan dan suasana kerja biar tetap kondusif. Oke?"
Semuanya mengangguk patuh.
"Oke. Dissmiss."
__ADS_1