Diari Mantan Pacar

Diari Mantan Pacar
Itu Kamu


__ADS_3

"Sandal jepit aja ada pasangannya. Masa kamu enggak?"


Horta menghela napas dengan lega. Dari tempatnya bersembunyi, ia leluasa mengamati tanpa dicurigai obyeknya sendiri. Omella sedang berjalan-jalan santai. Sesekali ia melakukan gerakan senam. Hari masih gelap. Kabut masih pekat. Namun semburat cahaya pagi di ufuk timur mulai menampakkan diri.


Omella tampak manis mengenakan pakaian jogging warna pink. Syukurlah, batin Horta, kakaknya itu tampak rileks, tidak menyadari bahwa dirinya sedang sengaja 'diculik' oleh adiknya sendiri.


Dari gedung bank di pusat kota tempatnya bekerja, semalam ia berhasil membawa kakaknya ikut menginap di lokasi kedua. Tepatnya di sebuah resort nan asri di bilangan Kaliurang, dekat gardu pandang kawasan Taman Nasional Gunung Merapi. Dalam hati Horta tertawa, bahagia dengan keberhasilannya.


Ahahaha, dia tidak curiga! Padahal aku sedang menculiknya! Yang penting dia jauh dari Badra. Daripada dia bertemu dengan Badra di tempat kerjanya di rumah mode sana, bukankah lebih baik seperti ini?


Yah, mau bagaimana lagi, pikir Horta. Ini satu-satunya jalan terbaik saat ini untuk mengamankan kakaknya. Walaupun ia sedikit merasa bersalah membuat kakaknya terpaksa minta izin tidak masuk kerja dengan tiba-tiba.


Mungkin kinerja kakaknya akan dinilai buruk oleh manajemen rumah mode. Namun, bagi Horta, itu jauh lebih baik daripada Omella kembali bertemu dengan Badra. Omella mungkin tidak akan keluar kantor pada jam kerja. Bagaimana dengan Badra? Kabarnya Badra sekarang jadi pebisnis sukses. Jam kerjanya bisa saja dibuat fleksibel sesukanya. Bukankah itu berarti Badra bisa kapanpun menemui kakaknya dengan berbagai alasan?


Kalau sampai itu terjadi dan Omella tidak bisa menghadapinya, sementara baik dirinya maupun Janice, kakak sulungnya, tidak ada di tempat untuk mendampingi Omella, bukankah lebih berbahaya? Jadi, tindakannya ini sudah benar. Demi melindungi Omella.


Usai acara syuting dan pemotretan hari pertama kemarin, Horta dengan bahagia kembali meminta ... eh, tepatnya memaksa kakaknya membantu lagi. Alasannya simpel. Model dan manajernya sangat puas dan nyaman atas hasil dan cara kerja Omella. Mereka mengharapkan kesempatan lain untuk bisa bekerjasama dengan Omella sebagai juru rias dan penata kostum.


"Nggak banyak nanya. Nggak banyak bicara. Tapi kerjanya bagus, cekatan, dan riasannya memuaskan. Kalau boleh dan bisa, untuk pemotretan besok dan videografi MUA-nya mbak yang sama lagi, Mas." Horta mengulang percakapan terakhirnya kemarin untuk disampaikan kepada Omella saat mereka sudah di rumah. Perkataan itu benar adanya, sesuai dengan yang disampaikan Billy dan diiyakan X+ALT sang model.


Maka, di sinilah mereka. Menikmati udara sejuk dan dinginnya pagi di lereng Merapi. Horta menyesap kopi dari cangkirnya. Di samping cangkirnya teraedia cangkir lain berisi minuman coklat hangat kesukaan Omella. "Kak," Horta melambaikan tangan dan mengulas senyumnya kepada Omella. "Nih, minum hangat dulu sini!"


Horta berdoa di dalam hati. Semoga hari ini Omella aman dan bahagia, kegiatan pemotretan dan syuting hari ini juga lancar. Maka dengan demikian tanggung jawabnya terpenuhi. Dan Omella jauh dari Badra.


...*...


"Yakin lokasinya di daerah sini, Bil?"


Rega bertanya di belakang roda setir. Ia yang mengemudikan mobil, menggantikan sopir keluarga yang diambil alih oleh Mama mereka. Sementara itu, saudara kembarnya duduk di kursi penumpang, tepat di sebelahnya, masih asyik menikmati mimpi. Kacamata hitam terpampang menutupi matanya yang masih menutup.


Pagi ini bungsu kesayangan keluarga Narendra minta untuk ditemani duo kembar ke lokasi kerja. Bukan untuk jadi teman menunggu ataupun pengganggu. Rega dan Rocky diminta si bungsu untuk menggantikan dirinya melakukan survei lokasi untuk dijadikan latar lokasi dalam game mereka yang baru.


Biasanya Exal dan Billy yang melakukan semua itu. Namun melihat padatnya jadwal pemotretan dan syuting yang harus dilakukannya hari ini, si bungsu yakin, baik dia maupun Billy tidak akan punya cukup waktu untuk survei. Tidak ingin membuang peluang, mumpung ada kesempatan ke lokasi bagus seperti yang ditujunya sekarang, si kembar pun digaet si bungsu.


Bagai hukum yang wajib meski tak tertulis dalam istana Nagendra, permintaan apapun yang keluar dari mulut si bungsu adalah titah yang sangat dinanti-nanti. Tidak seorang pun akan menolak atau melakukan titah si bungsu dengan terpaksa. Sebab, mereka tahu, si bungsu yang sempat hiper introvert hanya akan bersikap manja di depan mereka dan hanya akan meminta bantuan ketika dirinya sendiri merasa sangat tidak mampu.


Maka, tidak ada alasan bagi semua orang untuk tidak menyayanginya, membantunya, mendukungnya. Bahkan cenderung memanjakannya. Bagi mereka, Exalphus Nagendra adalah harta keluarga yang paling rapuh dan berharga, layak dijaga dan dilimpahi dengan cinta.


Tak sampai sepuluh menit kemudian, mobil mereka memasuki area parkir. Dari kaca jendela mobil nampak pemandangan yang sibuk di luar sana. Beberapa orang yang sepertinya bagian dari kru tampak berseliweran. Tiang-tiang tripod dan lampu sorot telah terpasang di beberapa titik.


"Kalian mulai pemotretan jam berapa, sih?" Rega bertanya sembari menepuk Rocky, membangunkannya. Rocky menggeliat. Melirik arlojinya, masih lima dua belas. Matahari bahkan belum benar-benar terbit. Di luar jendela kabut tipis masih terus membayang.


"Masih satu setengah jam lagi, sih, Kak. Tapi kan butuh siap-siap. Exal belum dirias dan ganti kostum. Nanti perlu ketemu sutradaranya juga. Sebentar ya, saya telepon PIC-nya dulu." Billy berkutat dengan ponselnya. Selang dua-tiga detik, "Iya, pagi juga, Mas Horta. Kami di area parkir. ... Baik. Kami tunggu di lobi, ya, Mas. Makasih." Billy mengakhiri percakapan. "Yuk," ajaknya turun.


Kehadiran mereka begitu menyita perhatian. Empat laki-laki ganteng turun dari mobil. Si kembar Rega dan Rocky menurunkan kotak peralatan. Di dalamnya ada tripod portabel beserta kamera kecil dan drone. Rega juga membawa tasnya yang berisikan satu gulung sleeping bag, keperluan pribadinya dan Rocky, serta buku sketsa miliknya dan segulung pensil dengan ketebalan berbeda.


Bagai pangeran setengah malaikat turun ke bumi, si kembar, Billy dan Exal sukses membuat kehebohan di sepanjang area parkir hingga lobi. Jika sehari sebelumnya kehadiran Billy dan Exal sudah membuat para kru perempuan kembang kempis dan sulit bernapas semasa di lokasi pemotretan indoor di dalam gedung bank, mereka kembali mengulanginya, terhadap kru perempuan dan orang-orang di luar kru yang ada di resort.


Gawat, pikir Horta. Ia cemas tidak dapat mengendalikan situasi. Kali ini lokasi pemotretan outdoor dan benar-benar terbuka.


Belajar dari pengalaman hari pertama, sebetulnya Horta sudah bersiap dengan mengisolasi tempat. Kemarin upaya itu lebih mudah dilakukan. Selain lokasi pemotretan indoor, gedung tempat pemotretan pun adalah gedung bank tempatnya bekerja. Itu masih area kekuasaannya. Otoritasnya berlaku absolut, apalagi ia adalah penanggung jawab, koordinator utama. Semua orang patuh kepadanya.


Masalahnya hari ini dia ada jauh di luar kantor. Dan, mendadak ia dikabari oleh anak buahnya bahwa ada empat model yang datang, bukannya dua. Horta pun bergegas ke lobi resort untuk memastikan yang terjadi. Mengertilah Horta, mengapa semua orang jadi heboh. Rega, Rocky, Billy dan X+ALT adalah empat model selebriti yang tengah naik daun. Soal Billy dan X+ALT memang dia yang mengundang dan mempekerjakan. Soal Rega dan Rocky, ....


Billy dengan bijaksana menjelaskan kehadiran si kembar. Tanpa menjelaskan keduanya adalah kakak dari model utama yang sedang dikontrak, Billy mencoba membuat Horta memahami situasi mereka. Billy juga mengatakan si kembar punya agenda berbeda dan menjamin kehadiran dan aktivitas mereka tidak akan mengganggu proyek X+ALT.


Horta dengan senang hati menerima kehadiran Rega dan Rocky. Lagipula model kembar itu punya agenda sendiri. Kehadiran mereka memang membuat heboh. Tetapi sebagai orang di luar proyek, mereka punya hak untuk menginap dan berkegiatan di resort yang sama.


Tidak mengapalah, selagi tidak berbeturan dan mengganggu kelancaran proyek masing-masing, pikir Horta. Lagipula ini justru keuntungan baginya. Bisa membangun relasi dan menyimpan kontak model besar sekelas Rega dan Rocky, pasti kelak bermanfaat.


Maka, Rega dan Rocky pun memesan sebuah paviliun yang cukup untuk mereka berempat. Setelah bersiap, keduanya keluar dan berniat kembali menemui si bungsu dan Billy. Mereka perlu berkoordinasi sekali lagi, memastikan konsep lokasi yang perlu dicari dalam survei nanti. Jangan sampai mereka terpaksa harus mengganggu Billy dan si bungsu sekadar menanyakan hal-hal terkait keperluan survei.


"Oky, udah belum? Kok lama, sih?" tanya Rega. Ia mengalungkan sebuah kamera DSLR di lehernya. Satu tas hitam besar berbentuk kotak ada di dekat kakinya. Rega berdiri bersandar di tembok kayu. Sesekali ia menyeka lensa kamera di tangannya dengan sehelai lap berserat mikro. "Oky?"


"Bentar! Nyari batere buat cadangan! Jatuh!" Jawab yang di dalam kamar. Rega melirik ke dalam dengan bete. Hiih, ceroboh, batinnya menggerutu. Maka sambil menunggu saudara kembarnya keluar kamar, Rega mencoba lensa kameranya.


Ia mengarahkan kamera ke ujung lorong dan beberapa kali mengganti fokusnya. Di ujung lorong lewatlah laki-laki yang ia kenali sebagai Horta. Ya, itu laki-laki yang tadi berbincang-bincang dengan mereka di lobi. Horta tampak sedang berbicara dengan orang lain. Ih iya. Ternyata di belakangnya ada orang lain.

__ADS_1


Rega kembali memusatkan fokusnya kepada Horta dan... Kagetlah Rega melihat teman bicara Horta. Tampak wajah perempuan yang dikenalinya. Perempuan itu tersenyum manis kepada Horta.


"Dia?" Rega kaget, menggumam. "Kok dia di sini?"


Tidak tahu apa yang mereka perbincangkan. Perempuan itu lalu mengenakan masker. Horta tertawa. Ia merangkulkan lengannya kepada perempuan itu. Keduanya tampak akrab.


Deg!


Ada sekelumit perasaan yang tidak dapat diartikan Rega. Munculnya tiba-tiba. Namun ia mengenali salah satunya. Melihat kedekatan Omella dengan Horta, ada rasa tidak suka. Saat Rega ingin memastikan apakah yang dilihatnya benar atau salah, ujung lorong sudah sepi. Tidak ada orang lagi.


"Woy! Kunci, mana kunci?"


Dan suara Rocky mengaburkan segalanya.


Ahh, Omella. Semoga aku tadi hanya salah lihat.


...* *...


"Ey, halo, Mbak! Kita ketemu lagi!" Billy hampir melonjak kegirangan. Ia tidak menyangka Horta menganggapi perkataannya kemarin dengan serius.


"Kirain Mbak hari ini nggak bisa datang. Mas Horta kemarin bilangnya periasnya hari ini ganti. Eh, nggak jadi ternyata." Billy benar-benar meluapkan kegembiraannya.


"Iya, Mas Billy. Perias kita termasuk orang yang jadwalnya super padat. Saya sampai memohon-mohon dan ternyata perias kita baik hati. Kerja bareng lagi deh kita," ujar Horta sama-sama bersemangat. Ia seperti sengaja banyak bicara demi mewakili Omella.


Horta sebetulnya sudah dapat membaca, kakaknya sepertinya enggan banyak bicara. Meski belum tahu pasti alasannya, Horta tidak berusaha untuk bertanya kepada Omella. Ia tahu, Omella bisa saja merasa tidak nyaman dengan rasa ingin tahunya. Selagi situasi aman, Onella bisa beraktivitas dengan nyaman, Horta sanggup menahan diri dan kepo-nya.


Omella menanggapinya dengan anggukan sopan dan senyuman dari balik masker. Ia tidak tahu, mesti senang atau tidak. Senang karena bisa membantu adiknya. Senang karena hasil kerjanya dinilai baik. Senang karena ia dianggap sebagai penata rias dan kostum yang andal, meski itu bukan profesinya. Sejatinya seorang Omelette Gressa adalah perancang busana. Begitulah ia ingin dikenang.


"Mas Billy, boleh ikut saya sebentar selagi mas X+ALT bersiap-siap? Ada yang perlu kita bahas," pinta Horta.


"Oke. Mbak, silakan kalau mau mulai. X+ALT baru ke kamar kecil. Sebentar lagi kembali. Nanti.. Nah, udah datang orangnya."


Exal menyapa Horta lalu berjalan masuk ke ruangan. Melihat kehadiran Omella, ia terkejut tapi segera tersenyum sopan, mengangguk menyapa. Omella langsung menyilakan Exal untuk duduk di kursi rias. Exal menurut. Begitu ia duduk, Omella langsung memposisikan diri berdiri di belakang Exal. Kini keduanya menghadap cermin. Lalu kedua tangan Omella merangkum kedua pipi Exal dari belakang. Exal terkejut.


Deg-deg-deg!


Lho! Debaran jantungku kenapa lebih cepat dari biasanya? Sebentar. Kayanya aku gugup. Tapi gugup kenapa?


"Ini mbaknya yang kemarin. Kamu tenang aja. Nggak usah grogi. Oke? Aku tinggal sebentar ke depan. Ada yang perlu kuobrolin sama Mas Horta."


"Hm." Exal mengangguk patuh. Ia mencoba menenangkan diri. Gugup tanpa alasan. Konyol, batin Exal. Horta dan Billy sudah pergi. Tinggal dirinya dan mbak perias yang kemarin dalam ruangan itu. Tidak tahu siapa namanya. Panggil 'mbak' atau 'mbak MUA' atau 'mbak perias' saja sepertinya sudah cukup, kan, batin Exal lagi.


Omella sejak awal memang tidak menyebutkan namanya. Terlebih setelah tahu orang yang diriasnya adalah orang yang dengan galak memarahinya soal sketsa tokoh game waktu itu. Tidak bertemu di Rumah Mode Madam Shanty, kenapa juga malah bertemu di tempat kerja yang lain. Bahkan hari ini semesta mempertemukan mereka lagi.


Sekalipun dalam hati berontak dan menolak, ia tetap saja tidak akan tega mengecewakan harapan Horta. Adiknya itu sangat berusaha untuk bisa bekerja di luar dunia mode dan kamera. Setidaknya bukan sebagai obyek dan pelaku.


Susah payah Horta mempertahankan posisinya sebagai karyawan bank biasa. Bukan sebagai duta, model iklan, dan orang yang bekerja di depan kamera. Sekarang, walau tetap belum bisa dengan mudah lepas dari mode dan kamera, Hortensius Gressa bisa bekerja dari balik layar dan tetap diakui sebagai staf kantor, karyawan bank di bagian pemasaran. Mengerjakan proyek iklan dan aneka publikasi banknya kini menjadi pekerjaan Horta.


Maka, betapa jahatnya Omella jika menolak permintaan adiknya itu. Hanya hal semacam ini yang bisa ia lakukan untuk Horta. Bantuan-bantuan kecil yang menurut Horta sangat ahli dilakukan oleh Omella.


Di luar perkiraan, Omella kembali bertemu dengan bos XT Corp. Exal ternyata adalah model yang dikontrak bank tempat Horta bekerja. Omella mana tahu, bos perusahaan game online itu terpaksa ditemuinya lagi dan lagi, bahkan di luar konteks kerjanya di rumah mode.


"Ehem. Ehem," Exal berdeham. "Kita pernah ketemu di mana, ya?"


Hampir copot jantung Omella mendengar pertanyaan Exal yang tiba-tiba. Dia bingung harus menjawab atau tidak. Kalaupun menjawab, harus jawab apa? Jujur saja, gitu? Kalau orangnya tiba-tiba marah lalu ngambek tidak mau melanjutkan kerjanya dalam proyek bank Horta, bisa runyam nanti. Kasihan Horta, dong.


"Saya lupa. Mbak ingat?" Exal bertanya lagi.


Omella menggeleng.


"Ah. Oke."


Setelah itu Exal tidak bertanya lagi. Omella lega. Ia membiarkan Exal berkutat dengan rasa ingin tahu yang belum terjawab. Exal pun mulai diriasnya.


Omella kembali melihat story board. Riasan fantasi. Lalu ia melirik kostum yang harus dikenakan Exal. Kostum itu mirip kostum pendekar dengan gaya kontemporer. Mungkin Exal perlu memerankan karakter game. Omella memutar otak, mencari ide riasannya. Perlahan ia mengamati fitur wajah Exal.


Exal bingung. Mbak periasnya mendadak berdiri mengamatinya. Exal balik mengamati. Masih dengan kacamata berbingkai tebal dan masker menutupi wajahnya. Kali ini perias itu mengenakan masker buatan tangan dengan ikon stroberi kecil di satu sisi. Unik, batin Exal.

__ADS_1


Mendadak, mbak perias itu membungkuk, mengharapkan wajahnya dengan wajah Exal. Exal duduk mematung. Jantungnya kembali berdebar lebih cepat. Apalagi sekarang mata perempuan itu segaris dengan matanya. Keduanya berhadapan. Exal setengah mati mengatur napasnya yang memburu.


Omella mengamati fitur kening, garis alis, kelopak mata dan bingkai mata Exal dengan seksama. Selama lima detik saja sebuah gagasan konsep riasan mata dan wajah terbentuk di dalam kepalanya.


Cus! Langsung eksekusi!


Dengan cekatan ia mengambil pensil alis, membuat garis, membentuk lengkungan tipis, mengarsir, menatanya. Omella melengkaoinya dengan pemulas warna gelap, memanfaatkan warna-warna gradasi, dan melengkapi dengan shading pada beberapa bagian.


Selesai merias wajah, Omella membalik arah kursi lalu mulai menata rambut Exal yang sebelumnya sudah ia pasangkan wig panjang. Ia menata ulang rambut Exal, menghiasnya dengan sebentuk mahkota kecil yang direkanya sendiri dari beberapa jepit rambut bermata manik-manik plastik, sesuai sketsa karakter yang diingatnya dalam kepala. Ia mengambil cat kuku sewarna kostum yang akan dikenakan Exal lalu mengaplikasikan cat itu ke manik-manik pada mahkota kecil yang dibuatnya.


Exal mengamati semua yang dilakukan oleh Omella. Muncul rasa kagum dalam benak Exal melihat aksi dan kreasi Omella. Tindakan Omella memantik sebuah ide baru di kepala Exal untuk bisa ditambahkan dalam game-nya.


Exal juga tidak keberatan banyak berdiam saat dirias oleh Omella. Sejak pertama kali Omella meriasnya, tepatnya kemarin, Exal sudah klik. Ia merasa nyaman ditangani Omella. Padahal sebelumnya Exal termasuk tukang protes dan ahli menggerutu. Tentunya semua protes dan gerutuannya itu ia ungkaplan kepada Billy. Barulah oleh Billy disampaikan kepada orang yang bersangkutan dengan bahasa yang lebih sopan dan manusiawi.


"Bisa tolong berdiri, hadap sana?" Omella meminta Exal berdiri usai mengambil body cap, jubah alas rias dari badan Exal. Sisa-sisa riasan dan beberapa helai potongan rambut palsu yang tadi sempat diguntingnya dan menempel pada tepian kemeja dan punggung tangan Exal dibersihkan perlahan.


Exal menyukai cara Omella menepuk-nepuk punggung tangannya. Bagi Exal, sentuhan Omella di kulitnya terasa lembut. Mulailah kehangatan menjalar dalam hati Exal. Perlahan Exal tersenyum tanpa sadar. Ia melirik Omella, mencoba mencuri pandang dari mata cantik tanpa riasan yang bersembunyi di balik bingkai tebal kacamata.


Omella pun sepertinya tahu, Exal memperhatikannya sedari tadi. Berulangkali Omella terpaksa berdeham. Ia sendiri jadi salah tingkah. Namun, demi Horta, ia menguatkan hati, berusaha menuntaskan tugasnya sepenuh hati. Omella, fokus, batinnya.


Belum sempat Exal melihat hasil riasan wajah dan tatanan rambutnya, Omella langsung menyodorkan kostum untuk dipakai Exal. Herannya, Exal pun menurut saja. Padahal Exal sebetulnya penasaran, bagaimana nasib mahkota kecil buatan periasnya itu? Apakah terlihat bagus di rambutnya? Mendadak Exal lupa soal itu. Dia hanya tahu harus bergegas mengenakan kostum, sesuai permintaan periasnya tadi.


Begitu selesai berganti pakaian dan mengenakan kostum siap pakai di kamar ganti, Exal berniat merapikan diri. Ia berbalik mengarah pada cermin besar di sisi kanan dan kiri dinding. Terkesiap. Exal melihat pantulannya di cermin dengan mulut ternganga. Penampilannya saat ini terkesan luar biasa gagah, tampan, hebat, melebihi gambaran sketsa tokoh siapapun yang dapat ia bayangkan saat melihat kostum yang mesti ia kenakan.


Exal memandangi dirinya yang di cermin. Dirinya seperti karakter game yang hidup, dibawa dari dunia game ke dunia nyata. Kostumnya berpadu dengan riasan wajah dengan dominasi pada mata, juga tatanan rambut dengan mahkota kecil buatan perias itu, membuatnya terlihat sempurna dalam menampilkan karakter yang diminta.


Ada lonjakan emosi yang bergemuruh di dadanya. Exal jadi ingin menangis karena sangat bahagia. Inilah yang ia harapkan. Bahkan jauh lebih baik.


Deg!


Tersadarlah Exal. Ia lalu bergegas keluar dari ruang ganti, mendapati Omella sedang membereskan peralatan riasnya. Exal membalik tubuh Omella sehingga mereka kini berhadapan. Menyadari perbedaan tinggi tubuh mereka, Exal pun membungkuk, menyetarakan pandangannya dengan Omella. Debaran jantungnya sendiri kini tak keruan.


"Kamu dia, kan? Perancang yang bikin sketsa Oditi? Itu kamu, kan?" Exal mengguncang tubuh Omella. "Kamu, kan? Omella, kan?"


Waduh, aku ketahuan!


Omella kaget, panik, tapi hanya bisa diam. Tubuhnya yang mungil kini dalam cengkeraman kedua lengan Exal. Mata Exal memandanginya tajam dengan ekspresi yang bercampur. Omella kehilangan suara, tak mampu berkata-kata.


Pintu ruang rias dibuka dari luar. Suara Billy memecah keheningan. "Halo, apakah udah... siap?"


Dan suasana pun menjadi canggung.


...* * *...


Angka jam tangan dijital pada pojok layar kamera mendekati pukul dua belas, menjelang waktu makan siang. Rocky mendaratkan drone dengan mulus di tanah berlantai lempengan batu.


"Ky, cari makan, yuk! Lapar, nih," ajak Rega.


"Ya." Rocky menyahut cepat. Keduanya pun membereskan peralatan dengan sigap dan hati-hati.


"Ky, perempuan itu di sini, lo," kata Rega.


Saudara kembarnya menoleh. "Dia?" Kernyitan di keningnya menunjukkan keheranan. "Miss Gressa?" tanya Rocky dan dijawab anggukan oleh Rega. "Halu! Dia bukannya masih kerja jam segini? Lagian jauh kali, Ga, kantor Mama sama tempat ini." Tetiba gerakan tangan Rocky saat melipat kaki-kaki tripod berhenti. "Kecuali dia hari ini bolos atau izin nggak kerja di tempat Mama. Ya, kan?"


Rega mengangguk. "Mungkin. Nggak tahu kalau soal itu. Tadinya aku pikir, aku salah lihat. Tapi..., nggak. Itu emang dia, kok."


"Beneran, Ga?" Rocky menyeringai senang. Terlebih saat kembarannya itu mengangguk. "Asik! Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Emang ya, namanya jodoh itu nggak akan ke mana. Dia masih di sini, Ga?" Rega mengangguk menjawab Rocky. "Di resto ini? Di mana?" Rocky celingukan.


"Terakhir aku lihat dia di lokasi pemotretan. Kayanya dia yang merias dan ngurusin kostum dalam proyek ini."


"Haah? Serius, Ga? Gawat! Si Bungsu tahu nggak? Omella kan yang bikin sketsa itu?" wajah Rocky berubah panik.


"Tenang. Ada Billy di sana. Kalau Billy kewalahan nanganin si bungsu, pasti kita sudah dihubungi dari tadi, kan?"


"Ah. Iya juga, sih, Ga." Rocky menjadi lebih tenang. Keduanya lalu berjalan kembali ke resort.


"Lagian, sebetulnya tadi aku lihat yang lain. Horta, cowok yang ngobrol sama kita tadi pagi, kayanya juga dekat sama Miss Gressa." Perkataan Rega membuat Rocky menoleh kaget. "Mereka kayanya cukup dekat. Jangan-jangan mereka pacaran, ya, Ky? Duh, siap patah hati, nih, kalo beneran begitu."

__ADS_1


"Woy! Jangan mikir sembarangan, dong! Kan duluan kita yang naksir dia? Masa iya, keduluan cowok lain! Nggak, nggak bisa! Gue nggak terima! Kalau emang si Horta-horta itu pacarnya, ayo, Ga, kita gebukin dia!" Rocky pun berjalan cepat, mendului Rega.


"Lho! Ky? Oky! Jangan ngaco, dong! Okyyy!"


__ADS_2