Diari Mantan Pacar

Diari Mantan Pacar
Badra dan Cerita Lalu


__ADS_3

"Cahaya, engkau datang lagi. Tepat saat duniaku terasa sesak dan gelap. Aku mulai hidup lagi."


Lonceng katedral berbunyi tepat ketika matahari di atas kepala. Badra menginjak bayangannya sendiri. Dengan tubuhnya yang menjulang, ia berjalan tegap menuju area pedestrian dengan pergola. Di atas pergola itu Bougenville merah muda dan ungu bermekaran sempurna.


Kota Kembang saat musim hujan kadang punya hari-hari khusus untuk panas. Hujan tetap turun. Hanya, waktunya kadang hanya pagi, hanya sore, atau malam sampai dini hari. Hari ini pasti salah satu dari hari khusus itu. Setelah awan berkawan merundung langit pada pagi hari, hujan deras menyapu seluruh jalanan padat seputaran Buah Batu. Lalu siang harinya jalanan kering seutuhnya, seakan-akan guyuran air dari langit sepagi tadi mitos belaka.


Langkah Badra terburu-buru. Ia sudah punya janji bertemu seseorang. Bisa dibilang, Beliau kenalan lama almarhum ayahnya. Badra belum pernah bertemu dengan Beliau. Hanya dari kisah-kisah yang dituturkan ayahnya Badra menangkap gambaran seorang pekerjaan keras yang cerdas, humoris, tangguh, dan lembah-manah, begitu rendah hati. Badra hanya tahu namanya Pak Beni.


Sejak percakapan terakhir lewat telepon, ibunya hanya berpesan supaya Badra datang ke kantor Pak Beni tanggal 2 Mei sekitar waktu makan siang. Konon Pak Beni juga berpesan lewat ibunya, Badra wajib, harus datang. Dan, pesan sponsor lainnya yang juga disebut penting oleh ibunya dan Pak Beni, Badra hanya boleh sarapan. Dia tidak diperkenankan makan apapun lagi setelahnya sampai waktunya ia datang dan menemui Pak Beni di kantornya. Mungkin Pak Beni sangat berharap supaya Badra mau diajak makan siang bersama.


Badra yakin ia datang ke alamat yang tepat. Cuma, melihat megah dan besarnya bangunan yang dituliskan sebagai kantor Pak Beni dalam catatan dijital di ponselnya membuat Badra ragu. Maka, Badra memberanikan diri mengirim pesan singkat kepada Pak Beni. Iya, dia sudah punya nomor kontak Beliau. Hanya, karena sungkan dan takut mengganggu aktivitas Beliau, Badra menahan diri untuk tidak sedikit-sedikit menghubungi Beliau sekadar menanyakan kejrlasan alamat kantornya.


Sekarang mestinya sudah memasuki waktu istirahat siangdalam rangkaian jam kerja umumnya. Jadi, Badra berani menulis pesan yang intinya dia sudah sampai di depan halaman kantor.


Mungkin sebaiknya ia menelepon, bukannya hanya mengirim pesan. Masalahnya pulsa dan dananya mepet kritis. Daripada naik taksi atau ojek, Badra pun tadi memilih naik angkutan kota. Jalan sedikit sembari mencari alamat, bukan masalah baginya. Asalkan bisa sampai di lokasi yang tepat dan tidak terlambat, bisa menemui orang yang janjian dengannya, itu cukup.


Sambil menunggu balasan pesannya, Badra memutuskan mendatangi pos satpam sekalian memastikan ia mendatangi lokasi yang tepat. Setelah mengutarakan maksud kedatangannya, kejutan demi kejutan pun dimulai bagi Badra.


"Pak Beni? Beni saha, nya? Nama lengkapnya siapa?" Salah seorang petugas berpakaian hitam-hitam bertanya kepadanya. Badra menggeleng, tidak tahu.


"Atau departemennya atuh, divisi apa ya, De?" Petugas lainnya ikut bertanya.


"Itu saya juga kurang tahu, Pak," aku Badra.


Dua petugas yang berjaga saling menatap, bingung tidak bisa membantu. "Ya udah, orangnya kaya apa atuh? Ada fotonya teu, De?"


Badra menggeleng lagi. Nomor kontak Pak Beni yang disimapnnya juga tidak dilengkapi foto profil dan petunjuk apapun, seakan nomor itu nomor baru, belum ada informasi pelengkap apapun yang disertakan. Kedua petugas itu pun garuk-garuk kepala.


Salahnya juga. Bukankah ia perlu menanyakan hal-hal semacam itu kepada Pak Beni supaya lebih jelas saat menghadapi situasi seperti ini? "Tapi kami sudah janjian, Pak. Saya juga diminta datang ke alamat ini."


"Iya. Alamatnya mah bener, De. Masalahnya Pak Beni yang Ade cari teh Pak Beni yang mana? Karyawan di sini teh ratusan, De. Takut salah manggil orang. Bisi ngaganggu wayahna istirahat siang."


Tampak seorang petugas lain datang. Langkahnya cepat, sedikit berlari. "Kang, kalo ada tamu dari Jogja namanya ini diminta segera anterin ke lobi. Tamunya Big Boss!" Disodorkannya oleh petugas itu selembar kertas catatan kepada dua petugas di pos jaga. "Badra Ar-dha-ni?"


Badra melonjak. "Nah! Itu nama saya, Pak!" Ia mengeluarkan kartu pelajaran dari dalam dompet di saku belakang celananya. Kedua petugas memeriksa kartu pengenalnya.


"Lah, Ade ini Badra Ardhani?" Ditanya begitu, Badra mengangguk bersemangat. Kartu pelajarnya dikembalikan. "Dari Jogja?" tanya petugas lagi. Dijawab anggukan sopan dan kalem oleh Badra.

__ADS_1


"Ayo, De! Udah ditunggu Boss Beni di dalam," ujar petugas yang datang terakhir seraya mengajak Badra meninggalkan pos jaga dan berjalan menuju lobi. "Udah lama sampainya kitu, De?"


Obrolan singkat dengan petugas itu lumayan membuka mata Badra akan siapa sebenarnya sahabat kental almarhum ayahnya. Pak Beni alias Bos Beni, alias Big Boss ternyata seorang pengusaha sukses, pemimpin tertinggi, orang kaya dan pembesar dunia bisnis yang mau nongkrong dengan para satpam di warung tenda sambil ngopi bandrex dan makan bala-bala atau comro tanpa takut gengsinya runtuh.


Begitulah penuturan petugas yang mengantarkan Badra ke lobi, lanjut ke lift, lanjut ke lantai dua belas, lalu menuju ruang tunggu mewah dengan karpet marun empuk sebagai alasnya. Dalam hatinya Badra cukup grogi. Ia sama sekali tidak membayangkan menemui seseorang yang begitu istimewa.


Wah, sosok yang awalnya abu-abu dalam benak Badra kini mulai muncul dalam wujud sketsa kasar. Bos besar. Barangkali orangnya seusia ayahnya. Badannya mungkin gemuk atau malah gendut. Biasanya orang sukses yang disebut bos besar berbadan tambun, kan? Seperti dalam film-film yang ia tahu. Kalau bukan badannya yang besar, bajunya deh. Bukan besar, melainkan mewah perlente. Pakai setelan jas mahal lengkap dengan dasinya, sepatu kulit pantofel mengkilap, lalu barangkali juga pakai kacamata hitam.


Rambutnya? Umm, klimis bergaya dengan pomade, itu kalau masih punya rambut lebat. Kalau rambutnya menipis mungkin nyaris botak bahkan botak sama sekali. Tidak tahulah, Badra menepis penggambarannya sendiri dalam batin.


Seorang perempuan berpenampilan rapi dengan ramah memanggil namanya. "Mas Badra, dari Jogja?" Badra mengangguk. Perempuan itu rupanya seorang sekretaris. Dari kartu pengenal yang terkalung tertulis namanya. Erlin. Diajaknya Badra memasuki ruang direktur.


Suara seorang laki-laki terdengar dari balik kursi besar coklat tua. Badra belum bisa melihat wajahnya. "Oke, Senor Pedro, hablamos más la próxima semana. Muchas Gracias." (Baik, Pak Pedro, kita bicarakan kelanjutannya pekan depan. Terima kasih. - bhs. Spanyol)


Nadanya bicara begitu bersemangat, hangat, dan nular-able hingga dapat dirasakan oleh Badra.


Inikah Pak Beni yang disebut big boss alias bos besar itu? Beliau tidak besar. Tapi jelas seorang bos. Benar kata almarhum ayahnya. Pak Beni itu seorang poliglot. Bukankah baru saja ia mendengar Beliau menutup percakapan telepon dengan bahasa Spanyol? Kira-kira seperti apa kepribadiannya, ya, Badra penasaran.


"Weh! Anakku lanang wis teka, ta?" (Anak lelakiku sudah tiba? - bhs. Jawa)


Wah!


Caranya menyebut nama Badra lebih seperti seorang ayah yang dengan antusias penuh kerinduan menyambut bayi yang pertama kali disambut kehadirannya ke dunia. "Akhirnya kita ketemu ya Badraaa!" Ia memeluk Badra dengan sukacita yang besar, setidaknya itulah yang dirasakan Badra. Pelukan seorang ayah yang dekat dengan putranya. Seakan-akan Badra memanglah anaknya.


"Kamu mirip Bapakmu! Eh, enggak ding! Kamu jauh lebih tinggi dan ganteng! Saya ini adik kelas Bapakmu. Tapi karena saya dianggap bandel, guru-guru sengaja menyuruh saya ikut kelas Bapakmu yang tiga angkatan di atas saya."


Beliau mengajak Badra berbincang sambil makan siang di kantin perusahaan. Lengannya merangkul Badra akrab. Sesekali ia menyapa dan disapa karyawan yang juga ikut makan di sana.


Setelah beberapa waktu dari pertemuan itu barulah Badra ketahui, karyawan di sana diberi fasilitas makan dan minum oleh perusahaan. Menunya beragam, sangat sehat, dan rasanya enak!


Malahan, seluruh bahan makanan dan minuman yang dipakai dapur kantor berasal dari rumah sayur dan peternakan yang juga dikelola oleh anak perusahaan di lokasi terpisah. Ini adalah kebijakan yang diberlakukan di seluruh anak perusahaan Benito Young Corporation. Bahkan kemudian diadaptasi oleh beberapa perusahaan yang tergabung dalam Benito Group.


Acara makan siang menjadi ajang temu kangen beda generasi. Padahal ini ki pertama keduanya saling melihat wajah dan penampilan satu sama lain. Namun, siapapun yang melihat mereka berbincang pasti mengira keduanya adalah kerabat dekat atau kenalan yang sangat akrab.


Badra dan Pak Beni pun bertukar cerita. Badra mengenalkan dirinya sebagai putra sulung ayahnya. Ia punya seorang adik perempuan yang masih sekolah di Yogyakarta dan tinggal bersama ibunya.


Sedikit cerita soal kehidupan sekolah dan keseharian mereka berikut harapannya sendiri untuk bisa berkuliah menarik rasa ingin tahu Pak Beni. Terlebih saat Badra mengatakan ia berniat mencari kerja sambilan dan menunda kuliah karena memang terantuk masalah biaya. Beasiswa kuliah memang ada. Namun kebutuhan operasional juga membutuhkan dana yang lumayan besar.

__ADS_1


"Draaa, Badra. Ada tekad, usaha, dan doa, pasti ada jalan dan hasil. Kamu juga anakku. Soal kuliah, beres. Hanya, mau nggak kita berkomitmen? Kamu jadi anakku. Anak asuhku. Kau nggak akan mendikte dan mengatur hidupmu. Aku hanya memberi arahan dan menyediakan diri untukmu menggali segala pengalan dan pelajaran hidupku untuk hidupmu."


Mendengar perkataan itu, Badra tertegun. Cara Pak Beni berbicara nyaris seperti ayahnya ketika masih ada. Ia melihat ayahnya hidup kembali dalam sosok lelaki yang ternyata lebih muda tiga tahun dari almarhum ayahnya. "Kenapa Bapak mau menjadikan saya anak asuh? Ayah saya ada utang piutang dengan Bapak?"


Pak Beni menggeleng. "Diantara kami tidak ada itu, yang namanya utang piutang. Anakku ya anak ayahmu. Kamu dan adikmu juga anak-anakku. Ini soal janji. Janji itu harus ditepati. Dra, aku sudah janji sama ayahmu. Kamu harus jadi manusia yang bermanfaat, bagi kemuliaan Tuhan dan sesama. Ad maiorem Dei gloriam. Man for others. Seperti semboyan sekolah dan hidup kami."


Dan sederet rangkaian kata yang akhirnya membuat Badra mengerti. Inilah barangkali wujud pengalaman nyata, persahabatan lebih erat daripada ikatan darah. Bagaimana bisa Pak Beni langsung percaya bahwa dirinya sungguh-sungguh anak dari sahabatnya dulu?


Badra pun heran, mengapa ia langsung merasa akrab dan terikat secara batin kepada Pak Beni. Dalam satu kali pertemuan yang durasinya saja belum genap satu jam, kehangatan yang terasa melebihi pertemuan bertahun-tahun. Sungguh tidak dapat dinalar. Terlebih saat Pak Beni bercerita tentang secuil kisahnya. Badra jadi semakin merasa Pak Beni bukan orang asing melainkan ayah keduanya.


Pak Beni mengaku yatim-piatu sejak kecil. Ia tumbuh dan bertahan hidup dengan sedekah serta kepedulian orang. Tanpa kerabat dan asal-usul yang jelas, ia lalu diangkat anak oleh seorang pedagang wedang tahu di Kota Lumpia. Dari orang tua angkatnyalah ia memiliki nama Benito dengan marga Young. Sebelum itu, ia tidak punya nama yang jelas.


Orang tua asuh Pak Beni bukanlah keluarga berada. Namun semangat dan teladan kerja keras menjadi bekal Benito muda hingga mengantarnya pada kesuksesan saat ini.


Beni kecil terbiasa hidup berpindah-pindah, mengikuti keluarga asuhnya. Hingga Beni dan ayah Badra bertemu sebagai anak bawang dan senior dalam setiap permainan ketika sama-sama menetap di sebuah desa kecil dekat Kali Bawang, Kulonprogo. Beni yang sudah telanjur dilompatkan tiga angkatan lalu menjadi satu angkatan dengan ayah Badra sewaktu menempuh sekolah homogen khusus laki-laki di Kota Yogyakarta.


Keduanya tidak pernah putus komunikasi meski terpisah jarak dan waktu. Bisa dibilang, tidak ada kesempatan untuk bertemu. Namun, untuk terus bertukar kabar menjadi komitmen seumur hidup bagi keduanya.


Sebatas bertelepon, memang. Jangankan video call, , bahkan untuk saling bertukar foto pun mereka tidak mau. Bukan karena tidak bisa atau gaptek, melainkan terikat janji semasa muda. Janji untuk berbincang bertatap muka pada suatu saat entah kapan terpaksa kandas sebatas harapan dan cita-cita. Kadung ayah Badra meninggal satu tahun silam, mendului sahabatnya.


Tiga puluh dua menit berlalu saat sekretaris Pak Beni datang, menghentikan perbincangan mereka. Kabar yang dibawa menjadi tambahan kejutan bagi Badra.


"Lho! Meeting sama Dato Atsaari jadinya malam ini, Lin?" Pak Beni membelalakkan mata saat mbak Erlin, sekretarisnya menginformasikan jadwal rapat penting terbaru. "Waduh. Padahal obrolan kita baru aja mulai," sesal Pak Beni. "Oh, gini aja. Badra punya paspor?"


"Paspor? Punya, Pak." Paspor, buat apa nanya paspor, batin Badra.


"Dibawa, nggak?"


Badra mengangguk. Belum lama Badra pulang dari Benua Kangguru untuk duta pelaku seni tingkat pelajar, mewakili sekolahnya sebagai penari klasik Jogja. Tepatnya satu bulan sebelum ujian kelulusan. Buku paspor selalu dibawanya, entah kenapa. Hari ini sepertinya paspornya akan digunakan lagi.


"Oke. Ayo, ikut! Urusan kita belum selesai, Dra. Nanti kamu pulangnya sama aku."


Seperti iklan tiga detik. Kejutaaan! Dua jam berikutnya Badra sudah berjalan di samping Pak Beni di Bandar Seri Begawan. Sekitar satu setengah jam ia mengamati dan menyimak perbincangan seru nan berbobot antara Pak Beni dan Dato Atsaari, seorang dosen teknik perminyakan di sebuah kampus di Brunei.


Badra melamun semenit, menghitung segepok berkat tak terduganya hari itum Tiket vice versa dibayari penuh. Ditambah kesempatan menikmati kopi Brunei. Lalu numpang duduk di lobi satu-satunya bandara internasional Kota Petro Dollar, buang air kecil di toilet bandara dan sekali di toilet resto tempat pertemuan diadakan. Di sana ia bisa ngemil kue wajik yang nama Brunei-nya wajid dan makan malam mie goreng dengan aroma saus tiram pekat yang kata mbak Erlin memang khas ala Brunei.


Malamnya Badra diajak nongkrong menikmati jagung bakar di teras rumah Pak Beni. Bersama kedua anak Pak Beni, Damar yang seusianya, dan Kara, lima tahun di bawahnya, Badra mendadak merasa dunianya kembali ceria. Dunia yang sempat suram, gelap, mencekik menyesakkan usai ditinggal ayahnya berpulang kini mulai diterangi cahaya. Dunianya tidak lagi terasa begitu dingin dan mengecil, menyempit. Ada kehangatan. Ada harapan.

__ADS_1


Hujan rinai membuat suasana malam kian syahdu. Terlindung kanopi di halaman rumah bergaya Belanda jadul di kawasan Taman Anggrek, di belakang Jalan W.R. Supratman, Bandung, Badra dan Pak Beni melanjutkan perbincangan yang terhenti siang tadi. Tentang komitmen dan rencana masa depan. Tentang kehidupan dan kelanjutannya.


Ini adalah kisah delapan tahun yang lalu. Kisah pertemuan langsung antara Badra Ardhani, anak sulung kebanggaan ayahnya, dengan seorang bos besar dari Benito Young Corporation. Kisah sebelum akhirnya Badra memutuskan memanggil ayah keduanya itu dengan sebutan hormat dan sayang, Boss Beni.


__ADS_2