Diari Mantan Pacar

Diari Mantan Pacar
Ketakutan Akan Masa Lalu


__ADS_3

"Matahari akan terbit dan terbenam setiap hari dan itu pasti."


Gelisah. Dua butir telur nyaris saja dikocok bersama kulitnya. Masih bagus telur-telur itu tidak tergelincir dari telapak tangan anak sulung keluarga Gressa.


"Badra? Bukannya dia kerja di luar negeri? Kok... Ah, ya udahlah! Terus, Omella bilang apa lagi, Ta?"


Janice bertanya sembari mengelap tangannya dengan celemek yang terpasang di badan. Matanya melirik ke sembarang arah, mengikuti rasa hatinya yang gundah. Baru beberapa hari ia tidak pulang ke rumah, sudah ada peristiwa yang membuatnya was-was. Kalau saja anak-anak tidak sedang mengikuti acara sekolah dan mengharuskan mereka menginap, dia pasti menyediakan diri di rumah. Pastinya, dia akan memperhatikan Omella, bukannya ikut membantu seksi konsumsi di dapur rumah retret mengurusi catering anak-anak.


Semenjak mendapat kabar dari Horta soal kejadian yang dialami Omella di tempat kerja, pikiran Janice jadi tak keruan. Adik bungsunya itu menelepon tengah malam dan mengatakan Omella bertemu Badra. Roda waktu serasa berhenti seiring nama Badra kembali terngiang di telinga Janice.


Mungkin Horta juga mengalami kegelisahan yang sama dengannya. Sampai-sampai adik kecilnya itu tidak sanggup menunggu pagi untuk menelepon, setelah memastikan Omella sudah tidur tentunya. Keduanya sadar, Omella kini hanya punya mereka. Tidak ada lagi yang tersisa. Sudah delapan tahun berlalu. Kini datang orang dari masa lalu. Baginya dan Horta, hidup akan berjalan sewajarnya. Namun bagi si anak tengah, akankah semua baik-baik saja?


"Ta, lanjutin! Terus Omella bilang apa lagi?" Janice mendesak.


[Dia tanya soal alasan dia putus. Kak Omella lupa kenapa dia pisah sama Kak Badra.]


Janice menyangga tubuhnya dengan kedua tangan yang gemetaran di atas meja. "Kamu jawab apa?"


[Aku hanya menggeleng. Nggak bilang apa-apa, Kak.]


Janice menghela napas, lega. "Apa lagi?"


[Tadi cuma begitu, sih, Kak. Mungkin baru hari ini mereka ketemu lagi. Aku sempat cek juga di ponsel Kak Omella begitu dia tidur. Nggak ada nama Badra di ponselnya. Berarti mereka belum sempat berkomunikasi lebih jauh. Ahh, jangan sampai, deh. Aku telepon Kak Janice karena kaget dan rada cemas. Takutnya... ]


Horta terdiam, tidak meneruskan kalimatnya. Lalu...


[Ahh, bisa gila karena cemas, nih, aku. Kalau mereka saling kontak lagi, terus terjadi sesuatu yang buruk dengan Kak Omella sementara kita nggak sda di dekatnya, gimana coba? Aku nggak yakin, kondisi Kak Omella sudah siap untuk itu. Atau... Kak, apa perlu kita bikin janji lagi dengan psikiater? Hitung-hitung, menyiapkan mentalnya, Kak.]


"Nanti dulu. Kita lihat perkembangannya. Besok kamu kabari kakak lagi. Kalau memang sangat diperlukan, kamu bisa menghubungi klinik yang biasanya," ujar Janice.


[Oke, Kak. Kakak pulang kapan? Aku bisa mengulur waktu dan mengalihkan perhatian Kak Omella sampai Kakak datang. Aku bisa cuti. Tapi paling tidak, aku perlu tahu, Kakak pulang kapan?]


...*...


Alarm jam waker begitu berisik walau baru berbunyi beberapa detik. Kelopak mata Omella masih terasa berat. Namun, ia bangun juga. Aroma telur yang digoreng menyeruak ke dalam kamarnya. Itu cukup untuk membuatnya seratus persen hidup kembali.


"Pagi, Tataaa," sapanya. Kepalanya menyembul di balik pintu dapur. "Tata masak apa?"


Horta, dengan celemek di badan, tangan kanan dan kirinya sibuk dengan alat masak, melirik Omella sekilas. Ia tersenyum, "Nasi goreng telor mentari pagi. Punyamu yang pedas manis."


"Aaakk! Sukaaa!" Omella berseru girang. Bisa menikmati sarapan yang dibuat adiknya adalah sebentuk kemewahan pagi yang walau menyenangkan tetap saja mencurigakan. "Makasih Tata. Tumben? Dalam rangka apa, nih?"


Horta nyengir usil. "Aku lagi baik." Lalu ia mengajak Omella duduk. Mendengarnya, Omella tertawa. "Udah, sarapan yuk," ajaknya kepada Omella. Meja makan pun telah ia tata. Sudah tersedia di meja, segelas jus stroberi untuk kakaknya dan secangkir kopi untuk dirinya.


Mungkin hanya dia dan Tuhan yang tahu, betapa gelisahnya dia mencari cara untuk membuat Omella tidak bekerja hari ini. Alasannya, Badra. Horta tidak ingin Omella bertemu Badra lagi hari ini. Jangan secepat ini, batinnya.


Omella menikmati sarapannya dengan lahap. Ini waktunya, batin Tata membulatkan niatnya.


Horta tersenyum. "Alllkisah. Tadi pagi aku dapat telepon penting. Hari ini ada syuting iklan dan pemotretan untuk promo program baru dari kantor. Juru rias dan penata kostumnya malah nggak bisa datang. Mereka baru ikut tim syuting film apa gitu yang di luar kota dan ada perubahan jadwal. Nggak mungkin mereka sampai tepat waktu. Nah, karena itu..."


"Kamu mau minta supaya aku bantuin cari MUA dan orang kostum buat gantiin mereka hari ini?" Omella menebak cepat. Omella menggeleng. "Susah, Ta, kalau mendadak. Aku nggak bisa janji."


"Iya, Kak. Pasti susah," komentar Horta. Lalu katanya, "Hari ini Kakak sibuk, nggak? Harus ikut meeting atau ada acara apa gitu, di rumah mode?"


"Umm, nggak ada acara khusus, sih. Hanya kerja, kaya biasanya. Kenapa emangnya?"


Horta tersenyum lebar dan memandang Omella penuh makna. "Kakak aja kalo gitu."

__ADS_1


"Kakak aja gimana maksud kamu?"


"Kakak aja yang bantuin aku. Berarti, dalam lima belas menit kita harus udah selesai sarapan. Paling lambat setengah tujuh kita berangkat. Habis ini Kakak mandi, dandan cantik, terus aku culik, ya. Makasih." Belum sempat Omella menanggapi, Horta sudah meraih ponsel lalu menelepon. "Halo, Pak. Juru rias dan kostum udah beres, Pak. Kita bisa syuting hari ini."


Omella memandangi adiknya dengan terkejut dan kesal. "Aku bahkan belum bilang apa-apa, lo! Terus aku harus bolos kerja?"


...* *...


Billy tampak serius memeriksa agenda di tablet yang dipangkunya. Satu tangannya berfokus pada layar tablet. Sementara tangan yang lain memegangi kotak bekal yang ia sodorkan ke penumpang di sebelahnya. Di dalam kotak itu ada bitterballen dan salad sayuran buatan Salma.


"Hari ini mulai jam delapan. Seperti biasa, persiapan satu jam sebelumnya. Kita akan sampai tepat waktu. Diperkirakan hari ini selesai jam dua. Habis itu balik ke rumah mode untuk ketemu Bos Mami dan desainer yang kemarin. Malam ada pemotretan lagi untuk iklan. Ada koreksi atau tambahan?" Billy mendongak, menyadari kotak bekal di tangannya belum berpindah. "Hey, sambil sarapan, dong! Udah dibawain, nih!"


Penumpang di sebelahnya menyambut kotak bekal dari tangan Billy.


"Nah, gitu dong. Dihabisin," kata Billy. "Oh iya, dengan tambahan pemasukan hari ini lumayanlah untuk nambah beberapa persen modal game kita. Tapi, tetap saja, masih kurang. Kecuali kita dapat proyek lain lagi. Kenapa nggak minta Bos Babe ikut investasi? Pinjam, deh. Pasti boleh. Jadi, kita nggak perlu cari investor lagi."


Ups. Penumpang di sebelah menoleh, menghadiahi Billy dengan tatapan galak. "Sejak kapan kamu jadi bodoh?" Exalphus Nagendra memandangi Billy dengan kesal. "Pagi-pagi ngajakin berantem, nih?"


Senyum usil tersungging di wajah Billy. "Bercanda! Emangnya aku nggak kenal kamu?" Billy terkekeh. Kita udah nggak butuh investor kok. Nih," Billy memperlihatkan tabel agenda kegiatan yang padat kepada rekan semobilnya. Dia tahu betul tabiat sahabatnya. Pantang meminta bantuan selagi masih bisa berusaha. Belum pernah Billy mendapati Exal merepoti orang lain kalau tidak sangat terpaksa.


Exal juga tidak pernah mau menggunakan nama besar keluarganya demi meraih tujuan pribadi. Terbukti, XT Corp yang didirikan tiga tahun yang lalu tidak sekalipun menggunakan nama keluarga. Kalaupun Rega dan Rocky Nagendra terlibat sebagai dewan pengawas, kedua kakak kembar Exal itu pun tidak memanfaatkan nama dan kuasa bisnis keluarga. "Oh iya, soal nama game kita. Gimana kalau namanya The Battle of Oditi?"


"Ada ide lain?"


Billy berpikir serius. "The War of Oditi? Oditi Land? Lady Oditi? Throne of The Lady?"


"Ahh. Kenapa Oditi lagi, sih? Aku malah kepingin angkat yang lain. Dia emang karakter utama. Tapi pakai nama Oditi untuk nama game kesannya feminim banget. Kita bicarakan nanti aja."


Billy tertawa. "Ahh, maaf. Kurasa aku jatuh cinta sama Lady Oditi. Tambah cinta setelah lihat sketsa yang digambar desainer Mama kamu, Xal. Wah, andai aja itu manusia beneran, aku ajak dia ke altar!"


"Buat dikorbankan?"


Mobil yang membawa mereka menepi. Suasana masih cukup lengang. Hanya terlihat dua penjaga keamanan yang berkeliling dan satu petugas kebersihan yang sedang bekerja. Exal dan Billy keluar dari mobil, berjalan menyusuri lorong parkir menuju lift.


"Xal, emang mbak-mbak desainer yang bikin sketsa Oditi masih nggak mau bilang, dia dapat bocoran informasi dari siapa?" tanya Billy. Exal menggeleng.


"Makanya aku perlu ketemu dia untuk mendapat penjelasan. Semoga bukan karena salah satu dari tim kita ada yang sengaja membeberkan data karakter dan segala sesuatu tentang game kita. Kalau itu yang terjadi, aku nggak tahu harus bersikap gimana."


Billy mengangguk memahami maksud Exal. Ia pun mengharapkan hal yang sama. Pintu lift hampir saja menutup kalau saja sepatu Billy tidak menahannya. Maka, pintu lift terbuka lagi. Billy menarik Exal masuk, bergabung dengan tiga orang lainnya yang sudah ada di dalam. Mungkin mereka karyawan di sana. Agak tidak mungkin ada tamu kantor yang datang pada waktu sepagi itu.


"Desainernya cantik, nggak?" goda Billy lirih saat pintu lift sudah menutup. Ia sekalian ingin menjaga mood Exal. Daripada membuat Exal kesal pagi-pagi dengan membicarakan sketsa, lebih baik mengalihkan topik yang lebih ringan.


"Percuma cantik kalau tukang tipu," jawab Exal, sama-sama lirih. "Dia bilang sketsa Oditi bersumber dari mimpi. Maksudnya dia dapat wangsit, pesan dari langit disuruh gambar Oditi, gitu? Halah! Alasan receh. Dasar penipu! Pasti dia sudah biasa bohongin orang."


"Prfff! Hehehe!" Billy tak dapat menahan tawanya. Tapi karena tidak enak dengan para pengguna lift lainnya, Billy meredam tawanya.


"Kok bisa dia dipercaya jadi desainer di rumah mode sebesar itu? Berarti dia ini penipu hebat. Kita harus waspada, Bil! Jangan sampai kita diperdaya sama dia, kena tipu juga."


"Oke, Bos. Sekarang, kita kerja dulu. Soal dia, kita pikirin nanti," ujar Billy.


TING! Pintu lift membuka. Billy, Exal dan yang lainnya berurutan keluar dari lift. Tanpa diketahui yang lainnya, orang terpendek di urutan paling belakang meredam kekesalan yang besar dalam diam.


...* * *...


"Halo, Mas Billy. Kita ketemu lagi. Apa kabar hari ini?" Horta menyambut hangat kehadiran Billy. Sebagai penanggung jawab produksi promosi kali ini, Horta turun tangan bernegosiasi dengan model utama. Billu, sang manajer model juga sangat tertib, dinamis, dan kooperatif.


"Kenalin, Mas Horta. Ini model kita. Xal, ini Mas Horta, CIP kita," ujar Billy mengenalkan mereka. Sang model menyambut dengan senyuman yang sama hangatnya.

__ADS_1


Dalam hati, Horta mengagumi model itu. Selain tampan, model itu juga profesional. Terbukti, sang model datang jauh sebelum waktu kerja, semata demi mematangkan persiapan secara pribadi dan tim di lokasi. Wajahnya segar, ramah, dan tampak kooperatif.


Lain dengan model-model iklan yang pernah ia tangani sebelumnya. Datang mepet, bahkan telat lalu ada pula yang masih tahu diri untuk minta maaf dengan berbagai alasan walau masih mengeluh begini begitu dengan serentet permintaan yang kadang di luar akal sehat manusia normal. Lagipula jarang ada yang mau datang pagi begini. Kalaupun ada, biasanya datang dengan mata panda, wajah mengantuk, atau aroma tubuh khas keringat pagi bermandikan pewangi dari ujung rambut hingga pucuk kuku kaki.


Bagi Horta, kebiasaan sok artis yang semacam itu bukanlah hal yang baru. Hanya, nama orang yang bersangkutan sudah pasti akan masuk daftar kuning, merah, bahkan hitam dalam catatan khususnya. Lain cerita ketika bertemu dengan orang yang low profile, disiplin, dan kooperatif. Model yang beken dengan nama X+ALT ini, misalnya. Namanya akan masuk dalam daftar biru milik Horta. Biru untuk label profesional. Hijau untuk label aman, kooperatif. Model mereka hari ini sepertinya masuk buku hijau dengan label biru.


"Baik, kalau begitu untuk shoot yang pagi kalian bisa pelajari dulu story board-nya. Dialognya sedikit. Hanya beberapa kata dan satu kalimat pendek. Selebihnya untuk adegan action, nanti pakai CGI. Set baru dicek ulang, biar lebih aman aja." Horta memberikan penjelasan. Billy dan sang model tampak menyimak, serius mendengarkan. "Oh iya, bisa mulai dirias, mungkin?"


"Oh, ya, tentu. Bisa banget, Mas. Xal, siap kan?"


Exal mengangguk, lalu duduk menghadap cermin. Horta membuka pintu ruang rias, memanggil kru. Lalu, seorang perempuan masuk. Tubuhnya tidak terlalu mungil tapi pastinya lebih pendek dari Horta, Billy, dan Exal. Perempuan itu mengenakan masker. Rambutnya tergelung ke atas. Tersisa poni yang membingkai alis dan beberapa helai anak rambut jatuh di pipinya. Sebagian wajahnya tertutup masker warna pink bergambar stroberi.


"Tolongin ya, Kak. Cik? Cika! Sini! Cika, kamu ikut bantuin di sini, ya. Kostum yang di situ tolong dibawa ke sini," kata Horta kepada seorang lagi. Seorang gadis lain membawa masuk tiga setel pakaian yang terbungkus rapi lalu terpana memandangi Exal dan Billy. Dengan terbata, perempuan itu meminta izin untuk berfoto bersama, dan dibolehkan.


"Aku nge-fans sama kalian, lo," ujar Cika histeris berulangkali dan tampak salah tingkah. "Pak Horta, saya minta foto juga sama Bapak, ya! Buat kenang-kenangan, Pak," pinta Cika.


"Lho! Saya juga? Kenapa saya ikutan difoto?" tanya Horta bingung.


"Habisnya Bapak juga ganteng!" Jawaban Cika membuat Horta tersipu, tepatnya malu terhadap Billy dan sang model iklan. Billy tertawa geli melihat tingkah perempuan itu dan respon Horta, sementara Exal hanya tersenyum, standar.


Perempuan yang mengenakan masker hanya berdiri acuh dan santai di sudut lain. Diam-diam Exal mengamati perempuan itu. Cuek banget, batin Exal. Mungkin dia sudah terbiasa bekerja dengan orang terkenal, jadi sikapnya seperti itu, pikir Exal lagi.


"Mau ikutan foto juga?" Billy menawari perempuan satunya yang memakai masker. Perempuan itu menggeleng. Ia malah menawarkan diri memegangi ponsel yang dipakai untuk memotret. Perempuan bernama Cika itu minta difoto bersama Exal, Billy, dan Horta. Kesempatan bagus difoto bersama tiga laki-laki ganteng. Ketiganya memang model. Bedanya, hanya Horta yang model dadakan. Horta memilih untuk bekerja sebagai orang kantoran biasa.


Selesai berfoto, Horta meminta Cika meninggalkan ruangan. Horta agak takut, Cika malah tidak bisa bekerja dengan baik karena terlampau grogi berada di dekat idolanya. Selesai 'mengusir' Cika, Horta mendekati perempuan bermasker.


"Nanti aku bantu. Aku cek yang lainnya dulu. Oke?" pinta Horta lembut. Perempuan itu mengangguk. "Semangat!" Horta menepuk kedua pundak perempuan itu, memberi dukungan. Billy dan Exal memperhatikan dari pantulan cermin di depan mereka. "Oke, saya tinggal dulu. Kalau ada masalah, mas Billy langsung kontak saya aja. Semangat Semuanya!"Horta pun meninggalkan ruangan.


"Selamat pagi. Kita mulai riasnya, ya," sapa perempuan itu. Exal mengangguk dan bersiap di kursinya. Matanya dan mata perempuan itu sesekali saling bertemu. Exal merasa pernah melihat sepasang mata itu. Ia sedikit akrab dengan cara memandang dan sorot mata itu. Tapi, di mana, ya?


"Maaf? Apa kita pernah ketemu sebelum ini?" Billy yang tadinya asyik mengamati halaman demi halaman majalah mode di tangannya spontan mendongak mendengar pertanyaan Exal. Perempuan yang ditanya sempat terdiam sedetik.


"Hm," Perempuan itu mengangguk sambil terus merapikan tatanan rambut Exal.


"Di mana, ya?" Exal bertanya lagi.


Perempuan itu hanya menatap mata Exal sekilas sambil merapikan perkakas riasnya. Ia lalu mengambil kostum dan meminta Exal mengenakan kostum itu. "Silakan pakai yang ini. Ruang ganti di dalam."


Ponsel Billy berbunyi, "Ya? ... Oh, oke!" ia menyudahi percakapan. "Lima menit ganti kostum cukup? Kita diminta ke lokasi. Set dan kru udah siap." Exal mengangguk.


"Kalau begitu, saya tunggu di depan," kata perempuan itu. Dengan cekatan meja rias sudah rapi. Billy sempat kaget dengan kecepatan dan kesigapan perias itu. Rapi, tertata, cekatan, efisien. Keren, batin Billy. Apalagi perempuan itu bekerja seorang diri. Biasanya seorang perias didampingi seorang asisten, terlebih jika kostum juga dipercayakan kepadanya. Ini kok sendirian bisa? Tangkas dan rapi pula. Tidak berantakan dan rusuh dengan tisu atau kapas di mana-mana.


"Perlu saya bantu?" Billy menawarkan diri. "Itu berat, kan?"


Perempuan itu menggeleng, menolak dengan sopan tanpa terkesan angkuh. "Saya ada troli, kok, Mas. Terima kasih atas tawaran Mas. Oke, saya tunggu di luar dekat pintu, ya, Mas."


Billy dengan terpaksa mengiyakan. "Juru rias andal semacam dia pasti banyak dicari orang. Aku sih senang kalau punya MUA hebat kaya dia. Hasil riasanmu juga bagus, Xal. Aku mau minta nomornya, ah! Kali aja suatu saat butuh jasanya."


Dari balik ruang ganti Exal keluar, sudah mengenakan kostum. "Asal jangan kamu godain aja dia. Kayanya dia ada hubungan khusus sama Mas Horta." Exal berujar lirih. Ia sempat mendengarkan perbincangan Billy tadi. Maka, ia yakin, perempuan itu ada di depan pintu dan cukup bisa mendengarkan perbincangan mereka jika volume bicara mereka normal.


"Tahu dari mana?" Billy mendekat, berbisik.


Exal mematut diri di depan cermin. "Kamu nggak lihat perlakuan Horta ke cewek itu? Aku sih yakin, mereka dekat. Berharap aja semoga Mas Horta baru pedekate sama cewek itu. Betewe, aku pernah ketemu dia di mana, ya?"


"Dirias sama dia? Selama aku yang nemenin kamu, aku yakin ini kali pertama aku lihat perias kaya dia. Terampil, efektif, efisien, sedikit bicara dan banyak kerja," kata Billy. "Dan nggak cari muka atau curi-curi kesempatan."


Exal melirik Billy di cermin. Dalam hati, iya setuju dengan Billy soal terampil dan apalah tadi. Tapi ia sudah pasti pernah bertemu dengan perempuan itu. Kalau bukan dirias olehnya, lantas mereka bertemu di mana dan berinteraksi dalam hal apa?

__ADS_1


"Siap? Yuk, kita ke lokasi!" Ajakan Billy menghentikan keingintahuan Exal untuk sementara. Kini, ia harus bekerja.


__ADS_2