
"Saat hujan turun dengan manja dan bayangmu ada di mana-mana, apakah ini pertanda kalau terhadapmu aku mulai suka?"
Omella mengisi gelasnya penuh dengan air mineral. Debaran jantungnya masih cepat. Seperti habis berlari. Iya. Omella memang baru saja berlari. Lari dari ruang kecil yang disulap karena alasan teknis jadi ruang rias. Juga lari dari kenyataan.
Apa itu tadi? Kenapa cowok itu tahu-tahu main peluk aja?
Tidak ingin melanjutkan pemikirannya dengan hal-hal yang absurd, Omella segera meminum air dari gelasnya. Diteguknya banyak-banyak.
Gimana aku bisa bertahan sampai besok sore? Malam ini nginap. Besok dia syuting. Masa iya, aku minta digantiin? Emang ada juru rias dadakan? Kalau aku nekad bertahan, terus dia bertindak macam-macam ke aku, gimana dong? Tapi, masa sih, dia orang kaya begitu? Bisa aja, kan? Atau aku aja yang mikir aneh-aneh?
Dari luar pintu terdengar derap Horta yang berlarian. Panik. Ia mencari-cari Omella. Dia harus segera menemukannya untuk tahu kejelasan.
"Kakak! Hooh-hooh-hooh!" Horta berhenti tiba-tiba begitu melihat kakaknya di dalam sebuah ruangan. Kehadirannya juga membuat kakaknya kaget.
"Apa, Ta? Gimana? Ada apa?" tanya Omella panik.
"Kakak itu yang 'ada apa'. Kenapa Kakak lari-lari? Kakak diapain orang?" Wajah Horta juga panik. .
Omella menggeleng. "Nggak kenapa-napa. Emang napa?"
"Ahh!" Horta melorot di lantai. Punggungnya disandarkan ke dinding. "Syukur deh Kakak nggak kenapa-napa. Lihat Kakak lari-lari ke sini tadi kupikir terjadi sesuatu yang buruk sama Kakak." Horta tertawa, memandang wajah kakaknya. "Bener, Kakak nggak kenapa-napa? Terus kenapa lari?"
Omella ikut duduk di lantai, tepat di sebelah Horta. "Habisnya kamu nyiksa orang nggak kira-kira."
Horta kaget. "Lah? Aku? Nyiksa orang? Siapa? Nyiksa gimana?"
"Tata, sih. Nyebelin!"
Horta menghadap kakaknya. Semakin kaget. "Aku? Nyebelin? Kok bisa? Salahku apa?"
"Aku tuh senang bisa bantuin kamu, Ta. Cuma, kesal aja. Kamu kan sejak awal nggak bilang kalo ada orang aneh itu." Omella mulai cemberut.
"Orang aneh? Aneh gimana? Siapa, sih? Kakak cerita yang jelas, dong!"
Omella menghela napas. "Ingat sketsa aneh yang aku bikin pagi-pagi?" Horta mengangguk. Lanjut Omella, "inget juga, 'kan, aku dimarahin orang aneh gara-gara sketsa itu?"
"Ingat," Horta kembali mengangguk.
"Nah. Aku ketemu dia lagi. Malah, ini hari kedua ketemu dia. Terpaksa."
Tatapan Horta jadi kaget dan cemas. "Terus? Kakak dimarahin lagi sama dia?"
Omella menggeleng. "Dimarahin sih enggak. Dipeluk, iya."
"Haah?" Horta kaget. "Dipeluk? Dia cowok, 'kan, Kak? Kurang ajar! Nggak ada sopan-sopannya tuh orang. Maksudnya apa, kok meluk Kakak? Jangan bilang, dia emang orang mesum!"
Omella mengendik bahu. "Nggak tahulah, Ta. Ahhh. Dasar orang aneh!"
"Ntar dulu. Kakak belum bilang orangnya siapa. Kalo Kakak ketemu orang aneh itu selagi bantuin aku, berarti aku kenal dia, dong?"
"Iyalah. Dia kan model iklan kantor kamu!"
Jantung Horta siap melompat mendengar jawaban kakaknya. "Maksud Kakak, orang aneh itu X+ALT?"
...*...
Air muka Badra tampak kecewa. Untung saja percakapan berlangsung lewat telepon kantor biasa dan bukannya telekonferensi. Badra tidak perlu repot menyembunyikan wajahnya yang kusut.
"Berarti kita akan rapat tanpa desainer?" Badra mengonfirmasi. Desainer yang dimaksudnya tak lain adalah Omella. "Nggak mungkin, dong, kita meeting nggak ada dia! Yang paham dan bisa diajakin ngobrol soal sketsa kan dia. Katanya, izin sampai kapan?"
Sengaja Badra menelepon ke Rumah Mode Madam Shanty untuk mengatur rapat tripartit antara Benito Young Corp, XT Corp, dan Rumah Mode Madam Shanty. Dia ingin memastikan bisa kembali bertemu dengan Omella. Saking besarnya keinginan itu, Badra sengaja mengatur sendiri pertemuan penting itu tanpa meminta bantuan Adinia. Sang Sekretaris sampai melongo karena ulahnya itu.
__ADS_1
"Kalau begitu, kita meeting saat semua lengkap aja. Tolong diatur secepatnya, ya," pinta Badra. Di belakangnya, Adinia berdiri dengan wajah sungkan. Pasalnya, atasannya sepertinya lupa bahwa tidak setiap orang adalah bawahannya. Terlebih jika sedang kesal. Tanpa sadar Badra kerap mendominasi. Bukankah baru saja Badra memberi mandat orang kantor sebelah?
"Pak! Biar saya saja," Adinia lirih mengingatkan untuk kesekian kalinya. Badra pun menyerah. Akhirnya. Mungkin karena ujung perbincangan tidak sesuai dengan yang diharapkannya.
Badra menyerahkan telepon lalu menjauhi mejanya. Ia memilih berjalan menuju jendela. Di sanalah ia biasa melamun. Tidak banyak yang tahu tentang aktivitas Badra yang satu itu. Di sela kesibukannya Badra tidak pernah absen meluangkan waktu untuk melamun meski hanya semenitan.
Di sinilah Badra berdiri sekarang. Di titik favoritnya. Tepat pada kelokan ruangan, dengan pantulan matahari pukul sembilan pagi, segelas besar teh melati hangat di tangan, dan lamunan yang tak jelas ujung pangkalnya.
Nah, Badra mulai melamun. Tema lamunannya sekali lagi tak jelas dan cenderung bebas. Kadang tentang ide bisnis. Atau soal teknis kerjasama yang sedang berjalan. Bisa juga tentang hidupnya atau keluarganya. Dan yang paling sering adalah tentang romansa masa lalunya. Soal cinta pertama dan kisah yang berakhir tanpa pernah ingin ia akhiri.
Takdir membawamu kembali kepadaku, Omella. Apa kabarmu? Ke mana saja kamu? Aku mencarimu. Aku menunggumu. Aku merindukanmu. Kamu nggak kangen aku? Apa mungkin kamu sudah melupakan aku? Aku punya banyak pertanyaan untukmu, Sayang. Ahh, hehehe, 'sayang'. Apa aku masih boleh memanggilmu 'sayang'? Apa kisah kita benar-benar sudah berakhir?
"Sayang?"
Hah! Omella?
Segeralah Badra menoleh, mencari orang yang memanggilnya 'sayang'.
"Oh. Kara?" Badra kecewa. Untungnya ekspresi wajahnya biasa saja. Kara menghampiri Badra, mengelus lembut puncak bahunya. Sekilas kecupan Kara mendarat singkat di pipi Badra.
"Selamat pagi, Sayang," sapa Kara. Sengaja gadis cantik itu memeluk Badra dari belakang. Tingginya hak sepatu yang ia kenakan membuatnya bisa menyandarkan kepala dengan manja di bahu Badra. Sebagai jawaban selamat pagi, Badra hanya berdeham pendek. Ia malah sok sibuk menyeruput teh melatinya.
Sayang, katanya? Mestinya panggilan itu hanya kamu yang menyebutnya untukku. Apakah kamu rela membiarkan perempuan lain memanggilku dengan sebutan itu? Omella, apa kita masih bisa melanjutkan cerita kita?
...* *...
Billy memelototi Exal yang masih terus berpose. Dari tempatnya berdiri, Billy sibuk dalam bungkamnya. Exal tampak pura-pura fokus. Billy dengan mudah bisa melihat itu. Bukan sehari dua hari ia mengenal Exal. Dia paham betul sosok Exal. Orang lain bisa saja terkelabuhi. Tapi di depannya, Exal harus berusaha sangat keras untuk menjadi orang lain.
Sejak momen canggung di ruang rias hingga sesi pemotretan Exal yang akan berakhir dalam beberapa menit, Billy terus menerka apa sebenarnya yang terjadi antara sahabatnya itu dengan mbak perias yang lupa ia tanyakan namanya. Bahkan kru saja tidak seorang pun yang mengetahui nama perempuan itu. Kok bisa, tanya Billy dalam batin. Artinya, hanya Horta yang mengenal perempuan itu.
Siapa, sih, cewek itu? Apa hubungannya dengan Exal? Sejak kapan mereka berhubungan?
Billy merasa kecolongan. Hampir semua perempuan di lingkaran pergaulan Exal dikenal Billy. Malah, Billy yang biasanya menjadi tameng dan juru bicara bagi Exal kalau sudah berurusan dengan kaum hawa. Maka, hawa yang tadi itu bisa dibilang kekhilafan Billy. Dia tidak tahu sama sekali informasi tentangnya. Bahkan namanya juga dia tidak tahu. Padahal ini hari keduanya bekerjasama dengan si mbak perias anonim itu.
"Oke, kita istirahat makan siang dulu ya! Satu jam lagi kru siap, ya! X+ALT jam tiga siap di set dua, ya!"
Horta kembali ke tengah set. Sekadar membubarkan sesi pertama hari itu dan mengajak semua orang beristirahat. Horta mendekati Billy dan Exal.
"Butuh bantuan?" Horta menawarkan diri. Sengaja ia mendekati musuh. Itu kalau model iklan kantornya perlu diidentifikasi sebagai musuh. Sebelum salah memposisikan orang, Horta memilih mencari tahu dan mengenali orang itu. Bagaimanapun ini berkaitan dengan kakak yang harus ia lindungi.
"Em, Omella mana?" Pertanyaan wajar Exal cukup mengejutkan Horta dan Billy. Ketiganya saling memandang bergantian dengan pemikiran masing-masing.
Horta ingat betul, Omella mengatakan sengaja tidak menyebutkan nama kepada sang model dan manajernya. Omella juga sengaja menyembunyikan dirinya dengan masker dan kacamata berbingkai tebal. Masih ditambah irit bersuara dan meminimalkan interaksi selain dalam hal merias dan mengurus kostum sang model. Bagaimana bisa Omella dikenali? Semudah itukah kakaknya ketahuan?
Dalam hatinya Billy menjerit histeris, kaget luar biasa. Di luar perkiraannya, Exal si manusia dingin mengetahui nama mbak perias. Omella, katanya tadi? Berarti benar dugaannya. Sahabatnya itu kenal dengan perempuan yang baru ia dengar namanya. Perempuan, lho! Omella? Siapa Omella ini? Apa hubungannya dengan Exal? Kapan mereka saling mengenal? Dalam hal apa dan sejauh mana urusan itu? Ahh, tidak! Kali ini Billy sungguh-sungguh kecolongan.
Exaaal! Apa lagi kejutanmu setelah ini, he? Beraninya kamu menyembunyikan hal sepenting ini dari aku? Dasar kura-kura perahu! Tunggu dulu. Exal ngapain tanya-tanya soal Omella? Si Omella itu ke mana, di mana, lagi apa, urusan dialah.
"Aku butuh ganti kostum lagi dan ini, memperbaiki riasan, 'kan?"
Penjelasan Exal yang terlontar tanpa ditanya menjadi jawaban atas keheranan manajernya, juga Horta. Betapa logis penjelasan itu. Singkat, sederhana, jelas, dan masuk akal. Maka, semestinya baik Horta maupun Billy tidak perlu punya kecurigaan atau pemikiran lain. Ya 'kan? Atau...?
"Oh iya. Ini jam istirahat, 'kan? Biar aja mbak Omella istirahat dulu. Outfit Exal biar saya aja yang bantu ganti dengan baju biasa," kata Billy. Sebelum Exal protes dan Horta semoar berkomentar, Billy sudah menarik Exal berjalan menjauh. Mereka kembali ke ruang rias.
Ketika jarak mereka sudah cukup jauh dan aman dari jangkauan Horta, barulah Billy menanyai Exal. "Bro, apa yang kamu sembunyikan dari aku?"
"Hah? Maksud kamu?" tanya Exal polos.
"Jelasin! Siapa Omella?" gertak Billy. "Kamu kenal dia di mana, kapan, dan apa hubungan kalian?"
...* * *...
__ADS_1
Exal mendadak merasa rindu. Tanpa penyebab yang jelas. Tanpa alasan yang tegas. Hanya ada rindu.
Apa mungkin karena setiap melihat pantulannya di cermin dengan mengenakan kostum karakter game ia jadi teringat kepadanya? Atau mungkin saat ia berpose memegang kepala dan rambutnya, ia lalu teringat kepada orang yang menatanya? Bisa jadi karena setiap melihat hasil jepretan juru kamera atas pemotretannya hari itu mengingatkan dia akan sketsa yang dibuat oleh orang itu? Barangkali juga karena pelukan singkat yang begitu spontan darinya membuat debaran jantungnya tak menentu. Iya, Exal mengakui tadi pagi dirinya sempat bersikap impulsif.
Intinya adalah Exal merindukan Omella. Iya Omella. Perempuan berbadan mungil dengan masker dan kacamata yang menutupi sebagian besar wajahnya. Perempuan yang begitu cekatan dalam bekerja tanpa banyak bicara. Perempuan yang punya daya kreasi luar biasa dan mampu menuangkan idenya dengan gemilang dalam waktu sangat amat singkat. Perempuan yang membuatnya marah dan ia tuduh sebagai penipu, pencuri ide, dan tuduhan buruk lainnya.
Maka, atas segala reaksi bodohnya, Exal berutang maaf kepada perempuan itu. Oleh karena itu, Exal berusaha untuk mencari kesempatan berbicara empat mata dengan Omella. Masalahnya, ada dua pasang mata lainnya yang terus mengawasi dirinya juga perempuan itu. Billy, sahabat sekaligus manajernya, entah didasari alasan apa mendadak menjadi magnet yang mengganggunya. Horta juga, sama saja. Dia mengekor pada Omella.
Sepasang mata tajam Exal menyelidik Billy dan Horta dari pantulan cermin. Di bawah pengawasan mata mereka, Exal merasa tidak leluasa untuk berinteraksi dengan Omella. Padahal ia sudah menantikan kesempatan untuk berdua saja dengan Omella.
Exal duduk di kursi rias. Tubuhnya dilapis body cap hitam. Omella kembali menata rambutnya dengan gaya lain. Sekarang ia mengenakan hiasan lain pada rambutnya. Exal 90% yakin, hiasan kali ini pun sepertinya Omella yang membuatkan. Sama halnya dengan mahkota dadakan yang ia kenakan sepanjang sesi awal pemotretan. Hiasan kali ini sepertinya pengganti mahkota biasa. Bentuknya unik. Seperti tanduk tapi hanya separuh sisi. Pokoknya keren dan kreatif, menurutnya. Ingin rasanya ia memuji hasil karya Omella. Tapi, dua orang ini... Ahh, mengganggu saja, keluhnya dalam hati.
"Kalian nggak ada kerjaan lain? Harus di sini?" tanya Exal lugas. Exal memang bukan manusia yang doyan berbasa-basi. Lain dengan Horta juga Billy. Tuntutan pekerjaan membuat mereka perlu lebih banyak bicara dan pandai memilih teknik berbicara yang tepat. Basa-basi adalah salah satu softskill tidak tertulis yang sebaiknya mereka kuasai.
"Aku cukup berdua sama dia aja, bisa kok."
"NGGAK BISA!" Jawaban kompak Horta dan Billy membuat Exal tersenyum canggung. Kesal. Kaget. Kecewa. Mau ngambek juga.
Demikian pula Omella yang ikut terkejut meski tidak kentara. Ia berlindung di balik masker dan kacamatanya.
Dua benda itu yang membuat Exal heran. Bukankah ia sudah mengenali Omella. Buat apa lagi Omella mengenakan masker dan kacamata aneh itu? Mengganggu saja! Kecuali sepasang mata rusa yang cantik dan tampak langsung di balik lensa bening, Exal jadi sulit mengenali wajah Omella.
Dibuka aja, kenapa, sih?
Exal ingin tahu seperti apa wajah Omella saat tersenyum. Atau saat Omella diam-diam mengamati dirinya. Juga ketika Omella sedang serius melakukan pekerjaannya sebagai juru rias dan penata kostum. Seperti apa ekspresi Omella? Exal ingin mengetahuinya.
Maka gagal sudah rencana Exal untuk meminta maaf kepada Omella. Mungkin aku waktunya memang belum pas, hibur Exal pada diri sendiri. Akhirnya Exal memutuskan untuk fokus dalam paruh sesi pemotretannya. Hingga matahari menghilang dari pandangan dan sesi hari itu dinyatakan selesai.
Exal ingin cepat bertemu Omella lagi. Ia berharap begitu pemotretan hari itu selesai, ia punya kesempatan menghapus riasan dan membongkar hiasan-hiasan mahkota, jubah, dan pelengkapnya bersama Omella. Namun, lagi-lagi Billy dan Horta mengawal dirinya juga Omella.
Ini ada apa, sih? Mereka berdua kenapa?
Sungguh, Exal merasa mangkel. Ia pun menyerah. Mungkin hari ini ia tidak punya kesempatan untuk berbincang dengan Omella. Terlebih jika dua pengawal itu dengan ketat mengawasi mereka. Entah apa alasan dan tujuan Billy juga Horta bertindak begitu.
Nah loh! Iya juga, ya? Apa mungkin, Horta dan Omella punya hubungan khusus? Seperti, pacaran? Ahh, bisa jadi. Bukankah Horta dan Omella memang kelihatan akrab? Lalu, bagaimana nasibku? Eeh! Apa, sih, Xal? Terus kalau mereka berdua pacaran, emangnya aku harus kenapa-napa? Fuuhhh! Aku kacau. Mendingan aku jalan-jalan di sekitar sini, cari udara segar.
Maka, setelah makan malamnya selesai, Exal meraih ponselnya lalu berpamitan kepada Billy untuk berjalan-jalan di sekitar resort.
Langit malam ini sebetulnya tidak terlalu gelap. Hanya, entah mengapa, baru sekitar lima menit Exal berjalan, gerimis tipis mulai turun. Exal masih berniat melanjutkan aksi jalan-jalannya tapi saat gerimis berubah jadi hujan deras dalam hitungan detik, ia pun berlari menuju gazebo terdekat. Tak disangka, dari arah lain ada pula orang lain yang berlari menuju gazebo yang sama.
Keduanya berhasil mencapai gazebo bersamaan. Tepat ketika petir bergemuruh memecut langit, Exal berteriak mengaduh sambil menutup telinganya dengan panik. Mendadak keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Tubuhnya gemetaran. Pandangannya kabur.
Suasana hujan yang begitu deras dan petir menyambar-nyambar di langit sana membuat Exal gemetaran hebat. Gawat, aku mulai kehilangan kendali, batin Exal setengah sadar. Ia sudah kehilangan kemampuan untuk bicara. Rasa takut dan cemas telah lebih dulu menguasainya. Napas Exal mulai tersengal. Dadanya sesak. Napasnya semakin memendek. Tenaganya hilang. Exal pasrah. Ia jatuh terduduk di lantai gazebo.
Terhuyung. Exal siap jatuh. Namun ada sepasang tangan dan tubuh hangat menopangnya, menahannya dari jatuh. Ia lalu dibawa menuju tempat duduk terdekat di gazebo itu. Exal merasakan sentuhan lembut pada rambutnya. Kini ada tepukan-tepukan kecil di punggungnya. Lambat, berirama. Dan kedua lengan mungil itu melingkarinya, memeluknya.
Perlahan Exal mulai tenang. Napasnya sedikit demi sedikit teratur, tak lagi memburu. Rasa sesak di dadanya berangsur mereda. Tubuh Exal masih bergetar, tapi sudah jauh lebih baik dari yang tadi. Tak disadarinya, pipinya telah basah. Exal menangis rupanya.
Tak lama terdengar suara bersahutan dari luar gazebo. Suara-suara yang memanggilnya.
"Bungsuuu?"
"Exaaal?"
Dan kedua suara itu kian mendekat. Bahkan kini sudah sangat dekat. Exal lega mendengar suara-suara itu. Pastilah kedua kakak kembarnya. Mereka mencarinya karena hujan turun tiba-tiba dan petir menggelegar di langit.
"Bungsu! Astaga! Kamu nggak apa-apa?"
"Wah. Syukurlah! Makasih, ya, Mbak. Udah bantu Ex.. Lho!"
Exal yang sejak tadi tidak mampu mengendalikan pandangannya kini memberanikan diri mendongak. Ia berniat melihat orang yang berbaik hati menenangkannya. Begitu mengenali penolongnya, kaget pula ia.
__ADS_1
"O-mel-la?"