Diari Mantan Pacar

Diari Mantan Pacar
Anda Menyebalkan


__ADS_3

"Saya pikir, Anda sedang mengaktifkan mode menyebalkan. Bisa ganti mode? Setelah bicara begitu, aku memelototinya. Iya, dia, pantulan diriku sendiri pada cermin bening di dinding bata terakota."


"Apa, Mel? Jadi, cowok itu narik kamu dengan kasar untuk ikut masuk lift dan marahin kamu di rooftop? Seenaknya aja. Dia pikir dia siapa? Madam Shanty aja nggak pernah marahin kita dan bersikap sekasar itu sama kita. Hiiih, dasar ya, cowok kasar nggak tahu adat!"


"Eit-eit-eit! Tahan dulu, dong! Sabar, Bel! Sabar!"


Sore itu Bella marah-marah. Usai mendengar cerita Omella soal sikap bos XT Corp kepadanya, Bella jadi baper. Teman-temannya mencoba menenangkan.


"Lihat aja kalau ketemu, gue bejek-bejek dia!"


A Kim nyengir. "Yakin, Bu? Tega hati Anda mau bejek-bejek cowok setampan itu? Adanya situ melting, Bu! Meleleh secara tiba-tiba, spontan, uhuy! Secara, dia dari segi tampang aja nilainya A+++, Bu!"


"Ganteng banget, emangnya?" tanya Bella memastikan.


A Kim memutar bola matanya. "Beuh! Situ nanyeak? Udah pernah lihat fotonya, belum? Tahu nggak, siapa yang dimaksud Bos XT Corp? Itu cowok gantengnya kebangetan. Sungguh di luar adat istiadat budaya dan kearifan lokal bumi manusia biasa. Tampan tingkat dewa, Bu!"


Omella dan Bimo yang mendengar perkataan A Kim saling memandang lalu berkomentar tanpa suara kepada satu sama lain. "Lebay!" Sementara itu, Bella malah menyimak setiap penggambaran A Kim tentang level ketampanan orang yang menjadi obyek pembicaraan.


"Siapa namanya, Mel? Cowok itu! Bos lalala korp itu, siapa? Namanya siapa? Buruan, ah! Cepat!" Bella berpaling dari Kimmy dan mendesak Omella.


"Emm, siapa ya, namanya?" Omella mencoba mengingatnya. Sejujurnya, ia tidak terlalu memperhatikan dan belum berpikir untuk mengingat nama laki-laki itu. Toh belum tentu ia akan punya kesempatan bertemu dengannya lagi. Apalagi, citranya sebagai bos dan laki-laki sudah runtuh di depannya. Kasar, angkuh, bossy, dan galak. Dududu, otomatis coret, masuk daftar hitam, minggir aja, hush jauh-jauh ke Laut Merah. Dadah. "Tadi disebutin, sih. Tapi lupa, Kak. Hmm. Xela.. Eh Axel.. Atau Exal ya?"


"Nah! Itu, Neng! Itu, bener! Exalt!" Kimmy langsung heboh. "Tahu, kan, Bel? Tahu, dong, Bu? Masa nggak tahu? Anak mode, loh! Exalt, ek-salt!"


Bela merenung, menimbang, mengingat, dan bersorak kaget. "Oooh! X+ALT? Yang itu, maksudnya?"


Kimmy mengangguk membenarkan. "Iyes, ketez ketez. X+ALT yang itu. Yang terlalu ganteng itu. Yang super manis itu. No body, no body, but him! Nih, tengok fotonya kalo nggak percaya! Candid foto, neehh! Berrr-hargak!"


Bella sangat antusias melihat foto di layar ponsel Kimmy. "Goshhh! Ganteng banget, gila! A Kim, A Kim, bagi satu dong fotonya! Please! Ya, ya, ya?"


"Lho! Kepiye to iki? Jadinya mau membela mbak Omella atau nggak, to, ini? Nggak jelas, lho!" Bimo juga tampak kesal. "Udah, Mbak Omella, kita tinggal pulang aja. Yuk, Mbak!" Bimo lalu mengajak Omella meninggalkan ruangan, membiarkan Bella dan Kimmy yang malah asyik mengagumi foto.


Omella jadi bete melihat sikap Kimmy dan Bella. Kedua temannya itu nyata benar mengagumi laki-laki menyebalkan yang berkasus dengannya hari ini. Entah apa hubungannya si kembar anak Madam Shanty dengan bos XT Corp itu. Pastinya mereka akrab sampai laki-laki itu dipanggil 'bungsu'. Mungkin karena tampangnya dianggap imut oleh mereka.


Cuih! Omella tersenyum kecut. Kaya gitu kok imut? Imutnya dari mana? Apa pada rabun kali ya, Rega dan Rocky itu? Pakai kacamata, dong! Cowok ngeselin gitu kok diperhatikan, dapat panggilan sayang pula. Haish! Udah, ah, lupain aja!


...*...


Badra kesal sekali. Kesempatan yang bagus baru saja terlewat. Lagi-lagi ia kehilangan peluang untuk mengejar ketertinggalannya soal Omella. Padahal tadi ia bisa saja nekad mencuri waktu untuk bicara empat mata dengan Omella. Namun, sekali lagi, prioritas. Kerja, tugas dan tanggung jawabnya di Benito Young Corporation masih menjadi prioritas utama.


Kalau saja tadi Adinia tidak mendadak muncul dan memintanya menjawab telepon, pasti dia punya waktu untuk ngobrol dengan Omella. Delapan tahun tanpa kabar. Omella menghilang dari dunianya.


Ah! Sial!


Tapi, tidak apalah. Lain waktu pasti ada kesempatan yang lebih baik. Setidaknya sekarang dia tahu ke mana harus mencari Omella. Bukankah dia tinggal ke Rumah Mode Madam Shanty? Omella bekerja di sana, kan?


Yah, sepertinya cita-citamu tercapai. Sejak dulu kamu ingin menjadi bagian dari dunia mode, kan? Berkutat di balik layar, sibuk dan penuh hasrat dengan sketsa dan rancanganmu sendiri. Ah, Omella, tidak mungkin kamu melupakan aku, kan? Sama seperti aku yang tidak mungkin melupakanmu. Omella, apa kabarmu? Tunggu aku, ya! Kita akan cari waktu.


...* *...


Ujung-ujung jari tangan Exal memainkan air dengan malas. Kecipak air kolam yang sesekali terdengar menjadi teman merenungnya. Dari taman sebelah kerik-kerik sayap jangkrik yang bersahutan dengan nada-nada anomali menjadi pelengkap kesendiriannya sebagai manusia. Malam itu ia masih kesal dengan kejadian hari ini.


"Heh! Ngapain bengong sendirian di pinggir kolam?" Rega menegur adiknya. Waktu makan malam sudah lewat. Langit malam masih cerah dengan sedikit bintang yang nampak bersembunyi dalam gelapnya dunia atas.


"Bungsuuu! Uwulu uwuluuu!" Rocky menyusul langsung menggoda adik bungsunya ala menggoda balita.


Exal menepis tangan Rocky yang menggelitiki dagunya. Rega ikut membantu sang adik melepaskan diri dari saudara kembarnya. "Hasyah-syah-syah! Apa'an sih, Kak Oky?"


Rocky tertawa. Ia ikut duduk di tepi kolam. Ini Exal diapit kedua kakaknya. Rega melirik Rocky dari belakang kepala Exal, menegurnya dengan tatapan mata. 'Jangan digodain dulu. Baru ngambek tuh!' Seakan tanggal dan satu frekuensi, Rocky merespon dengan gerakan alisnya, 'Woke!'


"Ada apa ini - ada apa ini - ada apa?" Berondong Rocky sambil merangkul adiknya. Exal kali ini tidak menolak Rocky. Sengaja membiarkan lengan kakaknya itu nangkring melintang di pundaknya. "Napa, Su? Masih mikirin kejadian hari ini? Masih berkutat soal sketsa yang tadi?"

__ADS_1


Exal mengangguk.


"Masalahnya apa, sih? Selain yang udah dibicarakan tadi sama tim kecilmu?" Rega mencoba menggali.


Si Bungsu menghela napas lalu menghembuskannya dengan kesal. "Terlalu mirip."


"Hm?" Kedua kakak kembarnya dibuat penasaran.


"Terlalu bagus. Bahkan untuk sebuah sketsa awal, bisa dibilang terlalu jelas. Agak detail," lanjut Exal, mengabaikan respon keheranan Rega dan Rocky. "Itu aja monokrom. Kalau dia udah pakai warna, kaya apa coba jadinya?"


Rega melirik Rocky sebentar lalu katanya kepada Exal, "Bukannya itu baik, ya? Bagus, kan? Berarti karakter game itu udah bisa mulai digarap rancangan kostumnya. Dan macam-macamnya. Iya nggak, sih?"


Exal kembali menghela napas. "Berhubung yang bikin sketsa itu orang di luar tim khusus, buatku jadi nggak baik dan nggak bagus sama sekali, Kak. Soal tokoh, alur, konsep segala macam dari game yang baru ini untuk pertama kalinya dibuka dan dipresentasikan secara garis besar di luar tim khusus pagi ini, Kak. Ya tadi pagi itu."


Si Kembar terkejut. Exal kembali berbicara. "Bahkan karakteristik Lady Oditi aja baru diputuskan tadi malam di tim khusus. Malah belum ada yang bikin gambar sketsanya sama sekali, Kak. Selama ini uji coba baru pinjam karakter dari game lain karena kami aja belum punya gambaran, si Oditi ini bakalan kaya apa bentuk kostumnya."


Rega dan Rocky yang menyimak serius menjadi semakin heran dan terkejut. "Nah," kata Exal lagi, "kalau kaya gitu kondisinya, kenapa bisa ada orang lain, di luar tim, yang tahu karakteristik tokoh itu? Tahu dari mana dia?"


Rega berdeham. "Oke. Anggaplah ada yang membocorkan karakteristik tokoh Lady Oditi ini. Entah ngebocorin secara sadar alias disengaja, entah tanpa sengaja dan tidak disadari. Kira-kira kapan bocornya? Terus bocornya lewat mana? Masih ada lagi. Bisa nggak dalam semalam saja orang bikin desain sesuai karakteristik tokoh hanya berbekal informasi yang samar?"


Dengan kesal si bungsu menatap mata Rega. "Maksud Kakak, kemiripan penggambaran Oditi di sketsa itu hanya kebetulan?"


Rega mengangguk. "Bisa jadi."


"Kak, terlalu maksa! Kebetulan yang terlalu mirip. Enggak mungkinlah, Kak! Lagipula, sketsa awal sebagus dan serinci itu, apa mungkin ada yang bisa bikin dalam semalam?"


"Ehh, jangan salah!" Rocky angkat bicara. "Kalau si Telur Dadar yang bikin, aku sih percaya itu mungkin. Banget. Kalau hasilnya bagus, memuaskan, ya wajar."


"Telur Dadar? Kenapa jadi ngomongin telur? Nggak nyambung, Kak!" Exal menjeda.


"Ahh, jangan ngalihin topik, deh, Su! Kamu pasti belum pernah kan, lihat buku sketsa hasil rancangan Telur Dadar? Keren-keren! Ya nggak, Ga?"


"Nggak. Enggak, Kak. Aku tetap yakin kalau dia nggak dapat bocoran informasi dari orang tim. Pasti dia kerjasama, nggak tahukah sama siapa. Itu kalau emang data dibocorkan. Atau, dia tahu entah dari mana dan siapa dengan cara apa. Itu kalau data nggak sengaja bocor. Ahhh. Ngeselin! Tetap juga nggak mungkin dia bikin sketsa awal sekeren itu, Kak! Terlalu cocok dengan deskripsi tokoh."


Baik Rega dan Rocky menggeleng menyerah, melihat tanggapan adi bungsu mereka. Exal memang keras kepala. Tetapi logikanya jalan. Si bontot satu itu memang dikenal jenius. Tetapi kadang karena terlalu keras memakai logika, ia kerap menyulitkan dirinya sendiri.


"Udah gitu, Kak, aku harus iya-iya aja dengan alasan cewek itu? Masa dia bilang dia nggak suka komik, nggak ngerti game online, nggak suka anime, dan nggak pernah gambar sketsa yang ala anime. Kok dia bisa bikin sketsa sebagus itu? Gilanya lagi, dia mau aku percaya kalo dia dapat inspirasi atas sketsa Oditi dari mimpinya! Hah! Dasar cewek nggak jelas!"


Rocky dan Rega sedikit tersinggung mendengar komentar adik mereka. "Ntar dulu, Su! Rasa-rasanya, Telur Dadar itu bukan tipe orang yang suka ngarang indah apalagi bicara ngelantur," bela Rocky. "Percaya, deh! Mama nggak mungkin sembarang pilih orang. Apalagi orang itu dipercaya jadi desainer kostum tokoh game perusahaan kamu, Dek. Ada alasan kenapa Mama memilih Telur Dadar."


"Ooh, maksud Kakak cewek itu? Kenapa jadi Telur, sih? Dia punya nama, kan?" tanya Exal kesal.


"Omelette Gressa. Itu nama lengkapnya," kata Rega.


"Iya, iya. Namanya kalau di-Indonesia-in jadi telur dadar. Emang begitu namanya, kok! Auww!" Rocky mengaduh karena daun telinganya dijewer Rega. Saudara kembarnya itu memelototinya.


"Nama bagus-bagus kamu ganti seenak jidat!" Rega menegur kembarannya.


"Iya, dah, iya. Kan gua udah pernah bilang, itu panggilan sayang." Kilah Rocky membuat Rega tambah geram.


"Apa'an, panggilan sayang? Nggak ada! Sebut aja namanya! O-mel-la!" Protes Rega. Ini karena antara dia dan kembarannya ada perjanjian yang sudah berlangsung lama.


"Udahlah. Kalau kamu masih bete dan belum luas, besok kita ke Rumah Mode mama aja. Kita temuin tuh si Telur Dadar. Ngobrol baik-baik. Sampai jelas. Gitu kan bisa? Udah, ya, Su. Gua mau nge-game di kamar. Bye, Suuu!"


Rega yang masih kesal kembali melancarkan protesnya. "Su-su-su. Bungsu, gitu!" Rega berkacak pinggang melihat saudara kembarnya yang menghilang di balik tangga melingkar menuju lantai atas. "Haish! Ada, ya, manusia senyebelin itu?"


Exal hanya menatap Rega sambil menghela napas. Maklum.


...* * *...


Horta berjalan sambil memegangi dua cangkir. Aroma coklat dan kopi tercium dari dalam cangkir di kanan dan kiri tangannya. Ia melangkah memasuki ruangan. Mencari-cari. "Kak?"

__ADS_1


"Oy!" Terdengar suara dari balkon. Horta menggeser pintu menuju balkon dan mendapati orang yang dicarinya sedang duduk di kursi dengan punggung meringkuk pada meja di depannya. "Apa, Ta?"


"Nih," Horta menyodorkan cangkir berisi coklat panas kepada Omella. Horta hafal benar kebiasaan kakaknya itu. Kalau sedang senang, kakaknya akan berdiri santai, menyandarkan tangannya pada pegangan pembatas balkon sambil mengamati langit. Pose yang kini dilihatnya tidak demikian. Maka artinya, kakaknya sedang tidak baik-baik saja. "Ada masalah di tempat kerja, nih? Ada apa? Ada yang cari gara-gara sama Kakak?"


Omella cemberut, tidak langsung menjawab. Ia malah sengaja memainkan bibir cangkir dengan ujung jarinya. Dihelanya napas, dihembuskan sambil melepas penat di dada. "Iya, nih."


Lho! Itu jawaban tak terduga buat Horta. Apa kali ini kakaknya menghadapi masalah serius? Wah! Ada apa, nih, batin Horta menerka-nerka.


"Hari ini di kantor... cukup seru." Omella memandangi kepulan asap putih dari minuman di depannya.


"Ada yang gangguin Kakak? Kakak diapain?" tanya Horta lembut sambil perlahan mendekat. Ia lalu ikut duduk di samping Omella.


"Ada yang marah-marah ke aku sambil gebrak meja. Padahal aku nggak tahu udah melakukan kesalahan apa."


Horta menanggapi dengan serius. Masih dengan suara lembut, Horta mendekati kakaknya. "Laki-laki?"


Omella mengangguk, masih memandangi cangkir dan asap minumannya.


"Bos?" Horta memastikan.


"Iya. Tapi bos orang lain. Bukan bos kakak langsung," jelas Omella. Horta jadi heran.


"Lah terus kakak diomelin dalam rangka apa?" tanya Horta.


Omella beralih memandangi langit. "Dalam rangka bikin sketsa yang tadi pagi. Tata ingat, nggak, tadi pagi Kakak bikin sketsa apa?"


Horta mengangguk. "Sketsa ala anime yang kakak bilang ada di mimpi kakak, kan? Masalahnya apa? Kakak nggak dibolehin bikin sketsa yang kaya begitu? Kakak dianggap nggak serius kerja?"


"Salah. Justru hari ini, untuk pertama kalinya, diminta nge-desain kostum tokoh game online. Tahu sendiri kan, mana paham aku sama game online? Sama sketsa dari mimpiku aja aku nggak paham. Gambar kaya komik Jepang begitu. Mana pernah aku bikin gambar kaya gitu?"


Horta mengangguk. Ia tahu, kakaknya memang tidak begitu familiar dengan aneka gambar manga dan anime semacam itu. Sketsa rancangan kakaknya lebih 'normal' dan gambar lainnya pun cenderung realis.


"Terus?"


"Gambarnya terlalu bagus." Omella tertawa miris setelah mengatakannya. Horta bertambah heran. Kini Omella menghadap wajah Horta, katanya lagi, "Sketsa yang aku bikin terlalu bagus. Aku dimarahin karena itu. Gimana? Bingung, kan? Salahku di mana, ya?" Omella tertawa. Ia menyeruput coklatnya perlahan.


Horta duduk bersandar, mencoba bersantai sembari ikut menikmati langit yang malam itu agak sedap dipandang. Agak. Sebab, bintangnya irit. Sangat sedikit. "Kakak bilang nggak, bikin sketsa itu karena terinspirasi dari mimpi?" Horta mencoba berkelakar. Ia menyesap kopi dari cangkirnya.


Tanpa diduga kakaknya menjawab, "Iya. Tadi aku emang bilang, sketsa itu sumbernya dari sketsa yang ada di dalam mimpi. Eh, tambah dimarahin. Ya udah. Lagi apes aja kali hari ini. Eh, lagi seru, ding!"


Dengan tatapan terkejut, Horta memandangi Omella. "Pantas Kakak dimarahin. Kenapa harus bilang kalau dapat ide dari mimpi? Kakak bisa aja dinilai main-main, nggak serius dalam bekerja. Ide kok dari mimpi. Alasan macam apa, tuh?"


Dikatai begitu Omella menyikut tubuh Horta. Yang disikut pura-pura kesakitan sambil mengaduh parah. Melihat ekspresinya itu, Omella tertawa senang. Nah, berhasil, sorak Horta dalam hati. Kakaknya sudah bisa bercanda. Artinya suasana hatinya sudah lebih baik. Baguslah, batinnya.


"Masih ada lagi, Ta, yang seru! Tebak, hayo, hari ini aku ketemu siapa!"


"Hm? Siapa emangnya?" Horta bertanya sambil tersenyum.


Omella tersenyum senang. "Badra."


Horta terkesiap seketika. "Badra?"


"Iya, Badra, pacarku yang dulu." Omella mengangguk, mengiyakan penuh semangat. Terlihat jelas dari raut wajahnya, Omella senang bisa bertemu kembali dengan Badra. Namun Horta, bukannya senang, malah waspada. Horta takut, apa saja yang dapat diingat oleh kakaknya tentang Badra, dan akankah kakaknya mampu mengatasinya.


"Tapi, Ta, kok aku nggak ingat aku pisah sama dia kapan, ya? Lupa aja. Kamu ingat nggak, terakhir aku sama dia putusnya gimana?"


Benar-benar tidak siap untuk menjawab. Horta terpaku. Setelah sesaat, Horta menggeleng.


"Yah, Tata. Kok kamu nggak tahu, sih? Terus aku nanya ke siapa, dong? Harus banget, nanya sama Kak Janice? Hhh. Ya udahlah. Lupain aja."


Aroma kopi dan coklat bersaing dan tercampur di udara. Horta hanya bisa diam, menahan segala kecemasan yang riuh di dalam benaknya. Doanya dalam hati, semoga situasi esok hari tetap kondusif, aman terkendali. Ahh, hari ini mengapa berakhir dengan begitu menyebalkan?

__ADS_1


__ADS_2