Diari Mantan Pacar

Diari Mantan Pacar
Halo Cinta Pertama


__ADS_3

"Percuma pura-pura lupa. Dasarnya lebih dari suka. Inikah yang dinamakan permainan takdir? Halo, Cinta Pertama! Kita ketemu lagi."


1 TAHUN SEBELUMNYA. MARINA BAY, SINGAPURA.


Pergelaran akbar busana kreatif South East Asia Modefeast tahun kedua dibanjiri manusia. Tujuh rumah mode sebagai perwakilan enam pulau besar Indonesia berkolaborasi menampilkan rancangan terbaik karya anak negeri. Singapura yang ditunjuk menjadi negara penyelenggara kedua untuk ajang bergengsi dunia mode busana se-Asia Tenggara memilih sebidang area pantai di kawasan Marina Bay.


Tantangan kali ini adalah mengalahkan stereotip mode lawasan yang lekat dengan kesan tua dan ketinggalan zaman menjadi mode baru yang bisa disukai anak muda masa kini tanpa meninggalkan keunikan tradisi. Sulit memang. Sebab salah satu syaratnya adalah orisinalitas kearifan lokal harus tampak dalam rancangan busana yang diperagakan.


"Rega Nagendra?"


"Ya!"


"Indonesia?"


Rega Nagendra mengangguk sopan saat seorang pria berambut ikal bertanya di depannya. "Aah, akhirnya, ketemu juga sama orang sendiri. Dari tadi nemunya buleee melulu. Oh iya, kenalin, saya Jhon Herman," kata pria itu seraya mengulurkan tangan, mengajaknya bersalaman.


Wajah pria itu ramah, manis, bersih dengan warna kulit coklat eksotis khas Indonesia Timur. Wallacean, begitu dulu paman kesayangan Rega dan Rocky menyebut penuh kekaguman akan orang-orang Ambon, Flores, dan Sumbawa yang menurutnya penuh keindahan dan pesona tersendiri. Usia pria itu mungkin setara dengan usia mama mereka.


Rega menyambut tangan pria itu, menyalaminya dengan ramah. "Saya desainer baju kamu, Rega. Panggil saya Herman atau Jhon. Maaf, panggilannya apa, Sayang?"


"Halo, Kak Jhon Herman. Dia Rega. Aku Rocky," ujar Rocky yang menyembul tanpa ba-bi-bu dari belakang bahu Jhon Herman. "Wah, jadi baju-baju keren ini Kakak yang desain? Kakak hebat!"


"Ey! Makasih banget, Sayang! Jadi hepi, nih. Ow! Uhlalaa! Kalian kembar ya? Oo, jangan-jangan kalian ya yang jadi trending topic?" Jhon Herman menyambut senang. Wajahnya yang ramah disertai kekaguman melihat Rega dan Rocky. Keduanya memang kembar identik. Sama-sama tampan, berperawakan bagus, dan sangat menjual di depan kamera. "Eh makasih lo, udah mau bawain baju-baju saya. Mohon bantuan kalian, ya, biar sukses semuanya," pinta Jhon Herman.


"Dengan senang hati, Kak Herman," Rocky membalas dengan seringai sumringah dan sepasang mata coklat gelap yang berbinar. Sementara Rega kembarannya sekadar mengangguk dengan sesimpul senyum ramah kepada sang perancang busana.


Si kembar Rega dan Rocky Nagendra tidak pernah sengaja ingin menuai ketenaran dengan menjadikan diri mereka topik utama dalam setiap acara publik yang mereka hadiri. Seperti saat ini. Perawakan mereka sudah sangat menarik bagi siapapun yang melihat. Kepribadian yang unik, sopan, dan sikap rendah hati menjadi poin tambahan untuk si kembar. Simpatik. Itu yang ada di pikiran orang-orang.


"Kak Herman, punya Rega dasinya copot terus tuh. Cara pakainya gimana, sih? Terus kerah punyaku kok tajam, ya? Kaya ada jarumnya. Bisa tolong cek nggak Kak?"


"Haah? Bisa, bisa! Sini, Sayang! Aih, Rega kok diam aja? Untung Rocky bilang."


Rega nyengir kalem. "Kan udah ada perpanjangan bibir, Kak. Percuma bawa dia ke sini kalau nggak ikut kerja. Makan gaji buta, dong, dia nanti."


"Sialan, Lu! Sejak kapan Lu gaji gue jadi juru bicara Lu?" Rocky pura-pura marah, galak. Rega membalas tersenyum pelan.


"Bawel!" Balas Rega kalem, menuai cibiran pura-pura dari kembarannya yang sama tampan.


Jhon Herman tertawa lepas. "Suka deh sama kalian. Sini, Rega! Saya betulin dasi kamu! Miss Gressa, tolong bantu Rocky cek kerahnya, dong, Sayang!"


Karakteristik keduanyalah yang membantu orang-orang membedakan mana Rega mana Rocky. Lain dengan Rega yang kalem dan lembut, Rocky terlihat lebih aktif dengan keceriaan dan semangat yang menular. Siapapun yang dekat dengan keduanya lebih mudah merasa senang dan nyaman meski kesan dari masing-masing duo Nagendra ini cenderung berbeda. Rega seperti pantai yang tenang. Rocky lebih mewakili riuh debur ombak di pantai.


"Nanti lihat urutan naik, ya, Boys! Rega duluan. Lalu yang cewek-cewek masuk. Rocky masuk habis itu. Oh iya, hampir aja lupa! Jubah yang udah disiapin untuk Rega sama Rocky mana, ya? Miss Gressa?"


"Ya, Pak Jhon!" Seorang gadis belia masuk. Wajahnya bulat telur. Parasnya manis, sedap dipandang. Dua pasang mata langsung tertambat padanya.


"Miss Gressa, jubah untuk mereka tolong dibawa sini biar mereka pakai, sekalian dicek mana yang perlu diperbaiki. Terus..."


Jhon Herman terus berbicara. Gadis itu tampak memperhatikan setiap kata yang meluncur dari perancang busana itu. Berbeda dengan para asisten lain yang heboh baik dalam cara berpakaian maupun riasan, gadis itu justru tampak modis bergaya dalam kesederhanaannya. Potongan pakaiannya pun jauh dari kesan kurang bahan. Malah, cenderung sangat sopan untuk sebuah kegiatan semiformal luar ruangan yang lebih mirip pesta meriah klub malam.


Tingginya mungkin tidak sampai seratus enam puluh senti. Rambutnya hitam panjang, sedikit bergelombang. Kulitnya bersih, terang, cenderung kuning langsat. Minimnya riasan pada wajahnya malah memperlihatkan kecantikan yang polos. Rega dan Rocky tanpa sadar terus memperhatikannya.


"Halo, Kak. Permisi, ya, saya bantu pakaikan jubahnya." Suaranya lembut. Gerakannya cekatan. Gadis muda itu dengan lihai mengalungkan jubah dua warna dengan semburat keemasan kepada Rocky.


"Maaf, Kak, bisa agak menunduk? Terlalu tinggi. Nggak nyampe," kata gadis itu. Senyum minta maaf terpampang pada wajahnya. Rocky langsung tanggap. Ia pun lalu membungkukkan tubuhnya hingga matanya segaris tingginya dengan mata gadis itu. Mungkin karena wajah mereka jadi terlalu dekat, gadis itu sedikit menjauh. Atas nama kesopanan, Rocky langsung membuang tatapannya ke bawah, menghindari kontak mata dengan sang gadis.


"Haah! Gawat, Pak Jhon! Ini robek, ya?"


"Robek? Mana, mana?" Jhon Herman buru-buru menjauh dari Rega yang saat itu memang sudah selesai dipasangkan dasinya. Sang perancang busana melotot kaget, bergidik ngeri. Kedua tangannya mengatup mulut, membekap teriakannya sendiri. "Kok bisa sobek parah begini, sih? Bukannya tadi baik-baik aja? Oh my God! Saya mau pingsan!"


Segaris robekan besar membentuk celah yang amat kentara pada jubah dwiwarna pada tubuh Rocky. Wajah sang perancang busana sudah pucat pasi. Terlihat jelas, ia syok berat. Rega bahkan membantunya menggeser kursi terdekat lalu memapah Jhon Herman duduk. "Haduh-duh-duh, kok bisa begini?"


"Umm, kalau dijahit apa bisa?" tanya Rocky.


Jhon Herman menggeleng lemas. "Tetap kelihatan. Udah deh. Cacat ini. Nggak bisa dipakai. Nggak bisa diperagakan. Oh, Tuhan! Padahal setengah mati saya bikin itu jubah. Tiga bulan perjuangan dan sekarang sia-sia, bahkan sebelum dibawa, dikasih lihat sama orang-orang. Aduh-duh, Tuhan!"


"Apa benar-benar sudah nggak bisa diperbaiki, Kak?" Rocky bertanya sekali lagi.


Jhon Herman menjawabnya dengan gelengan lemah. Matanya sudah berkaca-kaca. Segunduk cairan bening itu sudah menanti untuk meluncur di atas pipi kanan dan kirinya. "Oh my God. Percuma sudah. Tiga bulan yang sia-sia."


"Menurut saya, masih bisa diselamatkan. Bisa diakali. Pak Jhon, boleh saya coba ubah sedikit? Tentunya kalau Bapak nggak keberatan."

__ADS_1


Suara lembut gadis muda yang sejenak terlupakan keberadaannya mengundang semua mata terpusat memandanginya.


"Sayang banget, Pak. Ini hasil kerja keras Bapak, kan? Boleh saya ubah sedikit, Pak? Kalau Bapak mengizinkan. Kita masih punya tiga puluh menit. Saya yakin sempat."


Semua orang terdiam. Kini semua mata ganti memandang sang perancang busana yang masih terduduk pasrah. "Caranya?" tanya Jhon Herman setelah terdiam seberapa detik. Gadis muda itu pun mengungkapkan ide dalam kepalanya. Jhon Herman meresponnya dengan senyuman di wajah. Ia bahkan bangkit dari duduknya lalu membantu gadis itu.


Dalam benak duo Nagendra, Miss Gressa, demikian tadi Jhon Herman memanggilnya, adalah sosok perempuan muda yang cerdas, sederhana dan rendah hati. Usianya di kisaran dua puluhan sekian, mungkin. Dia sudah terbukti berbakat dalam dunia rancang busana. Terbukti, dalam waktu kurang dari setengah jam keajaiban terjadi. Jubah robek yang membuat lemas desainer besar sekelas Jhon Herman kini malah punya beberapa celah indah.


"Ajaib! Bravo! Kamu brilian, Miss Gressa! Suatu saat kamu pasti jadi fashion desainer terkenal, Sayangku! Thank God kamu ada di tim saya, Sayangku. Terimakasih banyak, ya! Benar-benar kamu itu membawa keajaiban!"


Jhon Herman memeluk gadis belia itu penuh kebahagiaan. Berulang kali ia menyeka air matanya dan menghela napas lega. Rocky berputar beberapa kali, dengan bangga mematut diri di depan cermin besar, memainkan jubahnya yang tampak jauh lebih baik dari tampilan sebelumnya. Selain tanpa robekan kecelakaan, celah-celah baru di beberapa tempat pada jubah itu dengan tepiannya yang disikat hingga berumbai-rumbai justru menciptakan nuansa tradisional yang kental dan dirasanya keren.


"Nanti kamu harus ikut saya keluar, ya! Kamu ikut naik ke panggung!"


Mata gadis itu membelalak kaget. "Ah, Pak Jhon ini, bisa saja. Kaget, saya."


Jhon Herman menggeleng tegas. "Saya serius, lo. Ini hasil kreativitas kamu, Sayang! Saya fair, kok. Kalau bukan kamu yang punya ide dan menyelamatkan jubah Rocky, hasil kerja keras saya selama berbulan-bulan nggak ada artinya. Pokoknya nanti saya minta MC nyebutin nama kamu, ya, Miss Gressa."


Gadis itu dengan panik menolak permintaan Jhon Herman. Sama seriusnya dengan sang perancang asli yang memintanya ikut muncul di depan panggung T sebagai kolaborator, sikap sang gadis asisten juga menolak dengan berbagai alasan. Rega dan Rocky Nagendra otomatis mengamati mereka.


Miss Gressa. Ada senyuman di wajahnya. Namun baik Rega maupun Rocky Nagendra menangkap ada yang tidak beres di balik manisnya senyuman gadis itu. Si kembar saling melempar pandangan. Tanpa bicara sepatah kata pun, keduanya seperti saling dapat merasakan ada sesuatu yang lain.


Tiga puluh menit sekian pun berlalu. Kini si kembar melenggang di panggung bersama para model peraga lainnya. Rupanya para pengunjung yang tumpah ruah di sekitar panggung T menyambut rangkaian busana yang dirancang Jhon Herman dan para perancang Indonesia lainnya.


Sorakan paling meriah sepertinya ditujukan kepada si kembar. Entah karena busana yang mereka peragakan. Entah karena penampilan mereka yang memang sudah biasanya jadi pusat perhatian. Bisa jadi karena keduanya.


Perhelatan mode akbar panggung terbuka malam itu terasa lebih meriah dan indah di bawah langit Marina Bay yang bertabur bintang. Cahaya api obor yang ditata di kanan dan kiri sepanjang panggung T menambah kesan berani dan alami. Debur ombak yang tidak terlalu berisik kala itu membaur dengan riuh rendah tepuk tangan, suara ramai percakapan, dan sorak sorai sekian banyak manusia di area kegiatan SEA Modefeast.


Di beberapa sudut sengaja ditempatkan mini bar yang menyediakan minuman jus, squash, mocktail dan cocktail beserta aneka buah potong dan kue-kue dalam porsi kecil. Marina Bay lebih ramai dan meriah dari biasanya. Banyak tawa, sapaan, perbincangan, dan denting gelas memenuhi udara, sejalan dengan asap-asap obor yang terkepul menguap bebas menjadi bias yang lesap batasnya ke langit hitam.


Dari balik panggung Jhon Herman bersikeras menahan gadis penolongnya. Ia memegangi pergelangan tangan mungil gadis itu.


"Pokoknya saya nggak menerima penolakan kamu dengan alasan apapun, lo! Kamu wajib ikut ke panggung sebagai desainer kolaborator. Please banget, anggap ini sebagai tanda cinta dan terima kasih saya atas keajaiban yang tercipta lewat ide brilian dan tangan-tanganmu, Sayangku."


Baik Rega maupun Rocky sempat menangkap momen itu. Sekalipun tidak berniat ikut campur, tetap saja keduanya merasa tergelitik. Malah, ada niatan untuk membantu sang gadis melepaskan diri dari Jhon Herman.


"Ayo, dong, Miss Gressa. Senyum, dong! Tegang amat? Nanti sama saya, kok. Kita naik sama-sama, dadah-dadah sebentar, terima buket bunga terus masuk lagi." Sang perancang busana mencoba menghibur gadis itu. Tangannya masih menggenggam pergelangan gadis itu, takut kalau-kalau kolaborator belianya melarikan diri.


Hingga tibalah saatnya! Sesuai permintaan Jhon Herman, nama Miss Gressa juga disebutkan saat busana diperagakan. Enam perancang busana naik ke panggung T. Menyusul di barisan belakang, Jhon Herman yang menggandeng 'paksa' gadis kolaboratornya. Dengan kepala tertunduk, Gressa mencoba menyamai langkah Jhon Herman.


Berulang kali Jhon Herman membujuk Miss Gressa-nya untuk mengangkat wajah, melemparkan senyuman menyapa para penonton di sekeliling panggung. Sang gadis terus saja menunduk. "Ayo, waving, Sayangku! Senyum, yuk! Lambaikan tangan! Nggak usah malu, Sayangku. Nggak apa-apa kok. Yuk, biar cantik dan bagus kalo difoto. Yuk, Sayang!" Namun gadis itu terus saja menunduk. Dan si kembar masih memperhatikan.


Sebuah buket bunga diserahkan kepada Jhon Herman. Lalu dengan tulus buket itu diberikannya kepada gadis belia yang sejak di bawah panggung tadi digandengnya. Gadis itu terpaksa mendongak karena buket bunga itu begitu besar. Hampir saja ia menjatuhkannya dan membuat sedikit kegaduhan yang tak perlu di panggung itu.


Hanya 1-2 detik saja ia ketika wajah ya terangkat, mendadak kedua lututnya lemas. Gadis itu nyaris terkulai di atas panggung kalau saja Rocky tidak segera menghampiri. Dengan sekali gerakan luwes gadis itu dibopongnya. Sengaja ia berputar, seakan aksi itu adalah bagian dari pertunjukan di panggung bergengsi itu. Rega pun berlaga, mengajak para model lain menari sambil bertepuk tangan mengikuti irama musik. Riuh sorakan penonton dan tepuk tangan mengiringi kembalinya mereka semua ke balik panggung. Pertunjukan pun selesai.


...*...


Omella berusaha sekuat tenaga menolak permintaan atasannya. Sebetulnya ia tidak keberatan ikut naik ke panggung. Apalagi tadi atasannya bilang ia akan dikenalkan sebagai kolaborator. Siapa sih yang tidak mau? Bagi asisten kecil dan desainer amatir sepertinya, apa yang dijanjikan atasannya merupakan sebuah kehormatan dan kebanggaan.


Masalahnya, yang di luar itu adalah panggung terbuka dan dibuat dengan konsep pesta pantai malam hari. Artinya akan ada seonggok kayu yang dibakar. Yah, pesta di pantai malam hari seakan identik dengan api unggun, bebakaran, dan cahaya lentera atau obor. Pokoknya ada yang dibakar. Dan biasanya itu identik dengan sesuatu yang sangat dihindari Omella. Ya. Omella Gressa fobia pada api.


Sudah pasrah. Pak Jhon menahannya sedemikian ketat. Pergelangan tangannya detik demi detik seperti mati rasa. Tubuhnya panas dingin. Omella ingin lari, kabur secepat yang ia bisa. Jauh-jauh dari pengamatan Jhon Herman, atasannya yang hebat dan baik hati.


Sejak awal Omella memang tidak berniat ikut ke area panggung. Ia sudah tahu konsep perhelatan akbar itu. Langkah pertamanya begitu menginjakkan kaki di bandara internasional Changi adalah menuju hotel. Selebihnya ia hanya perlu mengunci diri di kamar atau balairung hotel tempat para peraga dan perancang busana mempersiapkan karya-karya yang akan ditampilkan.


Berkeliling di sekitar area perhelatan apalagi menonton peragaan busana di depan panggung T SEA Modefeast justru tidak ada sama sekali dalam rencana Omella. Dia sudah tahu bagaimana semua orang antusias membicarakan harapan melihat eksotisme pantai dan panggung dengan cahaya obor di sekitaran panggung. Obor artinya api.


Bahkan Omella sengaja melewatkan acara makan siang bersama yang dikhususkan bagi semua orang yang terlibat dalam kegiatan itu. Mengapa? Konsepnya bebakaran alias barbekyu di tepi pantai. Bebakaran artinya ada api. Yang terjadi kemudian adalah "Terima kasih, saya makan di kamar saja, pesan lewat layanan hotel." Alasan Omella adalah istirahat karena tamu bulanan.


Ohh, siapa sih yang mau bersikap jahat menolak alasan semacam itu? Apalagi Omella dikenal sebagai pekerja keras yang cukup berbakat di kalangan panitia penyelenggara. Cukuplah mereka menerima alasan Omella tanpa curiga Omella punya masalah dengan fobianya.


Hanya, kali ini Omella sudah tidak lagi bisa berkutik. Gawat. Pokoknya gawat. Seumpama anak domba yang digiring ke rumah jagal, Omella tahu dia sudah tidak punya kesempatan untuk menyelamatkan diri. Apalagi sekarang namanya sudah disebutkan untuk ikut naik ke panggung.


Tunduk aja! Jangan lihat ke depan. Kamu pasti aman. Udah, tenang! Ikut jalan sebentar, mata lihat ke bawah, paling semenitan, turun lagi, sudah.


Tapi, ....


"Sayangku, buket bunga ini kamu yang lebih berhak."


Hah!

__ADS_1


Omella kelabakan menerima buket itu. Buket itu besar sekali. Lagipula ia tidak siap menerimanya. Jadi, Omella melakukan tindakan impulsif yang lalu disesalinya. Terpaksa, ia mengangkat kepala dan melihat sekilas cahaya api yang berkobar-kobar dari salah satu obor di tepi panggung.


"Buat kamu, ya. Sekali lagi terima kasih, Sayang. Kamu hebat, Miss Gressa!"


Oh, tidak! Jangan dulu! Jangan sekarang! Nggak boleh jatuh! Omella!!


Namun kedua lututnya sudah telanjur lemas. Telapak kakinya tidak lagi menginjak bumi. Tubuhnya kehilangan bobot dan ia merasa ringan. Ia melayang.


Apa aku terbang?


Sekilas sebelum kedua kelopak matanya menutup, Omella melihat sepasang mata. Ah tidak, keduanya tidak sama. Sebelah coklat terang. Sebelah kehijauan. Atau benar-benar hijau? Atau mungkin agak biru? Toska? Tapi itu jelas sepasang mata dari sebuah wajah tampan yang pernah dilihatnya.


Jadi, itu tadi matanya warna apa, ya?


Entahlah. Sebab matanya sudah benar-benar tertutup.


...* *...


Rega Nagendra memandang keluar jendela. Gumpalan awan putih pekat menutupi dataran hijau jauh di bawahnya. Pikirannya masih ada di sebuah bilik kecil di Marina Bay dengan tanda palang merah di depannya.


"Heh! Ngelamun. Napa? Masih mikirin cewek tadi?"


Orang yang ditanya mengangguk. Ia tidak pernah menyembunyikan apapun dari saudara kembarnya. Rocky Nagendra kembali menempati kursinya. Ia menepuk lutut kembarannya. "Tenang aja. Dia pasti bentar lagi pulih, kok."


"Yakin amat? Dokter, Lu?"


Rocky Nagendra mencibir kepada saudaranya. "Sebelum naik pesawat aku udah dapat kabar dari Kak Herman. Dia mungkin pingsan karena terlalu grogi diajak naik ke panggung. Lagian udah keliatan juga dari sebelum dia naik, jelas banget dia demam panggung."


Cibiran pun berbalas. "Sok tahu, Lu!"


"Daripada sok perhatian tapi no action," balas yang dicibir balik sembari memainkan alis, sengaja menggoda kembarannya. Bukan Rocky Nagendra namanya jika kalah berdebat, terlebih dari saudara kembarnya. Dan balasannya biasanya telak, membuat kembarannya tak berkutik.


"Bawel!"


Yak. Itu kata andalan Rega saat kalah berdebat dengannya. Rocky nyengir kecil. Dalam hati ia bersorak girang, 'yes, menang lagi!'.


Keduanya lalu terdiam. Sibuk menyelami pemikiran dan perjalanan hati masing-masing.


"Ga, siapa namanya tadi?"


"Gressa? Tadi Kak Herman bilangnya Miss Gressa, Miss Gressa. Gitu doang, sih," jawab Rega.


"Tapi masa orang Indonesia namanya Miss? Namanya udah pasti Gressa. Kenapa tadi kita nggak nanyain nama lengkapnya aja, ya? Ah, kan nanti bisa nanya Kak Herman, nama lengkapnya. Syukur dapat nomor HPnya."


Rocky tertawa. Rega pura-pura meninju lengan kembarannya. Dalam hati ia membenarkan pemikiran Rocky.


"Hhh." Rega menghela napasnya. Ia menyadari sesuatu. Dan itu adalah hal yang sama sekali baru. Dalam hidupnya, baru kali ini ia mengalami perasaan semacam ini. Asing. Mendebarkan. Lucu. Tetapi penuh tantangan dan mengobarkan semangat. Ini perasaan apa, sih? Terlebih saat memorinya terus-menerus mengantarnya pada Miss Gressa. Wajah, caranya tersenyum, caranya berbicara, caranya bekerja, suaranya, dan semua yang bisa diingatnya.


"Udah, dong, Ga! Jangan kaya orang stress, ah! Pake masker aja, nih! Malu kan, dilihat orang, kita senyum-senyum sendiri?"


Rega tersentak melihat sebuah masker duckbill hitam berbahan kain disodorkan ke depan hidungnya. Ia lebih terkejut lagi saat menyadari kembarannya sudah mengenakan masker serupa.


"Kamu juga? Senyum-senyum sendiri?" Rega bertanya lirih. Herannya, Rocky menjawab dengan anggukan pelan. Keduanya jadi salah tingkah sendiri di kursi kabin VIP pesawat menuju Jakarta.


"Ky, kamu juga begitu sama dia?" tanya Rega perlahan. Ia curiga kembarannya mengalami perasaan yang sama dengannya.


"Apa? Sama Miss Gressa?" Rocky sesaat seperti ragu menjawab. "Kayanya aku baru ngalamin untuk yang pertama kalinya, Ga. Rasanya kaya gini ternyata."


Rega waspada. "Apa tuh? Cinta pertama?"


Rocky mengangguk. Deg! "Kamu... juga?"


Rega mengangguk. Deg!


Sesaat keduanya terdiam saling memandang. Lalu bersamaan mengatakan, "Congratulations!"


Keduanya lalu tertawa.


"Woy, saingan secara sehat, ya!"


"Beres, Ga!"

__ADS_1


...* * *...


__ADS_2