Diari Mantan Pacar

Diari Mantan Pacar
Ini Kejutan


__ADS_3

"Masih ada angin yang mampu menembus celah-celah tak indah di antara lapuknya kayu-kayu daun jendela. Masih ada harapan. Katakan pada dirimu, kau tak sendirian."


Gedung pencakar langit itu menjulang megah. The Narend's Tower tampak memukau seperti biasanya. Di mata Badra, gedung puluhan lantai itu adalah impiannya sejak dulu. Ia ingin suatu saat bisa membangun gedung seperti itu. Untuk itulah ia bekerja keras. Seperti saat ini.


Memang, dia belum memiliki aset sebesar dan sehebat itu. Namun, seperti yang sering dikatakan almarhum ayahnya dulu, "Andalkan Tuhan, kerja keras, cerdas, dan tepat disertai disiplin dan ketekunan pasti membuahkan hasil. Jangan menipu, menyakiti, dan mengambil hak orang! Pintu keberhasilan sudah di depanmu." Prinsip-prinsip itulah yang dipegang teguh oleh Badra. Sampai detik ini.


Maka tidaklah mengherankan jika pencapaian Badra juga dinilai banyak orang sebagai hal luar biasa.


Badra memang belum punya gedung. Tapi punya lima belas komplek kos-kosan eksklusif di sekitaran kampus bergengsi negeri dan swasta di beberapa kota. Ada pula tujuh apartemen mewah atas namanya sendiri yang disewakan. Dua penginapan bintang tiga yang belum lama dikelola bersama beberapa teman dekatnya dan cukup ramai. Lalu yang terbaru dua rumah makan kelas menengah di Lombok dan Lampung. Menyusul dalam rencana, membuka satu resort terpadu di Yogyakarta, kota asalnya.


Bagaimana? Biasa? Tentu tidak, mengingat Badra memulai karirnya dari minus. Badra bahkan pernah kehilangan segalanya. Tersisa ia dan ibunya.


Semangat dan karakter Badra dalam bekerja menjadikan citranya sangat baik di mata para pebisnis profesional di tanah air. Tidak segan-segan mereka memberi rekomendasi jika ada peluang bisnis atau proyek yang melibatkan Badra. Terlebih jika Badra sedang menjalankan perannya sebagai direktur kepercayaan Bos Beni.


Benito Young Corporation adalah perusahaan raksasa yang mendunia. Pemiliknya tak lain adalah Benito Young alias Bos Beni. Demikian ia minta dipanggil. Orangnya kocak, ramah, dan cerdas luar biasa. Malah, Bos Beni punya banyak gelar akademis multibidang dari beberapa universitas terkemuka, dalam dan luar negeri. Tidak mengherankan jika Bos Beni seorang poliglot. Sedikitnya delapan bahasa selain bahasa Indonesia dan bahasa Jawa dikuasainya dengan fasih.


Masih di ruangannya, sibuk memeriksa berlembar-lembar dokumen. Setumpuk lagi menunggu giliran diperiksa di atas meja kerjanya. Badra, sedikit melonggarkan dasi, berusaha fokus dengan rangkaian tulisan yang digelutinya.


Bip-bip! Telepon mejanya berbunyi.


"Ya, Nia?" Badra menyahut.


[Maaf mengganggu, Pak. Bos Beni menelepon di saluran satu.]


"Oke, sambungkan. Sekalian tolong masuk bawa draft MoU Fuji Corp ya! Makasih."


[Baik, Pak. Segera.]


Bip-bip!


"Selamat siang, Pak Beni. Dengan Badra."


[Siang! Dra, menurut kamu mana yang lebih keren? Lomba cosplay, pameran mode yang temanya serius, atau lomba rancang kostum game online?]


Badra tersenyum simpul. Bukan baru sekali ini bos besarnya mengajukan pertanyaan yang seru dan unik. Dalam usianya yang menuju kepala tujuh, Bos Beni sangat up-to-date. Usianya menua, tapi semangatnya tidak mau ketinggalan dengan yang muda. Hampir segala hal aktual diikutinya. Sampai-sampai tim asisten pribadi si bos kalang kabut dan pusing tujuh keliling demi menuruti, mendampingi, dan melindunginya.


"Kalau saya sih lihat mitra dan target pasarnya dulu, Pak. Semua bagus. Kita cukup memetakan publiknya. Baru deh, dari situ bisa dilihat, mana yang perlu tindak lanjut dan seperti apa harus kita tindaklanjuti."


[Nah, kalau begitu kamu malam ini makan di rumah saya aja, ya, Dra! Kita ngobrol habis makan. Saya tunggu 18:30 apakah aman?]


"Aman, Pak. Nanti saya datang."


[Sip kalau begitu. Sampai ketemu nanti malam, ya, Dra! Makasih.]


"Baik. Sama-sama, Pak."


Tuut! Percakapan selesai. Lalu pintunya diketuk.


"Masuk," respon Badra. Saat dilihatnya orang yang masuk, "Oh, sini, Nia! Itu draft yang tadi saya minta?"


"Iya, Pak," sahut sekretarisnya. Adinia atau yang sering disapa Nia, mengenakan setelan modis putih gading dengan aksen zipper besar pada beberapa bagian. Alih-alih norak dan terkesan minim bahan karena potongan lengannya yang pendek atau celana di atas lutut, selera pakaian Nia yang menunjukkan lekuk tubuhnya justru kelihatan berkelas, manis sekaligus praktis tanpa menimbulkan kesan seksi yang negatif.


"Ada lagi, Pak?"


"Oh iya! Ada. Tolong bantu saya, kosongkan jadwal malam ini, ya! Saya harus ketemu Bos Beni. Urgent."


"Baik, Pak. Nanti saya urus. Ada lagi, Pak?"


"Itu saja. Maaf jadi nambahin kerepotan kamu. Makasih sebelumnya, Nia. Oh iya. Hari ini jangan lembur lagi. Udah cukup. Kamu bukan mesin. Oke?"


"Aman, Pak. Terimakasih. Permisi."


"Ya." Pintu ruangan pun ditutup kembali. Tertinggal Badra bersama setumpuk berkas dan kerumitan yang minta diperhatikan. Sementara itu Nia sudah kembali ke balik mejanya, berkutat dengan telepon dan agenda Badra yang harus diubah sesisa hari itu.


Cekatan. Nia, sebagaimana diakui Badra dan banyak karyawan di situ, sangat terampil dan kompeten mengerjakan aneka tugas kesekretariatan. Khusus hari itu, Nia tampak berusaha keras mengikuti ritme kerja pimpinannya. Sudah nyaris lima hari kerja sejak Senin sampai Jumat, Badra bekerja lembur.


Berprinsip, bertanggungjawab dan punya loyalitas. Itu juga pandangan banyak orang mengenai Nia, sang sekretaris andalan Pak Direktur. Saat atasan masih sibuk serius di kantor, pantang bagi seorang Adinia untuk tidak ikut lembur. Dia merasa keberadaan sekretaris adalah membantu meringankan tugas pimpinannya. Keikutsertaan dirinya untuk bekerja lembur bersama pimpinannya adalah wujud tanggungjawab dan pengabdiannya.


Bip-bip! Telepon di mejanya yang penuh tapi tetap rapi kembali berbunyi. "Ya, Pak?"


[Nia, tolong alihkan semua telepon untuk saya kecuali sangat penting. Sama ini, bantu cari informasi. Kamu pilih. Mau cari info soal anime, manga, game online yang lagi tren, nasional dan internasional? Atau mau cek baju-baju popish draCin dan draKor, semi formal dan formal?]


Adinia menyimak, menimbang kilat dan langsung memberi jawaban. "Mau yang terakhir, Pak."


[Oke. Agak cepat ya! Kita hanya punya waktu satu jam! Makasih.]

__ADS_1


"Baik, Pak." Adinia mengembus nafas. "Satu jam dan tugas yang seru. Oke, mari bekerja!"


...*...


"Papi mah gitu! Curang! Ini kan weekend, Papiii! Mestinya jatah aku. Papi kan udah punya jam kerja sendiri. Masa libur ambil jatah juga?" Satu sisi bahu Bos Beni dipukuli manja. Rasanya bukan seperti dipukuli. Malah, serasa dipijat.


"Dekat leher aja! Kanan kiri! Sebelah sini, lho! Nahhh, hadehh enak bener!" Bos Beni malah jadi betulan minta dipijat.


"Aahhh, Paapiii! Aku ngambek beneran, nih! Malah request dipijat! Aku tuh kesel sama Papi!"


Bos Beni tertawa. Ia lalu membentangkan lengannya yang bebas, mengundang putri kesayangannya mendekat. Tangannya yang lain masih memegangi tablet seukuran A4. Sang putri menjatuhkan diri dalam rangkulan.


"Papi curang! Aku kesal."


Bos Beni tertawa lagi. "Curang gimana? Kan malah sekali dayung dua pulau tersambangi? Kamu bisa ketemu pacar. Papi ketemu asisten kepercayaan Papi."


"Ya tapi mestinya Papi ngobrol sama Mas Badra pas jam kerja kantoran aja. Kenapa harus diluar jam kerja, sih?"


"Eit! Jam kerja orang sukses itu fleksibel. Selagi dia enjoy, pribadinya berkembang ke arah yang lebih baik, kualitas hidupnya juga meningkat lahir batin, sukses namanya!"


Putrinya merengut. "Aahh, Papi tuh.. Ngeles mulu!"


"Lho, tapi benar kan, apa yang Papi bilang? Emang kamu nggak mau nantinya menikah sama orang sukses? Nggak nyesel? Yakin?"


Masih dengan bibir mencebik, putrinya kembali memukuli manja. "Bukan gitu, Pi. Jatah pacaran kami 'kan cuma weekend. Itu pun kalau Mas Badra nggak dapat tugas keluar kantor. Weekend aja kadang cuma bisa ketemu satu kali dan nggak ada satu jam. Papi tuh ngasih beban kerja terlalu besar buat Mas Badra. Emang Papi nggak kasihan?"


"Oh?" Bos Beni sedikit terkejut. Lengannya yang memegang tablet turun. Kini perhatian Bos Beni total beralih kepada putri yang menyuruk dalam rangkulannya. "Emang Badra sesibuk itu?"


"Menurut Papi?" putrinya bertanya balik. Nadanya agak galak. Bos Beni tertawa.


"Ya udah, nanti Papi obrolin deh sama Badra, biar dia lebih banyak meluangkan waktu buat kamu. Nggak sehat juga kalau kerja terus-menerus. Badra kan masih manusia biasa, bukan dewa."


"Benar! Bukan robot juga! Janji loh, Pi, mulai sekarang Papi nggak boleh terlalu menekan Mas Badra! Papi sendiri yang bilang dia masih manusia biasa."


Bos Beni menepuk sayang ubun-ubun putrinya. "Iya, janji. Eh, tapi ngomong-ngomong, nanti habis makan Papi sama Badra mau ngobrol serius. Kalian pacarannya besok aja, ya! Atau Minggu aja, deh. Sabtunya Papi mau ajak Badra survey dan investigasi bakal benih calon proyek baru."


"Hiiih, Papiii! Aku marah, nih!"


...* *...


Salma memperhatikan salah satu sketsa dengan penuh minat. "Wow! Detailnya, gila! Bisa dia bikin begini?"


"Betah amat di sini? Ngeliatin apa, sih, Dik?" Rocky berdiri menempeli adiknya. Kini ia ikut mengamati sketsa-sketsa yang menyita perhatian adiknya.


"Weizz, keren, nih! Itu juga bagus. Itu juga. Nah, ini kece, nih! Pantas, dari tadi whuah-wow melulu. Emang bagus-bagus, kok. Siapa yang gambar?"


"Desainer baru," jawab Salma.


"Kamu udah pernah ketemu kok sama orangnya," Madam Shanty melenggang masuk, menggabungkan diri dalam percakapan. Dari piring yang dibawanya, disuapkannya sepotong buah kepada Salma. "Kemarin kan udah sempat Mama kenalin? Ke Ega sama Oky."


"Hah? Yang mana, Ma?" Rocky mencoba mengulik ingatannya. "Cewek, cowok?"


"Cewek. Itu lo, yang kemarin kamu bikin malu Mama soal nama dia! Masa lupa, sih?"


Salma memandangi Mama dan kakaknya bergantian. Setelah buah dalam mulut habis ditelan, "Omella. Kenal, nggak, Kak?" Lalu mengkode mamanya untuk kembali menyiapkan buah, "Aa!"


"OOH! Si Telur Dadar?" sorak Rocky kegirangan. Mamanya melotot kepadanya. Sang adik tersedak dengan potongan buah yang dikunyahnya.


"Hebat juga dia? Talented! Hebat, Mam, bisa mempekerjakan orang berbakat kaya dia. Aku mau dong dirancangin satu baju semiformal yang boyish, very youth, soulnya penuh semangat dan kreativitas. Bisa, nggak, Ma?"


"Wani piro? Berani bayar berapa, he?" Jawaban Sang Mama membuat Salma tertawa. Ia mengacungkan kedua jempol kepada mamanya. Sementara Rocky, protes.


"Lah, kok perhitungan, sih, Ma? Rocky kan anak Mama?" Rocky memandangi Mamanya, syok, tak percaya.


"Business is business. Ada uang, ada barang."


"Ma! Oky kan anak Mama yang paling ganteng! Mama beneran tega nyuruh anak sendiri bayar?"


Madam Shanty melenggang keluar ruangan sambil cuek terhadap protes Rocky. "Anak-anak Mama yang paling ganteng gak cuma kamu. Masih ada Ega dan si Bungsu!"


"Mamaaa?"


...* *...


Motor matic Horta terparkir di tepi jalan, persis di samping gerbang menuju The Narend's Tower di mana Rumah Mode Madam Shanty ada di salah satu lantainya. Horta berdiri bersedekap. Tubuhnya yang tinggi menjulang bersandar santai pada motornya.

__ADS_1


Sekali waktu Horta memeriksa layar ponselnya. Ketika nama Omelette muncul, Horta mendekatkan pengeras suara ponselnya ke bibir. Katanya, "Dah di depan dari tadi. Buruan. Panas!" Lalu ponsel dimasukkannya kembali ke dalam saku tas berukuran tanggung yang melintang diagonal di depan dada.


Udara sore ini cukup panas. Horta sebetulnya sudah merasa gerah dari tadi. Namun ia patuh dan ingat pada nasehat Omella untuk tidak melepaskan masker. Yah, tidak tahulah ada apa dengan wajahnya. Banyak orang tertarik untuk menikmatinya, baik sekadar melihat hingga menyentuh dan cenderung membahayakan.


Selang beberapa menit, orang yang ditunggu muncul. Omella berlari kecil ke arahnya. Beberapa orang yang melihat itu mulai menyoraki Omella. "Eaaa! Dijemput pacar nih ceritanya!" Lalu, "Kenalin dong!" dan


"Berondong tampan, nih yeee! Keren, Mbak!" juga kalimat-kalimat lain.


Omella tidak pernah marah digodai rekan-rekan kerjanya. Sebab menurutnya justru itu cara mereka dalam menunjukkan sapaan akrab, bukan perundungan. Selagi tidak mengganggu secara fisik dan mental, tidak ada yang terluka, bodoh amat. Begitu sih kira-kira, sikap keduanya.


"Mas Yos katanya pulang malam ini. Kita makan besar ha-ha-ha!"


"Oh ya? Cepat pulang! Ngebut dikit, Ta." Omella terkejut senang. Saat kakak iparnya pulang kerja, walau sekadar beberapa jam, artinya ada makanan enak dan istimewa buatan Janice. Sulung dari tiga bersaudara itu memang pandai memasak. Sayangnya, menu-menu istimewa hanya keluar saat suaminya pulang.


"Ta, lewat jalan lingkar aja! Nggak usah lewat kota. Jam segini pasti padat," pinta Omella.


"Yah, ganti rute, nih? Okelah. Biar cepat sampai. Lewat jalan lingkar berarti bisa ngebut dikit, kan?"


"Emang begitu maksudku. Ayo Tata, buruan! Lapar, nih!"


"Ya sama. Aku udah lapar dari tadi," protes Horta sambil mengencangkan helmnya. "Siapa coba yang lama keluarnya?"


"Berisik! Udah, jalan!"


Horta pun membawa motornya melaju di jalanan. Kota Yogyakarta sore hari pada jam pulang kantor memang tidak sepadat Jakarta atau Bandung. Namun, bagi manusia-manusia kelaparan, jalanan yang padat adalah neraka. Saat berhenti di lampu merah, motor mereka berdampingan dengan mobil Range Rover hitam yang lama diidam-idamkan Horta.


Entah karena dikuasai oleh rasa lapar atau terlampau kagum dengan mobil impian, Horta tanpa sengaja menyenggol kaca spion samping mobil itu. Posisinya jadi bergeser. Untungnya Horta tersadar seketika. "Eh, maaf, maaf!" Horta lalu cepat-cepat membenahi posisi kaca spion sehingga kembali ke posisi semula. "Maaf, ya!"


Lampu hijau menyala. Usai menunduk meminta maaf lagi, Horta melajukan motornya, berbelok sesuai rute pulang. Sementara itu, dari balik kaca raybend orang di belakang kemudi belum purna dari rasa kagetnya. Ia melihat pengendara motor yang menyenggol kaca spion mobilnya. Ia pun paham orang itu minta maaf. Tetapi perempuan yang diboncengnya terlalu mirip dengan seseorang di masa lalu.


Belum siap memberi respon, motor itu sudah berbelok menjauh. Bunyi klakson bersahutan dari barisan belakang membuatnya segera melanjutkan perjalanan.


Omella? Apa itu kamu?


...* * *...


07:30 keesokan harinya di Rumah Mode.


Dua pemuda tampan kembar siam sedang berjalan cepat. Pemuda yang satu tampak sangat berusaha menghindari pemuda yang lain. Sampai akhirnya pemuda yang dikejar gemas dan kesal tidak lagi mampu menangani saudara kembarnya. "Oky, mau ngapain lagi, sih? Hiih! Mama, Oky gangguin Ega terus, nih, Maaa!"


"Rocky Nagendra!" Sang Mama berteriak.


Orang yang disebut namanya menyahut, "Hadir, Madam!"


"Malah absen. Kak Oky tadi makan apa, sih? Pagi-pagi udah full energinya," Salma melerai, mencoba menjauhkan kakak kembarnya satu dengan yang lain.


"Kak Oky, ini di kantor, lo! Bukan di rumah! Hayo, branding image! Pencitraan itu wajib! Jahilnya direm sedikit!"


Rega gantian menjulurkan lidah, meledek kepada saudara kembarnya. "Sukurin! Diomelin dedek, kan? Huu! Makanya jangan usil!"


"Rega Nagendra!" gantian Sang Mama menyebut namanya. "Udah, stop, Oky nggak usah dibalas. Sama aja kalian ini. Udah pada gede, masih aja kaya anak kecil. Hayo, ingat, nggak, Mama bawa kalian ke sini karena apa?"


"Ingat, Ma," jawab keduanya kompak.


"Kita mau ketemu sama si Telur Dadar, kan? Orangnya mana, Ma?"


"OKY! Ampun, deh. Sekali lagi Mama dengar kamu panggil nama Omella dengan sebutan itu, Mama kirim kamu ke Bermuda! Mau?"


Rocky menggeleng patuh. "Mama kok galak, sih?"


"Bukan galak, Oky. Itu nama orang. Sembarangan kamu ganti. Nggak sopan! Kalau orangnya tersinggung, gimana, coba?"


Rocky tersenyum lalu memeluk Sang Mama. Katanya manja, "Iya deh, maaf. Nanti aku minta izin sama dia untuk panggil dia Telur Dadar."


"OKY!!" Madam Shanty melepas dirinya dari pelukan Rocky dan mencari-cari daun telinga salah satu anak kembarnya, hendak menjewernya. Rocky dengan sigap berkelit sambil terus tertawa.


"Iya, iya, ampun, Ma. Bercanda, ah! Mumpung Ega sama Oky udah di sini, mana sampel baju yang kata Mama harus kami cobain? Sini, biar Ega sama Oky siap-siap dulu."


"Nah, gitu kek dari tadi! Bikin tensi Mama amburadul aja. Udah, sekarang Ega sama Oky ikut Mama ke ruang kostum. Salma tolong panggil Omella, ya! Ajak ke studio. Kita ketemu di sana."


Si kembar dan Salma pun berpisah. Tanpa sepengetahuan Salma dan Sang Mama, si kembar siam sebetulnya sangat menanti pertemuan kembali dengan Omella. Keduanya gelisah, hanya diekspresikan dengan cara berbeda.


Omella, akhirnya kita bisa ketemu lagi. Apa kabarmu hari ini?


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2