Diari Mantan Pacar

Diari Mantan Pacar
Jangan-jangan Dia


__ADS_3

"Layaknya hujan yang selalu tercurah dari langit ke bawah, rasaku bersamamu tak perlu berbalik arah. Aku dan kamu mungkin memang harus terpisah. Kini biarlah kenangan kita menjadi sejarah."


Pukul 08:20 Gedung terpadu The Narend's Tower. Rumah Mode Madam Shanty. "Morning, Kakak Bella! Hari ini tim kita ada tugas mulia apa?"


"Hai, Kim! Good morning! Sepuluh menit lagi kita internal meeting, ya. Oiya, ajak Omella sekalian ya! Minta dia bawa album desain terbaru dan yang kemarin. Plus, satu. Ngga boleh telat."


"Ow-ow-oow! Kita jadi mau makan orang, nih, Kak?"


"Jadi! Pokoknya cek grup. Materi meeting ada di situ. Oke?"


"Ashiap, Kakak!"


Dan mulailah kehebohan pra-internal meeting di grup perpesanan gabungan antara Tim Wardrobe & Costum ditambah Omella dan beberapa orang perwakilan dari tim lain. Kurang dari sepuluh menit, para peserta telah siap di ruang meeting. Kecuali Omella.


Setelah sempat celingukan sebelum menggeser kursi dan duduk, Bimo menepuk pundak Kimmy. "Kim, Mbak Mella kok belum kelihatan? Udah dibilangin, kan, nggak boleh telat?" Bimo penasaran.


"Itu dia, Mas! Aku dari tadi coba nelpon dia nggak diangkat! Gimana, dong?"


"Tapi mestinya dia tahu, dong, ada rapat internal setengah sembilan?"


Kimmy menggigiti bibirnya tanda ia gelisah. "Aku cek di grup kayanya Omella malah belum aktif ponselnya deh. Terakhir aktif sebelum jam delapan tadi, Mas. Aihh, bikin jiwa nggak tenang aja, sih, anak satu ini!"


"Selama ini Mbak Mella selalu tepat waktu, sih, Kim."


Hingga Bella masuk ke ruangan satu menit sebelum waktu rapat yang disepakati. Bella berdiri di belakang kursinya. Ia melempar pandangan ke sekeliling ruangan. Matanya mencari-cari.


"Ada yang belum masuk ruangan?" Bella memastikan. Para peserta rapat saling memeriksa rekan di kanan dan kiri.


"Tim Desain masih kosong? Belum ada orang?" tanya Bella. Kimmy semakin gelisah. "Kim, Omella mana?"


Kimmy menggeleng dengan wajah cemas.


...*...


Lembar demi lembar kertas sketsa dibalik dengan kasar. Seorang perempuan cantik memegangi buku sketsa itu dengan pandangan meremehkan.


"Sampah semua! Kaya gini yang kamu bilang pilihan? Apa bagusnya?"


Suara lembut itu sangat bisa digolongkan seksi seandainya tidak sarkastis, batin Omella. Dengan kepala tertunduk, Omella berdiri dalam diam. Kedua tangannya bertaut sebagai sikap patuh.


Bagaimanapun perempuan yang sedang bersandar di tepi meja kerjanya ini adalah salah satu orang penting. Sependengaran Omella sih begitu. Setidaknya kurang lebihnya dari perbincangan tidak menyenangkan di tempat makan semalam.


Barangkali ada benarnya A Kim sampai menyebutnya Siluman Klepon. Dibalut gaun terusan hijau tua yang pagi ini sayangnya tanpa blink-blink, perempuan itu layak dicurigai sebagai perwujudan sesosok monster cantik dari jajaran manajemen. Parasnya dipoles riasan mahal dan berkelas. Potongan pakaiannya sangat modis dan elegan.


Cara bicaranya terjaga, jauh dari kesan norak. Tapi arogansi dan aura pamer kekuasaannya terasa begitu kuat. Jujur saja, Omella malah merasa sekalipun tampak berkelas, perempuan itu agak kurang berwawasan. Yah, apapunlah, namanya atasan biasalah kalau sombong dan sok berkuasa. Omella sudah kenyang dengan situasi semacam itu.


BLAK!!


"Ada lagi?" Perempuan itu bertanya setelah membanting album sketsa sembarang ke atas meja. Omella kaget sih. Suara bantingannya cukup keras. Beberapa orang di luar ruangan Omella yang ikut mencuri pandangdan dengar jadi ikut kaget. Diantaranya sempat terbirit-birit menyingkir.


Omella mengangguk. Segera ia berbalik menuju rak di belakangnya, mengambil dua album sketsa lain. Lalu diserahkannya keduanya dengan sikap sesopan mungkin.


Dari arah pintu masuk unit Tim Desain, Bimo berlari, bergegas, langsung menuju ruangan Omella. Namun begitu dilihatnya orang yang sedang dihadapi Omella, langkah-langkahnya terhenti dengan bunyi berdecit yang kentara. Kedua matanya membelalak. Mulutnya menganga. Apa yang disaksikan netranya saat itu sungguh tidak terduga.


Dengan kecepatan kilat jemarinya mengetikkan kabar dengan diksi paling singkat, padat, dan jelas kepada grup internal meeting yang sudah mulai rapat kala itu. Setelah berhasil mengirim kabar, Bimo mencoba menenangkan diri sambil mencari ide menciptakan celah untuk menyelamatkan Omella.


Di ruang rapat, informasi yang dikirimkan oleh Bimo menciptakan kegemparan. Kimmy, orang yang pertama kali membaca pesan itu langsung melonjak dari kursinya.


"Oh eM Ji! Omella kita diserang Siluman Klepon, Gaes! Em, maksud aiy, Bu Melani baru ngelabrak Omella di unit Desain! Gosh! What to do? What to do, Sist?"


Siapapun bisa melihat bahwa Kimmy panik, antara kasihan, kesal, dan syok menerima kabar itu. Bella yang memimpin rapat tak kalah syoknya. Untuk beberapa detik, Bella sampai tak mampu berkata-kata. Pikirannya kosong. Seakan mencoba mencerna: Melani sedang mendatangi Omella. Tapi Melani mau apa? Pastinya bukan untuk beramah-tamah. Melani hanya ramah kalau ada mau dan perlunya. Lain dari itu, mustahil. Apalagi Melani sejak awal tidak menyukai Omella untuk alasan yang tidak dapat dijelaskan. Jadi, apa alasan Melani mendatangi Omella pagi-pagi begini. Apalagi setelah semalam dengan sok hebatnya Melani mencetuskan ide buruk yang pasti menyudutkan desainer baru seperti Omella. Punya niatan apa sih, Penyihir betina itu?


"Kak Bella!"


"OY!" Teriakan Kimmy yang memanggilnya membuat Bella berhenti sibuk dengan segala analisanya.

__ADS_1


"Telpon Mbak Salma atau Madam Shanty sekarang! Save Omella now, Kakak! Urgent! Now!"


Aha! Sepakat tanpa kata, Bella langsung meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. "Halo? Mbak Salma? Mbak, tolongin dong, Mbak .... "


...* *...


Beberapa saat sebelumnya, Madam Shanty dan Salma baru saja meninggalkan area parkir komplek gedung terpadu Narendra Buldings. Keduanya berjalan menuju lift saat ponsel Salma berdering.


"Ya, halo, Kak Bella. Dengan Salma, bisa dibantu, Kak?" Salma yang awalnya santai mendadak bersikap serius. "Saya sama Mama sudah di lift kok Mbak. Sebentar lagi kami sampai. Biar nanti kami tangani. Makasih, ya, Kak Bella. Sampai nanti. Yoo."


Percakapan pun berakhir. Lift sudah bergerak naik membawa mereka melintasi lantai demi lantai di The Narend's Tower.


Seandainya air muka Salma tidak berubah, Madam Shanty tidak berniat bertanya. Tetapi karena yang terjadi sebaliknya, maka... "Siapa, Sal? Bella? Ada masalah?"


Salma mengangguk. "Masalah semalam ternyata masih nyambung, Ma. Kaitannya sama ide Melani. Kenapa juga dia bertindak duluan tanpa ada persetujuan dari yang lain? Emang semalam Mama udah bilang oke atas gagasan dia?"


Ditanya begitu, mamanya bingung. "Mama nggak merasa kasih tanggapan iya dan tidak sih, semalam. Memang, Mama mengapresiasi. Mama bilang ide Melani bagus. Tapi kan bikin pagelaran dan apalah yang dia bilang itu pertimbangannya seabreg. Mau nggak mau ya harus meeting dulu dengan semua unit yang ada. Nggak bisa terus dia atau siapapun jalan sendiri. Emang dia udah punya tim kerja dan punya investor yang kuat?"


"Ooo. Kesimpulannya, belum ada ACC dari Mama, 'kan?" Salma kembali memastikan.


"Belumlah," tegas sang mama. "Apalagi 'kan rencananya melibatkan banyak pihak. Nggak mungkin dong dalam semalam langsung diputuskan. Nggak logis juga kalau hal semacam itu dibicarakan dengan sangat santai seperti dalam acara makan malam rekreatif seperti tadi malam. Nggak lucu, dong, Sal!"


"Oke. Kalau begitu nanti Mama langsung masuk ke ruang Mama aja. Aku mau ke ruang desain ketemu Melani," kata Salma. "Soalnya barusan Kak Bella ngabarin, fashion desainer kesayangan Mama baru dikerjain Melani," paparnya. Sang Mama langsung terkejut.


"Haah?"


...* *...


"Gimana, Say? Kamu diapain?"


Omella tersenyum. "Nggak diapa-apain, Mbak Say!"


"Beneran? Bimo bilang anak-anak Desain lihat sendiri Siluman Klepon itu banting-banting barang ke meja kamu. Itu namanya perundungan! Intimidasi!"


"Untung cantik. Menang muka sama bodi tuh dia!"


"Iya, benar! Coba dia jelek, pasti nggak ada yang mau lirik dia jadi model atau dekat sama dia."


"Hush! Udah, ah! Nggak boleh body bullying! Kalo kita kaya gitu, kita nggak jauh beda sama dia," kata Omella.


"Hadyuuuh! Omella masih bisa ya, bersabar mengadapi ular beludak seperti dia? Dududu! Ogah kalo gue mah. No-no-no-no! Aiy sih curiga, dia sengaja mengangkat diri sendiri dan ngaku-ngaku jadi asisten perusahaan tetangga. Awas aja kalo beneran kaya gitu dan ketahuan sama Aiy! Habis tuh cewek!"


Masih saja berlanjut. Pembahasan Melani yang bossy dan merundung Omella menjadi topik panas lintas unit sampai lewat waktu istirahat siang. Padahal oknumnya sudah tidak berada di kawasan komplek terpadu Narendra Buildings. Sampai jenuh kuping Omella mengikuti perbincangan selama makan siang bersama itu.


"Gaes, udah dong! Kalian nggak mau balik ke ruangan?"


"Ah, Omella, dasar anak rajin! Masih ada lima menit," protes yang lain.


"Lima menit buat jalan dari rooftop ke lantai kita lumayan, tahu! Yu, ah! Kalau kalian masih lama, aku duluan aja. Ada kerjaan desain yang masih belum selesai. Dah, ya, Gaes! Sampai nanti lagi!"


Omella bergerak dengan tangkas memberrskan kotak bekalnya yang telah kosong. Hatinya lebih ringan sekarang. Ia ingin melupakan Melani dan segala arogansinya tadi pagi. Toh bisa dibilang masalah sudah selesai. Salma dan Madam Shanty sendiri turun tangan meluruskan segala keunikan tadi pagi.


Ya. Omella memilih untuk menyebutnya unik. Perkara manajemen kan memang bukan urusannya. Lantas jika ada orang yang merasa sebagai tokoh atau bagian dari top manajemen salah jalur hingga tanpa sengaja menyulitkan anak-anak bawang alias karyawan biasa seperti dirinya, urusannya kembali ke level manajemen, dong. Buat apa dia ikut campur dan membuat susah diri sendiri mengurusi hal yang bukan urusannya?


Omella pun sadar diri. Ia terbilang baru di Rumah Mode Madam Shanty. Baru lewat masa magang dua bulan. Ini bulan ketiganya ada di lingkaran kerja Madam Shanty sekaligus bulan pertama resmi dipekerjakan sebagai desainer. Belum genap satu bulan, malah. Namun Omella senang, sebab beberapa sketsanya lolos kualifikasi sang pemilik rumah mode dan masuk antrian produksi. Itu pencapaian besar baginya.


Bukan sekadar hisapan jempol, memang, bahwa Madam Shanti seorang kurator desain mode busana yang ketat dan punya standar tinggi. Omella sudah membuktikannya sedikit demi sedikit. Ia mengerti, saat ini ia bekerja dengan orang hebat. Oleh karena itulah tekad Omella sudah bulat. Untuk mewujudkan cita-citanya sebagai desainer handal, Omella ingin menempa dirinya seoptimal mungkin di bawah kejelian seorang profesional seperti Madam Shanty.


"Hai, Mbak Mella! Udah selesai istirahatnya?" Bimo menyapa. "Oh iya, mbak nggak kenapa-napa, kan, gegara kejadian tadi pagi?" Omella mengangguk sambil tersenyum ramah.


"Nggak apa-apa dan nggak ada masalah. Udah kelar. Oh iya. Nggak istirahat, Bim?"


"Nanti. Ada tamu penting, Mel. Itu, belum selesai meeting, malah. Jadi, habis kita meeting tadi, selang setengah jam ada meeting para bos," terang Bimo.


"Oh, ya? Wah, jam istirahatmu jadi mundur dong, Bim?" Omella bersimpati. Bukankah Bimo sudah bekerja sejak dini hari tadi, batin Omella. Pasti jam segini dia butuh asupan kalori. "Nih, ambil!" Omella mengeluarkan sekotak susu kedelai dari kantung bekalnya. "Lumayan buat ganjal protein, Bim!"

__ADS_1


"Wah, makasih banget ya, Mbak!"


Sebagai kepala dari tim keamanan, Bimo bertanggung jawab penuh atas keamanan kantor. Kadang jam istirahat pun diterabasnya sebagai wujud loyalitas. Bimo memilih mengatur sendiri jam istirahat yang pas dengan situasi dan tanggung jawab kerjanya. Itulah yang membuat Omella dan banyak orang salut, kagum terhadapnya.


"Masama. Ke ruangan dulu ya," pamit Omella. Baru selangkah melewati ruang rapat, pintu ruangan itu dibuka. Seseorang melangkah keluar. Langkahnya cepat dan sigap. Sosok siapa, Omella tidak tahu sebab ia berjalan membelakanginya.


"Ya, halo, selamat siang, Pak Harun! Mohon maaf, slow respon,baru di luar kantor, nih, Pak."


DEG!


Suara itu terdengar familiar bagi Omella. Orang itu berjalan menjauhi tuang rapat, berkebalikan arah dengan Omella. Aura orang itu pun seperti mengangkat kenangan. Langkah Omella melambat. Rasa ingin tahu muncul secara tiba-tiba.


Omella, apa'an, sih? Orang itu keluar dari ruang rapat. Nggak ingat, tadi Bimo bilang apa? Baru ada rapat para bos! Artinya, orang itu bisa saja salah satu dari para bos yang dimaksud Bimo. Nah, mana ada kenalanmu yang jadi bos? Jumlah temanmu saja bisa dihitung dengan jari tangan dan kakimu sendiri, kok!


Sudah, kembali kerja! Balik ke ruanganmu!


"Baru kami buatkan perincian untuk perubahan kemarin. Paling lambat besok pagi kami kirim ke sekretaris Bapak."


Suara itu...


"Iya, Pak. Kalau sudah oke, matang, sesuai dengan kesepakatan kita, baru saya kirim finalnya ke Bapak. Percayakan di tangan saya, Pak. Sekuat tenaga saya tidak akan mengecewakan Bapak."


Cara bicara itu.. Perkataan dan janji itu...


"Baik, Pak Harun. Saya pastikan tidak ada masalah..."


Apakah dia.... Dia.... Tapi, mana mungkin?


"Gimana, Pak? Saya? Badra, Pak. Iya. Sama-sama, Pak Harun. Terimakasih. Selamat siang."


DEG!


Apa tadi dia bilang Badra? Namanya Badra? Atau mungkin aku salah dengar?


Terdengar lagi orang itu melangkah kembali mendekati pintu. Omella membalikkan badan. Sayang, orang itu telah kembali, menghilang ke dalam ruang rapat.


Badra? Apakah orang itu Badra? Badra yang sama dengan Badra yang pernah aku kenal?


"Mbak? Mbak Omella?"


Sapaan Bimo membuat Omella terlompat kecil. Tersentak. Bimo yang ikut kaget juga tersentak, melangkah mundur.


Omella, sadar woy!


"Kok bengong, Mbak? Ada apa? Mbak pusing?"


Omella menggeleng dan tersenyum dengan bodohnya. Canggung rasanya ketahuan melamun. "Em, barusan ada orang dari ruang rapat yang keluar teleponan, ya, Bim?"


"Iya, Mbak. Mbak Mella kenal?"


Omella menggeleng cepat. "Malah mau tanya. Itu tadi siapa, Bim?" Omella bertanya lirih. Takut suaranya terdengar orang-orang di dalam ruang rapat walau kecil kemungkinannya. Ruang rapat telah dilengkapi peredam suara yang terintegrasi dengan dinding, lantai, bahkan langit-langitnya. Hampir mustahil ada kebocoran suara kecuali ada celah di pintu.


"Kalau yang barusan sih bos direktur perusahaan tetangga, Mbak," kata Bimo.


"Oh. Namanya?"


"Aku tahunya namanya Pak Badra. Tapi lengkapnya nggak tahu. Eh, betewe nih, Mbak, guanteng banget, Mbak, orangnya. Tadi sempat lihat, nggak, Mbak? Beuh! Tinggi, tegap, atletis, rapi, keren, Top pokoknya, Mbak!"


"Hush! Malah nggosip!" Omella dan Bimo terkekeh-kekeh. "Aku nggak lihat apa-apa. Kaget aja dengar suaranya. Kaya kenal. Tapi kalau bos, apalagi direktur sih, kayanya aku salah orang. Aku nggak punya kenalan penggede, Bim. Ya udah, deh, aku lanjut ke ruanganku. Dah yaa!"


"Oke, Mbak. Eh, Mbak, Mbak! Mau titip salam, nggak? Kenalan! Lumayan, buat prospek masa depan," goda Bimo usil.


"Hush! Berisik! Udah, ah," ujar Omella tersenyum senang sambil berlalu. Dalam hati, Omella merasa terhibur. Suara tadi, meskipun ia salah orang, mampu menghiburnya dengan cara tak terduga. Ia melanjutkan langkahnya dengan senyum lega. Lega karena mendengar suara ya g serasa pernah dikenalnya. Sekaligus lega jika saja tadi ia salah mengenali pemilik suara sebagai seseorang di masa lalunya.


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2