Diari Mantan Pacar

Diari Mantan Pacar
Dunia Mulai Ingin Bermain


__ADS_3

"Manusia yang masih bisa diselamatkan adalah yang memiliki harapan walau hanya setitik. Hati yang punya setitik harapan adalah hati yang masih percaya pada keajaiban."


Adinia memandangi kedua atasannya bergantian. Big Boss Beni di satu sisi dan Badra di sisi satunya. "Jadi, mau yang mana, Pak?" Selang beberapa detik dan masih belum ada jawaban. Ekor kuda rambut Adinia bergoyang saat kepalanya menoleh kecil kepada mereka, menanti keputusan.


"Menurut kamu, yang mana, Dra? Saya rasa keduanya prospektif. Sangat bisa dikembangkan. Pintar-pintar aja mengelolanya." Bos Beni angkat bicara. Dua proposal teracung di masing-masing tangan Adinia.


Badra menghela napas. Jemari kedua tangannya saling bertaut di depan perut. Banyak ide berlompatan di dalam kepala dan seluruhnya tampak menarik. Soal prospektif, yah, dalam bisnis bukankah semua harus dikelola demi mendapatkan profit? Jadi, itu soal teknis lah. Bisa dipikirkan kemudian.


"Ingat, Dra. Sebagai pebisnis, profit memang penting. Tapi harus berimbang dengan benefit. Keduanya harus balance," ujar Boss Beni lagi.


Badra mengangguk paham. Ia sungguh-sungguh mengerti prinsip berbisnis yang ditularkan seniornya itu. Memang, perkataan Boss Beni bukan tanpa alasan. Sekarang ini yang menjadi pokok permasalahan adalah menentukan proyek mana yang paling mungkin untuk dilakukan dan paling menyenangkan. Yak, benar, memang harus dipilih yang paling menyenangkan.


"Semakin menyenangkan, kita semakin punya semangat dan tekad untuk menjalankan. Kalau lebih bersemangat juga untuk mengembangkannya." Begitu kata bos besarnya itu, berulang-ulang. Saking seringnya diulang, Badra tidak hanya hafal, tetapi juga menerapkannya seakan memang itulah prinsip bisnisnya.


"Saya lebih senang dan tertantang untuk ambil proyek yang kostum game online, Pak. Belum banyak yang melirik dunia cosplay secara serius. Ini konteksnya bisnis domestik, ya, Pak. Target pasarnya luas, bisa nasional dan internasional," kata Badra. "Boleh nggak, Pak, kalau saya tangani langsung?"


Lelaki yang ditanya menyunggingkan senyum ceria. Sorot matanya jenaka. Dengan tangan bersedekap di depan dada, ia mulai tertawa. "Kamu ini kaya nemu mainan baru. Udah, ambil aja! Tangani dengan hepi! Kelola dengan baik. Oke?"


Badra tertawa kecil, merasa seperti anak kecil yang ketahuan ingin segera bermain. "Siap, Pak."


"Kapan kamu mau mulai?"


Badra menghela napas. Berpikir.


"Izin menyela, Pak. Sebetulnya untuk masing-masing proyek, kita sudah punya data awal, Pak. Jadi, tidak mulai dari nol banget. Kita bisa mulai kapanpun. Besok pun bisa," kata Adinia. Itu benar. Pengumpulan data awal sudah dilakukan olehnya dan Badra. Tinggal ditindaklanjuti sesuai arah proyek mereka.


"Besok, Pak. Nia, tolong atur meeting pagi. Kamu bisa pulang sekarang."


"Baik, Pak. terimakasih. Bos Beni, Pak Badra, saya pamit." Adinia pun berbalik meninggalkan ruangan.


Bos Beni tertawa puas. "Sip, dah! Sekarang, kamu bisa ketemu Kara. Udah ngambek tuh, pacar kamu. Dia pikir saya ngambil jatah waktu pacaran kalian." Dan Bos Beni tertawa kembali. Badra tersenyum kecut.


Kara? Bukan Kara yang ingin kutemui sekarang.


Sebetulnya pikirannya masih terpaut pada peristiwa sore yang sekilas. Itu ketika ia merasa melihat sosok penting dari masa lalunya. Setelah bertahun-tahun ia kehilangan jejak, kini ada secercah harapan untuk bertemu kembali.


Aku sungguh berharap kamu benar-benar kembali, Omella. Kamukah itu?


...*...


Jalanan Yogyakarta pukul sebelas malam adalah bukti bahwa kota ini kota yang lengang. Ia jauh lebih bersahabat dari kota besar mana pun di pulau Jawa dalam hal kepadatan lalu-lintasnya. Dengan catatan, tidak ada bencana alam atau event besar apapun di kota. Yah, itu catatannya.


Malam ini sebuah perhelatan budaya besar dilaksanakan tepat di seputaran Tugu Jogja yang punya histori luhur. Maka, waktu tempuh yang hanya lima belas menit berlipat menjadi satu jam. Mobil yang membawa Shanty dan tiga orang anaknya sedikit lagi memasuki jalur lancar setelah tertahan cukup lama dalam kepadatan jalan utama.


"Jadi, ya gitu, Kak," Salma mulai menyimpulkan sambil memegang kemudi. "Saat hati kecewa karena cinta, obat paling mujarab di dunia adalah... "


"Kenaikan gaji, dapat lotre, atau undian berhadiah rumah barangkali?"


BLETAK!!


"Adaww!" Dan semua orang dengan cara masing-masing berhasil memberi tanda mata di kepala Rocky. "Kalian tuh, ya, udah dibilang megang kepala orang itu nggak sopan! Ini namanya perundungan! Lagian dari membahas game online kenapa jadi bahas cinta, hati kecewa sama obat-obatan, sih? Nyambungnya di mana?"


"Soalnya bakal game yang kita bahas ada misi cinta-nya. Kita harus menyatukan jenderal Juna dengan peri siapa tuh yang gaya rambutnya ribet banget untuk mencapai level tertinggi. Nah, uniknya, si jenderal wajib bikin perinya itu senang sampai kadar levelnya maksimal. Baru deh bisa lanjut ke tahap berikutnya."


"Itu game online atau drama percintaan, sih?" Madam Shanty mengernyit. "Emang ada game kaya gitu?"


"Ada, Ma!" Yang lainnya menjawab serempak.

__ADS_1


"Banyak kok, game yang berkisah kaya gitu, Ma? Kisahnya juga punya latar belakang yang sangat beragam. Hampir semua game yang pangsa pasarnya besar dan rada serius mengusung tema dan misi khusus sesuai minat tertentu. Ada yang soal keluarga, romantika, sekolah, memasak, make over barang atau orang, macam-macam gitu, Ma," jelas Salma.


"Sekarang kalau bikin game, misinya harus menarik. Ya itu kalau yang bikin game mau supaya game-nya disukai para gamer dan sukses di pasaran," kata Rega.


"Nggak cuma itu, Ma. Kostum, wajah, karakter, dan latar secara visual harus eye-catchy. Audionya juga nggak asal bikin. Pokoknya aku nggak nyesel dulu cinta banget sama Final Fantasy." Rocky yang memang hobi main game online menambahkan informasi bagi sang mama.


"Game yang dulu sering dimainkan Om Robin?" tanya sang Mama. Robin yang disebut adalah almarhum adik kembar suaminya.


"Iya, Ma. Mama kalau lihat kostumnya, beuh! Pasti suka!"


"Pada masa itu keren banget, Ma. Dan alur game-nya itu mirip cerita film, Ma. Seru. Jadi, dalam permainan itu... " Mulailah si kembar Rega dan Rocky bergantian menuturkan ketertarikan mereka pada dunia permainan daring.


Madam Shanty mengamati dan mengikuti dalam diam. Dirinya mengakui, ia kurang memahami permainan daring. Dunia antara generasinya dan anak-anak punya celah besar yang ia sadari sebagai tantangan.


Seperti dibatasi jurang di banyak sisi dan harus ada yang melakukan lompatan supaya bisa mendalami seluk-beluk dunia yang satu dengan yang lain. Dia tahu bahwa perbedaan minat, keterampilan, wawasan, dan pengalaman antar-generasi sebisa mungkin mesti ia taklukan. Jauh dari mudah. Terlebih banyak diantaranya bukan hal yang ia minati.


"Jika dilawan, tidak akan ada titik temunya, malah berpotensi menimbulkan perpecahan. Maka, satu-satunya cara bijak, harus dijadikan kawan dan berjalan beriringan. Biar mereka sama kita juga jadi nyaman karena nyambung, Ma."


Begitulah ujung hasil bertukar pikiran sang Madam dengan suaminya, Ronie Nagendra. Suaminya sendiri tergolong orang sibuk. Dokter ahli bedah sekaligus pemilik rumah sakit swasta besar itu tetap mengutamakan keluarganya walau separuh hidupnya dibagikan kepada para pasien dan rumah sakit.


Keduanya telah bersepakat menjadi orang tua yang bersahabat dengan anak-anak mereka. Keduanya ingin menjadi pendukung terbesar meski tidak menjadi yang terhebat bagi anak-anak.


Dia ingin memahami dunia anak-anaknya. Untuk itu, dia berjuang keras mengalahkan ketakutan, kesombongan dan egonya sendiri demi bisa berjalan beriringan, menemani, mendampingi dan mendukung anak-anaknya. Ia dan suaminya berharap agar anak-anak mereka sukses dan bahagia dengan dunia yang mereka sukai, selagi tidak bertentangan dengan yang baik dan benar.


"Eh, Ky, jadi teringat game yang dibuat si Bungsu. Aku dimintain tolong dia untuk membuat musik latar game-nya. Buat demo, katanya. Sekilas aku 'kan lihat konsepnya. Bagus banget, lo! Idenya tuh keren, menurutku," Rega melanjutkan.


"Oo, iya benar. Aku sempat dengar Si Bungsu teleponan, mau bikin game lagi, Kak. Bukannya kapan hari dia habis ikutan kompetisi? Udah menang, kan? Terus nggak istirahat? Pasti capek, kan?" Masih memegang kemudian, Salma melibatkan diri dalam perbincangan.


"Iya juga. Mama perhatikan si Bungsu akhir-akhir ini kalo pulang kenapa malam terus ya? Emang sibuk banget dia? Ingat makan nggak dia? Kalau sakit gimana?"


Salma dan kedua kakak kembarnya saling bertukar pandang lewat kaca spion tengah. "Gimana kalau sekarang kita culik dia, Ma?"


Jam dijital di dinding seperti kehilangan muka. Keberadaannya telah diabaikan berjam-jam yang lalu. Sementara, waktu terus berjalan dan angka yang diperlihatkannya terus berubah setiap detiknya, sekadar menyampaikan kenyataan bahwa siang sudah lama pulang, bergilir dengan malam. Namun manusia-manusia di ruangan besar serupa aula itu tidak ada yang perduli.


Ini adalah XT Corp. Perusahaan IT sekaligus pengembang software game online besar yang dikembangkan anak bontot keluarga Narendra. Dua tahunan lebih Exalphus Narendra merintis perusahaan ini bersama teman-temannya. Kerja keras yang ditekuni penuh semangat dan kesenangan mulai membuahkan hasil. Setidaknya tiga game online yang dicetuskan XT Corp meledak di pasaran dan semakin meluas lingkup peminatnya. Nama XT Corp pun menguat di dunia IT.


Drrrt! Drrrt! Ponsel Exal bergetar untuk kesekian kalinya.


"Xal, HP kamu tuh!" Glenn, rekannya memberi tahu setelah melirik sekilas. Sekadar mengenali ponsel siapa yang tidak sopan menimbulkan gangguan.


"Hm." Pemilik ponsel menanggapi singkat. Tangannya sibuk dengan keyboard dan mouse. Perhatiannya belum terakihkan dari layar monitor.


"Ganggu, tuh!" Tegur Glenn.


"Hm."


"Oufhh!" Glenn memutar bola mata, kesal dengan tanggapan orang di sebelahnya.


Exal tetap fokus pada aktivitasnya. Uji coba permainan baru ini sangat penting. Sekalipun langit runtuh, Exal merasa bertanggungjawab memastikan game ini baik-baik saja. Secinta itulah ia dengan hobinya. Setiap game yang keluar dari XT Corp adalah anggota keluarga. Bisa dianggap, mereka adalah anak-anaknya.


Drrrt! Drrrt! Lagi-lagi ponsel Exal bergetar. Karena tidak tahan, Glenn menegur lagi. "Xaaal! HP Luuu! Berisik!"


"Hmm."


Kesal, Glenn menekan tombol PAUSE dan menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh kepada Exal yang duduk di kursi sebelahnya seraya melontarkan tatapan setipis garis.


Dengan sigap, Billy, asisten Exal langsung berdiri dan meredakan emosi Glenn lewat isyarat. Billy melihat layar ponsel Exal, mendapati nama Queen sedang melakukan panggilan. Mata Billy membelalak kaget, panik. Diambilnya ponsel Exal cepat-cepat. Queen adalah penamaan Exal untuk mamanya, Madam Shanty Parwati Nagendra.

__ADS_1


"Halo, Tante, selamat malam. Ini Billy, Tante," ujar Billy ramah dan ceria.


[Halo, Billy. Ini Salma. Darurat! Exal tolong diminta keluar sekarang, dong! Soalnya Mama... ]


Telat! Tanpa perlu bersuara, kehadiran Shanty sukses mengalihkan seluruh perhatian kepadanya. Shanty Parwati tengah berjalan menuju Exal dan kini ia melewati Billy. Dengan senyuman di wajah, Shanty sebetulnya bersikap ramah. Namun entah mengapa keramahan itu justru terasa menimbulkan rasa sungkan.


"T-t-tante?"


Semua orang yang ada di ruangan itu menghentikan aktivitas dengan netra terpaku pada Shanty dan bos mereka, bergantian. Shanty sudah berdiri di belakang kursi Exal. Hampir saja ponsel Exal melorot dari genggaman tangan Billy yang masih ternganga, kaget melihat Shanty.


Di antara semua mahkluk yang bernapas di aula XT Corp, sepertinya hanya Exal yang belum menyadari perubahan atmosfer di sana. Ia masih fokus dengan kegiatannya. Glenn mengetuk meja Exal, mencoba memberi isyarat. Namun Exal bergeming. Mengetahui aksinya gagal, Glenn meringis minta maaf kepada Shanty. Lantas Billy menendang kaki kursi Exal, dua kali, dan mendapatkan respon.


"Hmm." Hanya itu. Exal masih bergeming. Melirik pun tidak.


Menyerah, Billy beringsut mundur teratur, memberi ruang kepada ibu atasannya. Ditelannya liur yang menumpuk tiba-tiba akibat terkejut, gugup, dan segan.


Shanty tersenyum berterima kasih. Lalu ia menepuk perlahan pundak Exal. Ajaib. Exal tahu-tahu menekan tombol PAUSE dan berbalik. Ia melihat wajah mamanya yang tersenyum kepadanya dan balas memandang naif.


"Pulang, yuk," pinta Shanty. Exal mengangguk, "Hm."


"Itu diberesin dulu. Mama tunggu di luar, ya. Lima menit cukup?" tanya Shanty. Exal mengangguk lagi. "Hm."


Shanty mengusap bahu putra bungsunya lalu berbalik. "Bil, ini udah jam berapa? Nggak bagus kalian begadang berhari-hari. Istirahat. Besok dilanjutin lagi."


"Ya, Tante," kata Billy sopan. "Makasih diingetin, Te."


Atas perkataan ibu dari bosnya, sebetulnya Billy sangat punya alasan untuk membantah. Namun, Shanty seperti orang-orang pada umumnya yang berpendapat bahwa jam kantor ada pada waktu matahari menampakkan diri, dihitung dari sekitar pukul 7-9 dan berakhir maksimal saat matahari terbenam. Lewat dari itu, maka hitungannya adalah lembur atau begadang.


Sebagaimana dicita-citakan Exal, XT Corp menerapkan jam kerja yang sangat fleksibel. Kantor buka 24 jam dengan sistem operasi yang baik meski terkesan bebas. Tentu tetap saja ada peraturan. Namun semua disepakati dan menuntut tanggung jawab penuh. Tuntutan tinggi untuk bisa berkarya dalam bidang IT jelas menjadi kebutuhan perusahaan. Namun, semua yang terlibat dan menerima manfaat harus bisa menikmatinya, baik dari proses pembuatan hingga hasil jadinya.


Ada tuntutan, ada pula fasilitas. Exal ingin segalanya seimbang. Ruang istirahat termasuk ruang menginap sementara, kamar mandi, serta ruang makan yang terintegrasi dengan dapur sudah disediakan. Ada pula taman di rooftop untuk bersantai dan berkegiatan di luar ruangan. Selain itu, dua lantai persis di bawah rooftop disewakan kepada karyawan yang ingin tinggal. Selain menghemat dana transportasi menuju dan pulang kantor, hemat energi dan waktu juga untuk bekerja dan pulang.


Kini, sang pendiri sekaligus pemimpin XT Corp sedang berbenah. Ia benar-benar menepati 'hm'-nya kepada sang mama. Setelah berkoordinasi dengan tim, Exal merapikan meja kerjanya.


Sebuah proposal kerja sama dari sebuah anak perusahaan Benito Group sekilas menyita perhatiannya. Karena itu, ia mengambil proposal itu, memasukkannya ke dalam ransel hitam yang sedianya ia bawa pulang. Diliriknya jam dinding dijital sekilas. 23:22. Pantas saja ia dicari Mamanya.


Tidak sampai lima menit, Exal sang bos XT Corp sudah meninggalkan kawasan, masuk dalam mobil di mana ketiga kakak dan ibunya berada. Kegiatan di XT Corp pun berlanjut seperti seharusnya.


Apakah Billy pulang? Oh tidak. Billy baru sekitar dua jam yang lalu memulai aktivitasnya. Ia melanjutkan uji coba game yang ditinggalkan Exal sembari sesekali membuat catatan dari memo-memo yang sengaja dibuat Exal sebelumnya.


"Hhh. Oke. Biar aku lihat. Apa yang kurang nih, Bos? Hmmm."


Billy pun terlarut dalam dunia fantasi permainan baru, melanjutkan pekerjaan atasannya.


...* * *...


Omella berjalan perlahan. Merasa dirinya ada diantara kumpulan awan putih. Ia mengenali sosok yang ada tak jauh di depannya. Itu dirinya. Dia juga Omella. Lalu, Omella yang di sana sedang apa?


Perlahan ia mendekat. Omella melihat dirinya begitu asyik mengguratkan pensil di atas sebuah kertas sketsa lebar. Ia duduk menghadap papan sketsa dengan pikiran yang berkecamuk setiap kali jarinya yang memegang pensil bergerak menorehkan sesuatu. Penasaran dengan yang di gambarnya, Omella mendekat.


Kini jelaslah gambar itu. Omella mengernyit bingung melihat sketsanya sendiri. Sekali lagi diperhatikannya sketsa itu. Yang jelas ia menggambar orang dengan kostum yang aneh. Ia belum pernah membuat sketsa semacam itu. Untuk festival tematik sekalipun. Kostum aneh dengan mahkota dan aneka aksesoris yang sebagian lebih mirip senjata. Desain apa ini?


"Ahh! Ketemu!"


Suara laki-laki dari belakang membuatnya terkejut. Omella pun berpaling. Di antara kepul awan putih, sosok laki-laki itu muncul. Semakin terkejut lah Omella ketika ia mengenali wajah itu. Wajah yang tersenyum.


Perawakannya tinggi, tegap, gagah. Wajah muda serupa pelajar sekolah menengah atas. Ia mengenakan seragam sekolah.

__ADS_1


Lho! Itu bukannya seragam sekolahnya dulu? Dia..., dia...


"B-badra?"


__ADS_2