Diari Mantan Pacar

Diari Mantan Pacar
Ternyata Bukan Mimpi


__ADS_3

"Matahari setiap hari pasti akan terbit dan terbenam. Peran dan tugasnya telah ditetapkan semesta dan ia menjadi terbiasa. Meski mungkin awalnya terpaksa dan tidak suka, bisa jadi kini ia telah jatuh cinta."


Ujung-ujung jemari Omella meraba lembaran sketsa. Ia tertegun, heran dengan penampakan guratan tangannya sendiri. Masih dengan rambut yang acak-acakan tergerai bebas dan wajah khas habis bangun tidur yang belum kena air basuh, Omella duduk merenung menghadap meja tulisnya.


"Ini apa, sih? Kartun? Komik? Apa, sih? Aku belum pernah membuat sketsa kaya gini."


Hingga suara ketukan di pintu mengalihkannya. "Ya?" sambut Omella. Pintu kamar pun dibuka dari luar. Yah, Omella jarang mengunci pintu kamarnya. Malah, semua orang di rumah ini melarangnya mengunci pintu, termasuk pintu kamar mandi.


"Woy, kok udah bangun?" Horta menyapa dengan wajah heran begitu membuka pintu. "Bergadang? Udah sempat tidur, belum?"


"Nggak begadang, Ta. Hanya bangun kepagian. Kok tahu aku udah bangun?" tanya Omella sekilas.


Horta bersedekap, menyandarkan diri di ambang pintu dengan malas. "Lihat lampu kamarmu nyala dari celah pintu. Beneran, nggak bergadang? Insomnia? Lagi ada masalah? Atau mimpi buruk?"


Omella tersenyum. Ia lalu berpaling, kembali ke posisi semulanya, memandangi sketsa yang ia buat sendiri. "Tepatnya, mimpi aneh, sih. Aku mimpi sedang bikin ini. Tapi aku nggak tahu ini apa. Nggak sekalipun aku bikin beginian."


Tahu-tahu Horta sudah berdiri di belakangnya, membungkuk ikut mengamati gambar yang dimaksud Omella. "Wuihh!" Lembaran sketsa itu diambil Horta. Diamatinya setiap guratan pada lembaran itu. "Kakak gambar tokoh manga? Atau ini semacam tokoh game?"


"Haah?" Omella mengernyit, tidak mengerti.


"Anime, Kak," Horta menjelaskan. Omella hanya mengerjapkan mata beberapa kali, masih belum menangkap maksud Horta. "Apa'an, sih, Ta? Komik?"


Mendengar pertanyaan Omella, Horta memutar bola mata. Menyerah. "Yah, bisa juga yang semacam itulah. Cukup bagus lo, Kak. Tumben, Kakak bikin gambar ginian. Merambah dunia Baru atau mau alih profesi, nih?"


"Tata ngomong apa, sih? Nggak jelas!"


"Lho kok malah ngomel? Kan aku bilang ini cukup bagus. Terus yang tadi Kakak bilang mimpi aneh kaitannya sama ini apa?"


"Ya itu, aku mimpi lagi gambar itu. Begitu bangun cepat-cepat aku gambar sesuai yang ada dalam mimpiku. Selagi ingat."


Horta memandangi kertas sketsa di tangannya lalu memandangi Omella. "Ya udahlah, namanya juga mimpi. Bunga tidur. Ngapain juga dipikir berat? Turun, yuk! Aku mau bikin susu tuti fruti kaya kemarin. Kakak mau nggak?"


"Mau! Cuz, laksanakan!"


...*...


08:00 Hotel Maleakhi, Anak Perusahaan Benito Group


Range Rover hitam milik Badra parkir tepat di depan lobi. Setelah menyerahkan kunci mobilnya kepada petugas valet parkir, Badra turun lalu berjalan memasuki lobi. Rapat pagi ini rencananya dimulai pukul 08:15 sebagaimana dijadwalkan oleh Adinia.


Seperempat jam merupakan waktu persiapan mengingat rapat pagi ini baru diagendakan semalam, hasil dari obrolan santai tapi berbobot Bos Besar Benito Group dengan Direktur Utama, Badra Ardhani.


"Selamat pagi, Pak," sapa Adinia dengan seulas senyum ramah menyambut atasannya. "Ini rangkuman poin obrolan semalam dan garis besar materi rapat kita." Badra mengangguk, menerima map yang disodorkan kepadanya. "Masih ada lima belas menit. Bapak perlu sarapan dulu?"


"Ya. Jus mixberries, kalau ada. Kalau nggak ada, espresso yang biasanya saja cukup."


Adinia tersenyum lagi. "Ada, Pak. Segera saya siapkan. Bapak mau langsung ke ruangan?"


Dijawab Badra dengan anggukan. "Makasih, ya."


Bekerja sebagai sekretaris Badra selama enam bulan lebih dari cukup bagi Adinia untuk mengingat banyak hal yang berkaitan dengan atasannya itu. Kebiasaannya, cara kerjanya, cara berpikirnya, apa yang disukai dan tidak disukai, mana yang perlu didekati dan mana yang perlu atau ingin dihindari. Adinia mencatat semua itu di dalam pikirannya, mengunci semua data itu dalam ingatan dan mengeluarkannya pada saat diperlukan.


Seperti sekarang. Hotel tempat para pembesar Benito Young Corporation mengadakan rapat pagi ini sengaja dipilih Adinia mengingat atasannya punya kebutuhan sarapan yang agak rewel. Tim dapur hotel lain mungkin akan sedikit kerepotan. Namun, mengingat hotel ini berada di bawah naungan Benito Group, maka Adinia lebih leluasa mengatur banyak hal yang khusus itu.


Sudah menjadi rahasia publik, Badra punya mobilitas tinggi sehingga kerap singgah bahkan menginap di hotel dan resort di bawah naungan Benito Group. Fakta berbicara. Badra adalah tokoh yang cukup disegani dan dianggap penting di dunia bisnis. Ke mana pun Badra pergi, segenap anak perusahaan yang tergabung dan dikelola di bawah naungan Benito Group akan berusaha sebisa mungkin memberikan kemudahan dan pendukung baginya. Kelancaran kerja Badra artinya kesuksesan bagi Benito Group. Ditambah lagi pasca kabar bahwa Badra bertunangan dengan putri Bos Besar pemilik Benito Young Corporation. Kecil kemungkinan mereka menolak memenuhi permintaan unik Badra.


Jus mixberries dan espresso untuk sarapan Badra, misalnya. Jus aneka buah beri yang disukai Badra benar-benar jus yang isinya campuran dari aneka buah beri seperti blackberry, blueberry, raspberry, dan wajib dicampur yoghurt tanpa rasa dengan susu sapi cair yang juga tanpa rasa, sama sekali tidak dicampur air. Satu catatan penting, jus itu tidak boleh ada campuran stroberi sama sekali. Alasannya, atasan Adinia itu tidak suka buah stroberi.


Lalu soal espresso. Badra adalah pemuja kopi hitam Indonesia. Maka, kapanpun atasannya menghendaki minum espresso, Adinia hanya perlu memastikan kopi yang digunakan adalah kopi asli Indonesia. Dan ketika Badra mengatakan 'espresso yang biasanya' maka yang dimaksud bukan hanya secangkir kopi hitam kental. Setangkup roti dengan selai beri-berian kecuali stroberi adalah pendamping wajib yang harus ada di samping cangkir kopinya.


Tepat pukul 08:15 rapat dimulai. Topiknya menindaklanjuti gagasan hasil brainstorming Bos Besar dengan sang Direktur Utama. Perbincangan dan pembahasan mulai seru. Hingga 20 menit kemudian,


"Kemarin kita baru saja mengirimkan proposal kerjasama ke XT Corp untuk menyediakan tempat kompetisi game online dan penginapan peserta, Pak. Sementara ini masih belum direspon. Terus kami upayakan."


"Nah, itu sejurus dengan topik meeting kita, Pak. Tinggal ditambah ide lagi. Saya dengar pemilik XT Corp itu masih muda dan top model juga. Lagi naik daun. Eksal-eksal siapa gitu namanya. Pokoknya ada 'x'-nya. Makanya perusahaannya dinamai XT. Ganteng, Pak. Anak saya aja nge-fans sama dia. Mengidolakan banget lah pokoknya."


"Iya, Pak. Adik-adik saya juga. Cakep, pintar, keren kata anak muda. Hitungannya, dia selebriti lah, Pak. Baru diincar jadi duta iklan di mana-mana. Kalau kita bisa bikin ide terpadu dan ajak kerjasama mitra lain yang sejalan, menurut saya prospek profit dan benefit-nya bisa lebih baik, Pak."


Badra mengangguk-angguk. Ia sendiri belum begitu mengenal perusahaan yang disebut. Ia pun melirik penuh arti kepada sekretarisnya. Adinia pun tanggap. Segeralah ia merambah dunia maya mencari tahu tentang XT Corp dan pemiliknya seperti yang tengah dibahas dalam rapat itu.


"Lah, Pak, maaf sebelumnya, ya, Pak. Bukannya tunangan Bapak kerjanya desain baju-baju yang buat cosplay gitu ya, Pak? Kali aja Mbak Kara lebih paham soal ini, Pak. Mungkin malah bisa ngasih ide."


"Iya juga. Mbak Kara bukannya suka desain ala-ala anime, ya, Pak? Lagian Mbak Kara kan juga sering jadi model foto dan sering kerja bareng artis. Barangkali Mbak Kara kenal sama pemilik XT Corp."


Badra dan Adinia bertukar pandang. Iya, juga, ada Kara, batin Badra. Ia lupa. Pacarnya penggemar anime dan jelas sangat menyukai manga. Beberapa kali tunangannya itu berpartisipasi dalam cosplay. Awalnya karena tuntutan pekerjaan sebagai model bayaran. Lalu keterusan dan ikut menyukai dunia cosplay. Kerap pula ia mencoba merancang kostum untuk diikutkan dalam pawai dan festival cosplay.


"Kalau begitu, tolong bikin tim-tim kecil untuk bisa menggali ide lebih dalam terkait kemungkinan kerjasama yang lebih besar dan terintegrasi. Saya beri waktu tiga hari. Tulat kita bahas lagi. Waktu dan tempat seperti hari ini. Rapat selesai. Terima kasih."

__ADS_1


...* *...


"Beneran, kamu nggak tahu?" Kara mengerjapkan mata rusanya beberapa kali kepada Badra. "Serius, kamu nggak tahu X+ALT?" Badra menggeleng. Ia jujur. Dirinya memang tidak tahu.


Gelengan Badra yang naif membuat mata gadisnya yang indah terbelalak lalu memasang mimik sedih. Kara, gadis cantik yang usianya terpaut lima tahun lebih muda dari Badra itu sungguh-sungguh merasa iba terhadap kekasihnya. Dihelanya napas panjang, menyabarkan diri sendiri.


"XT Corp itu perusahaan IT yang kerja utamanya mengembangkan software dan aplikasi permainan daring alias game online, Pak Badra. Ownernya adalah X+ALT. Namanya ditulis dengan huruf X, tanda tambah, terus A, L, T," terang Kara.


"Alt? Tombol ALT?"


Kara mengangguk. "Iya. Jadi, tulisannya kaya gini!" Kara mulai menulis di atas selembar kecil kertas memo merah muda. Ditulisnya X+ALT lalu diperlihatkannya kepada lelaki tampan yang duduk tepat di sampingnya.


Badra membaca sekilas kertas dari Kara. "Ooh."


"Ooh? Gitu doang komentarnya? Ini kan keren?"


Badra memandangi netra indah tunangannya. "Menurutku nggak keren, sih. Ribet. Aneh. Nyentrik. Cari sensasi. Nulis nama aja susah. Orangnya kaya apa, tuh? Nama, udah bagus, sederhana, dibikin rumit. Kenapa nggak biasa aja penulisannya? Eksal. Gitu aja kan simpel, jelas. Kenapa harus dibikin susah kaya gitu?" komentar Badra sambil mengisyaratkan kertas memo di mana nama pemilik XT Corp dituliskan Kara.


"Hiih, Bapak Badra Ardhani, Anda kelewatan. Itu namanya membangun imej, Pak! Bikin nama unik emang salah, ya? Bukannya itu kreatif? Ish, beneran, deh, nggak seru. Setua apa, sih, Bapak sampai model sekelas X+ALT aja Bapak nggak tahu? Pasti sering dong lihat muka dia di Billboard? Baliho!"


"Ooh. Emang ada, ya?"


"Ada, Pak. Ada!" Kara menyahut berapi-api. "Atau di internet, Pak. Iklan dia banyak, lo! Dari iklan hardware, game aksesoris, apparel, sampai parfum, ada tuh! Tersohor dia tuh, Pak. Jangan bilang Pak Badra sebagai direktur kerjanya cuma lihat file di komputer kantor dan nggak main internet!"


Badra hanya nyengir kuda. "Kan aku pakai layanan premium. Bebas iklan, Sayang."


Kara menepuk dahinya. "Ish, pacar siapa sih ini? Parah banget. Sini, aku kasih lihat!" Kara menarik Badra untuk duduk lebih dekat. Ia memencet tombol pencari mode suara. "Eksalt eks ti korp," katanya di dekat tablet. Lalu muncullah aneka artikel X+ALT dan XT Corp berikut situs resmi perusahaan itu. "Nih! Lihat, dong, Pak! Sebegini banyak informasi soal orang paling ganteng, nomor satu, se-Indonesia yang konon kabarnya Pak Badra Ardhani nggak tahu. Nih!"


Badra beringsut mendekat. Ia menerima dengan pasrah saat tunangannya mendorong tablet ke tangannya. Mesin pencari begitu kejam. Sebanyak itu ternyata informasi soal pemilik XT Corp beserta perusahaannya. Badra jadi tampak bodoh dan tua, serasa ketinggalan informasi seribu tahun cahaya dari pacarnya yang memang lebih muda itu.


"Hm. Camera face, ya?" Badra berujar lirih, seperti sengaja hanya menggumamkan pendapatnya. "Atau efek dempul? Fitur jahat kamera, mungkin?"


Kara mendelik. "Mak-sud Anda, Pak? Bapak menghina orang seganteng dan sebaik dia?" Reaksi Kara membuat Badra terkejut. Kara tidak biasanya menunjukkan ekspresi segalak itu.


"Ya kan kali aja itu hasil sotosyop atau fitur kamera cantik," lanjut Badra, mencoba membuat pemikirannya lebih jelas. Namun justru karena itulah amarah Kara makin menjadi.


"HEY!" Kara menghardik, membuat tubuh besar Badra tergidik. Telunjuknya menuding ujung hidung Badra.


"Jangan ngomong sembarangan, Pak! Dia ganteng udah dari sananya. Nggak perlu tuh pakai trik-trik dan manipulasi kamera!"


"Oke. Maaf. Anggaplah dia memang model profesional,bukan banci kamera yang butuh ditolong fitur pendukung. Gimana soal perusahaannya? Dari yang kubaca, XT Corp adalah perusahaan balita. Agak nggak masuk akal aja sih buatku, perusahaan yang baru tumbuh dal waktu singkat bisa maju pesat kaya jet coaster. Pasti ada pendukung. Bisa juga dikatrol perusahaan lain. Hanya, soal itu aku masih perlu cari tahu."


Dan Badra semakin mundur. Posisi duduknya kini sungguh tak nyaman, terhimpit antara sudut kursi sofa dan badan tunangannya yang mungil tapi sedang berubah wujudnya menjadi vampirwati.


"Lagian yang namanya X+ALT orangnya baik, nggak songong walaupun dia hebat. Dan semua orang tahu itu, kecuali kamu! Herrgh!"


"Sayang, ampun," pinta Badra. "Ampun. Please. Ampun, ya?"


"Jangan pernah kaya gitu lagi. Pacar Anda penggemar X+ALT nomor satu. Paham?"


Badra hanya mengangguk. Ia menuang air ke gelas dan menyodorkannya kepada tunangannya yang sedang murka. Dengan garang gelas itu disahut. Kara meminumnya sampai habis.


"Udah, kan, marahnya?" tanya Badra lembut. Kara meliriknya kesal tapi air mukanya sudah jauh lebih manusiawi. Dalam hati, Badra bersyukur karenanya. Ia hafal betul, gadisnya memang mudah meledak, tapi mudah mereda pula. "Nggak ada masalah lagi soal ini, ya?"


Kara memanyunkan bibirnya. Ia sadar, dengan Badra ia tidak bisa marah lama-lama. "Hm."


Badra tersenyum. "Nah, sekarang aku mau tanya. Kamu ada ide nggak seandainya perusahaan papamu ngadain kerjasama dengan XT Corp dan melibatkan mitra lain dengan bidang berbeda?"


Kara kembali duduk nyaman di posisinya semula.


"Hmm. Aku sih tahunya soal desain kostum cosplay dan semacamnya. Kenapa nggak ngobrol aja dulu sama ownernya langsung?"


"He? Sama si X+ALT itu, maksud kamu?" Pertanyaan Badra dijawab dengan anggukan. "Kapan aku ketemunya? Gimana mau komunikasi? Kenal juga belum," kata Badra. Mendengar itu, Kara kembali manyun kesal kepada Badra.


"Emang, ya, pacaran sama manusia biasa yang masih setengah dewa kadang mikirnya lola. Nggak ganteng deh kamu kalau lagi kumat dodolnya kaya begini, Pak!" Kara mengambil ponselnya. Ia mengutak-atik layar ponselnya lalu...


CLING! Notifikasi pesan masuk pada ponsel Badra berbunyi.


"Komunikasi nggak harus ketemu langsung, kan? Itu nomor telepon XT Corp. Ada di situs perusahaannya. Kamu telepon, janjian ketemu atau telepon sama pemiliknya. Kalau perlu minta nomor kontak pribadi X+ALT."


Badra melirik Kara. "Hehe. Iya juga, ya? Tapi, ini udah jam berapa, Sayang? Udah lewat dari jam kantor, kali, Say."


Ponsel Badra seketika berdering. Badra melirik nama yang muncul pada layar ponsel lalu segera mengangkatnya.


"Ya, Nia?"


[Malam, Pak. Maaf mengganggu. Saya berhasil menghubungi XT Corp dan bicara dengan asisten pemiliknya. XT Corp sedang mengembangkan game online baru, Pak. Mereka saat ini lebih membutuhkan perancang kostum untuk tokoh-tokoh dalam game yang baru itu, Pak.]

__ADS_1


"Oke, Nia. Good job! Kalau kita bisa ajak mereka bikin kompetisi desain kostum, kayanya seru, tuh! Kita yang menyediakan fasilitas. Mereka bisa sekalian promosi game terbaru. Dan kita bisa menggaet mitra lain yang memang memahami dunia mode dan cosplay, mungkin? Aahh, kalau itu, saya malah punya referensi. Rumah Mode Madam Shanty apa bisa kita ajak?"


...* * *...


Mata sayu. Langkah gontai. Rambut acak-acakan. Sang pemilik perusahaan XT Corp dengan santai dan acuhnya menggeliat sambil berdiri. Dalam balutan kaos putih polos dan jaket denim pudar yang tak dikancingkan, ia tetap menawan. Pesonanya sungguh tak bisa diredam. Setidaknya itu yang dipikirkan barisan kaum hawa yang sejak tadi memandangi Exal tak putus-putusnya.


"Bungsuuu? Stop di situ!" Salma menegur adiknya. Ia bergegas mengeluarkan semacam krim bening, mengusap-usapkannya pada telapak tangannya sendiri, berjalan mendekati Exal. "Rambut!" perintahnya.


Exal pun menekuk lutut, memberi kesempatan kepada Salma untuk meraih kepalanya yang kini sejajar dengan pundak sang kakak. Hanya butuh beberapa detik bagi Salma untuk menciptakan keajaiban pada rambut adiknya. Kini gaya rambut Exal tampak sempurna, sekalipun hanya disisir dengan jari-jari sang kakak.


"Kita ke sini mau meeting, menyiapkan proyek penting. Kamu malah pakai pakaian begini. Ugal-ugalan. Ngaco! Dikiranya kamu nggak menghargai orang yang ngajakin kerjasama. Ngerti nggak?" Salma mengomel.


"Em," Si Bungsu mengangguk. Kedua matanya masih menutup. Sangat jelas ia mengantuk. Atau sengaja ingin memberi kesan bahwa ia masih ingin tidur.


Susah payah Salma dan kedua kakak kembarnya membangunkan Exal. Dan gagal. Akhirnya sang Mama lah yang turun tangan. Seluruh penghuni rumah termasuk kucing putih kesayangan si kembar Rega-Rocky adalah saksi hidup dari peristiwa itu.


Dengan kekuatan dan kelembutan seorang Mama, sekali tepuk di bahu dan panggil nama saja, itu pun dengan lirih, dunia mimpi si Bungsu langsung padam. Si Bungsu langsung menggeliat, membuka mata, duduk, lalu bangkit dari tempat tidur dan mandi. Ajaib, kan? Tanpa perlu Mama mereka mengomel, tidak harus marah-marah, apalagi seriosa dan membuat kegaduhan penuh kekerasan seperti aksi sapu melayang atau semacamnya.


"Nanti kamu ikut Kak Ega dan Kak Oky ke ruang kostum. Ganti setelan resmi di situ. Dengar, nggak?" omel Salma lebih galak.


"Em." Exal mengangguk, lagi. Mematuhi omelan Salma, Exal mengikuti kedua kakak kembarnya menuju ruang kostum. Bukan hal baru baginya mendapatkan sambutan penuh kekaguman dari orang-orang yang ada di sana. Ia dan kedua kakaknya menjadi pusat perhatian. Sekali lagi, ia telah terbiasa.


Sementara kedua kakaknya berjalan masuk menyapa para karyawan, Exal berkeliling dengan santai sambil melihat-lihat koleksi pakaian pria. Bukankah ia diminta Salma untuk mengganti pakaiannya dengan yang lebih resmi?


"Hai, Telur Dadar! Ketemu lagi kita," sapa Rocky sambil melambaikan tangannya kepada Omella. Senyumnya riang. Suaranya renyah. Omella membalasnya dengan senyuman yang dipaksakan.


"Eh, Telur Dadar, nggak ikhlas banget senyumnya?"


"Ky! Kamu nanti ditegur Mama lagi, lo! Ada aku, saksinya. Buruan minta maaf!"


Omella menoleh, mendapati Rega, lalu tersenyum ramah kepadanya. "Mas Rega, ya? Halo, Mas! Met pagi. Makasih ya, saya dibelain."


"Wuahh, Telur Dadar, kamu pilih kasih! Sama Ega ramah. Sama gue kok lu jutek, sih?"


"Okyyy! Minta maaf! Nggak sopan, ganti nama orang sembarangan," tegur kembarannya lagi. Rocky menatap Rega dengan sinis, pura-pura marah.


"Ah, Ega. Kompak dikit, dong! Namanya juga panggilan sayang. Ya, kan?" Perkataan Rocky membuat Omella terkejut.


Panggilan sayang katanya? Ketemu juga baru sekali, seenaknya saja bilang panggilan sayang. Elo dan gue ada hubungan apa? Ngajak gelut banget, sih, ini orang?


"Oh iya, di sini ada setelan resmi buat cowok, kan? Pinjamin satu, dong, Telur Dadar! Kamu kan baik, pedulian, peka, lemah lembut, perhatian, dan nggak tega lihat cowok ganteng kesusahan. Pilihin, dong, Sayang! Apapun pilihan kamu, langsung dipakai sekarang, deh, nggak pakai nolak," pinta Rocky.


Hoek! Cuih! Apa'an sih 'sayang-sayang' dari tadi? Sabar, Omella, sabar!


"Satu aja? Bukan dua setel? Buat siapa, nih? Kamu atau Mas Rega? Buat Mas Rega, aku pilihin. Buat kamu, pilih sendiri! So?" tanya Omella sambil menanggapi Rocky dengan malas.


"Eeeh, Telur Dadar, tega, ya? Beneran pilih kasih, nih?" Rocky protes. Omella semakin bersikap tidak mau tahu. Apalagi ia masih dipanggil Telur Dadar oleh Rocky.


Terpaksa Rega melerai. "Haiyah! Keburu ditungguin Mama, Ky! Satu setel aja. Bukan buat kami, kok. Buat dia! Lho? Exal mana? Kok hilang? Bungsuuu?"


Orang yang dipanggil menyembul dari barisan kostum. Matanya dan mata Omella bertemu. Keduanya terdiam. Ada kesan yang tak terjelaskan. Berlangsung singkat. Sangat singkat. Sebab kemudian Omella bergegas mengambil sebuah setelan untuk Exal.


Dua belas menit berlalu dari kejadian itu. Ketiga pemuda ganteng sudah menghilang, masuk ke dalam ruang rapat. Lalu atas perintah Madam Shanty, Omella dipanggil untuk ikut dalam rapat itu. Dengan membawa buku agenda dan sebuah buku sketsa pribadinya, Omella bergegas memenuhi panggilan itu.


Diam-diam Omella membuka pintu ruangan. Di dalamnya semua orang tampak fokus melihat ke layar proyeksi. Sebagian ruangam dari tengah ke belakang sengaja dibuat gelap. Omella berjingkat mencari kursi kosong untuknya sendiri tanpa ingin mengganggu konsentrasi para peserta rapat lainnya.


"Dalam game ini tokoh utamanya perempuan. Dia putri sekaligus dewi perang. Karakternya imut, manis, tegas, cerdas, lincah, seorang pemimpin dan petarung yang hebat, tapi kelembutannya sebagai perempuan tetap terlihat. Namanya Lady Oditi."


Omella mendapatkan sebuah kursi kosong lalu duduk sambil terus menyimak. Siapapun yang sedang berbicara, suara laki-laki semacam ini lumayan nyaman di telinga. Bariton. Omella suka mendengarnya. Cara bicaranya polos, terkesan anak muda banget, tidak sok bijaksana dan tidak dibuat-buat. Omella jadi penasaran, bagaimana rupa orang yang sedang berbicara ini?


Hingga layar presentasi menunjukkan sebuah gambar kasar. Sketsa setengah jadi. Bahkan mungkin dikatakan belum jadi sampai setengahnya. Dan Omella terkejut bukan main. Sketsa itu menampilkan seorang perempuan dengan baju zirah ala komik dengan beberapa aksesoris dan senjata yang belum begitu jelas bentuk gambarnya. Walau demikian, Omella sadar dan menangkap dengan jelas arah sketsa itu jika saja gambarnya dibuat sedikit lebih jelas.


Haah? Nggak mungkin! Kenapa bisa sama persis? Semalam aku mimpi, kan? Sekarang?


"Ya, kurang lebihnya seperti itu. Saya masih perlu mencari desainer untuk baju Oditi dan tokoh-tokoh lainnya."


Lampu kembali dinyalakan. Para peserta rapat mulai bertepuk-tangan. Hanya Onella yang tidak. Dengan panik ia membuka buku agendanya, mencari selembar kertas sketsa yang tadi pagi ia selipkan. Sekadar mengenang sebuah mimpi yang aneh. Itu tadi maksudnya, menyimpan sketsa yang baru sekali itu ia buat.


Anime, manga, komik, karakter game online? Apa itu? Entahlah. Hanya, ia merasakan perlu mendapatkan sedikit kejelasan. Termasuk kejelasan tentang mengapa setibanya di kantor, ia malah melanjutkan sketsa itu menjadi gambar yang lebih serius, memberinya tambahan guratan di sana-sini, menggenapi gambaran yang ia tangkap dalam mimpi yang masih diingatnya.


"Maaf, tapi, apakah seperti ini?" Omella berdiri, mengangkat kertas sketsanya tinggi-tinggi, meminta perhatian dari orang yang masih berdiri di depan, yang baru saja selesai melakukan presentasi.


Semua mata kini terpusat kepadanya. Exal berpaling, menatap Omella dan kertas di tangannya. Exal berjalan mendekat. Tangan Omella terulur, menyodorkan kertas sketsa kepadanya. Perlahan Exal mengambil kertas itu dan terkesiap setelah melihat yang tergambar di sana.


"Lady Oditi?" ujar Exal terbata.


Di sisi lain, masih di ruangan yang sama, seorang laki-laki juga ikut berdiri dan terkejut. Dengan suara berat yang parau tercekat, laki-laki itu bertanya di tengah keheningan. "Omella? Omelette Gressa?"

__ADS_1


Dari Exal, tatapan Omella berpaling kepada pemilik suara yang memanggil namanya. Double shocked! Benar-benar kejutan ganda. Omella melihat sosok yang hadir di pengujung mimpinya, hanya dalam rupa berbeda. Ia jauh lebih dewasa. "B-badra?"


Omella jatuh terduduk, terhenyak di kursinya.


__ADS_2