
"Coba lihat langit malam, bulan selalu ada meski kadang sembunyi. Namun tidak demikian dengan hati dan rasa. Hati kan tetap ada, tapi rasa bisa saja ada, mengada-ada, pura-pura ada dan tiada, bahkan tahu-tahu tidak ada."
"Kalau memang dia takut disalahkan, mestinya jangan sotoy, sok paham dan sok jadi pemimpin, dong!"
Bella, dengan wajah merengut mendorong kasar pintu kaca ruang wardrobe. Ekspresi kesal di wajah perempuan cantik tinggi semampai itu jelas tidak dibuat-buat. Kalau saja situasi ini kugambarkan dalam kartun atau komik, kepulan asap keluar dari lubang telinga kanan kirinya, ditambah gambar bola ruwet, kerangka tengkorak, dan beberapa tanda petir mengitari kepala. Pastinya, rona merah padam adalah warna paras Bella sekarang.
KLANG!
Kedua daun pintu besar dibuka Bella dalam sekaki dorong. Mengekor bak kereta api mulai dari Bimo, A Kim alias Kimmy, dan Omella. Masing-masing dengan daya upaya meredam amarah Bellisima, Sang ketua tim Wardrobe & Costum Rumah Mode Madam Shanty.
"Sabar, Sayang! Sabaaar!"
"Menurut Loh, gue kurang sabar gimana?" Bella malah balik memelototi Kimmy. Tubuh kekar A Kim langsung mengkeret. Ciut juga nyalinya menghadapi perempuan yang sedang putus urat ngamuknya itu. Sekalipun badannya kekar dan tingginya sekian sentimeter di atas Bella, Kimmy seperti anak kelinci yang super jinak kalau tanduk Bella mulai keluar begitu.
"Emangnya dia pernah ngajak tim kita diskusi? Ngusulin gala pameran dan fashion show seenaknya! Dikiranya semua desainer mau diajakin bikin acara dadakan? Otaknya nggak dipake! Kesel banget gue!"
Srekk! Srreekk! Kling!
Beberapa kali denting gantungan baju dan tiang penyangganya bergesekan saat Bella memilah baju-baju itu sekenanya. Namanya saja sedang emosi tingkat tinggi. Wajarlah jika Bella bersikap seperti itu. Dan tidak satupun dari mereka berani menghentikan apa yang dilakukan Bella. Ingat, keselamatan diri jauh lebih penting.
"Bilang dong sama dia, jangan mentang-mentang asisten bos terus bisa berbuat seenak perutnya! Dia pikir ini kantor bapaknya? Puih! Suruh ngaca tuh orang! Udah manja, nggak punya aturan, sukanya maksa, nuntut harus begini, harus begitu, eeh, endingnya bikin susah orang. Dasar, nyebelin! Nyusahin! Pergi aja ke kutub Utara!"
Usapan lembut Bimo pada ujung bahunya ditepis dengan kasar. "Udah dong, Bel. Masa dari kemarin marah-marah terus, sih? Nanti cantiknya kurang se-ons lo."
Dibilang begitu, Bimo malah dihadiahi mata melotot dan tampang garang. Tapi ya, sekali orang cantik mah, mau marahnya kaya apa juga tetap saja cantik. Itu semacam hukum absolut di jagad raya. Hal yang mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.
"Bilang tuh sama dia, jangan suka cari perkara! Demen banget sih berlagak jadi perempuan lemah? Heran! Apa memang dia itu di rumahnya kurang dapat kasih sayang atau malah terbiasa jadi pusat perhatian? Kenapa, sih, harus sentral ke dia? Dipikirnya dia itu siapa? Dasar cewek rese!"
Tanpa ba-bi-bu, Bimo langsung mengambil segelas air mineral dari water dispenser terdekat. Disodorkannya gelas itu cepat-cepat kepada Bella. "Mimik dulu, Say!"
Omella mengajak Bella duduk dan mengambil gelas air yang disodorkan Bimo. Dengan lembut diusapnya pundak Bella. "Minum dikit, yuk, biar tenang," pintanya.
Bela melirik Omella dengan galak. Masih manyun. Namun dari caranya melihat Omella, jelas amarahnya mulai surut. "Yuk, minum dulu, Bel!" Bella menurut. Dengan kedua tangan teelipat di depan dada, Bella menyambut bibir gelas yang diminum kan Omella kepadanya.
"Sorry ya, gue marah-marah. Abisnya gue kesel banget," kata Bella.
"Nggak apa-apa. Kami ngerti, kok. Nggak ada satu pun dari kami yang nggak ikut kesal atas ulah Melani. Kali ini dia benar-benar keterlaluan. Wajar kalau kamu sebagai ketua tim marah kaya gini." Ucapan Omella yang lembut sedikit menenangkan Bella.
"Iya, Bel. Tuh anak kemarin sore emang keliatan banget cari-cari masalah sama tim lain. Kebetulan aja malam ini yang ketiban apes tim kita.
Mentang-mentang model kesayangan Madam Shanty, baru ngerti kulit luar dunia mode aja sombongnya selangit. Huuu, dasar siluman klepon!"
"Haa? Siluman klepon?" Bimo menanggapi Kimmy.
"Kok bisa?"
"Iyalah! Nggak lihat apa, tadi dia pake baju apa? Ijo hulk ada blink-blink, kena cahaya lampu jadi berasa lihat klepon berjalan, kan, Sist?"
Meledaklah tawa mereka. Bella juga ketularan, ikut tertawa. Katanya setelah tawa mereka mereda, "Dah, udah. Kejadian tadi biar aja lewat. Kalian pasti pada masih lapar, 'kan? Emang tadi pada bisa ikutan makan enak? Malam ini, kita jajan aja. Bakmi Mbah Joyo! Ayo, siapa mau?"
"Uhlala, menggoda! Namun, Kakak... bayar alone-alone, nih?" Kimmy melirik Bella. Dia jelas enggan kalau diajak jajan bareng tapi harus bayar masing-masing. "Tanggalnya baru dewasa sekali, Kakak Syantiek! Dompet aku meronta, merana, sedih menderita!"
"Aku traktir!" Bella berdiri, bersiap dengan dompetnya. "Buruan, siapa ikut?"
"AKUUU!"
...*...
Malam belum larut. Lalu-lintas masih ramai meski tak sepadat jam pulang kantor beberapa jam sebelumnya. Dua perempuan cantik beda generasi duduk di kursi belakang. Di satu sisi ada Madam Shanty. Satu lagi ada asisten pribadinya yang tak lain adalah putri kandung sang Madam, Salma.
"Ma, kalau yang tadi itu siapa, sih? Karyawan baru?"
"Hm? Emang kita punya karyawan baru? Maksud kamu yang mana?"
"Itu lo, cewek manis yang ikutan pergi sama Kak Bella CS. Dia anak wardrobe juga?"
__ADS_1
Sang Mama tampak berpikir. "Ooh, Omella? Dia, bukan? "
"Aku nanya. Kok Mama malah nanya balik?"
"Kalau yang kamu maksud orangnya duduk di sebelah A Kim, ya Omella. Tapi dia bukan bagian dari tim wardrobe. Tapi mereka satu klub."
"Oh ya? Klub apa, tuh, Ma?" Salma tidak dapat menyembunyikan rasa ingin tahunya.
"Klub JTL atau apa gitu. Pokoknya itu klub khusus untuk yang pada belum punya pasangan."
"Ha? Klub jomblo, maksud Mama?"
"Kayanya sih, begitu," jawab sang mama. "JTL. Umm, apa ya kepanjangannya? Lupa-lupa ingat, Mama tuh. Mama lupa. Jomblo Terus Lestari? Jomblo Telah Lestari? Jomblo Terus Lari? Duh, apa ya? Pokoknya Mama ingat kalau lupa."
Salma nyengir kuda. Pasalnya di lingkaran terdekatnya, entah keluarga, pertemanan, maupun tempatnya bekerja, tidak ada yang sangat kaku, sangat konservatif, ataupun sangat serius. Ada saja hal yang mungkin aneh dan nyeleneh bagi orang umum tapi baginya itu biasa. Jadi, klub jomblo atau apalah yang barusan didengarnya, itu mestinya bukan hal luar biasa. Nyeleneh, tapi biasa saja.
"Hanya perasaanku atau dia memang dekat sama tim Kak Bella, ya? Dia kerja di bagian apa, sih, Ma?"
"Dia desainer. Dia berbakat lo, Sal. Mama sih yakin, kalau dia terus-menerus belajar, tekun, mau terbuka, kreatif, dan berpikiran maju, kelak dia jadi perancang busana top internasional."
"Masa?"
Madam Shanty tersenyum kepadanya. "Besok kamu wajib ikut Mama. Kamu buktikan sendiri, pendapat Mama valid apa enggak. Jangan sampai kamu bilang Mama berat sebelah dan nggak netral."
"Adududuh! Seistimewa itukah fashion desainer kesayangan Mama? Katanya anak baru? Kok Mama muji-muji banget kayanya?"
"Nah, 'kan? 'Kan? Udah, makanya besok kamu ikut aja. Biar kamu lihat dan nilai langsung, kaya apa rancangan-rancangan Omella. Mama juga kepingin tahu dari sudut pandang kamu."
"Hmm," angguk Salma.
"Nanti kamu bilang juga ke Mama, jangan sampai kriteria Mama soal desain menurun kualitasnya. Bisa-bisa Mama dikatain orang unqualified!"
Salma nyengir sambil duduk manis di kursinya.
"Hmm," angguknya lagi.
"Hmm!" Salma mengangguk. Senyumnya melebar.
"Ih, dari tadi diajakin ngomong, tanggapannya 'hmm-hmm' doang. Ini Mama serius, lo!"
"Hm-mh! Iya! Okey, Mamaku sayang," ujar Salma melepas tawanya seraya memeluk Sang Mama.
Dering ponsel menyelia. Salma memencet mode pengeras suara usai melirik sekilas nama penelepon di layar. "Ya, napa Kak Ega?"
[Woy! Ini Oky. Kalian masih lama, nggak?]
"Loh? Kak Oky ngapain nelpon pake HP Kak Ega?" Salma mengerut kening. "Kak Ega nya mana?"
[HPku baru dipake mainan. Ega baru ngerayu si bungsu! Kalah main sama bungsu terus kena sanksi. Traktir Grandpa Happy'o Noodle]
Alis Salma bertaut. Keningnya kian mengerut. "Grandpa Noodle apa, Kak?"
[Halah, bakmi Mbah Joyo! Mbah Joyooo! Gitu aja nggak paham. Cerdas dikit, dong!]
Salma dan sang Mama berpandangan lalu terpingkal-pingkal. Pak Totok yang duduk di belakang kemudi juga tertawa sampai air matanya berleleran. Sementara itu, orang di balik telepon mengomel tak jelas, tersamar oleh tawa orang-orang di dalam mobil.
"Harus banget bakmi Mbah Joyo, nih, Kak?"
[Iyalah. Tau sendiri, seleranya si bungsu kalo makan bakmi kaya apa. Ribet kalo pesan antar. Bisa pingsan kurirnya. Beliin, ya! Gapake lama. Ntar bisa-bisa si bungsu tambah ngambek.]
"Ya udah, tenang aja Kak. Yang mau bakmi siapa aja? Absen!" Salma bertitah.
"Gapake lama! Buruan, hayo!" Sang Mama nimbrung dalam percakapan.
[Yess! Kalo gitu pesanannya ....]
__ADS_1
...* *...
"TOSS!"
Denting cangkir enamel jadul - blirik besar berisi aneka menu minuman khas warung bakmi tepi jalan, riuh di udara. Satu-satunya minuman beralkohol hanyalah es tape ketan hijau yang dipesan Bella. Jelas tidak bisa dibilang minuman keras. Cangkir lain berisi wedang susu jahe secang, es telang jeruk nipis, dan wedang teh melati gula batu.
Kepul asap dari wajan mengusung aroma bumbu rempah yang menggoda jiwa. Perut-perut kelaparan para manusia yang malam ini sedang duduk lesehan di atas mendong - tikar anyam bambu - menanti penuh harapan. Bagaimanapun saat mood sedang buruk seperti yang tengah dialami Omella dan kawan-kawan memang diperlukan bantuan. Asupan kalori bercitarasa dewa dengan harga terjangkau tapi porsi memukau menjadi pilihan bantuan yang huwauw!
"Mas ganteng di ujung sana, magelangan-nya antrian ke berapa? Tujuh puluh atau tujuh ratus?"
Mas 'cheff' tertawa menyeringai menanggapi pertanyaan Kimmy yang mendayu. "Hampir matang, Mas'e! Ini lo, baru saya buatkan. Sabar, nggih!"
"Oke deh, Mas Ganteng!"
Ganteng, katanya? Padahal jauh lebih ganteng A Kim daripada semua cowok yang ada di sini, batin Omella.
"Uhlala, lavarrr," lanjut Kimmy. "Cacing-cacing di perutku mulai kudeta!"
"Yaelah, cacingan Lu? Malang amat! Cakep-cakep cacingan. Minum obat cacing," goda Bimo. Sengaja ia memasang tampang pura-pura marah. Bagaimana tidak? Hanya makanan yang dipesan Kimmy yang belum tersaji di atas tikar. Atas nama solidaritas dan menghindari rasa malu kalau-kalau Kimmy meraung manja karena ditinggal makan duluan, terpaksa deh, kami menunggu makanan Kimmy disajikan juga.
Sudah tentu Bimo yang paling menderita dan harus panjang sabar. Bakmi godog alias mie Jawa kuah pesanannya adalah menu yang pertama kali jadi. Sekarang Bakmi di piringnya dua kali lipat ukurannya dengan kuah nyaris tak nampak.
"Kelamaan dianggurin, jadi vampir tuh, bakmi Lu! Dah ngembang, ngisep kuah 'mpe abis, tuh! Makan duluan aja, nggak apa-apa, kok," saran Bella.
Jangan samakan ekspresi Bella yang sekarang duduk meleseh manis dengan yang di kantor tadi. Apa, marah-marah? Ouhh, sudah lupa tuh! Bella sekarang kembali menjadi wanita cantik yang ramah dan menyenangkan.
Atas saran Bella, Bimo hanya tersenyum bahkan beberapa kali bilang 'nggak apa-apa' atau 'bareng aja makannya, biar seru' dan sesekali mengangguk mengiyakan ajakan Bella walau tidak dilakukan.
Karena kasihan, diam-diam Omella dan Bella memesan sepiring gorengan dan aneka sate jeroan di angkringan sebelah warung Bakmi. Jadi mereka semua, khususnya Bimo, tidak harus mencegah iler menetes saat hidung dan perut berkoordinasi dengan otak demi berperang melawan aroma makanan yang sangat memikat di piring masing-masing.
"Haduhhh, fried banana, mix veggies fried with flour, fried fermented soybean cake and tofu susur, with these inner beauty random satays! Very-very temptating, yaaa!"
Dengan santai Bella menoyor pelipis Kimmy. "Berisik! Makan tinggal makan aja ribut! Harus banget gue contohin? Kaya gini, nih!" Bella mengambil satu tusuk sate berisi hati, ampela, usus, kulit, dan ujungnya sebutir telur puyuh lalu memakannya dengan bahagia. "Hmmm!" Bella asyik mengunyah.
Kimmy memandangi aksi Bella dengan penuh rasa bersalah. "Haduhh, pengin tapi gimana gitu! Kak Bella mah jahat! Aku terus what to do, dong?" Tak sampai sedetik, tangan kanan memegang sate, tangan kiri pegang mendoan, lalu, "Kolesteroool? Come to Papa! Amm!" Dan Kimmy mulai melahap camilannya. Omella, Bimo juga Bella cekikikan jadinya.
Pucuk dicinta, ulam tiba. Pesanan Kimmy jadi juga. Akhirnya bisa makan yang sebenar-benarnya makan. Suasana malam itu kembali ceria. Tidak seorang pun membahas kejadian mengesalkan yang terjadi di tempat makan lain, di mana mereka malah sama sekali tidak bisa menikmati bahagianya makan. Padahal tempat sebelumnya terbilang berkelas dengan menu bintang lima.
Dan kekesalan itu disebabkan oleh ulah salah seorang model andalan Bu Boss yang entah dirasuki apa punya ide tidak masuk akal dan membebani banyak orang, terutama tim Bella.
Meriahnya makan bersama terjeda saat seorang laki-laki paruh baya mendekati mereka dan berkata, "Selamat malam. Mbak Bella, nuwun sewu."
Si empunya nama menoleh dan terkejut mengenalinya. "Eh! Pak Totok?"
Laki-laki itu tersenyum ramah mengangguk. Lalu ujarnya, "Mbak, saya diminta menyampaikan, kata Ibu jajannya sudah dibayar. Ditraktir Ibu. Gitu."
"Haah? Kok bisa, ditraktir Ibu? Ibu tahu dari mana kami makan di sini, Pak?"
Pak Totok tersenyum. "Ibu kan lihat dari mobil. Lha itu, sama Mbak Salma," jelas Beliau sambil memberi kode dengan jempol tangannya. "Ibu udah dari tadi kok, Mbak. Sekalian antri pesan bakmi."
Bella dan kawan-kawan menoleh ke arah yang dimaksud, kaget tapi bahagia. Dengan senyum terulas, keempatnya mengangguk penuh rasa terimakasih kepada Bu Boss dan Nak Boss yang duduk di mobil.
"Sekiranya mau nambah apa lagi boleh, kata Ibu. Bilang saja yang bayar Bu Shanty. Gitu kata Ibu."
Mendengar itu, sontak keempatnya bersorak girang. Kimmy bahkan membuat pose hati besar dengan kedua tangan di atas kepalanya. Bella dan Omella 'dadah-dadah' sembari meneriakkan ucapan terimakasih ketika kaca mobil dibuka dan memperlihatkan Bu Boss juga Salma sang tangan kanannya, yang tersenyum sumringah melihat keceriaan mereka. Tak lama kemudian Pak Totok kembali ke mobil dengan menenteng bungkusan besar hasil mengantri. Mobil Madam Shanty pun berlalu.
Wow! Tentulah hadiah Madam Shanty menjadi kejutan yang menyenangkan. Malam ini Bella dan kawan-kawan tidak hanya makan dengan ceria tetapi juga merasa sejahtera. Perut kenyang. Hati senang. Ditraktir orang. Tibalah waktu untuk pulang.
"Nah, malam ini kita udah cukup bersenang-senang. Sekarang, pada pulang. Langsung pulang! Nggak usah mampir-mampir kalo nggak penting," Bella telah bertitah.
"Emang kenapa, Sist?"
"Siap-siap, terutama Lu, A Kim. Besok, kita makan orang!"
Bak paduan suara semua menyahut, "OKEEE!"
__ADS_1
...* * *...