
"Kata Papa harus pakai baju panjang dan longgar."
Papa Aji langsung menatap David dengan tatapan putus asa.
Sementara Azam, Ummi dan Om-nya hanya bisa tercengang. Tak tahu harus berkata apa setelah mendengar jawaban Arzu.
Tiba-tiba David langsung menarik tangan Arzu kembali ke kamar, membuat adiknya itu terkejut tapi tak bisa menolak.
"Silakan duduk!" seru Papa Aji untuk mengalihkan perhatian semua.
Di meja, sudah ada minuman dan berbagai macam cemilan. Dan Pak Aji langsung menuangkan minuman itu ke gelas para tamunya.
"Nggak usah repot-repot, Om," kata Azam sungkan.
"Aku hanya ingin menyambut kalian," kata Papa Aji.
"Terima kasih," ucap Ummi Umaroh.
Sementara itu, David mengobrak-abrik lemari Arzu, mencari baju yang sekiranya pantas untuk sang adik kenakan di depan calon suami dan mertuanya.
Namun, yang David temukan hanya pakaian-pakaian gemes. Hot pants, crop top, kaos oblong, celana jeans pendek, celana jeans panjang tapi sobek-sobek dan kawan-kawannya.
"Kakak sama papa kasih uang kamu sebenyak itu setiap bulan, kamu pakai buat apa aja, Ar? Kenapa baju kamu begini semua?" tanya David yang mulai kesal.
Dan memang benar, satu-satunya jenis pakaian panjang dan longgar Arzu hanya lah baju tidurnya.
"Ya buat beli baju, Kak, skin care, bensin, perawatan motor, beli makan dan lain-lain," papar Arzu yang langsung memuat David berdecak.
"Memangnya kenapa sih kalau pakai baju ini, Kak? Ini sopan kok, udah gitu baju ini masih baru buka bungkus," ujar Arzu kemudian dengan wajah yang cemberut.
"Mana ada manusia yang lamaran pakai baju tidur, wahai adikku sayang?" geram David.
Arzu hanya menatap sang kakak dengan tenang, tanpa beban apapun
__ADS_1
"Tunggu di sini, jangan keluar!" tegas David.
Ia segera pergi ke dapur, menemui Bibi yang masih menyiapkan beberapa makanan penutup.
"Ada apa, Den? Kenapa cemas begitu?" tanya Bibi dengan heran.
"Bi, punya baju panjang yang masih bagus? Aku mau pinjam."
Tentu saja ART- nya itu melongo.
Ia sudah bekerja di beberapa rumah sebelum berakhir di rumah David, dan baru sekarang ada Tuan muda yang ingin meminjam dress miliknya.
"Arzu nggak punya baju sopan, Bi," imbuh David.
"Ohhh!" Bibi langsung ber-Oh ria. "Ada, Den, Bibi punya gamis yang baru dibeli, tadinya buat cucu."
"Ya sudah, kasih itu aja dulu. Nanti aku bawa Bibi ke butik dan Bibi bisa beli apa aja yang Bibi mau, gamis, sandal, sepatu, terserah pokoknya."
"Iya, iya!" jawab Bibi dengan semangat, ia pun segera mengambil gamisnya, sementara David kini segera ke ruang tamu.
"Lagi ganti baju, Pa," jawab David sembari duduk di sisi sang Ayah.
"Padahal dia terlihat imut dengan baju yang tadi," tukas Ummi Umaroh, agar mereka tidak malu.
David dan ayahnya hanya bisa terkekeh.
Tak berselang lama, Arzu datang dan kali ini gadis itu tampil lebih sopan. Ia memakai gamis biru tua yang penuh dengan motif bunga, di mana itu sama sekali bukan selera Arzu, tapi ia tak punya pilihan lain. Selain itu, Arzu juga memakai kerudung punya Bibi dengan style ala Nenek-Nenek
Lagi-lagi Azam hanya bisa menahan senyum geli, sementara ibu dan Paman-nya hanya melongo.
"Duduk sini!" Papa Aji menarik Arzu hingga duduk di sisinya.
"Kamu cantik, Arzu," puji Ummi Umaroh.
__ADS_1
"Oh ya? Padahal ini baju dan kerudung Bibi." Arzu berkata dengan jujur, membuat semua orang terperangah. Sementara David langsung melotot tajam pada adiknya itu.
"Oh, kenapa kamu pakai baju dan kerudung Bibi?" tanya Ummi Umaroh.
"Nggak tahu, Kak David yang suruh."
David langsung menghela napas lesu, ia menunduk, menyembunyikan wajahnya dari semua orang karena ia merasa malu.
Ummi Umaroh menatap Azam sambil menahan senyum geli, ia merasa Arzu lebih absurd dari yang Azam ceritakan.
"Langsung saja, Ummi," bisik Azam.
Ummi Umaroh mengangguk, ia menarik napas kemudian berkata, "Kami datang ke sini dengan membawa niat baik, insyaallah." Ia menatap Papa Aji, David dan Arzu bergantian.
"Jika Arzu belum dikhitbah oleh seseorang, atau belum memiliki pasangan, kami ingin melamar Arzu untuk Azam."
Papa Aji tentu senang mendengar itu, begitu juga dengan David, meski awalnya ia sempat menentang perjodohan tak seimbang ini.
"Inysaallah, kami menerima lamaran Azam," sahut Papa Aji. "Kami menerimanya dengan senang hati karena Arzu memang belum milik siapa pun, dan juga belum ada yang mengkhitbahnya."
"Khitbah itu apa sih?" celetuk Arzu tiba-tiba, membuat suasana haru itu kembali buyar.
David dan Papa Aji hanya bisa menatap Arzu dengan nanar.
"Meminang, Arzu," jawab Azam sambil mengulum senyum. Ummi Umaroh dan Om Malik hanya bisa menghela napas panjang.
"Ohhhhh!" Arzu mengangguk mengerti.
"Jadi bagaimana, Arzu? Kamu menerima lamaran ini?" tanya Om Malik.
"Dari tadi malam aku sudah bilang kok ke Papa, kalau aku mau nikah sama Om," pungkas Arzu dengan lugas.
"Artinya lamaran kami diterima," kata Ummi Umaroh yang terlihat bahagia. Azam pun juga merasa sangat bahagia, hatinya tiba-tiba berbunga-bunga, dan jantungnya berdegup kencang.
__ADS_1
Ayah dan kakak Arzu juga terlihat bahagia, hingga tiba-tiba Arzu berkata, "Tapi ada syarat dan ketentuannya loh."