
BRUUGHHHH
"ARZU?"
Intan berteriak panik saat melihat Arzu jatuh nyungsep dari motor, bahkan helm-nya sampai jatuh.
Semua orang juga terkejut dan berteriak memanggil namanya, sehingga secara spontan balapan itu terhenti.
Bahkan, ada salah satu peserta langsung turun dari motornya untuk membantu motornya, di susul dengan teman yang lain.
"Arzu, kamu nggak apa-apa?" tanya pria itu sembari membantu Arzu berdiri.
"Akh!" ringis Arzu sembari memegang pipinya.
"Wajah kamu luka, Ar!" pekik Intan yang melihat pipi Arzu luka. "Kita harus ke rumah sakit!"
"Aku memang mau ke rumah sakit, soalnya papa kena serangan jantung," tukas Arzu cemas.
"Apa kami perlu memanggil ambulance, Ar?" tanya salah seorang dari sana.
"Nggak usah, aku masih sanggup nyetir ke rumah sakit," tukas Arzu sembari berkaca pada spion, ia meringis melihat goresan di bagian tulang pipinya.
"Kita naik taksi aja," seru Intan cemas. Namun, Arzu tak mempedulikannya, ia justru kembali naik ke atas motornya.
"Mau ikut nggak?" tanya Arzu karena Intan hanya diam saja.
Intan pun langsung naik ke motor Arzu, meskipun ia takut nanti jatuh lagi karena sekarang pasti Arzu masih shock.
"Hati-hati, Arzu!" seru beberapa pendukungnya yang membuat Arzu merasa senang.
...🦋...
"Ini jangan dicabut, Pak!" seru Dokter Pasha yang merupakan Dokter pribadi Pak Aji.
"Sakit, Dok!" sungut Pak Aji karena Dokter Pasha benar-benar memasukkan jarum suntuk ke punggung tanganya. "Lagian aku itu nggak sakit beneran, tapi kenapa di infus beneran?"
"Aku tadi sudah memeriksa keadaanmu, dan ternyata kamu kurang cairan, tekanan daramu juga rendah. Jadi tindakanmu ke rumah sakit memang sudah tepat," pungkas dr. Pasha.
David yang berdiri di samping ayahnya langsung terkekeh mengetahui tekanan darah sang Ayah rendah. "Hebat Papa, dibuat kesal setiap hari sama Aruz, bukannya tekanan darahnya tinggi, justru rendah."
"Kan Papa nggak ambil pusing, lagian Papa nggak pernah benar-benar kesal sama anak itu," bantah Pak Aji.
"Oh ya, saat Arzu datang nanti, kamu harus tetap pura-pura pingsan, Pak Aji, setelah beberapa menit, baru perlahan kamu buka mata dan berbicara lah dengan Arzu seperti orang yang sekarat" tukas dr. Pasha panjang lebar.
Pak Aji langsung mengangguk mengerti.
Tak berselang lama, suster kepercayaan dokter Pasha datang memberi tahu bahwa Arzu sudah datang. Pak Aji pun langsung memejamkan mata, tak lupa dr. Pasha memasang alat bantu pernapasan pada pasiennya itu. Sementara David langsung memasang wajah memelas.
"Papa?" lirih Arzu yang kini sudah masuk begitu saja ke ruang rawat sang Ayah.
David langsung mendongak, dan seketika ia melotot melihat luka goresan yang cukup parah di pipi kanan sang adik.
"Ar, pipi kamu kenapa?" pekik David.
__ADS_1
"Jatuh dari motor," sahut Arzu sembari menghampiri sang Ayah.
Tiba-tiba....
"Kamu nggak apa-apa, Sayang?"
"HUH?"
Arzu langsung melongo melihat sang Ayah yang tiba-tiba membuka mata, bahkan langsung duduk dengan tegak, seolah pria itu sehat wal afiat.
David, dr. Pasha dan suster meringis melihat aksi pria paruh baya itu.
Seharusnya, Pak Aji masih pura-pura pingsan seperti saran dr. Pasha. Namun, siapa yang tak panik jika mendengar anaknya jatuh dari motor?
Arzu yang tadinya cemas, panik, takut, khawatir. Kini justru berkacak pinggang, menatap sang Ayah dengan tajam bahkan memasang wajah garangnya.
"Jadi Papa cuma pura-pura?" Arzu mendesis tajam.
"Hehe." Pak Aji menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ish, Papa!" teriak Arzu kesal. Namun, tiba-tiba ia menangis dan berhambur ke pelukan sang Ayah. "Padahal tadi aku sudah takut banget Papa kenapa-napa."
Pak Aji langsung mendekap anak perempuannya itu dengan erat. "Maafin Papa," bisik sang Ayah. "Papa juga takut kamu kenapa-napa, makanya rencana Papa sampai gagal." Ia terkekeh di akhir kalimat.
"Memangnya apa rencana Papa?" Arzu mendongak, menatap sang Ayah dengan sendu.
"Papa mau berwasiat supaya kamu menikah sama Azam," jawab Pak Aji sembari menyeka air mata putrinya itu dengan tulus. "Papa pikir dia adalah pria yang tepat buat kamu, tapi ...." Kini Pak Aji memasang wajah sendu. "Kalau kamu nggak mau, ya sudah, nggak apa-apa."
"Ya udah deh, aku mau!"
Arzu hanya mengangguk, sebelum akhirnya ia semakin mengeratkan pelukannya pada sang Ayah.
"Papa senang kalau kamu mau menikah, Sayang. Insyaallah, Azam akan menjadi imam kamu yang baik."
Tanpa mereka sadari, seorang wanita paruh baya mengintip mereka dari pintu sambil tersenyum tipis.
"Jadi kamu sudah mau menikah, Nak?" gumam wanita memperhatikan Arzu. "Mama senang, semoga kamu bahagia."
...🦋...
Keesokan harinya ....
Pak Aji heboh mempersiapkan sambutan untuk Azam dan ibunya, ia juga menyiapkan kamar tamu untuk mereka karena ia tidak ingin calon besan dan calon menantunya itu tinggal di hotel.
Selain itu, Pak Aji juga menyiapkan beberapa menu makanan. Ada yang dimasak oleh Bibi, ada juga yang dibeli.
Arzu memperhatikan ayahnya yang tampak sangat bahagia itu, membuat Arzu juga merasa sangat bahagia. Apalagi, ini baru pertama kali ia melihat sang Ayah tampak sangat bahagia setelah bercerai.
Ia tahu, sang Ayah selalu mencintainya dan selalu ingin memberikan yang terbaik untuknya.
Dulu, ayahnya adalah Ayah yang sempurna, yang selalu memberikan waktu untuk Arzu dan David. Namun, setelah perselingkuhan sang ibu terkuak, kemudian mereka bercerai. Ayahnya selalu menghabiskan waktunya untuk bekerja, seolah pekerjaan itu adalah tempat pelariannya dari segala rasa sakit dan frustasi.
Siapa sangka, rupanya itu menjadi sebuah kebiasaan dan akhirnya Arzu yang kena imbasnya.
__ADS_1
Padahal, ia juga terluka saat mereka bercerai, tapi ayahnya sibuk mengurus sakit hatinya sendiri, David juga sibuk dengan rasa kecewanya sendiri hingga ia enggan pulang dari Singapore.
Ayah dan kakaknya hanya memberi modal untuknya bersenang-senang di luar sana.
Pada akhirnya, Arzu juga mencari tempat pelariannya sendiri.
Akan tetapi, terlepas dari semua itu. Arzu tahu, Ayah dan kakaknya sangat mencintainya. Mereka semua hancur dan berubah karena Ibu yang seharusnya menjaga mereka justru menghancurkan mereka secara bersamaan.
Tak berselang lama, terdengar suara klakson mobil dari luar.
"Pasti itu David dan Azam!" seru Pak Aji. "Sayang, cepat kamu ganti baju, pakai yang sopan dan rapi, ya."
"Celana panjang dan baju panjang?" tanya Arzu.
"Iya," jawab Pak Aji. "Oh ya, yang longgar, jangan yang ketat!" tegasnya.
Arzu hanya menghela napas lesu, kemudian berjalan gontai masuk ke kamarnya. Sementara Pak Aji kini membuka pintu untuk menyambut tamunya.
"Assalamualaikum, Om!" sapa Azam yang turun dari mobil.
Ibu dan Om Malik Azam ternyata juga ikut, dan itu membuat Pak Aji semakin senang.
"Waalaikum salam, Zam," jawab Pak Aji. "Bagaimana perjalanan kalian?" Ia menatap Azam dan kedua orang yang bersamanya dengan ramah.
"Alhamdulillah, lancar dan aman," jawab Ummi Umaroh.
"Aku senang kalian datang."
"Azam sudah aku anggap sebagai putraku," kata Om Malik. "Dan sebagai seorang Ayah, jadi aku harus menemaninya melamar gadis pujaannya."
Azam tersipu mendengar kata-kata terakhir sang Paman.
"Memangnya Arzu wanita pujaanmu, Zam?" tanya David sekenanya.
Tentu Azam tidak bisa menjawab, ia tidak tahu apakah Arzu wanita pujaannya atau tidak. Yang pasti, hatinya tidak keberatan menerima Arzu sebagai istrinya. Dan hatinya justru terasa berat saat memikirkan menolak lamaran Ayah Arzu.
"Vid, jangan begitu!" tegur sang Ayah.
"Arzu! Keluar, Sayang!" panggil Pak Aji.
Arzu keluar dari kamarnya, dan itu membuat semua orang melongo, terutama Ummi Umaroh dan Om Malik.
"Kamu baru bangun tidur, Arzu?" tanya calon ibu mertuanya itu tanpa basa-basi.
Bagaimana dia tidak bertanya begitu, Arzu memakai piyama.
"Nggak kok, Tante, aku sudah bangun pagi hari ini karena kalian mau datang." Arzu menjawab dengan jujur sembari mendekati para tamunya itu.
"Terus kenapa kamu pakai piyama, Arzu?" desis David. Pak Aji pun tampak terkejut melihat melihat penampilan putrinya.
Arzu memakai celana panjang yang longgar, bajunya juga lengan panjang dan longgar dengan motif hello kitty.
Azam yang melihat penampilan calon istrinya itu hanya bisa meringis, tapi kemudian membuatnya menahan senyum geli.
__ADS_1
Gadis normal mana yang menemui calon suami dan keluarganya dengan memakai piyama?
"Kata Papa harus pakai baju panjang dan longgar."