
"Sabar ya, Bi." Azam menepuk pundak Bibi yang cemberut karena harus masak lagi, padahal wanita paruh baya itu masih sangat lelah, ia memasak sendirian dengan porsi yang lebih banyak dari biasanya
. "Maafin Arzu juga, ya?" pinta Azam dengan tulus.
"Sup-nya itu sudah masak, Den, cuma tinggal dikit lagi," rengek Bibi sedih. "Non Arzu bagaimana sih ah, masa sup yang Bibi masak dicemplungin kotak hadiah begini."
Bibi mengambil kotak hadiah itu, menyiramnya dengan air bersih kemudian membukanya.
"Wah, isinya kalung, Den!" seru Bibi dengan mata yang berbinar. "Non Arzu pasti cantik pakai ini." Wajah kesal Bibi seketika berubah menjadi wajah terlihat ceria, pertanda ia sangat tulis menyayangi Arzu.
Azam mengambil kalung itu dan memperhatikannya, dan ia tahu tahu kalung itu adalah berlian yang pasti tidak murah. Seharusnya itu menjadi hadiah yang istimewa, tapi Arzu justru memasukkannya ke dalam panci.
"Ada apa ini?" tanya David yang baru saja masuk ke dapur, ia heran melihat Azam yang berdiri berdampingan dengan Bibi di wastafel.
"Non Arzu masukin kotak hadian ke dalam sup, Den David." Bibi mengadu dengan cepat. "Harus masak lagi deh Bibi."
"Oh ya? Gimana bisa?" pekik David dengan kening berkerut dalam.
"Ini hadiahnya!" Azam langsung menyerahkan kalung itu pada David, dan seketika pria itu termangu, sorot matanya pun berbeda setelah ia menyadari kalung itu adalah kalung yang ibunya siapkan untuk Arzu. "Dari ibumu," kata Azam.
David mengambil kalung itu dan teringat saat Arzu berulang tahun dua tahun yang lalu.
"Dulu dia juga memberikan ini," gumam David. "Tapi Arzu melemparnya ke tempat sampah. Dan sekarang, dia melemparnya ke dalam panci sup?"
David tersenyum miring, kemudian ia mengembalikan kalung itu pada Azam. "Sebentar lagi kamu akan menjadi suaminya, Zam, jadi tolong simpan ini untuk Arzu."
"Nggak mau!" Azam menolak dengan cepat apalagi itu bukan barang murah, tapi David menarik tangan pria itu dan meletakkan kalung itu di tangan Azam.
"Kami percaya sama kamu, Zam," kata David. "Makanya kami memilih kamu untuk menjadi suami Arzu."
Saat Azam menatap kalung itu, ia teringat dengan tatapan penuh kerinduan Mama Irene pada Arzu. Sungguh ia tidak bisa membayangkan berada di posisi keduanya.
"Aku akan membuat dia memakai ini nanti," gumam Azam yakin.
Sementara itu, Arzu yang saat ini di kamarnya hanya bisa menarik napas panjang sembari mengelus dadanya yang kembali terasa sesak.
__ADS_1
"Kenapa wanita itu kerasa kepala banget sih?" geram Arzu. "Sudah aku bilang aku nggak mau hadiah dari dia, masih aja mau ngasih." Ia membuang napas kasar. "Apa perlu aku mati dulu biar dia nggak ganggu hidup aku lagi?"
...🦋...
David meminta Bibi tidak usah memasak sup lagi, ia merasa kasihan pada wanita tua itu jika harus memasak dari awal. Untuk makan malam, David membelinya dari luar.
Mereka makan malam bersama layaknya keluarga, dan tanpa sadar itu membuat Arzu senang. Apalagi ketika Ummi Umaroh menambahkan sayuran ke piringnya sembari berkata, "Sayuran itu penting dan bagus untukmu."
"Terima kasih," ucap Arzu dengan tulus.
"Sama-sama," jawab Ummi Umaroh yang kini tersenyum lembut.
"Tapi Tante nggak sok baik karena aku masih calon menantu, kan?"
"UHUK ... UHUK!"
Ibunda tercinta Azam itu langsung tersedak makanannya sendiri, sementara yang lain hanya bisa melongo mendengar apa yang keluar dari bibir cantik Arzu.
Celetukan tak beradab!
David pun hanya bisa melongo, ia sudah kehilangan kata-kata untuk menasihati sang adik.
Om Malik pun hanya bisa geleng-geleng kepala, ia tidak menyangka Azam akan menikahi gadis yang cara bicaranya tanpa rem itu. Entah akan jadi seperti hidup mereka nanti setelah mereka, tapi Om Malik sangat berharap pernikahan itu akan membuat Arzu berubah menjadi lebih baik.
"Kenapa?" tanya Arzu. "Biasanya orang akan berbuat sangat manis dan baik di awal, Papa juga pasti mengalami, kan?" tanya Arzu, gadis itu kini menatap Ummi Umaroh yang wajahnya sudah memerah karena tersedak.
"Tante juga pasti pernah bertemu orang yang seperti itu, kan? Di awal, bersikap sangat manis dan baik. Tapi nanti akan berubah. Aku cuma ingin memastikan, apakah Tante akan manis cuma sekarang atau sampai nanti?"
"CUKUP, Arzu!" bentak Papa Aji.
"Nggak apa-apa, Om," seru Azam dengan cepat.
Sejujurnya, ia juga kesal dengan pertanyaan yang dilontarkan Arzu, apalagi Azam tahu ibunya bukan sok baik atau sok manis. "Ada lagi yang ingin kamu tanyakan, Arzu?" tanya Azam.
Ummi Umaroh hanya bisa menghela napas panjang, ia masih berusaha sabar menghadapi Arzu. Ia juga membenarkan kata-kata Arzu, kebanyakan orang akan sangat manis di awal pertemuan.
__ADS_1
"Nggak, cuma itu," jawab Arzu.
"Silakan jawab, Ummi," pinta Azam pada ibunya.
"Tante memang berusaha membuat kamu nyaman dan senang, Arzu," kata Ummi Umaroh. "Supaya kamu terbiasa karena di desa nanti Tante yang akan menjadi orang tuamu. Dan sebagai orang tua, kebaikannya nggak akan berubah dari awal sampai akhir."
"Oke," sahut Arzu dengan senyum lebar. "Karena Tante akan menjadi ibu mertua yang baik, aku juga akan menjadi anak menantu yang baik."
David dan Papa Aji hanya bisa memijit pelipisnya, sementara Azam kini hanya tersenyum tipis. Dalam hati ia berdoa, meminta agar ibunya punya stok sabar yang lebih banyak lagi. Azam sangat yakin, Arzu sebenernya adalah anak yang baik.
...🦋...
Keesokan harinya, David dan Papa Aji memulai harinya seperti biasanya. Hanya saja, kini mereka punya teman sarapan yang lebih banyak.
Seperti biasa, Arzu sangat jarang ikut sarapan. Entah karena gadis itu belum bangun, atau hanya malas keluar kamar.
Setelah selesai sarapan, Papa Aji dan David pergi ke kantor karena keduanya sama-sama punya pekerjaan penting. Namun, mereka berdua juga berpesan agar Azam, serta ibu dan Om-nya tidak usah canggung di rumah. Apalagi sebentar lagi mereka akan menjadi keluarga.
"Nyonya?" panggil Bibi pada Ummi Umaroh yang saat ini ada di kamarnya.
Ummi Umaroh pun segera membuka pintu. "Ada apa, Bi?" tanya Ummi Umaroh.
"Emmm ... Nyonya Irene mau bicara," jawab Bibi setengah berbisik, seolah takut ada yang mendengar. "Mamanya non Arzu mau bicara di telfon." Lanjutnya.
Ummi Umaroh pun mengikuti Bibi ke ruang tengah, kemudian ia mengambil gagang telfon di atas meja.
"Assalamualaikum?" sapanya.
"Waalaikum salam, Mbak," jawab Mama Irene. "Aku Irene, Mamanya Arzu."
"Iya, Bibi sudah kasih tahu," kekeh Ummi. "Ada apa ya, Mbak?"
"Apa bisa kita bertemu sebentar? Aku ingin sedikit mengobrol dengan calon besan."
"Insyaallah bisa, kapan?"
__ADS_1