Dijodohkan Dengan Ustaz Tampan

Dijodohkan Dengan Ustaz Tampan
Jadi, Diterima Atau Tidak?


__ADS_3

Meskipun Arzu mengatakan akan pulang pagi, tapi tentu dia tidak pernah memegang kata-katanya sendiri. Seperti biasa, ia terbangun dari tidurnya saat hari sudah siang. Bahkan, Intan sudah pergi ke kampus.


"Makan dulu, Ar," kata Bu Ayu sebelum Arzu pergi.


"Masak apa, Tante?" tanya Arzu sembari menarik kursi.


"Tante masak sop, sama tahu goreng."


Seolah ada di rumahnya sendiri, Arzu pun langsung makan tanpa sungkan sembari mengobrol dengan Bu Ayu yang sudah seperti ibu kandungannya itu. Bahkan, ia menambah dua kali, seolah menu sederhana itu sangat enak.


Setelah selesai makan, ia langsung bergegas pulang, membuat Bu Ayu hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Semoga suatu hari nanti kamu dapat pasangan yang baik, Ar," gumamnya sembari memperhatikan motor Arzu yang meninggalkan pekarangan rumahnya.


Sesampainya di rumah, Arzu disambut oleh Kakak dan ayahnya dengan ekspresi yang tida biasa. Dan ia tidak melihat Azam di sana.


"Si Ustadz tampan di mana, Pa?" tanya Arzu.


"Sudah pulang sejak tadi pagi," jawab sang Ayah. "Mungkin sekarang sudah sampai di rumahnya."


Arzu hanya mengangguk mengerti.


"Sudah siang, apa semua orang bolos bekerja?" celetuk Arzu kemudian.


"Bolos sekali nggak apa-apa, kan?" balas sang Ayah, ia langsung menarik putrinya itu, membawanya duduk di sofa. Bahkan, ia terus melempar senyum penuh arti.


Sementara David justru tampak lesu, pria itu bahkan masih memakai piyama, pertanda ia belum mandi sejak pagi.


"Aku mencium aroma gosong." Arzu memicingkan matanya pada sang Ayah, jelas tingkah ayahnya sangat mencurigakan dan ekspresi kakaknya membuatnya khawatir.


"Nggak kok, nggak ada yang gosong," kata Pak Aji. "Emm ... Arzu serius 'kan waktu bilang mau jadi istri dan Ibu aja?"


"Iya lah," jawab Arzu detik itu juga, seolah ia tak perlu waktu untuk berpikir.


"Kalau begitu, Papa sudah menemukan salah satu teman terbaik David yang bisa jadi suamimu, Sayang?"


Kedua alis Arzu langsung naik mendengar ucapan sang Ayah, bahkan mulutnya langsung terbuka.

__ADS_1


"Yang mana? Dia tampan? Usianya berapa? Punya perusahaan sendiri atau masih bekerja di perusahaan keluarganya?" cecar Arzu.


"Cuma itu yang ada dalam pikiranmu, Ar?" ringis David.


"Ya mau bagaimana lagi, Kak? Aku butuh jaminan untuk kenyamanan hidup." Arzu berujar tanpa ragu.


Padahal, tanpa ia sadari, sebenarnya apa yang dia inginkan itu berseberangan dengan apa yang dia butuhkan.


Selama ini, Arzu hidup sempurna secara materi. Tapi dia selalu merasa ada yang kurang dan kurang, tapi karena hanya materi dan materi yang dia punya, akhirnya ia berpikir bahwa itu lah yang akan selalu dia butuhkan.


"Yang ini pokoknya the best of the best, Sayang!" seru Pak Aji dengan semangat.


"Oh ya? Siapa?" Arzu menatap sang Ayah dengan serius, bahkan ia menegakkan tubuhnya, seolah siap menerima keputusannya.


"Azam."


"Huh?" pekik Arzu saat mendengar sang Ayah menyebutkan nama itu.


"Iya, Papa mau kamu menikah sama Azam. Dia pria yang baik, yang sopan, penuh perhatian, dan yang pasti dia tampan, kan?" Pak Aji menatap Arzu penuh harap.


"Dia memang tampan, tapi bukan berarti aku tertarik mau kawin sama dia."


...🦋...


"Jadi Kak Azam bohong ya sama kita semua?"


"Nggak bohong sama sekali, Hafsha," bantah Azam dengan cepat.


Saat ini, ia sudah berada di rumah di desanya. Dia disambut dengan hangat oleh Ibunya yang biasa dipanggil Ummi Umaroh, kedua adiknya, Zain dan Hafsha.


Di sana juga ada Om dan Tante Azam, dan dua adik sepupunya yang juga masih remaja. Hasan dan Hanif.


"Loh, katanya ke Jakarta cuma mau menghadiri pernikahan temannya. Kok bisa, pulang-pulang bawa kabar melamar anak orang." Hafsha memicingkan matanya pada sang Kakak. "Kak Azam diam-diam punya pacar orang kota, ya? Hayo ngaku."


"Cantik nggak, Kak?" tanya Zain yang masih berusia 15 tahun itu. "Aku mau dong punya kakak ipar orang kota."


"Apa mereka kayak yang di TV-TV itu? Pasti cantik dan putih." Hasan menimpali.

__ADS_1


"Terus kalau Kak Azam nikah sama orang kota, nanti tinggalnya di mana?" tanya Hanif penasaran.


Azam meringis mendengar tudingan-tudingan kejam adik-adiknya itu. Ia pun menatap ibunya dengan memelas, berharap mendapatkan pembelaan. Namun, yang ia dapatkan justru sebaliknya.


"Kenapa sih kamu itu nggak jujur aja kalau sudah punya wanita idaman di kota, Zam?"


"Astagfirullah, ya Allah. Ummi ...." Azam menatap sang Ibu dengan gemas.


Ia memang menceritakan tentang lamaran Pak Aji padanya, tapi tak ada satu pun dari keluarganya yang percaya bahwa ia memang dilamar. Mereka semua justru menuduh Azam ke Jakarta untuk melamar kekasihnya.


"Aku beneran nggak melamar anak orang, justru aku yang dilamar." Azam setengah merengek, apalagi baru sekarang seluruh keluarganya dengan kompak menuduhnya berbohong.


"Benar?" tanya sang Ibu, menatap Azam dengan serius.


"Iya, Ummi, aku nggak bohong," tegas Azam.


Semua orang saling memandang, dan tentu mereka masih meragukan keaslian dari cerita Azam.


"Ooh, aku jadi teringat dengan kisah Sayyidah Khadijah yang melamar Nabi," ujar Hafsha tiba-tiba. "Kalau memang Kak Azam yang dilamar, pasti wanita itu pemalu dan pendiam ya, Kak?"


Pemalu dan pendiam?


Azam banyak bertemu orang selama 30 tahun hidup di dunia, dan baginya, tidak ada yang lebih absurd dari Arzu.


"Dia ... bukan wanita pendiam," cicit Azam. "Dia sangat aktif, bukan gadis pemalu dan ...." Azam menggantungkan kata-katanya, teringat kembali saat Arzu pergi tengah malam tanpa rasa takut. "Dia juga gadis yang pemberani."


Semua orang kembali saling pandang saat mendengar cerita Azam, dan kini mereka sudah membayangkan gadis aktif dan pemberani versi mereka masing-masing.


Ada yang berpikir Arzu aktif dalam artian bekerja, bersosial, belajar, serta melakukan hal-hal kebaikan lainnya. Ada juga yang berpikir Arzu pemberani dalam artian tidak takut mengungkapkan hal yang salah, dan tidak takut mempertahankan apa yang menurutnya benar.


"Menurut Ummi bagaimana?" cicit Azam.


"Ummi sih terserah kamu, Zam," jawab Ummi Umaroh. "Kalau kamu merasa wanita itu bisa menjadi pendamping yang baik, membuat diri kamu juga lebih baik, ya terima aja."


"Gitu ya?" Azam tampak ragu.


"Lakukan sholat Istikharah kalau masih ragu!" seru Om-nya. "Jadikan menikah itu hanya sekali seumur hidup, jadi pastikan kamu sudah sangat yakin dengan keputusanmu."

__ADS_1


__ADS_2