Dijodohkan Dengan Ustaz Tampan

Dijodohkan Dengan Ustaz Tampan
Lamar Saja Lah?


__ADS_3

"Jadi di rumah kamu ada Ustadz tampan?" Mata Intan yang sudah besar itu semakin besar mendengar cerita Arzu, apalagi temannya itu mengatakan Azam adalah pria yang tampan dan berkharisma.


"Iya, nggak tahu sampai kapan. Tapi aku nggak suka dia ada di rumah," ujar Arzu sembari mengunyah keripik yang tadi ia beli. "Soalnya Kak David jadi sering marah kalau aku pakai baju pendek, katanya nggak boleh pakai baju pendek di depan Ustad."


Saat ini dia ada di rumah Intan, seperti biasa, ia merasa tak pernah betah di rumahnya yang sepi. Di mana hanya ada pembantu dan satpam di sana, dan tentu saja kedua orang itu tidak akan menghabiskan waktu bersama Arzu.


"Tan?" Tiba-tiba Bu Ayu masuk ke kamar anak gadisnya itu. "Mama mau ke ke toko roti, kalian mau dibelikan apa?" tanyanya.


"Ak—"


"Belikan donat keju, blueberry, dan emm ...." Arzu melirik ke kanan kiri, sementara Intan hanya bisa meringis. Ia sendiri bahkan belum menyebutkan pesanannya pada sang Ibu, tapi Arzu justru nyerocos minta ini itu. "Oh, belikan yang matcha!" seru Arzu.


"Itu aja?" tanya Bu Ayu dengan santai.


"Iya, Ma, itu aja." Intan menjawab dengan pasrah.


Sebenarnya, Intan dan Ibunya sama sekali tidak keberatan dengan permintaan Arzu, bahkan mereka sudah menganggap Arzu sebagai bagian dari keluarga mereka. Selain itu, sudah tidak terhitung berapa kali Arzu membantu ekonomi mereka.


"Terima kasih, Tante," ucap Arzu. "Oh ya, motor yang aku dapat dari balapan itu, buat Tante aja."


"Astagfirullah, jadi kalian balapan lagi?" pekik Bu Ayu. "Bukannya motor itu titipan dari teman Intan?"


Intan hanya bisa cengengesan sambil menggaruk kepalanya, ia terpaksa berbohong pada sang ibu agar tidak dimarahi. Tapi ia lupa memberi tahu Arzu hal itu.


"Ih, kata siapa itu titipan?" Arzu langsung menatap Intan dengan tajam. "Aku mendapatkan motor itu dengan mempertaruhkan nyawa lho."


"Sebaiknya kalian kembalikan saja motor itu, pasti itu tidak resmi, kan?" Bu Ayu langsung berkacak pinggang.


"Jangan, Tante, itu sudah menjadi hakku. Aku juga nggak mencuri, kan? Itu halal kok, Tante Ayu yang ayu."


Bu Ayu langsung mengelus dadanya melihat betapa ngeyel nya Arzu, meskipun ia berpikir ada benarnya ucapan Arzu.


"Tan, mana kuncinya?" Arzu menadahkan tangan, dan Intan langsung memberikan kunci motornya. "Ini buat Tante aja, biar nggak naik angkot terus."


"Tapi nggak ada suratnya, Ar, bagaimana kalau Tante ditangkap polisi?"


"Ya sudah, nanti kita jual yang ini, terus hasil penjualannya buat beli motor lagi, yang lebih murah."


"Ide bagus!" seru Intan girang.


Intan dan ibunya memang hidup sederhana, mereka hanya punya usaha laundry, rumah Intan juga kecil dan hanya ada dua kamar. Tapi Arzu merasa sangat nyaman ada di antara mereka, ia merasa punya Ibu dan saudara yang sesungguhnya.


"Terima kasih." Tiba-tiba Bu Ayu memeluk Arzu dengan lembut, membuat Arzu terkesiap. "Kami memang ingin membeli motor, tapi selalu ada keperluan yang membuat tabungan kami nggak pernah cukup."


Arzu membalas pelukan Bu Ayu, ia tersenyum dan memejamkan mata. "Rasanya begitu hangat," gumam Arzu.


...🦋...

__ADS_1


Sementara itu, Pak Aji yang saat ini sedang meeting dengan teman sekaligus investornya justru tampak tak fokus. Pria paruh baya itu terus terbayang wajah Azam.


Tentu saja bukan karena dia tertarik secara khusus pada teman anaknya itu, tapi ia tertarik untuk menjadikannya menantu. Apalagi David sering bercerita tentang betapa sederhananya hidup Azam, betapa baiknya Azam pada orang-orang di sekitarnya.


"Apa aku lamar aja?" gumam Pak Aji secara spontan yang langsung membuat temannya itu melotot, tak terkecuali asisten yang sejak tadi menemaninya,


"Pak?" Asistennya itu mencolek lengan Pak Aji.


"Apa kamu sedang memikirkan seseorang?" kekeh temannya itu yang membuat Pak Aji gelagapan.


Ia pun langsung berdeham, membenarkan posisi duduknya hingga tegak, tak lupa ia memasang seriusnya.


"Maaf, Rendi," ucap Pak Aji.


"Jadi bagaimana? Kamu membutuhkan dana berapa banyak untuk pembangunan hotel yang baru?" tanya Rendy.


Pak Aji semakin gelagapan, sejak tadi ia tidak memperhatikan apa saja yang mereka bicarakan. "Ji, kamu mau ngasih Ibu baru untuk Arzu dan David?" tanya Pak Rendy karena temannya itu hanya diam saja.


"Bukan begitu." Tentu saja Ayah Arzu itu membantah dengan cepat. "Bisa kita bicarakan ini nanti, Ren? Sekarang aku ingin bicara masalah pribadi."


"Bisa, bisa!" Rendy menjawab dengan yakin.


"Tania, kamu boleh pergi." Asistennya yang dipanggil Tania itu pun langsung pergi.


"Kamu mau melamar siapa? Tania?" goda Rendy.


"Astagfirullah, Ji!" pekik Pak Rendy dengan cepat. "Hanya karena kamu pernah dikhianati sekali sama perempuan, bukan berarti kamu harus beralih ke laki-laki."


BUGH!


"Aduh!"


Pak Rendy mengaduh saat temannya itu memukul lengannya dengan berkas.


"Aku mikirin laki-laki untuk Arzu," tukas Pak Aji. "Aku ingin menjodohkan Arzu dengan temannya David."


"Hari gini kamu masih mau menjodohkan anak?" kekeh Pak Rendy.


"Tapi temannya David ini sangat baik, dia berasal dari keluarga yang baik. David bilang mereka sangat sederhana dan taat beragama."


"Lalu?"


"Kamu tahu sendiri 'kan seperti apa Arzu setelah aku bercerai dengan ibunya? Dia benar-benar liar, nggak bisa diatur. Bahkan, beberapa kali aku memergoki dia ikut balapan sama anak-anak jalanan."


"Anakmu yang satu itu memang melebihi David sikap kelaki-lakiannya."


"Nah, aku rasa Azam adalah pria yang sangat cocok untuk Arzu. Aku lihat, Azam bukan tipe orang yang emosian. Arzu bahkan memanggilnya Om tapi dia nggak marah, Arzu juga memberikan alamat palsu, sampai dia berjalan jauh di tengah hari. Dia juga nggak marah."

__ADS_1


"Wah, spek malaikat tuh, Ji. Lamar aja dia buat Arzu, kapan lagi kamu menemukan pria seperti itu untuk putri tunggal mu."


Pak Aji terdiam, wajahnya terlihat serius, kemudian ia berkata, "Benar, aku yang harus melamarnya."


...🦋...


"Apa?"


"Papa mau melamar Azam untuk Arzu?"


"Papa gila?"


Pak Aji meringis mendengar ucapan anaknya itu.


"Anak durhaka kamu, Vid!" seru Pak Aji. "Ayah sendiri dibilang gila."


Kini David yang meringis. "Maaf, Pa, aku keceplosan. Nggak ada niat mau jadi anak durhaka."


Saat ini, Pak Aji menghampiri David di kantornya, tentu untuk membicarakan niat baiknya itu untuk melamar Azam. Ia sama sekali tidak ingin membuang waktu.


"Azam belum punya pacar, kan?" tanya Pak Aji lagi.


"Azam bukan tipe pria yang mau pacaran, Pa," sahut David dengan lesu. "Tapi lebih baik Papa urungkan niat menjodohkan mereka."


"Kenapa?" tanya Pak Aji, merasa kecewa dengan permintaan putranya itu.


"Ya masa pria hampir sempurna seperti Azam, justru dapat wanita seperti Arzu, Pa? Kasian lah_ aduh!" David langsung mengaduh saat sang Ayah melemparnya dengan mouse.


"Adikmu sendiri itu loh."


...🦋...


Sementara di sisi lain, Arzu kini pulang ke rumah membawa Intan.


"Aku pulang!" seru Arzu seperti biasa meskipun terkadang tidak ada yang menyahut, seperti sekarang ini.


"Bi?" Ia berteriak memanggil pembantunya.


Namun, yang muncul justru Azam.


"Sudah pulang, Arzu," kata Azam, tak lupa dia melempar senyum ramah pada Intan.


"Iya, Om," sahut Arzu, kemudian gadis itu menatap Intan dan berkata, "Tuh, dia tampan, kan?"


"Eh?"


......🦋......

__ADS_1


__ADS_2