
"Apa maksudmu ada syarat dan ketentuannya, Arzu?" tanya Papa Aji dengan lembut, meskipun sorot matanya jelas terlihat kesal sekaligus cemas. Sejak tadi, gadis itu membuat jantungnya berdetak sangat cepat, ia takut akan terkena serangan jantung jika Arzu kembali berulah.
"Biar rumah tangga kita nanti nggak ada masalah, Pa," jawab Arzu dengan santai.
"Lalu apa syaratnya, Arzu?" tanya Azam yang masih punya stok sabar, sementara Ummi Umaroh tampaknya sudah sangat gemas pada calon menantunya ini, tapi ia tak mempermasalahkan jika Arzu memang ingin mengajukan syarat.
"Syarat yang pertama!" seru Arzu sembari duduk tegak. "Aku nggak mau punya bayi sampai setidaknya usiaku 23-25 tahun."
"Hah?" Tentu Azam terkejut, begitu juga dengan yang lain, termasuk Ummi-nya.
"Tapi kenapa, Arzu?" tanya Ummi yang mencoba tetap berpikir positif tentang permintaan Arzu, dan ia ingin tahu alasannya.
"Tante pasti tahu 'kan kalau hamil di bawah usia 20 tahun itu tidak bagus?" Ummi Umaroh langsung menatap Azam saat Arzu justru melontarkan pertanyaan seperti itu. "Aku baru berulang tahun yang ke 19 dua bulan yang lalu, Tante," kata Arzu.
"Dan berdasarkan anatomi tubuh, perkembangan panggul perempuan di usiaku sekarang belum sempurna sehingga dapat menyebabkan kesulitan saat melahirkan nanti, bahkan juga rentan keguguran jika hamil di usia muda" tukas Arzu dengan lugas dan yakin.
"Selain itu, secara mental aku juga belum siap menjadi Ibu. Jadi aku nggak mau punya anak sebelum aku siap, secara fisik dan mental. Aku ingin menjadi Ibu yang baik, jadi aku harus menjadi Ibu di waktu yang tepat."
Semua orang termangu mendengar penjelasan Arzu, terutama Azam. Ia tidak menyangka Arzu akan melontarkan penjelasan yang sangat masuk akal, tapi Azam justru khawatir pada sang Ibu.
Usianya tak lagi muda, dan pasti Ibunya ingin segera memiliki cucu darinya.
"Apa syarat itu bisa diterima?" tanya Arzu.
Ia sendiri sudah memikirkan ini sejak lama karena Arzu tidak mau menjadi Ibu yang buruk seperti Ibunya.
Syarat yang diajukan Arzu itu membuat ayah dan kakaknya cemas, tapi mereka juga setuju dengan syarat itu karena Arzu punya alasan yang masuk akal.
"Bagaimana menurutmu, Azam?" tanya Ummi.
"Menurut Ummi sendiri bagaimana?" Azam balik bertanya dengan cemas.
"Itu pilihan yang cerdas," jawab Ummi Umaroh yang membuat Azam tersenyum lega, begitu juga dengan kakak dan ayah Arzu.
Ummi Umaroh menatap Arzu dan berkata, "Kamu benar, Arzu, untuk menjadi ibu kamu butuh siap secara fisik dan mental. Kamu juga harus merasa puas dengan diri kamu sendiri karena kamu masih muda, sehingga setelah punya anak nanti, kamu tidak akan menyesali apapun karena memang sudah waktunya kamu punya anak."
"Terima kasih," ucap Arzu dengan sangat tulus. "Aku nggak nyangka Tante akan setuju karena biasanya Ibu mertua itu pengen cepat punya cucu. Nggak jarang ada yang mendesak anak dan menantunya cepat punya anak, atau bahkan menikah lagi demi mendapatkan cucu, makanya aku mengajukan syarat ini. Aku nggak mau dipaksa punya anak."
Ummi Umaroh sedikit terkejut mendengar pernyataan panjang lebar Arzu, tapi ia tak bisa mengelak bahwa itu memang sering terjadi.
__ADS_1
"Ya, kamu benar," gumam Ummi Umaroh.
Entah kenapa, Azam merasa kagum mendengar kata-kata Arzu, yang membuatnya merasa itu pernyataan yang cukup dewasa.
"Oh ya, syarat kedua—"
"Ada berapa syarat Arzu?" tanya Papa Aji yang kembali cemas.
"Tiga aja kok, Pa," jawab Arzu singkat.
"Banyaknya!" seru David terkejut.
"Cuma tiga syarat...." Arzu mengangkat tiga jari tangan kanannya. "Untuk pernikahan yang akan aku jalani sampai mati, apa itu kebanyakan?"
David langsung meringis mendengar pertanyaan adiknya, sementara Azam dan yang lainnya hanya terkekeh.
"Lalu apa syarat kedua dan ketiga, Arzu?" tanya Om Malik.
"Syarat kedua, aku nggak mau tinggal sama mertua!"
"APA?" semua orang memekik secara bersamaan, dan kini tatapan semua orang langsung tertuju pada Ummi Umaroh.
"Kata orang, tinggal sama Ibu mertua itu nggak enak," celetuk Arzu dengan jujur. "Dan aku mau hidup tenang, yang enak, nyaman."
Calon ibu mertuanya itu hanya bisa melongo, otaknya tiba-tiba blank. Azam pun tak bisa berkata-kata, apalagi ia tidak pernah berpikir akan tinggal berpisah dari ibunya setelah menikah. Bahkan, Azam ingin tetap tinggal bersama sang Ibu karena dia anak pertama, menggantikan posisi sang ayah menjaga keluarganya.
"Maafin kata-kata Arzu," ucap Papa Aji dengan cepat, apalagi ia menyadari raut wajah ketiga tamunya sangat berbeda. "Arzu, cabut syarat itu!" bisiknya pada Arzu.
"Nggak mau," tolak Arzu dengan cepat. "Yang akan menikah 'kan aku, yang akan menjalani rumah tangga itu nanti juga aku. Jadi ya terserah aku, kan?"
"Nggak begini, Sayang." Papa Aji mendesis tertahan, tapi Arzu tetap memegang keputusannya.
"Nggak apa-apa," seru Ummi Umaroh akhirnya.
"Ummi?" Azam menatap sang Ibu dengan cemas, tapi Ummi Umaroh langsung melempar senyum yang seolah meminta Azam tenang.
"Tante juga anak perempuan dan menantu perempuan, Arzu, jadi Tante mengerti apa yang kamu takutkan. Dan jujur saja, dulu Tante tinggal bersama keluarga ayah Azam dan itu memang nggak enak." Ummi Umaroh terkekeh di akhir kalimat. "Jadi syarat itu kami penuhi."
Arzu langsung tersenyum lebar, sementara ayah dan kakaknya menghela napas lega. Namun, di detik selanjutnya mereka kembali tegang karena masih ada satu syarat lagi. Dan tidak ada yang bisa menebak apa yang ada dalam otak cantik Arzu.
__ADS_1
Azam, Ummi dan Om-nya juga gugup menunggu syarat Arzu berikutnya.
Kini mereka semua seperti sedang menunggu keputusan hakim dalam sebuah persidangan yang menegangkan.
"Lalu apa syarat ketiga, Arzu?" tanya Ummi Umaroh. Ia menarik napas, berusaha menenangkan dadanya yang berdebar.
"Syarat yang ketiga, Om harus menjadi yang suami yang baik. Yang memenuhi semua kebutuhanku, dan di rumah harus ada Bibi karena aku nggak mau masak, aku juga nggak mau bersih-bersih rumah. Nanti aku akan mengurus Om aja, kalau sudah punya anak, aku akan mengurus Om dan anak kita."
Semua orang kembali menganga, bahkan ayah dan Kakak Arzu hanya bisa menahan ludah.
Om Malik meringis mendengar syarat itu, Ummi Umaroh mematung, dan Azam hanya bisa garuk-garuk kepala.
"Om sanggup 'kan bayar Bibi buat masak dan membersihkan rumah?" tanya Arzu. "Kalau Om nggak sanggup, nggak apa-apa, biar Papa yang bayar ART. Yang penting aku nggak perlu melakukan pekerjaan apapun."
"Arzu, tidak boleh begitu," tegur sang Ayah dengan tegas. Ia tahu apa yang Arzu katakan dapat melukai harga diri Azam dan keluarganya.
"Aku cuma kasih opsi," sahut Arzu dengan santai. "Apalagi nanti kita akan tinggal di desa, nggak akan ada pembantu 'kan di sana? Sementara aku nggak bisa masak apalagi membersihkan rumah."
"Bagaimana, Zam?" tanya Ummi Umaroh.
Azam hanya meringis, dan ia masih menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau Ummi sih setuju, Zam," kata Ummi Umaroh yang kini justru tersenyum lebar.
"Ingat, kamu menikahi wanita itu untuk dijadikan istri, bukan pembantu. Memasak dan membersihkan rumah juga bukan kewajiban wanita loh." Ummi Umaroh berkata sembari mengulum senyum, dan ia terlihat mendukung permintaan Arzu kali ini.
"Memasak dan mengurus rumah itu juga bukan kodrat seorang istri, kodrat istri itu cuma mengandung dan melahirkan. Menyusui aja nggak wajib menurut Imam Syafi'i, kecuali saat baru saja melahirkan." Lanjutnya.
Azam yang tahu tentang hukum itu tentu saja hanya bisa cengengesan. Om Malik justru terkekeh karena suadara perempuannya ini justru mendukung calon menentu perempuannya, sementara Papa Aji dan David hanya bisa menahan senyum. Ilmu agama mereka memang tidak sedalam orang-orang seperti Azam, tapi mereka pernah mendengar hukum itu.
Sementara Arzu yang sebenarnya tidak tahu hukum seperti itu hanya bisa senyum-senyum, yang dia butuhkan saat ini hanyalah dukungan atas keputusannya.
"Bagaimana, Om? Bisa menerima ketiga syarat yang aku ajukan?" tanya Arzu yang menatap Azam dengan sangat tajam dan dalam.
"Inysaallah, Arzu. Aku menerima ketiga syaratmu."
...🦋...
Beritahu aku jika ada typo, ya. Thank you and I love you 😘
__ADS_1