Dijodohkan Dengan Ustaz Tampan

Dijodohkan Dengan Ustaz Tampan
Melamar Azam Untuk Arzu?


__ADS_3

Azam juga punya seorang adik perempuan yang seumuran dengan Arzu, maka dari itu hati nuraninya tak bisa membiarkan Arzu pergi begitu saja. Azam ingin memastikan bahwa Arzu sampai ke rumah temannya dengan selamat.


"Om?" pekik Arzu saat melihat dirinya.


"Alhamdulillah, ternyata kamu sampai dengan selamat," kata Azam yang membuat kening Arzu berkerut.


"Om ke sini mau memastikan aku sampai dengan selamat?" Arzu memicingkan matanya pada pria itu.


"Iya," jawab Azam dengan jujur, seketika Arzu termangu, ia menatap Ustadz tampan di depannya ini dengan mata yang melebar. "Kalau begitu, aku pulang dulu," ujar Azam kemudian.


"Okey," sahut Arzu dengan santai.


Azam pun segera pulang menggunakan ojek online yang tadi, dan Arzu menatap kepergiannya tanpa berkedip.


"Wah, Ar!" seru Intan tiba-tiba. "Dia menyusul kamu ke sini cuma untuk memastikan kamu sampai selamat apa nggak."


Intan geleng-geleng kepala, merasa takjub dengan kepedulian pria itu.


"Iya, itu aneh." Justru kalimat itu yang keluar dari bibir Arzu. "Masuk, yuk. Aku udah ngantuk."


"Itu bukan aneh, itu namanya perhatian." Intan berujar sembari mengikuti Arzu ke kamar.


"Oh ya?" Arzu langsung terkekeh. "Dia baru datang dua hari yang lalu, masa iya sudah perhatian begitu?"


...🦋...


Setelah memastikan Arzu sampai di rumah temannya dengan selamat, kini Azam bisa tidur dengan tenang. Bahkan, ia mengulum senyum mengingat wajah Arzu yang terkejut saat melihatnya. Entah kenapa, setiap gerak gerik wanita itu terasa begitu unik dan melekat di hati Azam.


Saat pagi menjelang, Azam langsung bersiap-siap untuk pergi karena urusannya di Jakarta sudah selesai. Meski sebenarnya Felix memintanya tinggal sedikit lebih lama, tapi Azam tidak bisa meninggalkan desanya lebih lama.


Sementara itu, David dan Ayahnya sedang berbincang di kamar tamu. Pak Aji masih bersikeras ingin melamar Azam, dan David bersikeras menolak gagasan itu.

__ADS_1


"Selamat pagi," sapa Azam yang datang bergabung dengan mereka.


"Pagi, Azam," balas Pak Aji sambil tersenyum ramah. "Oh ya, kamu masih sempat sarapan bersama kita 'kan sebelum pergi?"


"Sempat, Om," jawab Azam.


"Syukurlah," gumam Pak Aji kemudian yang membuat Azam mengerutkan keningnya.


"Memangnya ada apa, Om?" tanyanya kemudian.


"Emm ... sebenarnya ada yang ingin Om bicarakan." Pak Aji menatap David, dan tentu putranya itu langsung menggeleng, memberi isyarat agar sang Ayah mengurungkan niatnya.


Akan tetapi, keputusan Pak Aji sudah bulat. Ia juga sudah sangat yakin mempersunting Azam untuk putrinya, apalagi setelah Pak Rudy memberi tahu bahwa semalam Azam menyusul Arzu ke rumah Intan, untuk memastikan keselamatannya.


Ayah mana yang akan melepaskan pria seperti itu dari putrinya?


"Silakan, Om," kata Azam.


"Kamu ... sudah punya pacar?"


"Belum, Om." Azam menjawab sambil tersenyum tipis.


"Punya wanita yang ingin kamu lamar?"


Kerutan di kening Azam semakin dalam mendengar pertanyaan ayah temannya itu, ia pun melirik David, tapi pria itu hanya memasang ekspresi yang tidak bisa Azam baca.


"Belum juga, Om," jawab Azam kemudian.


"Kalau begitu, Om mau lamar kamu untuk Arzu."


"Astagfirullah." Entah kenapa, secara spontan Azam justru beristighfar, membuat David dan ayahnya melongo.

__ADS_1


Istighfar itu seperti sebuah penolakan tegas tanpa kompromi bagi David dan sang Ayah, apalagi mengingat Arzu memang bukan wanita sholehah.


Sedangkan pria seperti Azam pasti menginginkan wanita yang sangat sholehah, kan?


Azam yang menyadari reaksinya itu tidak tepat, langsung merasa tidak nyaman, ia pun segera berkata, "Bukan maksudku menolak, Om."


Seketika David dan ayahnya langsung bernapas dengan lega.


"Jadi, bagaimana menurutmu?" desak Pak Aji.


Azam terdiam sejenak, hati kecilnya tidak ingin menolak lamaran itu meski ia baru mengenal Arzu dua hari. Akan tetapi, alasan itu lah yang membuatnya juga tak bisa langsung menerima lamaran itu begitu saja.


"Kami baru bertemu dua hari yang lalu, Om." Azam menatap ayah temannya itu dengan serius. "Dan kami juga belum saling mengenal dengan baik, jadi aku juga tidak tahu harus menjawab apa."


Pak Aji langsung menghela napas berat.


Baru kali ini ia menemukan pria yang bingung mau menjawab apa atas lamaran pada dirinya.


Apa mungkin karena dia dilamar sedangkan seharusnya pria itu melamar?


"Benar juga," gumam Pak Aji. "Om sudah sering mendengar tentang kamu dari David, sejak dia masih kuliah dulu. Jadi Om berpikir kamu adalah pria yang sangat baik untuk Arzu, tapi ... Om tahu Arzu tidak cukup baik untukmu." Pak Aji berujar dengan suara rendah, seolah ia sedih menerima kenyataan itu.


"Bukan begitu, Om," sanggah Azam dengan cepat.


"Nggak usah dipikirkan, Zam!" seru David tiba-tiba. "Arzu juga baru 19 tahun, dia masih ada dalam fase yang sangat liar, mencari jati diri dan masih ingin bersenang-senang. Dia juga mungkin nggak akan siap kalau harus dijodohkan sekarang."


"Lalu bagaimana jika Arzu siap?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Azam, membuat David dan ayahnya saling memandang dengan bingung.


"Kalau Arzu siap menikah, dan kamu mau menikahinya. Om pasti sangat senang, Om juga bisa tenang karena Arzu punya imam yang baik," seloroh Pak Aji. "Om merasa gagal menjadi Ayah, Om nggak sanggup membuat dia menjadi pribadi yang baik. Makanya Om ingin menjodohkan kamu dengannya, siapa tahu dengan begitu dia akan menjadi pribadi yang lebih baik."


Azam terdiam sejenak, mengingat kembali sang ibu yang juga mendesaknya untuk segera menikah. Namun, Azam selalu beralasan ia belum menemukan wanita yang tepat.

__ADS_1


"Aku akan berbicara dengan Ummi lebih dulu, Om," ujar Azam kemudian. "Jujur aja, aku nggak bisa menolak atau menerima untuk saat ini. Jadi, jika bisa ... aku ingin bicara dengan ummi dulu dan memikirkannya kembali."


"Baiklah, Zam, Om senang dengan kejujuranmu."


__ADS_2