Dijodohkan Dengan Ustaz Tampan

Dijodohkan Dengan Ustaz Tampan
Mencoba Memahami


__ADS_3

Ummi Umaroh bisa menerima jika Arzu adalah gadis yang bar-bar, dan apa adanya. Tapi ia tidak bisa menerima kata-kata menusuk yang Arzu ucapkan pada sang ibu, wanita yang telah mengandung dan melahirkannya.


Hal itu membuat hati Ummi Umaroh sedikit goyah untuk melanjutkan perjodohan Azam dan Arzu.


Sementara itu, Azam dan Arzu kini ada dalam taksi, mereka dalam perjalanan pulang. Dan sejak tadi, tak ada yang bersuara, tiba-tiba keduanya merasa canggung.


Azam pun tak mencoba mencairkan suasana, ia takut nanti Arzu malah kesal padanya. Selain itu, ia juga bukan tipe orang yang pandai membujuk atau atau mencairkan suasana yang canggung.


Tak berselang lama, taksi berhenti di depan rumah Arzu. Gadis itu pun langsung melompat turun dari mobil dan berlari masuk ke rumah, Azam yang melihat hal itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


Saat masuk ke dalam rumah, Arzu disambut oleh sang Ayah dengan senyum hangat. Namun, Arzu justru melemparkan raut wajah dinginnya, apalagi saat ia membayangkan ayahnya akan melontarkan nasihat panjang lebar.


"Mandi gih, setelah ini kita pilih cincin pernikahan kalian!" seru sang Ayah yang membuat kening Arzu mengernyit. "Papa pikir kita akan membuang waktu jika pergi ke toko perhiasan, jadi Papa akan pesan aja. Kita bisa memilih jenis cincin yang kamu mau dari rumah." Lanjutnya.


Arzu langsung menoleh pada calon suaminya itu, dan ia teringat janji Azam tadi.


"Aku janji papa kamu nggak akan mengatakan apapun."


"Mandi dulu, Arzu!" seru Azam sambil tersenyum tipis.


Arzu pun langsung bergegas ke kamarnya, dan itu membuat Papa Aji mengerutkan dahi.


"Apa dia hanya patuh pada calon suaminya sekarang?" goda pria paruh baya itu yang membuat Azam tersipu.


"Terima kasih karena Om mau memenuhi apa yang aku minta," ucap Azam kemudian.


Saat di perjalanan tadi, Azam memang mengirim pesan pada calon ayah mertuanya agar tidak membahas masalah Mama Irene, atau mencoba memberikan nasihat pada Arzu untuk sementara waktu.


"Om yang sangat berterima kasih sama kamu, Zam," kata Papa Aji. "Jika Arzu pergi karena ngambek, biasanya dia tuh baru pulang keesokan harinya. Tapi sekarang kamu bisa membawanya pulang kurang dari satu jam."


"Aku hanya mencoba mengerti situasi Arzu, Om," kata Azam. "Oh ya, aku mau menemui ummi dulu."


"Iya, silakan. Ibu kamu ada di kamarnya."


Azam mengangguk mengerti, ia pun segera ke kamar sang Ibu. "Assalamualaikum, Ummi."


"Waalaikum salam," jawab Ummi Umaroh. "Bagaimana? Arzu mau pulang?"


"Iya, Alhamdulillah." Azam menutup pintunya dengan rapat. "Ada apa? Kenapa wajah Ummi terlihat cemas?" tanya Azam.


"Ummi masih shock mendengar kata-kata Arzu yang sangat tajam pada ibunya, Zam, itu benar-benar nggak pantas keluar dari seorang anak, apalagi pada wanita yang sudah mengandung dan melahirkannya."

__ADS_1


"Ummi benar," sahut Azam sembari membawa ibunya duduk di tepi ranjang. "Tapi Arzu punya alasan kenapa bisa jadi seperti itu, Ummi."


"Nggak ada alasan yang dapat dibenarkan untuk seorang membentak ibunya, Zam," tegas Ummi Umaroh. "Arzu sangat keterlaluan."


"Arzu seperti itu karena terlalu mencintai ibunya, Ummi," ujar Azam.


Ia pun menceritakan apa yang ia dengar dari Arzu tadi dengan hati-hati, agar ibunya tidak menganggap Azam membenarkan tindakan Arzu.


----


Sementara di sisi lain, Mama Irena membuka sebuah kotak kecil yang berisi sebuah kalung mewah di dalamnya.


"Kamu pasti cantik sekali kalau memakai ini, Sayang," gumam Mama Irene.


Kalung berlian berbentuk kupu-kupu itu ia beli saat ulang tahun pertama Arzu, dia membeli sepasang. Satu untuk dirinya, dan satu untuk Arzu.


Akan tetapi tentu bayi tidak mungkin memakai berlian, maka ia berniat akan memberikan hadiah itu saat ulang tahun Arzu yang 17, tapi ternyata Arzu tidak pernah mau lagi merayakan ulang tahunnya setelah perceraian kedua orang tuanya.


Walaupun begitu, Mama Irene tetap memberikan hadiah itu, tapi Arzu justru melempar hadiahnya ke tong sampah tepat di depan wajah mata Mama irene.


Air mata Mama Irene jatuh mengingat hari itu, hatinya begitu sakit, perih, seperti dicabik-cabik.


Namun, ia tak bisa menyalahkan Arzu karena itu terjadi akibat perbuatannya sendiri.


"Mama?" Mama Irene langsung menyeka air matanya saat mendengar suara Syaira.


"Iya, Sayang," sahut Mama Irene.


"Syaila lapal," rengek bocah cilik itu sembari memegang perutnya.


"Oh, Syaira lapar?" kekeh Mama Irene sembari meletakkan kotak kalungnya.


"Apa itu, Mama?" tanya Syaira penasaran.


Mama Irene menatap kotak itu kemudian mengambil kalungnya kembali. "Wah, cantik sekali!" seru Syaira dengan mata yang berbinar.


"Mama punya dua kalung seperti ini, satunya sudah Mama. Kasih untuk Kakak Arzu," kata Mama Irene. "Kalau yang ini buat Syaira, Syaira mau Nggak?"


"Mau, Mama!" Gadis cilik itu menjawab tanpa ragu, membuat Mama Irene merasa begitu terharu.


"Andai Arzu juga menerima hadiah ini seperti kamu, Syaira."

__ADS_1


...🦋...


Setelah mendengar penjelasan Azam, hati Ummi Umaroh kembali melunak pada Arzu, bahkan kini dia bersimpati pada gadis kecil itu.


Saat anak-anak melakukan kesalahan, ada kalanya jangan mempertanyakan sikapnya itu pada anak tersebut. Tapi, coba lah tanya pada orang tuanya, apa yang telah ia lakukan hingga sang anak menjadi seperti itu.


Ummi Umaroh merasa Arzu dan Mama Irene membuka mata, bahwa anak tidak selalu salah atas tindakan mereka.


Hari sudah sore, Bibi sedang sibuk di dapur menyiapkan makan malam. Karena di rumah ada lebih banyak orang, ia pun memasak lebih banyak.


"Bi, es krim ku masih ada nggak, ya?" teriak Arzu yang kini berjalan masuk ke dapur.


"Kayaknya masih banyak, Non," jawab Bibi sembari mengadu sup di dalam panci.


"Kok kayaknya sih, Bi? Periksa dong," rengek Arzu.


Gadis itu kini duduk di kursi yang ada di dapur, ia sibuk bermain game sementara Bibi harus memeriksa stok es krim di dalam kulkas.


"Masih banyak, Non," kata Bibi.


"Ya ambilin," pinta Arzu.


Bibi pun mengambilkan satu cup es krim kemudian memberikannya pada Arzu, bersamaan dengan itu, Azam ke dapur dengan membawa kotak hadiah dari Mama Irene.


"Lagi apa, Arzu?" tanya Azam sembari duduk di kursi yang ada di hadapan Arzu.


"Seperti yang Om lihat," jawab Arzu sarkas.


Azam hanya bisa mengulum senyum sebelum akhirnya meletkkan kotak hadiah itu di depan Arzu. "Hadiah buat kamu," kata Azam.


"Apa isinya?" tanya Arzu.


Ia sudah hendak membuka hadiah itu, tapi tiba-tiba Azam berkata, "Nggak tahu, itu dari ibu kamu."


Seketika raut wajah Arzu berubah, ia beranjak berdiri membawa kotak hadiah itu. Awalnya, Azam berpikir Arzu akan membawanya ke kamar.


Akan tetapi yang Arzu lakukan justru di luar dugaan.


"NON ARZU?" pekik Bibi karena Arzu melempar kotak hadiah itu ke dalam panci yang berisi sup.


Azam hanya bisa menganga, Bibi pun segera mematikan kompor. Sementara Arzu melenggang pergi begitu saja sembari menikmati es krimnya.

__ADS_1


"Astagfirullah," gumam Azam sembari mengelus dada.


__ADS_2