
Beberapa hari kemudian ....
Sesuai saran dan Om-nya, Azam melakukan sholat istikharah untuk mendapatkan jawaban dari lamaran pak Aji. Ia melakukan itu setiap malam, dan segala petunjuk terasa mengarah seolah ia mendapatkan restu untuk menikahi Arzu.
Azam juga jujur pada ibunya tentang latar belakang keluarga Arzu, dan juga sifat gadis itu.
Bahkan, Azam juga memberi tahu bahwa Arzu sudah mengerjainya dengan memberikan alamat palsu. Padahal, rumah yang Azam cari adalah rumah Arzu sendiri.
Ummi Umaroh tentu saja meringis mendengar cerita itu, apalagi ketika Azam melanjutkan ceritanya. "Kalau pergi ke luar, dia pakai motor gede kayak punya anaknya om Malik itu, Ummi."
"Hah? Motor ninja itu?" pekik Ummi Umaroh.
Azam mengangguk lemah.
"Tapi aku yakin, sebenarnya dia gadis yang baik, Ummi, Arzu hanya sedikit butuh arahan." Azam berujar dengan serius.
"Unik juga, ya." Justru kalimat itu yang keluar dari bibir Ummi Umaroh.
"Hehe iya, unik." Azam menimpali karena memang itu lah yang dia rasakan saat bertemu Arzu.
"Kalau begitu, bawa gadis itu ke rumah, atau bawa Ummi menemui keluarganya. Bagaimana pun juga, yang melamar secara resmi itu adalah pihak pria."
"Ummi?"
Azam menatap sang Ibu tak percaya, sementara Ummi Umaroh hanya melempar senyum tipis.
Sejujurnya, ia sangat ingin wanita sholehah yang anggun dan lulusan pesantren untuk menjadi istri Azam. Apalagi sekarang Azam adalah pengasuh sekolah Madrasah keluarganya, tentu ia butuh pendamping yang sejalan.
Akan tetapi, ini baru pertama kalinya Azam membicarakan tentang seorang gadis pada ibunya. Dan mata Azam berbinar setiap kali ia menyebutkan nama gadis itu, seolah matanya memberi tahu bahwa hati Azam menginginkan gadis tersebut.
Selain itu, Ummi Umaroh tahu, menjadi sholehah itu pilihan, bisa dipelajari dan juga tergantung dari lingkungannya. Jadi, ia yakin Arzu juga akan menjadi muslimah yang baik nantinya.
...🦋...
"Aku bilang nggak mau ya nggak mau!" tegas Arzu dengan wajah yang cemberut.
Setiap hari sang Ayah selalu membicarakan tentang perjodohannya dan Azam, dan setiap kali pula Arzu menegaskan dia tidak mau. Tapi ayahnya bersikeras tetap ingin mejodohkan mereka karena alasan Arzu menolak perjodohan itu sangat lah konyol.
"Cari pria lain aja, aku nggak mau tinggal di desa, Papa!" Arzu berkata penuh penekanan. "Kalau perlu, cari yang dari luar negeri. Itu pasti lebih baik."
"Desa Azam itu bagus kok, Arzu," bujuk sang Ayah.
"Nggak mau, Om Ustadz nggak punya pekerjaan tetap. Gimana aku hidup nanti?" Arzu mulai merengek kesal.
Ayahnya sudah membuka mulut untuk kembali merayu Arzu, tapi tiba-tiba ponselnya berdering.
Senyum sumringah mengembang di bibir pria paruh baya itu saat tahu siapa yang mebghubunginya.
"Halo?" sapanya setelah menjawab panggilan itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Om, ini aku, Azam."
Pak Aji mengulum senyum mendengar suara Azam.
"Iya, Om tahu." Ia menjawab sembari melirik Arzu yang kini masuk ke kamarnya begitu saja, gadis itu menghentakkan kakinya, menegaskan ia sedang sangat kesal.
"Oh ya, apa kamu sudah berbicara dengan ibumu?" Pak Aji bertanya dengan semangat, ia juga sangat berharap jawaban Azam sesuai dengan jawaban yang ia inginkan.
"Sudah, Om," jawab Azam. "Alhamdulillah, Ummi setuju. Selain itu, aku pun setuju, Om."
Suara Azam terdengar rendah di akhir kalimat, seolah pria itu sedang malu-malu sekarang.
Sementara ayah Arzu dan David itu hanya tercengang, merasa tak percaya harapannya bisa tercapai.
"Aku dan ummi akan ke Jakarta untuk melamar Arzu pada Om secara langsung," imbuh Azam yang seketika membuat Pak Aji merasa terharu.
"Serius, Zam?" lirihnya.
"Inysaallah, Om, besok pagi kami akan ke sana."
"Alhamdulillah, Om benar-benar senang, Zam." Pak Aji tak bisa menahan kebahagiaannya, bahkan mata pria paruh baya itu berkaca-kaca, merasa terharu karena kini sang putri akan segera menikah.
"Tapi apa Arzu setuju, Om? Aku nggak akan maksa dia kalau Arzu menolak."
"Anak itu pasti setuju," sanggah Pak Aji dengan cepat. "Apalagi dia suka padamu yang tampan."
Terdengar suara tawa kecil Azam dari seberang telfon, membuat Pak Aji ikutan tertawa.
"Vid, besok Azam mau ke sini sama ibunya!" seru Pak Aji girang.
"Mau ngapain?" tanya David dengan bingung.
"Mau melamar Arzu."
"Astagfirullah!"
David langsung beristighfar seraya mengelus dadanya mendengar kabar itu.
"Kok malah istighfar, Vid? Ini kabar terbaik sepanjang tahun ini," tukas Pak Aji.
David menghela napas berat kemudian bertanya, "Apa yang Papa lakukan sama temanku sampai dia mau melamar Arzu?"
Pak Aji yang mendengar pertanyaan itu tentu saja langsung menatap anaknya dengan tajam.
"Nggak diapa-apain, Vid, kamu pikir Papa mau mengancam atau memohon, begitu?"
"Ya siapa tahu pakai cara pelet!"
"Anak ini!" Pak Aji langsung mengambil menggeplak kepala putranya itu dengan kesal, membuat David langsung meringis.
__ADS_1
"Tapi Arzu menolak mentah-mentah perjodohan itu, Pa!" seru David sembari memegang kapalanya yang dipukul. "Kita nggak pernah bisa maksa Arzu, kan?"
"Tenang aja, sekarang Papa punya cara supaya dia mau menikah sama Azam."
...🦋...
Arzu benar-benar dibuat kesal oleh sang Ayah perihal perjodohannya dengan Azam. Dan untuk menghindari ayahnya, sekaligus untuk menghibur diri, ia pergi ke tempat balapan.
"Jangan balapan lagi, Ar!" Intan membujuk temannya itu dengan lembut. "Hadiahnya juga cuma sepeda gunung bekas."
"Aku nggak tertarik dengan hadiahnya," tukas Arzu. "Aku butuh pelampiasan sekarang."
Gadis itu memasang helm-nya, bersiap terjun ke lapangan secara langsung. Tanpa ia sadari, helm-nya tidak terpasang dengan benar.
Intan pun tak lagi bisa berbuat banyak, ia hanya bisa berharap Arzu baik-baik saja selama balapan berlangsung.
Semua peserta kini sudah berjejer, motor mereka sudah siap melaju dengan kecepatan paling tinggi untuk meraih gelar sebagai pemenang. Kecuali Arzu, gadis itu hanya ingin mencari sensasi yang berbeda, yang bisa mengalihkan pikiran dan perasaannya.
Seorang gadis yang berpakaian sangar minim berdiri di depan para pembalap itu, ia memegang sebuah bendera dan menghitung aba-aba.
"Satu!"
"Dua!!"
"Tiga!"
"GO!"
Semua peserta langsung melajukan motornya dengan semangat, diiringi suara riuh penonton yang meneriakan nama jagoannya masing-masing.
Nama Arzu juga terdengar dari beberapa penonton, membuat gadis itu semakin bersemangat.
Namun, tiba-tiba ponsel di dalam sakunya berdering membuat Arzu sedikit terkejut, apalagi dia tidak pernah membawa ponselnya saat balapan. Tapi sepertinya kali ini ia lupa mengeluarkan ponselnya itu dari saku.
Arzu mengabaikan dering ponsel itu, dan ia menikmati balapan liar di malam yang dingin. Hingga tiba-tiba ia memperlambat laju motornya karena ponselnya terus berdering.
Arzu menjawab panggilan yang ternyata dari kakaknya itu tanpa menghentikan laju motornya.
"Halo?" seru Arzu dengan suara lantang.
"Arzu, kamu di mana?"
"Lagi sibuk, Kak. Nanti aku telfon lagi!" Arzu berteriak.
"Arzu, Papa kena serangan jantung. Sekarang di rumah sakit."
"APA?"
BRUUUGHHHH
__ADS_1
Arzu yang terkejut tiba-tiba kehilangan fokus hingga ia jatuh dari motornya.