
Hari yang di tunggu akhirnya tiba juga, yaitu akad nikah Arzu dan Azam.
Papa Aji sangat antusias, begitu juga dengan Ummi Umaroh. Sementara David justru merasa cemas, ia masih takut ini akan menjadi keputusan yang salah, baik untuk adik ataupun temannya.
Bagaimana pun juga, menikah itu hubungan yang sangat serius. Dan jujur saja, David masih trauma dengan pernikahan orang tuanya yang kandas di tengah jalan.
"Mereka akan bahagia, Inysaallah," kata Papa Aji sembari menepuk pundak David. "Arzu nggak akan mengkhianati suaminya, dan suaminya pun pasti menjadi imam yang baik."
"Aamiin, ya Allah," sahut David dengan cepat.
Mereka pun segera menemui Azam yang saat ini ada di kamarnya.
"Sudah siap?" tanya Papa Aji.
"I-iya," jawab Azam gugup, wajah pria itu terlihat sangat tegang, bahkan kakinya tidak menapak dengan benar, seperti orang gelisah.
"Ya sudah, ayo! Sebentar lagi penghulunya akan datang," ujar Papa Aji.
"Sebentar, aku ... aku masih sedikit gugup," ucap Azam yang langsung ditertawakan oleh David dan Papa Aji.
Sementara di kamarnya, Arzu saat ini masih dirias. Dan gadis itu meringis saat perias menyentuh goresan di pipinya.
"Sakit loh, Tante, gimana sih!" Ia menggerutu kesal sembari memegang pipinya itu.
"Tapi harus ditutup dengan make up, Non," jawab wanita itu. "Biar nggak kelihatan pas difoto nanti."
"Emang kenapa kalau kelihatan?" Arzu justru ngeyel, membuat wanita perias yang dipanggil David itu hanya bisa meringis.
"Sudah, nggak apa-apa." Ummi Umaroh segera bertindak. "Biar kami juga ingat, Arzu menikah setelah jatuh dari motor," kekehnya.
"Hem, calom Ummi mertua memang paling pengertian," ujar Arzu, tanpa sadar bahwa calon ibu mertuanya berkata seperti itu karena sudah kehabisan kata-kata untuk memberikan pengertian padanya.
Akad nikah Arzu dan Azam memang digelar di rumah saja, mereka mengundang tetangga dekat, serta beberapa teman Papa Aji dan teman David.
Irfan dan istrinya juga datang, teman David dan Azam itu tampak sangat bahagia karena satu temannya sudah akan melepas masa lajang.
Papa Aji juga mempersilakan jika ada keluarga Azam yang ingin datang, bahkan ia siap membelikan tiket pulang pergi. Namun, adik-adik Azam menolak karena sedang ujian. Selain itu, mereka juga merencanakan pesta kecil-kecilan di desa nanti.
Di luar, penghulu dan saksi juga para tamu sudah datang. Azam pun sudah duduk di depan penghulu, siap mengucapkan akad atas nama Arzu.
Ah, Azam tidak pernah menyangka, kedatangannya ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan teman, kita justru membawa Azam pada pernikahannya sendiri.
Tak berselang lama, Ummi Umaroh datang membawa Arzu yang kini sudah tampil cantik.
Gadis itu tidak memakai kebaya seperti pengantin wanita pada umumnya, ia memakai gaun simple berwarna merah muda, polos, tapi terlihat sangat anggun dan tentu saja tertutup juga longgar.
"Duduk di sini, Sayang, tapi jangan terlalu dekat dengan Azam, ya." Ummi Umaroh mendudukkan calon menantunya itu di sisi Azam.
__ADS_1
"Terima kasih, Tante," ucap Arzu sambil tersenyum manis. Setelah itu, ia menatap Azam yang tak menatapnya, tapi pria itu mengulum senyum, dan raut wajahnya terlihat bahagia.
Papa Aji merasa sangat terharu melihat putrinya itu kini akan menikah, putrinya memang sudah dewasa meskipun masih sering bertingkah seperti anak-anak.
"Om, gimana penampilanku? Aku pilih sendiri bajunya loh, bagus, kan?"
Azam langsung melotot terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan Arzu, begitu juga dengan Pak Penghulu.
"Arzu!" tegur Papa Aji.
Sementara David hanya bisa mengelus dada sembari melirik para tamu satu persatu. "Padahal tadi malam aku sudah berdoa supaya Arzu nggak bertingkah, ya Allah," gumamnya dengan lesu.
Sementara Ummi Umaroh kini diam-diam melakukan videa call dengan Mama Irene, ia ingin calon besannya itu menyaksikan akad nikah Azam dan Arzu.
"Baiklah, bisa kita mulai saja akadnya?" tanya Papa Aji kemudian.
"Bisa, insyaallah," jawab Azam.
Sebelum akad, Pak penghulu membaca Basmalah, kemudian membaca sholawat.
Setelah itu, Papa Aji langsung mengulurkan tangannya pada Azam, dan sang calon menantu langsung menyambutnya.
''Bismillahirrohmanirrahim!" Papa Aji menarik napas panjang, kemudian melanjutkan. "Saudara Azam Mifat bin Abdullah Miftah, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandungku, Arzu Nabilla dengan mas kawin berupa uang tunai 20 juta dan seperangkat alat sholat, dibayar tunai!"
Tiba-tiba Arzu merasa gugup saat menunggu Azam mengucapkan Qobul, ia menatap Azam dengan intens, bahkan Arzu sampai menahan napas.
Awalnya, Azam sudah siap tapi karena ia bisa meraskan tatapan Arzu, Azam justru merasa sangat gugup hingga tak bisa berkata-kata.
Namun...
"Arzu, jangan menatapku begitu!" tegur Azam tiba-tiba yang langsung membuat semua orang melongo, termasuk Pak Penghulu, apa lagi ketika Azam berkata, "Kalau kamu menatap aku begitu, aku jadi gugup."
"Om gimana sih, kok malah aku yang salah?" gerutu Arzu yang tidak mau ditegur.
"Ya aku gugup karena kamu natap aku terus," balas Azam tanpa menatap calon istrinya itu.
"Ya Om 'kan calon suami aku, masa aku nggak boleh natap Om?" tanya Arzu dengan pipi yang sudah mengembang.
"Nggak boleh, nanti aja natapnya kalau udah sah!" Azam menjawab dengan tegas.
Semua orang semakin dibuat melongo, tapi di detik selanjutnya mereka tertawa geli melihat tingkah sang pengantin.
"Ya sudah, begini saja!" seru Ummi Umaroh. "Arzu balik dulu ke kamar, ya! Nanti kalau akadnya sudah selesai, baru Arzu boleh keluar."
"Nggak mau!" tolak Arzu dengan tegas. "Aku mau liat dong akad nikahnya kami bagaimana."
"Arzu, nanti kamu bisa liat videonya, Sayang." Papa Aji ikut membujuk, ia tidak mau akad nikah ini hancur karena ulah absurd Arzu.
__ADS_1
"Iya, moment ini diabadikan, Dek!" David menimpali.
Arzu terdiam sejenak, ia teringat kembali setiap kali bertemu dengan Azam, pria itu memang tidak pernah menatapnya, kecuali tidak sengaja.
"Ya sudah, aku janji nggak akan natap Om sampai akadnya selesai!" seru Arzu kemudian. "Beneran, janji!" imbuhnya meyakinkan.
"Baiklah, ayo kita ulangi!" seru pak penghulu. "Arzu sayang, kamu nunduk aja, ya! Liat hena tangan kamu, bagus, kan?"
"Iya, Pak Haji," jawab Arzu sekenanya, ia langsung menunduk dalam.
Mendengar kata hena, Azam justru melirik tangan Arzu secara spontan, dan ia baru menyadari kedua tangan calon istrinya itu memang memakai hena.
"Kenapa aku baru tahu dia pakai begituan?" gumam Azam dalam hati.
"Baiklah, ayo kita mulai lagi!" Papa Aji kembali mengulurkan tangannya, dan Azam pun menyambutnya.
"Bismillahirrohmanirrahim. Saudara Azam Mifah Bin Abdullah Miftah, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandungku, Arzu Nabilla dengan mas kawin berupa uang tunai 20 juta dan seperangkat alat sholat, dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Arzu Nabilla Bin Aji Hendrawan dengan mas kawin tersebut, tunai!"
"Bagaimana saksi? Sah?"
"SAH!"
Semua menjawab dengan serentak, membuat Azam langsung menghela napas lega, tak lupa ia juga mengucapkan Hamdalah.
Begitu juga dengan Papa Aji, David dan Ummi Umaroh.
Penghulu pun langsung memimpin doa yang langsung diaminkan oleh para tamu yang hadir.
"Alhamdulillah, بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِيْ خَيْرٍ"
Kini Azam sudah bisa menatap Arzu dengan bebas, wajah pria itu bersemu merah. "Sudah sah," kata Azam.
"Boleh ditatap sekarang wajah Om?" tanya Arzu yang langsung membuat semua orang tertawa.
"Boleh dong, dicium juga boleh," goda Azam.
Arzu hanya tertawa kaku, tiba-tiba ia merasa gugup malu.
"Cium tangan suami kamu, Sayang!" seru Papa Aji.
Arzu pun mengikuti perintah itu, ia mencium tangan Azam, dan itu membut Azam langsung berdebar.
Bolehkah dia mengatakan bahwa ini pertama kalinya ada yang wanita yang menyentuh tangannya dengan bibir?
Azam menangkup pipi Arzu, ia memejamkan mata, dalam hati ia memanjatkan do'a untuk pernikahan mereka ke depannya.
__ADS_1
Ia pun memberikan kecupan lembut nan ringan di kening Arzu, yang secara spontan membuat Arzu menutup matanya.
"Ya Allah, dengan amanat-Mu kujadikan ia isteriku dan dengan kalimat-kalimat-Mu dihalalkan bagiku kehormatannya. Jika Kau tetapkan bagiku memiliki keturunan darinya, jadikan keturunanku keberkahan dan kemuliaan, dan jangan jadikan setan ikut serta dan mengambil bagian di dalamnya"