Dijodohkan Dengan Ustaz Tampan

Dijodohkan Dengan Ustaz Tampan
Om Perhatian


__ADS_3

"Apa kalian kesulitan menemukan tempat ini?" tanya Mama Irene menyambut kedatangan Ummi Umaroh dan Azam.


"Nggak, Tante, tempat ini dekat," jawab Azam, kini tatapan pria itu tertuju pada Syaira yang sejak tadi menatapnya dengan malu-malu, seolah ingin menyapa tapi tidak berani.


"Assalamualaikum, Syaira," sapa Azam sembari mengulurkan tangannya pada bocah itu.


"Waalaikum salah, Om," jawab Syaira.


"Panggil Kakak saja, Syaira!" seru Mama Irene. "Kakak Azam, Okay? Karena sebentar lagi Kaka Azam akan menikah sama Kaka Arzu."


"Apa itu menikah?" tanya Syaira dengan pupil mata yang membesar.


"Menjalin hubungan yang bahagia, kemudian menjadi keluarga yang selalu bersama," jawab Azam.


"Oh ya? Kalau begitu, Syaila juga mau menikah," ujar anak itu dengan semangat.


"Bial Syaila bahagia dan tinggal sama Kakak Alzu. Soalnya di lumah Syaila tinggal sama Mama aja, Papa sudah pelgi ke sulga," pungkas Syaira dengan senyum lebar, tanpa tahu bahwa apa yang dia ucapkan itu membuat ibunya sangat sedih, tapi dengan cepat langsung berusaha menutupinya dengan senyum.


"Oh ya, maaf aku memanggil kalian tiba-tiba," ujar Mama Irene mengalihkan topik percakapan. "Aku hanya ingin sedikit mengenal calon keluarga baru Arzu."


"Aku juga senang kita bisa bertemu, Mbak," ucap Ummi Umaroh.


"Aku ... aku nggak tahu sebenarnya mau mengatakan apa," kekeh Mama Irene yang tampak canggung. "Aku sama sekali bukan Ibu yang baik untuk Arzu, aku melukai hatinya dengan sangat dalam. Dan itu membuatku seperti hilang arah."


"Suatu hari nanti, Arzu pasti akan memaafkan Tante," seru Azam. "Dia sebenarnya masih sangat mencintai Tante, dia hanya butuh sedikit waktu."


"Itu benar," sambung Ummi Umaroh.


"Aku harap, dia bahagia selalu ada di rumah kalian nanti." Mama Irene menatap Azam penuh harap. "Kamu sepertinya teman dekat David, Zam, tapi Tante nggak tahu karena Tante nggak dekat dengan David," lirih Mama Irene dengan suara yang bergetar.


"Sekarang Tante sudah mengenalku," kata Azam. "Dan sebentar lagi kita akan menjadi keluarga."


"Benar, Tante sangat senang." Mama Irene mengucek matanya yang panas dan berkaca-kaca. "Oh ya, kalian ingin makan apa? Kita pesan makan dulu, ya."


"Boleh," jawab Ummi Umaroh.

__ADS_1


Mama Irene memanggil pelayan untuk memesan makanan, dan mereka pun mengobrol ringan sembari menunggu makanan datang.


"Aku nggak nyangka Arzu akan menikah secepat ini," ucap Mama Irene. "Tapi aku sangat senang karena sekarang akan ada yang menjaganya."


"Aku juga nggak nyangka akan menikahi sekarang," sahut Azam. "Aku sama sekali nggak ada niatan menikah tahun ini, tapi tiba-tiba Allah pertemukan dengan wanita yang insyaallah menjadi jodohku."


"Aamiin!" Mama Irene mengaminkan dengan cepat.


Tak berselang lama, makanan pesanan mereka datang. Mereka makan sembari melanjutkan obrolan tentang Arzu maupun Azam, dan Azam sadar apa yang dikatakan David ternyata benar. Waktu kecil Arzu pemalu dan pendiam, seperti Syaira sekarang.


Azam sungguh tidak menyangka, Arzu yang pemalu kini justru sepertinya akan malu-maluin dengan segala sikap ajaibnya.


Setelah selesai makan dan berbicara panjang lebar, Azam dan ibunya memutuskan untuk pulang, begitu juga dengan Mama Irene. Namun, sebelum itu mereka sempat bertukar nomor ponsel.


Hal itu membuat Mama Irena terlihat sangat bahagia, matanya berbinar dan senyum lebar terus mengembang di bibirnya.


"Berbicara dengan kalian membuatku merasa seperti berbicara dengan keluarga sendiri," kata Mama Irene sembari melangkah bersama Ummi keluar dari restoran. "Jika nanti Arzu mengizinkan, aku akan ke desa kalian."


"Kenapa harus perlu izin Arzu? Datang aja, Mbak, sebagai tamuku," kata Ummi Ummi Umaroh.


"Jika ada waktu, aku benar-benar akan ke sana," ucap Mama Irene dengan yakin.


"Iya, Tante," jawab Azam.


"Kalau begitu, biar aku yang mengantar kalian pulang," seru Mama Irene. "Dan tolong jangan menolak."


"Ya sudah," kekeh Ummi Umaroh akhirnya.


Mereka pun masuk ke mobil Mama Irene, dan obrolan kedua ibu-ibu kembali berlanjut. Sementara Azam kini justru menggoda Syaira yang masih tampak malu-malu pada Azam.


"Sekilas dia mirip Arzu," kata Azam.


"Tante juga merasa begitu, Zam," sahut Mama Irene. "Makanya Tante suka pandangin dia kalau lagi kangen sama Arzu."


Azam hanya tersenyum tipis, ia bisa melihat dan merasakan betapa Mama Irene merindukan Arzu, dan itu membuatnya sedih karena ia tak bisa melakukan apa-apa untuk membantu.

__ADS_1


Tak berselang lama, mereka sampai di depan rumah Papa Aji.


"Terima kasih banyak, Mbak, maaf merepotkan," ucap Ummi Umaroh.


"Nggak sama sekali," jawab mama Irene. '


"Terima kasih, Tante," ucap Azam juga sebelum turun dari mobil.


Mama Irene melambaikan tangan pada dua orang itu, ia juga tetap di sana sampai Azam dan ibunya masuk ke rumah. Dan seketika Mama Irene tersenyum melihat Arzu yang sibuk dengan motornya.


"Ya Allah, Nak, kenapa kamu jadi begini?" Ia menggumam, tidak menyangka Arzu bisa begitu berubah seperti ini. "Semua salah Mama, andai dulu Mama nggak kalah sama nafsu, keluarga kita pasti masih utuh."


Air mata Mama Irene jatuh, teringat kembali bagaimana ia menduakan suaminya, mengkhianati anak-anaknya. Kemudian menikah dengan pria baru yang mencuri hatinya, awalnya dia masih bahagia, tapi baru satu setengah tahun mereka menikah, suami keduanya itu meninggal dalam sebuah kecelakaan.


Sejak saat itu lah ia baru menyadari betapa pentingnya keluarga, saat ia sudah kehilangan segalanya, dan hanya tersisa Syaira yang dia miliki.


Sementara itu, Azam meringis melihat Arzu yang hanya memakai hot pants sambil sibuk mengelap motornya.


Ummi Umaroh bahkan hanya bisa menghela napas beberapa kali.


"Banyak nyamuk, Arzu!" seru Azam. "Malaria lagi, bahaya loh kalau kamu digigit."


"Mana?" tanya Arzu sembari menatap ke sekelilingnya.


"Ada, beritanya sudah tersebar kalau sekarang musim nyamuk malaria, coba saja kamu cek di TV, atau Internet. Jadi, sebaiknya kamu pakai celana panjang gih, biar aman."


Arzu terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk dan berkata, "Terimakasih sudah mengingatkan, Om," Arzu segera melatakkan kain lapnya. "Om baik dan perhatian deh!"


Azam langsung senyum-senyum dengan pipi memerah mendengar pujian Arzu, dan itu tak luput dari pantauan sang Ibu.


Setelah memuji dengan manis, Arzu bergegas ke dalam rumah.


"Memangnya beneran musim nyamuk malaria, Zam?" tanya Ummi.


"Nggak," jawab Azam sambil cengengesan.

__ADS_1


"Kok kamu bohong?"


"Bohong demi kebaikan nggak apa-apa, Ummi," kekeh Azam. "Dari pada dia pakai hot pants di depan kita?"


__ADS_2