Dijodohkan Dengan Ustaz Tampan

Dijodohkan Dengan Ustaz Tampan
Peduli?


__ADS_3

"Tuh, dia tampan, kan?"


"Eh?"


Intan langsung melotot mendengar apa yang dikatakan Arzu, meski memang benar ia datang ke rumah Arzu karena penasaran dengan Ustadz tampan yang Arzu maksud.


Sementara Azam hanya bisa menaikkan ujung alisnya.


"Siapa yang tampan?" tanya Azam kemudian.


"Om lah," sahut Arzu tanpa ragu. "Masa aku sama intan."


"Oh." Hanya itu yang bisa Azam katakan.


"Iya, Intan datang ke sini karena mau melihat Om," celetuk Arzu lagi yang membuat Azam melotot, begitu juga dengan Intan. Wajah gadis itu langsung merah padam, tentu ia merasa malu atas apa yang Arzu katakan secara blak-blakan pada Azam.


"Oh?"


Azam sungguh tak mampu berkata-kata, hanya Oh itu yang keluar dari bibirnya. Bahkan, otaknya seperti berhenti bekerja saat ini.


"Ayo ke kamar!" Intan yang tak sanggup menahan malu, langsung menarik paksa Arzu ke kamarnya.


"Loh, tunggu!" seru Arzu. "Nggak mau ngobrol dulu sama Om Ustadz?"


Om Ustadz?


Alih-alih tersinggung, Azam justru hampir tergelak mendengar nama panggilan Arzu itu.


"Nggak, aku udah liat wajahnya," kata Intan, ia kembali menarik Arzu masuk ke kamarnya. "Ish, Arzu! Kamu benar-benar malu-maluin." Intan menggerutu sembari melempar tubuhnya ke ranjang empuk Arzu.


Namun, Arzu tak menggubris gerutuan temannya, ia justru kembali keluar kamar sembari membawa kresek yang sejak tadi dia bawa.


"Om?" panggil Arzu pada Azam yang hendak masuk ke kamarnya.


"Iya?" Azam menatap gadis yang kini berlari kecil menghampirinya.


Arzu merogoh sesuatu dari kreseknya itu. "Nah, ini buat Om!" Arzu menyerahkan satu donat pada Azam.


"Nggak usah, Arzu," tolak Azam dengan halus. "Kamu makan saja sama temanmu itu."


"Aku punya tiga donat, Om, jadi buat Om aja satu."


Azam menatap donat di tangan gadis itu, kemudian mengambilnya dengan ragu. Bukannya Azam tidak mau menerima pemberian Arzu, tapi sikap dan kata-kata gadis itu membuat otaknya bekerja lebih lambat.


"Selamat menikmati, Om!" seru Arzu dengan ceria, setelah itu ia kembali ke kamarnya.


Azam hanya berdiam diri sembari menatap donat itu.


"Bagaimana bisa David punya adik macam begitu?"


Kini Azam mulai-mulai senyum sendiri, dan ia pun menikmati donat itu yang terasa sangat enak.


Entah donatnya yang enak, atau karena Arzu yang memberikannya maka donat itu terasa enak?

__ADS_1


...🦋...


Intan pulang saat hari sudah malam karena ia tak mau ibunya khawatir, hari ini David juga pulang lebih cepat karena ada Azam di rumahnya. Sementara sang Ayah, seperti biasa, dia pulang cukup larut.


Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, Arzu masih terjaga. Ia berbaring di tengah ranjang, menatap langit-langit kamarnya dengan nanar. Ingatan akan pertengkaran ayah dan ibunya kembali menari dalam benaknya.


Ia masih ingat dengan jelas bagaimana mereka bertengkar hebat karena orang ketiga, yang kemudian berakhir dengan perceraian.


Saat itu, usia Arzu masih 14 tahun. Dan itu tepat di hari ulang tahunnya, juga tepat di hari ia menerima penghargaan sebagai siswi teladan di sekolahnya. Di hari semua orang tua siswa dan siswi berkumpul di sekolah, menemani anak-anak mereka. Akan tetapi, Arzu hanya ditemani Intan dan Ibunya. Dua orang yang sama sekali tidak punya hubunngan kekeluargaan dengannya.


Sedangkan David saat sedang kuliah di Singapore.


"Ck, takdir yang benar-benar menyebalkan." Tiba-tiba Arzu melempar gulingnya dengan kesal.


Setelah itu, ia mengambil ransel, ponsel dan dompetnya. Tak lupa ia juga mengambil kunci motornya.


Saat keluar dari kamar, ia berpapasan dengan Azam yang tampaknya dari dapur, pria itu memegang segelas air.


"Arzu, mau ke mana?" tanya Azam dengan heran, apalagi ia melihat gadis itu membawa ransel. "Kamu mau kabur dari rumah?"


"Nggak lah, Om," jawab Arzu dengan cepat. "Aku itu nggak punya kerjaan, nggak punya rumah, masa iya aku mau kabur. Bisa jadi gelandangan aku, Om."


"Alhamdulillah kalau begitu." Azam langsung bernapas lega. "Tapi kamu mau ke mana bawa tas begitu?"


"Aku nggak bisa tidur, Om, jadi mau cari angin segar."


"Ini sudah malam, Arzu! Kamu mau pergi sama siapa?"


"Ya sendiri," sahut Arzu. "Bye, Om!" Gadis itu melempar senyum tipis sebelum akhirnya bergegas pergi begitu saja.


Azam langsung pergi ke kamar David, ia mengetuk pintu kamar pria itu sembari memanggil namanya.


Tak berselang lama, David membuka pintu sambil menguap. "Ada apa, Zam?" tanya David dengan suara serak.


"Arzu pergi, Vid," ucap Azam cemas. "Dia bawa tas."


"Oh ya?" pekik David yang langsung membuka matanya lebar-lebar. Ia pun segera mengambil ponselnya kemudian menghubungi Arzu.


"Nggak mau di kejar? Mungkin dia masih di depan," kata Azam.


"Sebentar," ujar David.


"Ar?" panggilnya setelah panggilan teleponnya terjawab. "Kamu mau ke mana tengah malam begini?"


"Mau ke rumah Intan, besok pagi aku pulang."


"Ck, balik ke rumah sekarang, Ar. Bahaya anak gadis keluyuran!" tegas David.


"Besok pagi aku mau pulang, janji!"


Setelah mengucapkan kalimat itu, Arzu langsung memutuskan sambungan panggilannya.


"Dia mau ke rumah Intan, Zam."

__ADS_1


"Tengah malam begini? Dan kamu biarin begitu aja?" Azam menatap David sambil geleng-geleng kepala, seolah tak percaya David membiarkan adik perempuannya keluyuran tengah malam.


"Udah biasa kok, besok juga pulang," pungkas David. "Ini sudah malam, sebaiknya kamu kembali tidur. Apalagi besok pagi kamu harus ke Bandara."


Azam menatap David sejenak, sebelum akhirnya ia kembali ke kamarnya dengan langkah gontai.


Azam mencoba tidur kembali, tapi bayangan Arzu justru terus datang dalam benaknya. Ia cemas, bagaimana jika terjadi sesuatu pada gadis itu?


Demi apapun, Arzu adalah gadis muda yang terlihat menarik. Bisa saja ada seseorang yang memiliki niat buruk padanya.


"Dia adik David, dan David bilang itu sudah biasa," gumam Azam. "Artinya Arzu bisa menjaga diri, berarti nggak usah dikhawatirkan."


Azam mencoba memejemakan mata, serta mengusir rasa cemas itu. Lagi pula, dia baru dua mengenal Arzu. Kenapa harus begitu mencemaskannya?


Namun....


"Astagfirullah!"


Azam tidak bisa membohongi hati nuraninya, ia khawatir dan cemas pada adik perempuan temannya itu. Jadi, Azam segera mengambil ponsel dan dompetnya kemudian ia mendatangi kamar satpam.


"Pak?" Azam mengetuk pintu dengan pelan. "Pak Rudy?" panggilnya.


Tak berselang lama, Pak Rudy keluar kamar sembari membenarkan sarungnya.


"Eh, Den Azam. Kenapa, Den?" tanya Pak Rudy.


"Pak Rudy tahu di mana rumah Intan?" tanya Azam dengan ragu.


Pak Rudy mengernyit bingung mendengar pertanyaan Azam, bahkan sempat terbersit dalam benaknya, mungkinkah Azam naksir Intan setelah bertemu tadi siang?


...🦋...


"Maaf ganggu tengah malam," ucap Arzu memasang wajah memelasnya pada Intan.


"Nanti aku kasih kamu kunci cadangan rumah," kata Intan sembari menguap, mata gadis itu begitu sayu karena masih sangat mengantuk.. "Jadi kalau kamu mau datang tengah malam begini, nggak ganggu aku atau mama." Lanjutnya.


"Itu ide bagus," sahut Arzu dengan semangat.


Ini memang bukan pertama kalinya Arzu tiba-tiba datang di tengah malam, dan Intan dengan begitu sabar membiarkan sahabatnya itu pulang dan pergi semuanya, membiarkan Arzu merasa bahwa itu juga rumahnya.


Baru saja Arzu dan Intan naik ke atas ranjang, tiba-tiba terdengar ada yang mengetuk pintu.


"Siapa lagi itu?" gerutu Intan.


"Apa hantu? Masa ada yang bertamu tengah malam?" pekik Arzu bergidik ngeri.


"Assalamualaikum!"


Terdengar suara pria yang tak asing di telinga Arzu. Ia pun mengajak Intan membuka pintu, meski awalnya mereka merasa takut. Namun, Intan juga merasa pernah mendengar suara itu.


Perlahan, Arzu membuka pintu dan ia terbelalak melihat siapa yang datang.


"Om?"

__ADS_1


...🦋...


__ADS_2